
Riko dengan buru-buru mengganti semua pakaian sekolahnya dengan pakaian biasa,hari ini dia berniat untuk menjenguk raka.
Sebelumnya tadi pagi saat dia mendengar jika mereka terlibat kecelakaan dari mulut raka sendiri,dia sudah berniat untuk bolos dan menjenguk sahabatnya itu tapi raka dengan segala cara mengatakan jika dirinya baik-baik saja dan lebih baik dia datang sepulang sekolah.
Setelah mengambil kunci motornya,riki turun kelantai bawah menuju pintu keluar rumah itu namun langkahnya berhenti saat netranya menangkap pintu kamar papanya yang terbuka sedikit.
Riko mendesah berat kemudian memandangi pintu itu dengan sendu,akhir akhir ini hubungannya sama papanya semakin renggang.bahkan saling menyapa pun sudah tidak ada lagi.
Riko merindukan papanya yang dulu,yang menyayangi riko melebihi dirinya sendiri,memberikan semua keinginannya,melemparkan kata kata candaan saat berkumpul bersama,tertawa bersama.riko merindukan semuanya.
Tak ingin berlama lama larut dalam kesedihan,riko hendak berlalu dari sana namun lagi lagi langkahnya terhenti saat bayangan ayahnya yang berada di kamar itu seperti bicara dengan seseorang.
Karna sudah terlewat penasaran,riko perlahan mendekati kamar papanya itu kemudian membuka pintu itu semakin lebar,hingga dia bisa melihat punggung papanya yang menelepon seseorang sambil membelakangi ke arahnya.
Namun,kenyataan yang di ucapkan roby,papanya itu membuat riko seketika mematung dengan kepalan tangannya yang mengerat.
"Kamu yakin bukti-buktinya sudah lenyap?pastikan juga cctv disekitar lokasi kecelakaan itu lenyap"
"....."
"Baiklah,nanti sore saya akan mengirimkan bayaran untukmu.tapi tidak sepenuhnya karna kamu gagal membuat anak itu mati.untuk saat ini,kamu bersembunyi dulu.saya akan mengirim alamat tempat persembunyianmu nanti."
"...."
"Ya,lain kali saya masih membutuhkanmu tapi saya harap kamu tidak gagal lagi.raka harus mati.mengerti?"
"....."
"Baiklah,sekarang kamu siap-siap.anak buahku sebentar lagi akan sampai disana"
"...."
Tutt tuttt
Panggilan dimatikan oleh roby,sebelum mendesah kasar dan meletakkan ponsel itu di meja nakas sebelum tubuh itu menengang saat menangkap sosok putranya yang berdiri di pintu kamarnya itu.
Roby dapat merasakan tatapan riko mengarah tajam padanya bercampur dengan rasa marah dan kecewa.riko pasti sudah mendengar semuanya,batin roby yang mulai was was.
"Kenapa kamu disana?"tanya roby berusaha setenang mungkin,menunggu riko yang mendekatinya dengan tatapan kosong anak itu.
"Papa dalang dari kecelakaan raka dan riki?"tanya riko dengan nada yang bergetar.
"Kamu pasti sudah ngerti kalo aku melakukannya."
"Papa berniat membunuh raka?"kini tatapan riko menajam seiring dengan rahangnya yang mengeras.
"Bahkan dari dulu saya ingin melakukannya"sahut roby dengan santai.
"Kenapa pa?jadi papa milih jadi seorang buronan dari pada riko,anak papa sendiri?"
"Jangan pernah melakukan hal yang macam-macam candra"gertak roby membuat riko terkekeh meremehkan.
"Aku nggak peduli lagi dengan status kita orangtua dan anak,secepatnya riko bakal pastiin polisi menghakimi papa."ucap riko dengan penekanan kemudian berlalu dari sana meninggalkan roby yang terlihat frustasi.
"Kamu nggak ngerti nak,papa cuma membuat keadilan meski dengan cara seperti ini"batin roby dengan dada yang menyesak.
.
.
.
Kini diruang rawat raka,sudah ada rio dan devan yang duduk di sofa itu sejak satu jam yang lalu untuk menjenguknya.
Rio,setelah dari tadi mengoceh tidak jelas kini sudah asik memakan makanan ringan yang di bawanya tadi sambil menonton tv.ruangan raka memang ruang rawat vip jadi disana sudah terbilang lengkap membuat kedua sahabatnya itu bebas.
"Ra,lo mau ngapain?"tanya devan melihat raka yang berdiri dari ranjangnya.
"Ya duduk di situ,bosan gue baring mulu.kek nggak punya tulang aja"sahut raka kemudian duduk di sofa itu membuat devan mendengus.
"Lo kapan keluar dari sini?"tanya rio melirik raka sekilas.
"Entah"
"Raka,lo tau nggak?"
"Nggak"sahut raka membuat rio menatapnya dengan tajam sedangkan raka meyengir.
"Belum siap nih ngomonya udah main sahut-sahutan"gerutu rio.
"Itu,si cindy dari tadi galau mulu.dia bilang mau jenguk lo,tapi dia keliatan ragu.lo ada masalah sama anak orang itu?"lanjut rio membuat raka terdiam.
"Dia ada disini"kata rio lagi.
"Disini?"
"Di ruangan riki"
"Ohhh"raka mendesah kemudian memijat pelipisnya yang sedikit pusing itu.
"Lo nggak papa?"
"Hmm"
"Raka,lo sakit apa?cindy bilang lo punya botol obat,trus lo kesakitan gitu.lo belum mau jujur sama kita?"tanya devan,sedangkan raka hanya membisu di tempatnya tidak berniat menjawab.dalam hatinya dia sudah mengumpat kesal terhadap gadis bermulut ember itu.
"Iya ra,kita itu khawatir sama lo.kenapa lo nggak mau terbuka sama kita?apa lo belum percaya kita?"kini rio yang melontarkan pertanyaan.
"Ok,gue akan bilang yang sebenarnya.tapi kalian janji nggak akan bilang sama orang lain khususnya orang terdekat gue,ok?"kedua sahabat raka terlihat mendengus kemudian mengangguk pasrah.
"Sebenarnya hubungan gue sama bonyok nggak baik"ucap raka membuat keduanya memutar matanya dengan malas.
"Dari dulu kita udah tau.yang kita tanya,lo sakit apa?"kata devan kemudian menatap raka dengan intens.
"Mmmm gue..gue cuma punya kelainan jantung"sahut raka terlihat santai,sedangkan rio dan devan sudah menatapnya dengan tatapan kecewa,tidak percaya dan iba.
"Lo canda 'kan rak?"ucap rio berusaha tenang,menunggu jawaban raka mengatakan jika yang di katakan pemuda itu hanya candaan.
"Gue serius"
"Ri,lo tenang dulu,ok?"devan berusaha membujuk rio untuk tenang,namun usahanya membuat rio semakin murka.
"Tenang?LO PIKIR INI MASALAH SEPELE HAH?DIA SAKIT TAPI NGGAK KASIH TAU KITA DEVAN!."bentak rio dengan emosi.
"Lo pikir dengan marah-marah,semua bakal baik-baik aja?jangan bodoh rio,lo kayak gini cuma nambah masalah.raka pasti punya alasan nutupin ini pada kita.lagipula semua orang ada privasinya bukan?"ucap devan berusaha tidak terpancing emosi.
Rio mendesah kasar kemudian mengacak surainya itu dengan frustasi sebelum melirik raka yang diam menunduk itu.kemudian menarik nafasnya dalam berusaha tenang.devan benar,seharusnya dia tidak marah marah yang akan membuat situasi semakin buruk.
Setelah terdiam beberapa saat,rio kembali membuka suaranya.
"Sejak kapan?"tanya rio kemudian dengan lirih.
Raka menatap mereka dengan perasaan bersalah kemudian menunduk lagi.
"Kurang lebih satu tahun"lirih raka membuat rio semakin mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Bagus,sepertinya lo bisa bertahan tanpa kita.mungkin selamanya lo masih bisa bertahan tanpa kita.lo nggak butuh kita 'kan?kalo gitu gue pergi"ujar rio dengan tenang dan meninggalkan ruangan itu.dia kecewa,sangat.rio merasa tidak di butuhkan sebagai sahabat raka,lalu untuk apa dia bertahan disisi raka jika hanya di gunakan sebagai pajangan?
"Rio,lo denger dulu penjelasan gue.gue minta maaf.gue nggak maksud nutup..."
"Udah raka,lo disini aja.biarin rio tenang dulu"potong devan saat raka berusaha mengejar rio yang sudah menghilang dari ruangan itu.
Raka mendesah pasrah kemudian menatap devan dengan merasah bersalah.
"Maaf"
"Nggak papa.gue ngerti.sejujurnya gue sama kecewanya dengan rio tapi gue tau lo juga butuh privasi.omongan rio barusan nggak usah di pikirin,lo tau dia kalo marah 'kan?nantinya dia pasti balik lagi kek dulu"ujar devan kemudian menepuk bahu devan dengan pelan.
"Sekarang lo istirahat gih.muka lo masih pucat"ucap devan yang di balas anggukan pelan dari raka kemudian membaringkan tubuhnya itu di ranjang pesakitan itu dan menutup matanya menuju ke alam mimpi.
Sedangkan devan masih duduk di kursi dekat ranjang raka,menatap wajah pucat sahabatnya itu kemudian mendongakkan kepalanya ke atas menahan cairan matanya yang mendesak ingin keluar.
Nyatanya devan tidak setegar itu mendengar keadaan sahabatnya,meski dia terlihat tenang,namun nyatanya hatinya sudah hancur mengetahui kenyataan pahit itu.
"Gue bakal benci lo jika lo nyerah gitu aja raka"batin devan dengan sendu.
.
.
.
Setelah menutup diri selama dua hari setelah mengetahui kenyataan dalang dari kecelakaan yang menimpa sahabatnya itu,kini disinilah riko berada.
Didepan sebuah bangunan besar tempat raka di rawat.riko menatap bangunan itu dengan ragu,sebelum kaki jenjangnya itu melangkah memasuki bangunan itu dengan pelan.
Sebenarnya riko masih belum sanggup untuk menemui raka,karna dirinya pasti akan semakin merasa bersalah jika sudah berhadapan langsung dengan raka.
Riko gagal,janjinya untuk melindungi pemuda itu nyatanya hanya di bibir saja.raka dan riki terluka karna papanya sendiri dan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa membuat riko semakin membenci dirinya sendiri.
Brakkkkk
Saking asiknya melamun,riko tidak menyadari jika didepannya ada pria paruh bayah.alahasil mereka saling bertuburukan.
"Maaf om,saya tidak sengaja.om baik-baik aja?"tanya riko dengan merasa bersalah,sedangkan pria didepannya itu terdiam mematung menatap riko dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Om,om nggak papa?"tanya riko sekali lagi membuat pria itu tersadar kembali.
"Oh?iya,nggak papa.kamu gimana?"tanya pria itu menatap riko dengan intens membuat riko sedikit risih,namun dia merasa jika pria didepannya itu terasa familiar.tapi siapa dia?
"Nak riko,kenapa kamu ada di sini?"riko menyeritkan alisnya bingung kemudian menatap pria itu dengan was-was.bagaimana pria itu bisa tau namanya?bertemu saja tidak pernah.
"Om siapa?dari mana om tau nama saya?apa kita pernah bertemu sebelumnya"tanya riko membuat pria di depannya menjadi gugup.
"Mmmm itu...kamu...kamu sahabat raka bukan?"tanya pria itu dengan ragu.riko mengangguk pelan.
"Ahhh panggil saja saya om tomi,saya ayahnya.kita pernah bertemu saat umur kamu 11 tahun"ujar pria yang ternyata tomi itu kemudian tersenyum tulus untuk riko.
Riko kembali menyeritkan alisnya bingung,seingatnya dia tidak pernah bertemu dengan kedua orangtua sahabatnya itu,dia hanya mendengar cerita dari raka.atau dia saja yang lupa?
"I-iya om."jawab riko kemudian tersenyum tipis.riko bisa merasakan kehangatan dan ketulusan yang terpancar dari netra pria paruh baya itu,lalu kenapa tatapan itu tidak ada untuk raka,putranya sendiri?atau yang dilihatnya sekarang ini hanya sandiwara?
"Rakanya ada di ruang berapa om?"tanya riko membuat tomi memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan pemuda di depannya itu.
"Mmm di lantai tiga no.261"sahut tomi ragu,karna dirinya juga tidak pernah ke ruangan putra bungsunya itu.dia bersyukur jika anak itu sempat mengatakan dimana letak ruangannya itu hingga bisa berharap jika pemuda di depannya itu tidak menilainya sebagai ayah yang buruk.
"Makasih om,kalo gitu saya jenguk raka dulu om.permisi"pamit riko
"Tunggu?"cegah tomi saat riko sudah melangkah menjauh darinya.
"Kenapa om?"
"Mmm saya akan mengantarmu"kata tomi dengan canggung.
"Tidak perlu om.Riko bisa sendiri kok"sahut riko tidak enak hati.
"Nggak papa.om juga sekalian mau kesana."akhirnya riko mengangguk pasrah atas permintaan ayah sahabatnya itu.
Selama menuju ruang rawat raka,tidak ada yang memulai percakapan.keduanya hanya terdiam dengan canggung.
Hingga tiba di depan ruangan yang mereka tuju,tomi tiba-tiba terdiam terlihat tidak berniat memasuki ruangan itu.
Sedangkan riko meliriknya dengan senyum simpul.dia tau jika tomi tidak akan pernah memasuki ruangan itu dan ini adalah kesempatannya untuk memperbaiki hubungan orangtua dan anak itu.
"Om tidak masuk?bukannya om tadi mau kesini?"
"Itu..."
"Ayo om,raka pasti senang jika melihat om datang"potong riko kemudian menarik tangan tomi memasuki ruangan itu.
Dengan pasrah,tomi memasuki ruangan raka kemudian mengepalkan kedua tangannya yang sudah dia masukkan kedalam saku celananya dan menatap dingin pemuda yang terbaring itu,yang juga sedang menatapnya dengan mata berbinarnya.
"Ayah?"pekik raka senang,sedangkan tomi hanya menatapnya tajam dan dingin sangat berbeda saat dia menatap riko,pemuda yang bahkan tidak mengenal dirinya itu.
"Jika bukan karna riko,saya tidak pernah sudi datang ke sini"itulah arti tatapan yang tomi lemparkan untuk putra bungsunya itu.
#tbc