
Riki mengetuk pintu kamar raka beberapa kali namun tidak ada sahutan sama sekali membuat riki sedikit khawatir.dengan ragu,riki membuka kamar itu berharap jika adiknya itu sedang tertidur disana namun nihil,raka tidak ada.
Riki mendesah pelan,sebelum turun kelantai bawah dan mendekati tomi yang duduk diruang tengah sambil membaca koran.
"Ayah,raka mana?"tanya riki langsung membuat tomi menatap riki dengan jengah.
"Kenapa nanyain anak itu?dia pasti sedang keluar membuat masalah sekarang.nongkrong dengan teman berandalnya itu"sahut tomi dengan malas.
"Sejak kapan?riki tidak melihatnya keluar tadi.dikamarnya juga tidak..."riki terdiam sebentar,kemudian menatap ayahnya itu dengan tatapan menyelidik.
"Apa yang ayah lakukan sama raka lagi?"tanya riki setelah berpikir jika setelah pertemuan mereka diruang kerja tomi tadi,raka langsung keluar dari rumah.berarti raka dan tomi bertengkar lagi.
"Riki cukup,ayah lagi tidak mau membahasnya.dia selalu membuat saya pusing"kata tomi dengan kesal dan menatap tajam riki.
"Terserah ayah!!!"kesal riki kemudian berlalu dari sana.
Berkali kali riki menghubungi ponsel raka namun belum juga mendapat jawaban dari si empunya membuat riki semakin khawatir.
"Semoga semua baik baik saja'batin riki namun entah kenapa dia dirudung gelisah saat ini.
.
.
.
Jam masih menunjukkan 6:38 pagi tepat cindy sudah tiba disekolahnya.padahal masih banyak waktu untuk masuk sekolah,tapi entah setan apa yang merasuki cindy hingga bisa datang kesekolah terlalu pagi.
Masih terekam jelas kejadian kemarin yang selalu membuat pipi cindy merona dan sesak bersamaan.apa masalah raka terlalu berat sampai menangis?
Dengan langkah semangat,cindy memasuki kelasnya itu dan langsung menuju mejanya.suasana sekolah masih terbilang sepi hingga cindy sedikit bosan.
Raka juga belum datang dan cindy harus melakukan sesuatu untuk mengusir kebosananya.
Cindy merogoh sakunya dan memainkan ponselnya mengalihkan kebosanannya.
Hingga kedatangan devan dan rio membuat cindy kembali semangat.dia langsung menyimpan ponselnya itu dan mendekati kedua sahabat raka.
"Pagi semua....raka udah datang?"tanya cindy dengan wajah binarnya itu membuat devan dan rio heran melihat gadis didepannya itu.
"Mana gue tau?emang kita bonyok nya?"sahut rio malas membuat cindy langsung mencebikkan bibirnya kesal.
"Kan kalian sahabatnya,siapa tau raka ada sama kalian"kata cindy
"Dari semalam dia nggak balas pesan kita.tau tuh anak,nggak biasanya ngilang seperti ini.biasanya setiap malam dia selalu nongkrong ditempat kita"ucap devan sambil menggerutu namun membuat cindy jadi bingung.
"Tapi kata riki,dia nggak dirumah semalaman,terus dia juga nggak ada sama kalian.lalu kemana raka?"ucap cindy yang juga menarik perhatian devan dan rio.
"Raka nggak dirumahnya?"tanya rio yang hanya dibalas anggukan dari cindy
Cindy kembali duduk dikursinya dengan wajah murung kemudian melirik kursi kosong raka.
"Lo dimama sih ra?"lirih cindy dengan wajah yang ditekuknya
.
.
.
#flashback on
Dua orang bocah yang jika dilihat wajah mereka sama namun bedanya,satu terlihat murung dan satu lagi terlihat kebingungan.
Bocah kembar,itu yang sering orang menyebut mereka yang tak lain riki dan raka.
Bocah berusia sepuluh tahun dengan wajah murung itu atau sering dipanggil raka terlihat duduk di sofa empuk dengan wajah menunduk.sedangkan disampingnya juga ada riki yang mencari ide supaya kembarannya itu tidak murung lagi.
Memang,sejak kepergian sahabat imut mereka ke luar negri beberapa jam yang lalu membuat raka selalu murung dan riki tidak tega melihat adiknya itu bersedih.
"Adek,main yuk!!!!"ajak riki dengan semangat
"Kemana bang?"tanya raka pelan.
Riki terlihat berpikir dengan memutar mutar matanya kemudian memekik heboh saat mendapat ide.
"Gimana kalo kita naik wahana bermain?"ucap riki antusias membuat wajah raka langsung berbinar.
"Emang boleh,abang?"namun belum riki menjawab,raka sudah memasang wajah murungnya lagi.
"Tapi nggak bakal dibolehin sama ayah bunda."ucap raka lesu.pasalnya kedua orangtua raka selalu overprotektive padanya.tidak boleh main itu,tidak boleh main ini,tidak boleh makan ini,tidak boleh makan itu.semua kehidupan raka seperti di atur oleh tomi dan santika.entah apa yang membuat mereka seperti itu pada dirinya,tidak ada yang tau.tapi anehnya lagi,mereka hanya melakukannya pada raka sedangkan riki mereka biasa biasa saja.yang jelas,raka tidak menyukai sikap berlebihan orangtuanya itu.
"Adek tenang aja,kita minta ditemani sama tante anissa aja"usul riki lagi membuat raka kembali berbinar.
"Tante anissa?iya,adek mau."sahut raka dengan girang kemudian kedua bocah itu berlari kecil ke arah sebuah kamar tempat dimama tante mereka sedang berduaan dengan suaminya yang tak lain om farhan.kebetulan kedua pasangan yang baru menikah itu menginap di rumh mereka.
Lebih tepatnya sih,ayah bunda mereka sedang di luar negri melakukan pekerjaan mereka dan tante sama om mereka menginap untuk menjaga dua bocah kembar itu.
"Tante!!!"panggil raka kuat hingga membuat sepasang manusia di kamar itu langsung membuka pintunya dengan cepat.
"Ada apa sayang?kenapa teriak-teriak?"tanya anissa dengan wajah khawatirnya berpikir sesuatu telah terjadi pada keponakannya itu namun yang dia dapat hanya senyuman gemas dari raka membuat anissa menghembuskan nafas leganya.
"Tante,kita mau ditemani main sama tante hehehe"ucap raka dengan senyum gemasnya membuat anissa terkekeh.
"Hei jagoan om mau main dimana hm?"tanya om farhan yang menunduk mensejajarkan tinggi mereka.
"Wahana bermain om.boleh kan?"sahut riki antusias membuat anissa dan farhan terdiam.
"Tapi sayang,ayah sama bunda udah larang adek buat main kan?kita main di rumah aja ya?"ujar anissa dengan lembut membuat raka memasang wajah cemberutnya.kenapa semua orang melarangnya melakukan ini itu?
"Emang adek bakal mati kalo main bentar ya tante?nggak kan?kenapa terus larang adek sih.adek juga pengen seperti anak lain yang bebas main,pengen seperti abang riki yang nggak dilarang ini itu.hikss kenapa adek nggak boleh main hikss"tangis raka akhirnya pecah membuat anissa dan farhan jadi kalang kabut juga riki yang mencoba menenagkan adiknya itu.
"Aduh sayang,,,ok.kita kesana sekarang tapi jangan nangis lagi ya.adek kan jagoan jadi nggak boleh nangis"ucap farhan mencoba menenangkan raka.
"Bener om?yeeeeee om farhan terbaik!!!"girang raka kemudian melompat lompat senang.
"Adek,jangan lompat lompat.nanti kecapean.sekarang kalian siap siap ok!"sikembar mengguk antusias kemudian segera berlari kekamar masing masing namun seruan anissa membuat mereka harus berjalan
"Adek,jangan lari lari!!!"ya,,,selalu begitu,raka selalu dilarang melakukan kegiatan berat oleh keluarganya membuat raka dan riki kadang bingung.ada apa dengan dirinya?apa dia sakit?kenapa mereka selalu memperlakukan raka layaknya orang sakit?,pertanyaan itu lah yang selalu mereka ucapkan namun tidak ada jawaban dari siapapun.
.
.
.
Sekarang,disini lah mereka berempat berada.di mana tempat banyak wahana bermain membuat raka dan riki sangat antusias ingin mencoba semuanya.
"Tante,abang mau mobil mobilan"rengek riki saat melihat jualan mobil mobilan disana.tante anissa menggangguk setuju kemudian mendekati penjualan tersebut.
Sedangkan raka,bocah itu sedang duduk manyum bersama farhan ditempat teduh.
Dia dilarang untuk berkeliling terlalu lama.hei,,,dia juga ingin melihat sekeliling tempat itu kan?
"Jagoan om mau sesuatu?"tanya farhan menghibur raka yang sedang duduk manyun itu.wajah raka seketika berbinar mendengar tawaran om nya itu.
"Adek mau naik itu om?"tunjuk raka dengan semangat ke arah mainan kuda-kudaan itu membuat farhan tersenyum manis.
"Tapi adek hati hati ya."ucap farhan kemudian membawa raka kesana.namun belum sampai di tempat itu,riki dan tantenya sudah datang dengan barang barang di tangan mereka.
"Abang beli bola?"tanya raka dengan wajah berbinarnya menatap bola itu.
"Iya,kapan kapan kita main bola ya dek"ujar riki kemudian memberikan bola itu dipegang oleh raka membuat wajah raka semakin berbinar.jujur saja dia sangat menyukai permainan bola namun kedua orangtuanya itu melarangnya.
"Abang,adek,kita makan ya.ini udah waktunya makan siang"ucap anissa membuat raka kesal.
"Tapi tante,adek belum mencoba permainan disini.abang aja udah bermain tadi massa adek belum"kata raka memanyunkan bibirnya.
"Adek nggak boleh main dulu sayang.kapan kapan ya"dengan kesal,raka pergi dari sana.untuk apa dia datang kesana jika cuma duduk?mending di rumah aja nonton film kartun kesukaanya itu.
"Adek,tungguin kita"teriak riki sambil mengejar raka.sedangkan farhan sudah berjalan keparkiran untuk mengambil mobilnya dan anissa yang mengikuti si bocah kembar.dia tau,raka pasti sangat marah sekarang tapi apa boleh buat?keadaan keponakannya yang tidak memungkinkan itu membuat semua orang harus hati hati menjaga keadaanya supaya tidak drop.
"Adek,tungguin abang ih?"gerutu riki karna dari tadi raka berjalan dengan cepat.
Riki tiba tiba menarik baju belakang raka membuat adiknya itu hampir terjungkal kebelakang.sedangkan bola yang dipegang raka dari tadi sudah terjatuh dan terguling ketengah jalan.
"Abang!!!!bolanya jadi jatuh kan!"pekik raka kesal membuat riki jadi merasa bersalah.
"Maaf dek.adek disini dulu,biar abang ambilin"ujar riki kemudian berjalan menuju bola itu namun benda beroda empat yang melaju kencang kearahnya membuat riki yang baru mendapat bola itu langsung terhempas dan terguling guling di jalan aspal itu dengan darah yang mengenang disana.
Raka,bocah itu membisu ditempat dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya itu.
"Abang..."lirih raka kemudian berlari kearah riki namun lagi lagi sebuah truk yang sepertinya kehilangan kendali melaju kearahnya.
"ADEKK!!!!!"
Brakkkkkkkk
Yang raka ingat sebelum kegelapan menyelimutinya,ada seorang wanita yang tergelatak tak jauh darinya yang sudah bersimbah dara dan tak jauh juga darinya ada abangnya yang sudah tak sadarkan diri.
"Abang...tante anissa,,,"lirih raka sebelum menutup matanya.
#flashback off
"Raka,kamu sudah sadar?mana yang sakit?syukurlah kau sudah bangun"ucapan om farhan yang tak lain dr.farhan yang pertama didengar oleh raka sebelum dia benar benar sadar jika dia sekarang ada di rumah sakit.
Raka mengerjap pelan,ingin menjawab tapi tenggorokannya terasa perih dan panas.
Dia juga merasa ada yang aneh dengan wajahnya dan benar saja,masker oksigen sudah terpasang disana begitu juga selang medis yang melilit tubuh ringkihnya itu.
"Jagoan om harus tetap bertahan ya"ucapan farhan kembali terdengar dengan sendu sambil menggemgam tangan dinginnya itu namun lagi lagi raka tidak bisa menyahut.tubuhnya terlalu sakit dan lemah sekarang namun dia tidak boleh dan tidak akan pernah mengeluh akan hal itu.
"Terimah kasih tuhan karna masih membiarkanku melihat dunia ini"batin raka dengan setetes air mata yang jatuh dari sudut matanya itu.