
Sebuah motor sport melaju di jalanan yang lumayan sepi itu dengan kecepatan di atas rata-rata.banyak kendaraan yang sudah di selipnya dengan asal sehingga dia mendapat kalimat emas dari pengendara lainnya itu,umpatan.
Laju itu semakin cepat bersamaan dengan emosinya yang semakin bertambah,entah sudah berapa banyak lelehan itu berjatuhan dari netranya karna dia sungguh tidak sanggup menerima kenyataan yang baru saja di dengarnya itu.
Rahang di balik helm itu terasa mengeras dan tatapan yang menggelap.hingga tanpa disadari,tepat di persimpangan itu,sebuah truk yang melaju tak terkendali.
Pemuda itu terkesiap,terlalu terkejut melihat kedatangan truk itu hingga dia tidak sempat untuk menghindar dan kecelakaan itupun tak terelakkan lagi,motor miliknya hancur lebur,tubuh itu terpental beberapa meter dan bertubrukan dengan jalan aspal itu.
Bahkan helm yang di pakainya terlepas begitu saja hingga kepalanya itu terbentur sesuatu dan menjadi sunyi bagi pemuda itu.
Netranya masih terbuka sedikit,tubuh itu bahkan sudah berlumuran darah namun bibir itu tertarik membentuk senyuman tipis.
"mama,riko datang!"batin pemuda itu sebelum semuanya gelap,dirinya tidak merasakan apa-apa lagi.
.
.
.
BRAKKKK
PRANKKKK
Semula suasana yang tenang di meja makan itu seketika semua terkejut mendengar suara keras dari ruang utama.
Ridwan,lisa,tomi,santika dan riki yang awalnya sedang menikmati makan malam pun terganggu,hingga semuanya langsung berbondong-bondong berjalan ke arah pintu utama untuk melihat kekacauan apa yang sedang terjadi itu.
Hingga tatapan mereka kembali menajam,kecuali santika dan riki.
"APA YANG KAU LAKUKAN ANAK SIALAN?"bentak tomi yang mendapat barang-barang di ruangan itu berserakan dan tentunya karna ulah pemuda yang baru masuk dengan membuka pintu utama dengan keras dan langsung membanting guci mahal yang di pajang disana.
Raka,dengan wajah pucat dan rahang yang mengeras itu menatap tajam ke arah tomi,kemudian tersenyum remeh.kali ini,dia tidak peduli lagi dengan yang namanya sopan santun.
"Anak kurang ajar,sudah merasa jagoan kamu?"bentak tomi seraya menarik kerah raka dengan kasar,merasa sudah di rendahkan saat melihat senyum remeh raka.
"Anda pikir,anda sudah terpelajar?seharusnya anda sadar jika anda lebih kurang ajar dari saya!"balas raka dengan tajam.
Bugghhh
Semua membelalak terkejut,begitupun dengan ridwan dan lisa yang tiba-tiba terdiam tanpa tau harus melakukan apa.riki,pemuda itu hanya membeku disana.
Santika,wanita itu langsung mendekati mereka.
"Mas,apa yang kau lakukan hah?raka itu putramu mas"bentak santika pada tomi yang baru saja memberikan bogemam untuk putra bungsunya itu,dia tidak terima perlakuam suaminya barusan.
"Jangan pernah membela anak sialan ini santika!"tegas tomi.
"Sialan?apa ayah sesuci itu hingga menilai raka seperti itu?INGATKAH AYAH JIKA DENGAN KEJINYA MENYETUBUHI SEORANG PEREMPUAN YANG TAK BERSALAH?IT..."
PLAKKKKK
lagi,sebuah tamparan itu mendarat di pipi dingin dan pucat raka,membuat pemuda itu semakin terlihat berat hanya untuk bernafas.
Dan tanparan itu bukan berasal dari tomi,tapi wanita yang membelanya beberapa menit yang lalu.
Raka menatap nanar bundanya yang menatapnya dengan emosi.ya,yang melayangkan sentuhan itu santika,wanita yang dia panggil sebagai bunda.
"Jaga ucapan mu!!beraninya kamu memfitnah suami saya,saya mengenal baik suami saya dan dia tidak akan pernah melakukan itu.saya menyesal untuk berniat membuka hati saya pada anak sepertimu"suara santika meninggi,menatap raka dengan berapi-api.
Sedangkan tomi,pria itu sudah mematung disana,hanya karna ucapan raka,pria itu dibuatnya tidak bisa bergerak.
Kesalahan itu masih terekam jelas di otak tomi dan hingga saat ini masih di hantui oleh penyesalan.
Teriak raka dengan menggebu-gebu,dia mengabaikan rasa sakit yang menghujam di dadanya itu juga pening kepalanya yang semakin menusuk.
Sedangkan tomi tetap diam,diam,dan diam dengan tatapan yang sulit di artikan.tanpa berani membantah atau menjawab pernyataan yang di lontar putranya itu.
"Kenapa diam,yah?takut orang lain tau kebusukan ayah?ayah pengecut,bahkan tidak pantas di panggil seorang ayah dan suami."
"KATAKAN JIKA RIKO ITU PUTRA KANDUNG AYAH!!!!"
PLAKKKKK
Lagi,tangan mulus santika melayang di pipi tirus putranya bahkan lebih keras dari sebelumnya,bahkan santika semdiri sampai merasakan perih di tangannya.
Raka,pemuda itu hanya mematung di tempatnya,perih,sakit,hancur kini di rasakannya.
Dia menatap keluarganya dengan sayu,penglihatannya masih terlihat jelas,dia masih bisa melihat bundanya yang berteriak marah ke arahnya.
Raka menunduk sebelum tangan itu mencengkram erat dada kiri itu,sumber sakit yang juga ikut menambah bumbu kesakitan tubuh ringkih itu.
Tubuh itu semakin menunduk hingga meluruh di lantai dingin karna kakinya sudah tidak bisa menopang tubuh itu lagi.
Mulut itu terbuka mencoba menghirup oksigen yang semakin menitipis untuknya disana dengan rakus.
"Ahhhkkkkkk"suara ringisan raka menggema disana,namun semuanya hanya membeku menatap tubuh kesakitan itu,mendadak bodoh hingga tidak tau harus melakukan apa.
Hingga riki dengan cepat berlari ke arah raka yang tergeletak disana seraya meringis mencengkram dadanya dan memukulnya kuat-kuat.
"Raka?lo kenapa hah?mana yang sakit?bertahanlah,kita kerumah sakit sekarang"ucap riki dengan bergetar dan air mata yang entah sejak kapan mengalir di wajah itu.di pangkunya kepala raka dengan tubuh yang menggeliat kesakitan itu.
Tiba-tiba saja dia merasakan penyesalan saat ini,untuk pertama kalinya dia melihat keadaan raka yang seperti ini dan rasa takut kehilangan langsung menghantuinya.
"Maaf dek,maaf.abang minta bertahanlah hm?hikssss ayah?bunda?jangan diam saja.panggil ambulance!!!"pekik riki dengan panik dan juga geram melihat tingkah kedua orangtuanya yang hanya membeku disana.
Tomi terkesiap,kemudian merogoh sakunya untuk menghubungi panggilan darurat itu dengan gemetar.sedangkan santika hanya menatap tangannya yang gemetar itu dengan nanar dan raka secara bergantian.
"Adek,lo masih sadar 'kan?jangan tutup mata lo,please!"kata riki lagi seraya menepuk-nepuk pipi raka pelan,dan tentunya raka masih melihat wajah kembarannya yang beberapa hari ini mengabaikannya.hanya saja dia tidak tau apa yang di ucapkan oleh riki.
Hingga beberapa menit kemudian,ambulance tiba dan dengan cepat,riki menggendong tubuh yang hampir kehilangan kesadaran itu ke luar.
"Jangan tutup mata lo ra,gue mohon.maaf,please ra"kata itu terus meluncur dari bibir riki dengan bergetar,isakan kecil juga terdengar disana.
Setelah raka di masukkan kedalam ambulance,petugas disana langsung memasangkan alat medis ke tubuh ringkih itu seraya tetap menyerukan nama pemuda itu supaya tidak tertidur.
Ambulance itu segera melaju membelah jalanan diikuti mobil mewah milik tomi.
Dengan waktu yang terasa sangat lambat untuk mereka,kini mereka sudah tiba di depan bangunan rumah sakit besar milik farhan.
Dan secara bersamaan,sebuah ambulance lainnya tiba dengan membawa tubuh yang sudah berlumuran darah dan juga telah kehilangan kesadaran itu.
Secara bersamaan,brankar itu di dorong terburu-buru di lorong rumah sakit itu.
Raka,pria itu masih sadar meski nafasnya semakin terputus putus dan detaknya yang semakin melemah,pemuda itu masih bisa melihat satu brangkar lainnya dengan tubuh berlumuran darah yang dibawa bersamaan dengan brankarnya,dia melihatnya dan dia mengenali pemuda itu.
Hingga raka melihat kearah ayahnya yang sebelumnnya mengikuti brankar yang membawa tubuh lemahnya itu kini berbalik arah ke brankar di sampingnya itu.dia masih sadar saat tomi,ayahnya itu menatap pemuda yang terluka parah karna kecelakaan itu dengan cemas,hingga sang bunda yang juga mengikuti suaminya itu dengan penasaran.
Raka tersenyum miris dibalik masker oksigen itu,bahkan saat dirinya hampir di ujung kematian,ayah bundanya tidak akan pernah peduli.
kini tatapannya tertuju pada riki yang tidak melepaskan genggaman tangannya itu sebelum netra itu tertutup sempurna,gelap,detak itu menghilang,deruan nafas itu tidak ada lagi,kini raganya sudah di tinggalkan oleh jiwanya, pemuda itu tidak merasakan sakit lagi.
Dan bersyukurlah raka karna tuhan telah membiarkannya menyerah.
#Tbc