
Hari berganti,begitu juga dengan kehidupan raka.semuanya terasa baik-baik saja,dia tidak pernah mendengar kata-kata tajam yang menyayat hati itu lagi,dia tidak mendapat tatapan tajam dari keluarganya.
Akhirnya dengan senang hati,pemuda itu membuka pintu maaf kepada mereka yang dulu menyakitinya,yang dia sebut sebagai keluarga.
Kehidupannya kini berubah dalam sekejab dan dia sangat bersyukur akan itu.namun dia merasa ada yang janggal dalam hidupnya saat ini,seperti ada kehampaan.
"Adek?"raka mengerjap,kemudian tersenyum ke arah santika yang memanggilnya barusan.saat ini di tangan santika sudah tersedia mampan dengan bubur yang akan di makan putranya itu.
"Iya,nda?"tanya raka.
"Kamu melamun?dari tadi bunda panggilin tapi nggak di sahut.kamu mikirin apa hm?"tanya santika kemudian meletakkan bubur itu di atas nakas.
"Nggak bun,raka nggak mikiran apa-apa"dusta raka kemudian menutup netranya dengan nyaman saat tangan lembut bundanya mengelus surai hitam miliknya.
"Yaudah,adek makan dulu ya?habis itu minum obat!"ujar santika menarik tangannya dari surai raka,membuat pemuda itu mendesah kecewa.padahal dia masih ingin merasakan elusan itu.
"Nanti aja nda"sahut raka
"Sayang,kamu itu harus makan biar cepat sembuh.kamu mau dikurung terus di rumah sakit ini?"raka menggeleng kemudian menatap makanan hambar itu dengan malas.bahkan melihatnya saja dia sudah eneg.
"Mau di suapin!"ucap raka pada akhirnya membuat santika terkekeh.putranya itu masih sama,akan manja padanya jika sedang sakit.
Dulu dia sangat senang jika putranya itu bermanja-manja padanya dan kini dia semakin menyesal telah menyia-nyiakan sumber kebahagiaannya dulu.
Tangan santika dengan telaten menyuapi putranya itu dan dia tau jika pemuda itu menahan mual.
"Udah bun"kata raka setelah menerima suapan kelima.
"Tapi masih lima sendok lho,sikit lagi ya?"raka menggeleng,menjauhkan tangan bundanya yang hendak menyuapinya.
"Mual"tolak raka,santika mengangguk pasrah.
"Nda,ayah mana?"tanya raka dengan ragu karna sejak dia membuka matanya dua hari yang lalu,dia tidak pernah melihat kedatangan pria itu.meski dia sangat marah dan kecewa dengan ayahnya itu,nanum disisi lain,raka masih menginginkan ayahnya,mengharapkan kasih sayangnya.
Santika tidak menyahut,wanita itu hanya tersenyum tipis kemudian memberikan pil-pil pahit itu untuk putranya.
"Adek,minum obatnya"ucap santika yang di terima oleh pemuda itu.setelah semua pel itu tertelan,raka kembali menatap bundaya yang tidak menyahut pertanyaannya itu.
"Nda,ayah mana?"tanya raka kembali membuat santika menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Jangan menyebutnya lagi di hadapan bunda,bunda tidak suka"sahut santika.
"Maaf nda tapi apa bunda tidak akan memaafkan ayah?"tanya raka dengan ragu sedangkan santika menatapnya tidak percaya.
"Memaafkan kesalahannya?apa adek udah maafin dia?"tanya santika tidak percaya,sedangkan raka mengangguk pasti.
"Sebesar-besarnya kesalahan seseorang,kita tidak boleh membenci nda.allah aja selalu memaafkan kesalahan hambanya lalu kenapa kita tidak bisa memaafkan kesalahan seseorang?kita itu hanya manusia yang tidak luput dari kesalahan."santika menunduk,tertegun dengan ucapan putranya itu.dia tidak menyangka jika putra bungsunya itu sudah sedewasa ini.
Dia malu pada dirinya sendiri,dia saja hampir membunuh putranya itu dengan tangannya sendiri dan dengan mudahnya anak itu memaafkan kesalahannya.
Santika tersenyum tulus kemudian memeluk putranya itu dengan hangat,ada getaran aneh di hatinya saat raka membalas pelukannya itu.tiba-tiba saja dia tidak ingin melepaskan pelukannya.
"Kasih bunda waktu buat menerima semuanya"ucapnya kemudian dibalas anggukan pelan oleh raka.
"Nda?"
"Hmm?"
"Riko...dia nggak papa 'kan?"
.
.
.
Raka menatap pintu ruang rawat no.203 itu dengan ragu kemudian menatap bundanya yang berada disampingnya itu.
"Bunda nggak mau jenguk mas riko?"tanya raka.
"Mmm bunda belum siap.lain kali aja ya.bunda disini nungguin adek"sahut santika yang di balas raka dengan anggukan.
Dan dengan perlahan,dia membuka pintu dengan tangan sebelah kanan sedangkan tangan kirinya menyeret tiang infus yang bertengger manis di punggung tangan miliknya.
Kaki miliknya dengan perlahan melangkah mendekati sahabat atau saudara tirinya yang duduk melamun di kursi roda miliknya.
"Lo..siapa?"tanya riko menyadari seseorang mendekatinya.sedangkan raka yang mendengarnya mati-matian menahan air matanya agar tidak tumpah saat melihat netra milik riko yang tampak kosong.
"I-ini gue"lirih raka dengan nada bergetar,kemudian menatap riko yang memalingkan wajah darinya.
"Maaf"lanjut raka merasa bersalah dengan musibah yang menimpa riko.
"Bukan salah lo"sahut riko dengan lirih kemudian menunduk.
"Ini takdir gue,sekarang dunia gue gelap banget.gue takut gelap tapi sekarang gue harus terbiasa dengan kegelapan.dunia gue sangat menyedihkan.iya 'kan?hahahaha"ucap riko dengan tertawa miris membuat rasa sesak yang raka rasakan semakin menjadi-jadi.
"Lo nggak boleh pesimis gini.gue yakin suatu saat lo bisa melihat lagi."ujar raka menenangkan.
"Melihat?dengan apa?gue buta permanen,tau nggak?"kata riko dengan meninggikan suaranya,bukan marah pada ucapan raka namun pada takdir yang tidak adil untuknya.
Raka memegang bahu riko kemudian merematnya pelan dengan senyum tipis.
"Lo nggak tau,mungkin aja lo dapat donor mata besok,atau besoknya lagi atau besoknya lagi.rencana tuhan tidak ada yang tau mas.yang kita lakukukan cuma berdoa dan tetap optimis dalam menjalani hidup"ujar raka membuat riko mengatupkan bibirnya.
"Ckk sejak kapan lo jadi suka ceramah gini?"kata riko kemudian terkekeh geli.
"Gini dong,senyum jadi enak di pandang"canda raka.
"Iya,iya.btw lo udah sembuh?"tanya riko membuat raka tersenyum sendu.
"Udah,besok udah bisa pulang"bohong raka.
"Gue boleh minta sesuatu nggak?"lanjutnya.
"Apa?"
"Maafin ayah"ucap raka membuat ekspresi riko langsung berubah total.
"Dia bukan ayah gue"ketusnya.
"Mas,bagaimanapun lo ngelak,tetap aja kalian itu sedarah.ayah itu sayang sama lo,gue tau saat dia natap lo.tatapan ayah sangat hangat saat natap lo.dan lo tau?ayah itu suka diam-diam natap lo dari jauh."
"Gue bukan lo ra,memaafkan orang lain semudah membalikkan telapak tangan."sahut riko.
"Gue cuma ingat kata-kata bibi dewi.sesama manusia itu harus saling memaafkan sebelum semuanya terlambat"
"gue yakin lo butuh ayah,hanya saja ego lo lebih tinggi setinggi menara."kata raka kemudian mengulas senyumnya saat melihat riko hanya termenung.
"Lo mau janji sama gue?"kata raka membuat wajah riko terlihat masam.
"Mas riko..."
"Gue nggak mau"
"Masssss"
"Apa sih?gue bukan suami lo.mass miss masss misss"gerutu riko,sedangkan raka hanya terkekeh.
"Lo janji dulu bakal lakuin keinginan gue"
"Gue bilang ngak mau!"
"Ma..."
"Okok,gue janji.puas?"sahutnya dengan pasrah membuat raka tersenyum senang.
"Lo minta apa?"tanya riko kemudian.
"Satu,seperti yang gue bilang tadi.lo harus maafin ayah"
"Iya,gue coba"sahutnya dengan malas.
"Apa lagi?"
"Mmm lo harus jadi putra sulung di keluarga kita"
"Lo gila?gue nggak mau"
"Massss"riko mendesah kasar,menolak permintaan anak ini memang sangat sulit.
"Iya iya.itu aja 'kan?"
"Jagain mereka buat gue"ucap raka membuat riko langsung terdiam sambil meremat baju rumah sakit yang dia gunakan saat ini.
******
Raka keluar dari ruang rawat riko dengan langkah pelannya kemudian tersenyum sendu,memandang pintu ruangan itu sebelum mengedarkan tatapannya kesekitar saat tak menemukan santika di sana.
Dimana bundanya?bukankah tadi bunda sedang menunggu di sini.
Raka menyerit,kemudian duduk di kursi ruang tunggu disana.mungkin bundanya lagi ada keperluan jadi dia berniat memunggu disana.
Dan wajah pemuda yang terlihat pucat itu seketika menegang sebentar kemudian berusaha mengukir senyumnya kepada pria yang tiba-tiba berdiri di depannya dengan tatapan menusuk.
Raka tersenyum berbanding terbalik dengan perasaannya yang dia rasakan saat ini,sangat sakit saat tatapan pria itu tidak pernah berubah untuknya.
"Ayah..."lirih raka kemudian berdiri dari duduknya.
"Ngapain kamu disini?"tanya pria yang di panggil ayah oleh raka dengan dingin.
"Jenguk riko,yah"sahut raka,sedangkan tomi tersenyum sinis.
"Bukankah dulu saya larang kamu dekatin dia?dan gara-gara kamu,riko jadi kena sial.mana janjimu yang tidak akan membuatnya terluka hah?"gertak tomi membuat raka menunduk.
"Pasti sekarang kamu bahagia,iya 'kan?istri dan putra saya riki menjauh,riko juga membenci saya.itu yang kamu inginkan?dasar anak kurang ajar kamu"lanjutnya membuat raka menggeleng.
"Maaf jika yang raka lakuin membuat ayah terluka tapi raka tidak menyesal dengan tindakan raka.aku nggak mau ayah terus membohongi keluarga ayah dan ayah sendiri.sudah cukup sandiwara yang ayah buat"sahut raka,tomi memandangnya dengan remeh.
"Lalu kamu tidak menyesal membuat riko buta?"raka kembali menggeleng,entah kenapa setiap kata yang keluar dari bibir tomi selalu saja meninggalkan rasa sakit disana.
"Ayah,bukan raka.kenapa ayah selalu salain raka?apa ayah sebenci itu sama raka?tidak bisakah ayah memandang ku sebagai putra ayah?"lirih raka dengan dada menyesak,pemuda itu semakin menundukkan kepalanya menyembunyikan wajah rapuh itu.
"Putra saya?bisa saja saya memandangmu sebagai putra saya,asalkan..."tomi menggantungkan ucapannya dengan tersenyum licik membuat raka menatapnya kembali dengan tatapan berharap.
"Apa yah?"
"Berikan cahayamu untuk putra saya,riko!"
Deg
Kalimat yang keluar dari bibir tomi membuat tubuh raka hampir meluruh,namun dengan sekuat tenaga,pemuda itu tetap berdiri mempertahankan tubuh tak berdaya itu.namun seluruh tubuhnya sudah bergetar,lagi-lagi goresan tak kasat mata terukir di hati itu yang menyisakan rasa sakit dan perih bersamaan.
Detik itu raka tersadar,berharap pada ayahnya sama saja dia berharap pada kematiaan untuk mendekatinya secepat mungkin.
Dengan tatapan sendu,raka menatap manik tajam tomi kemudian tersenyum miris.
"Maksud ayah,apa?"tanya raka dengan lirih,mencoba mengelak jika ayahnya tidak sekejam itu.mengorbankan putra kandungnya sendiri.
"Kuharap kamu tidak sebodoh itu yang tidak mengerti apa maksud saya"sahut tomi dingin.
"Tapi yah .."
"Kamu tidak bisa 'kan?buat apa saya menurutin permintaan mu supaya menyayangi anak pembawa sial sepertimu?bahkan menuruti permintaan kecil saya saja kamu tidak bisa?"
Permintaan kecil?mendonorkan matanya pada riko,itu permintaan kecil?
Raka menarik oksigen di sekitarnya dengan berat,mencoba menormalkan gejolak nyeri di dadanya itu sebelum menatap ayahnya dengan perasaan hancur luar biasa.mungkin jika dirinya menghilang,ayahnya pasti orang yang paling bahagia mendengar kabar itu.
"Tapi didunia ini tidak ada yang gratis,yah"ucap raka mencoba setenang mungkin.
"Berapa yang kamu inginkan?500 juta?1 miliyar?katakan,berapa hah?"ucap tomi dengan pasti.raka menggeleng kemudian mengulas senyum hangat miliknya.
"Bukan uang yang raka minta.tapi kasih sayang ayah.untuk satu hari saja,raka ingin menghabiskan waktu raka bersama ayah.jadilah seorang ayah untuk raka meski hanya pura-pura dalam satu hari saja.itu mudah kok,kita hanya perlu makan bersama,tertawa bersama,jalan-jalan bersama,berfoto bersama,dan memeluk raka.apa ayah bisa lakuin itu buat raka?"tanya raka,menatap tomi yang berdiri mematung.
"Jika ayah bisa lakuin itu,maka raka akan serahkan hidup raka buat mas riko,itu aja syarat nya yah.raka tunggu jawaban ayah.kalo gitu raka pamit yah"lanjutnya kemudian berjalan tertatih,meninggalkan tomi yang masih berdiri tertegun,memandang kepergian pemuda yang baru saja berhasil menyentuh hati miliknya yang selama ini membeku.
Sesederhana itukah permintaan putranya?
#TBC
Halo readers ku yang tercinta👋👋👋
Saya mau minta maaf yang sebesar-besarnya buat kalian.soalnya cerita ini harus hiatus dulu untuk sementara😢😢😢
Karna...taulah,akhir tahun semua liburan kecuali aku.kerja kesana,kerja kesitu,pergi kesana,pergi kesitu,makan yang disana,makan yang disitu...dan banyak deh kegiatan author yang pastinya membuat waktu saya nggak bisa lanjutin cerita ini.
Sumpah!aku udah usahain cerita ini tamat sebelum tgl 20,tapi ternyata eh ternyata nggak bisa😭😭😭
Tapi author janji bakal usahain comeback secepatnya.
Sekali lagi saya minta maaf karna buat kalian kecewa dan ku harap masih tetap setia nungguin ceritanya.
Itu saja untuk hari ini😅
Sorry😢,thank's 😇and love you all😍😍😘😘
See you nex time,bye bye👋👋👋