
Wajah riki langsung berbinar setelah melangkah keluar dari gedung sekolah dan menemukan bundanya yang tersenyum lebar kearahnya.riki langsung mendekati bundanya itu dengan senyum lebarnya juga.
"Bunda sudah lama menunggu?"tanya riki dengan semangat.
"Hmm bunda baru datang sayang.bunda sengaja menjemputmu karna mobil mu sedang dibengkel bukan!"ucap santika dengan lembut.
"Heheheheh trima kasih bund"ucap riki dengan senyum imutnya.santika hendak menuntun riki kemobilnya namun ditahan oleh riki membuat santika menyeritkan alisnya bingung.
"Tunggu sebentar bunda"ucap riki sambil menoleh kebelakang dan sekitarnya hingga wajahnya semakin berbinar saat mata hitam pekat itu menangkap gadis yang dicarinya sedang berjalan dengan wajah yang ditekuk.
"Cindy!!!"panggil riki sedikit berteriak membuat cindy menoleh keasal suara dan netranya langsung membulat sempurna melihat anak ibu yang berdiri tak jauh darinya.
"Bundaaa!!"pekik cindy dengan senang sambil berlari dan memeluk bunda sahabatnya itu.
Cindy memang selalu memanggil santika dengan bunda sejak dulu.
Santika yang sempat terkejut langsung mengulum senyum manisnya dan mengelus surai hitam cindy dengan sayang.
"Wahhh nak cindy semakin cantik ya.bunda sangat kangen sama kamu nak"ujar santika dengan wajah bahagiaanya.
"Cindy juga bunda.maaf karna tidak pernah menghubungi kalian"ucap cindy menyesal.
"Tidak apa apa sayang.yang penting sekarang kita bisa bersama seperti dulu lagi kn."cindy mengangguk lucu membuat riki dan santika terkekeh.
"Nah...gimana kalau kita pulang bareng.bunda ingin mengobrol banyak dengan mu"usul santika yang langsung diangguki setuju oleh cindy.
"Tapi bun,kita tidak tunggu raka dulu?"satu pertanyaan dari gadis itu membuat raut wajah santika langsung berubah namun tak lama,wanita itu kembali tersenyum.
"Dia bawa mobil sendiri kok.jadi dia akan menyusul"ucap santika
"Tapi..."
"Sudah sudah,mending kita berangkat sekarang ya"potong santika membuat cindy hanya terdiam dan menurut saja.sedangkan riki mendesah kasar mendengar alasan tak jelas bundanya itu kemudian hendak memasuki mobil itu namun urung saat dilihatnya mobil dibelakang mereka.
Dia sangat mengenal mobil itu dan juga dia yakin pemilik mobil yang ada didalam itu sedang tidak baik baik saja melihat adegan mereka tadi.
Riki hendak berjalan mendekat kearah mobil itu namun pemiliknya sudah melajukan mobil itu dengan kecepatan diatas rata rata.
Dengan wajah kecewa,riki memasuki mobil bundanya yang sudah siap dengan cindy didalamnya juga.dan selama perjalan kerumah,riki hanya terdiam dengan tatapan kosong.
.
.
.
Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata rata dengan jalan raya yang tidak terlalu ramai itu dengan wajah yang mengeras.
Tanggannya mencekram kuat setir itu melampiaskan kekesalannya barusan.
Dia melihatnya,dia melihat wajah berbinar bundanya memeluk riki saudara kembaranya.dia juga melihat senyum manis keibuan itu mengarah ke cindy dan dia melihat wajah kesal ibunya saat mendengar namanya disebut oleh cindy.
Walau sudah terbiasa melihat adegan seperti itu namun,hatinya masih terlalu perih melihatnya.
Dia selalu berharap wajah bundanya berbinar jika namanya disebut dihadapannya namun,sampai waktunya berhenti pun harapan itu tidak akan pernah ada.
Raka menghentikan laju mobilnya tepat didepan bangunan atau sering disebut basecamp mereka dengan kedua sahabatnya sering berkumpul bersama.
Setelah membuka pintu ruangan itu,langsung terdengar suara ribut dari dalam yang tak lain devan dan rio.
"Eh lo dah dateng?"tanya rio setengah melirik kantong kresek yang dibawa oleh raka.
"Whiskey lagi?"lanjut rio yang sudah dapat menebak benda didalam kantong yang dibawa raka.
Sedangkan raka hanya langsung melengos masuk dan duduk disofa empuk yang tersedia disana dengan santai.
"Hei bro,akhir akhir ini lo terlalu murung dan makin pendiam deh.lo ada masalah?"ucap devan yang duduk disamping raka sambil memperhatikan pria yang mulai membuka botol alkohol itu dan meminumnya dengan santai tanpa menjawab pertanyaan dari sahabat sahabatnya
"Kebiasaan memang kalau ditanya cuma dicueki"gerutu rio yang juga meminum whiskey itu dengan cepat.
"Hahhhhh gue lelah"desah raka dengan berat membuat kedua pria didekatnya menatap raka dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Maksud lo ka?"tanya rio yang tidak mengerti.
"Gue pengen nyerah aja"lirih raka dengan sendu kemudian tersenyum miris.
"Ka,lo bisa cerita ke kita masalah lo.kita udah hampir dua tahun bersama tapi lo bahkan tidak pernah berbagi masalah lo sendiri.apa lo belum menganggap kita sebagai sahabat lo?"ucap devan dengan kesal dan kecewa melihat temannya itu selalu memendam masalahnya.padahal jika dirinya dan rio ada masalah,raka selalu turut membantu mereka.lalu kenapa mereka juga tidak bisa membantu raka?apa dia belum percaya dengan kita?โฆbatin devan.
"Kita bakal tunggu lo sampe siap bagi masalah lo ka.kapan pun lo butuh kita,kita bakal siap bantu lo"ujar rio sambil menepuk bahu rapuh itu dengan lembut.dia tau saat ini raka butuh waktu dan dia tidak ingin memaksa sahabatnya itu yang bisa saja nantinya semakin tertekan.
Raka menganggkat kepalanya kembali kemudian tersenyum tulus kearah mereka.
"Trima kasih karna kalian masih bertahan disisi gue.hanya tetap disisi gue,gue sudah sangat bersyukur"
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 23:49 raka baru memasuki rumah mewah keluarga mereka itu dengan langka gontai.gelap,sunyi adalah keadaan yang menyambut raka dirumah itu.dia yakin seluruh penghuni rumah itu sudah memasuki alam mimpinya.
Dengan ragu,raka melangkahkan kakinya menuju kamar yang ada di lantai dua.namun,baru tangga ketiga kakinya melangkah,lampu tiba tiba menyalah membuat raka terkejut.
Raka mengelus dadanya pelan akibat keterkejutannya hingga sekarang jantungnya seperti kembali bermasalah.
Setelah mulai tenang,raka berbalik kebelakang dengan wajah datar dan dingin dan tepat diruang keluarga itu,seorang pria paruh baya menatap raka dengan tatapan tajam dan rahang mengeras.
Siapa saja yang melihat pria itu pasti akan menunduk takut.namun,itu tidak berlaku untuk raka yang memang sudah terbiasa melihatnya yang tak lain adalah ayahnya Toni.
Dengan langkah tegapnya,toni mendekati raka dengan masih tatapan tajam dan rahang mengerasnya.
"Dari mana saja kamu?apa kamu tidak bisa sekali saja membuat masalah?"bentak toni dengan suara berat nya.
Raka berdecih pelan sebelum menatap ayahnya itu tepat di manik tajam itu.
"Raka memang selalu salah di mata ayah jadi apa salahnya jika saya membuat masalah saja?"ucap raka dengan suara dinginnya.
"Kamu masih untung saya tampung disini seharusnya kamu tau diri sialan!!!"
Jlebb
Lagi lagi ucapan yang menyakitkan yang selalu raka dengar membuatnya kembali terjatuh ke jurang tak berdasar.
Dengan susah payah raka menahan air mata yang hampir saja keluar,dengan tersenyum miris,raka mendekatkan jarak diantara mereka.
"Jadi ayah menyesal dengan keberadaan raka?"ucap raka dengan suara tercekat.
"Benar"sahut toni dengan tegas namun maniknya menatap ke arah lain menghindari tatapan sendu raka.
"Kalau begitu,kenapa ayah masih membiarkan raka hidup?kenapa tidak membunuh raka saja?"
"Karna saya bukan dirimu yang dengan mudahnya ingin membunuh keluarganya sendiri"raka memejamkan matanya saat toni kembali mengungkit masa lalu itu.
"Raka tidak pernah membunuh jadi tolong jaga ucapan anda yang kurang sopan ini..."
Plakk
Ucapan raka terhenti dengan tubuh menegang saat merasakan sapaan tangan ayahnya tepat dipipinya.raka bergeming hingga suara toni membuatnya kembali menoleh kedepan tepat ayahnya.
"Seharusnya kau tidak kembali lagi kesini.kau pembawa sial di rumah ini"toni langsung melangkah setelah mengucapkan kata kata manis itu dengan tajam.
Raka tertawa miris kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar yang sunyi itu.menghabiskan malamnya dengan kesakitan yang tak dapat terobati lagi.
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Raka memicingkan penglihatanya saat beberapa motor menghadang mobilnya yang hendak kesekolah.kemudian,pria itu berdecak kesal setelah menebak pemuda dengan jumlah 5 orang itu.
Dengan malas,raka keluar dari mobilnya dan menatap kelima pria itu dengan kesal.
"Woi,klian gak ada kerjaan apa?gue mau sekolah jadi tolong motor klian itu di minggirin.gue mau lewat"ujar raka dengan santai.
Kelima pria itu tersenyum licik kemudian satu persatu turun dari motor mereka masing masing dan mendekati raka yang berdiri dengan tenang.
"Gue suka dengan kepribadian lo"sahut salah satu dari kelima pria itu yang disebut ketua mereka.
"Gue bosan dengernya.udah deh rik,mending lo belajar aja baik baik supaya tahun ini lo lulus skolah dengan nilai yang pantas"balas raka terdengar sinis namun ucapan raka membuat pria yang sering dipanggil riko semakin tersenyum licik.
"Gue bakal dapetin lo seutuhnya raka aditya pranata.lo tunggu aja tanggal mainnya.gue bakal buat lo bekerja sama dengan saya tanpa bujukan lagi."ucap riko mengabaikan sindiran raka barusan.kemudian berbalik menunggangi motornya dan meninggalkan raka yang menatap kepergian mereka dengan datar.
"Gila"guman raka pelan namun raka merasa ada sesuatu yang akan terjadi.mungkin,riko akan kembali melakukan hal licik.