
Sudah lima hari lamanya raka terkurung di tempat berbau obat obatan itu membuat raka semakin pusing dan muak di buatnya.
Sejak tiga hari yang lalu dia sudah merengek minta pulang namun memang om nya yang satu itu sangat keras kepala.lebih parahnya lagi dia mengancam akan mengatakan kepada kedua orangtuanya tentang keadaanya sekarang membuat raka pasrah untuk menjadi penghuni ruang rawat vip itu.
Raka membuka ponselnya yang sejak lima hari yang lalu tidak dibuka karna om nya menyita ponsel itu dan baru beberapa menit yang lalu diberikan untuknya lagi.
Notif pesan dari dua temannya itu,cindy dan juga riki langsung memenuhi ponselnya itu.
Devan alay:
lo masih hidup kan ka?
lo dimana ra?.
Balas dlu ban*s*t😬.
Kita khawatir sama lo raka.
Lo baik kan?gue kangen lo ra😢😢
Anjirrr pulang napa!!!!
Raka menghembuskan nafasnya kasar membaca pesan devan yang entah seperti apa.membaca pesan devan aja sudah membuat raka pusing apalagi rio yang alaynya lima kali lipat dari devan?
Bisa bisa dokter disini akan memperpanjang kontraknya untuk menginap ditempat ini.
Raka hendak membalas pesan devan namun sebuah pesan baru yang terlihat dari balon percakapan itu membuat raka tertegun dan urung membalas pesan dari devan.
Tangan raka dengan lincah membuka chat itu.
Riko:"lo baik baik aja 'kan?ada waktu sebentar?gue pengen bicara ama lo"
Raka kemudian teringat pada pertemuan terakhir mereka membuat raka mendesah berat.
Apa dia harus menemui mantan sahabatnya itu?toh dia juga butuh penjelasan yang waktu itu.
Dengan ragu,raka membalas pesan itu.
Ok,gue tunggu besok
Raka langsung menutup ponselnya itu saat kepalanya kembali terasa pusing.padahal dia baru saja memainkan ponselnya itu.
Cklekkk
Raka melirik malas kearah pintu ruangannya itu dan muncul dr.farhan dengan senyum sendunya itu mendekati ranjang pesakitan keponakannya itu.
"Apalagi om?"tanya raka karna masih beberapa menit yang lalu dr.farhan itu keluar dari sana.
"Kenapa?tempat ini milik saya,jadi suka suka saya mau masuk"ketus dr.farhan membuat raka terkikik geli.
"Holkay mah bebas"kata raka kemudian tersenyum lebar, terlalu lebar membuat farhan mengerti maksud dari senyuman itu.pasti ada maunya anak itu.
"Om,,,raka boleh pulang besok ya"bujuk raka dengan memasang wajah memelasnya.
"Tidak,kamu masih harus dirawat beberapa hari lagi disini raka.kamu itu masih lemah.bagaimana jika kamu drop lagi hah?bahkan lebih parah dari kemarin?"ucap dr.farhan dengan kesal.jujur,saat dia melihat raka beberapa hari yang lalu tergeletak dipinggir jalan gelap dekat rumahnya itu membuat dia saat itu sangat ketakutan.
Apalagi dia merasakan detak nadi pemuda itu hampir hilang membuat dunianya seakan hancur.dia sudah kehilangan istri tercintanya dan dia tidak mau kehilangan lagi.
Dan untuk pertama kalinya dia melihat keadaan raka seburuk itu.raka kritis,itulah kenyataan yang dia dapat saat itu.
Dan sekarang,dengan entengnya raka berkali kali membujuknya untuk segera pulang.padahal raka pasti lebih terluka lagi jika kembali kesana.
"Tapi riki pasti sedang khawatir sekarang om.bagaimana jika riki sakit?ayah sama bunda pasti sedih"ucap raka membuat dr.farhan menghela nafas jengah.
"Apa karna itu kamu minta pulang?"tanya dr.farhan membuat raka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tidak sih om.raka hanya mau..."
"Mau apa?"
"Rahasia"sahut raka yang mendapat tatapan kesal dari omnya itu.
"Om nggak bolehin"
"Ayolah om raka yang terganteng"bujuk raka masih berusaha.
"Raka janji kejadian kemarin nggak bakal terulang lagi"lanjut raka.dr.farhan menatapnya dengan sinis,setiap raka sakit,pemuda itu pasti berjanji tidak akan pernah sakit lagi tapi yang ada makin parah.
"Nggak usah janji kalo nggak di tepati.nambah dosa aja"gerutu dr.farhan membuat raka terdiam.om nya benar,selama ini raka selalu berjanji tapi tidak pernah ditepatinya.pasti dosanya sekarang sudah sangat banyak.apa tuhan masih menerimanya nanti disisnya?
"Apa raka bakal diterima allah disisinya?raka takut om,raka terlalu banyak dosa.raka pembawa sial,raka pembunuh tante anissa,rak..."
"CUKUP!!!ada apa denganmu hah?kenapa kamu jadi seperti ini?kamu bukan pembawa sial,kamu bukan pembunuh.paham?"bentak dr.farhan membuat raka menunduk.
"Ayah sama bunda aja bilang kal..."
"DIAM!!!sudah berapa kali om bilang hah?jangan pernah dengar perkataan mereka.mereka tidak tau apa-apa"farhan menghela nafasnya dengan kasar kemudian mengacak surainya itu.dia kelepasan,dia tidak berniat membentak keponakaannya itu.sungguh.
Kini raka hanya menundukkan kepalanya itu dengan menggigit bibir bawahnya dengan kuat.ini pertama kalinya om nya itu sangat marah padanya dan ini akibat kesalahannya.dia sudah membuat om nya itu kecewa.
"Itu memang kenyataannya om,raka nggak seharusnya ada di sini"lirih raka sebelum memejamkan matanya untuk mengurangi pening yang semakin bertambah.
.
.
.
Didalam perjalanan menuju kerumah raka,pemuda itu dengan dr.farhan hanya diselimuti keheningan.sesekali raka melirik om nya yang fokus menyetir itu kemdian menatap kosong ke arah jalanan.
Sesuai permintaan raka,dr.farhan akhirnya membiarkan raka pulang hari ini.tapi raka tau jika om nya itu masih sedang marah terbukti sejak kejadian itu,farhan tidak menjenguknya dan hanya datang saat dia dibolehkan untuk pulang dan memintanya untuk diantar.
Dan setelah itu,tidak ada lagi percakapan di antara mereka.raka berusaha membuka percakapan namun om nya itu hanya diam.
Setelah keheningan yang mencekam itu,kini mereka sudah tiba didepan rumah mewah itu.raka menoleh ke arah om nya sebelum turun dari mobil mewah itu.
"Om,rak...."belum sempat raka menyelesaikan ucapannya,mobil itu sudah melaju cepat menjahui dirinya.kini raka lagi lagi merasakan sakit itu,diabaikan.
Setelah mendesah kasar,raka langsung berjalan memasuki rumah itu dengan langkah lemah.sebenarnya tubuhnya saat ini memang masih lemah tapi dia juga tidak mau berlama lama di tempat berbau obatan itu.
Rumah itu tampak sunyi,mungkin ayah dan bundanya sedang ke kantor dan riki pasti sekolah,tebak raka asal kemudian menaiki tangga menuju kamarnya meski sempat hampir jatuh.
Setelah tiba di depan kamarnya,raka tidak langsung memasuki ruangan itu.pemuda itu kembali berjalan ke arah kamar yang bersebelahan dengan kamarnya itu saat mendengar samar samar suara gaduh disana.
Dengan ragu,raka membuka pintu kamar itu dengan pelan dan dilihatnya riki yang terbaring di sana dan juga ayah bunda duduk disisi pemuda yang sedang terbaring itu.
Raka menghembuskan nafas sebelum menutup pintu kamar itu kembali dan memasuki kamarnya itu.
Bahkan raka yakin,orangtuanya tidak mencarinya selama beberapa hari ini yang tidak pulang itu.
Baru saja dia merebahkan tubuhnya di kasur itu,suara pintu kamarnya yang terbuka langsung mengurungkan niatnya untuk istirahat sebentar.
Disana,tomi ayahnya berdiri dengan wajah memerah menahan emosinya.raka berharap suatu saat wajah itu memancarkan wajah cemas untuknya.tapi itu mungkin cuma angan angan.
Raka kembali berdiri dengan susah payah dan memberanikan menatap ayahnya itu dengan tenang.
"Ada apa ya..."
Bughhh
Sebuah bogeman pada sudut bibirnya membuat raka menghentikan ucapannya dan digantikan suara ringisan pelan.
"Masih ingat pulang kamu.jika ingin berontak nggak perlu datang kesini lagi.lihat,gara gara kamu anak saya jadi sakit lagi.dasar pembawa sial maunya cuma nyusahin aja."bentak tomi marah.sebenarnya saat raka membuka pintu kamar riki,dia sempat melihat anak itu namun dia mengurung niatnya untuk memarahi anak itu melihat kondisi putra kesayangannya itu drop selama tiga hari ini.
"Raka capek yah,mau istirahat dulu"ujar raka pelan kemudian kembali duduk di kasurnya itu karna kakinya benar benar tidak sanggup menahan tubuhnya itu lagi.
Namun tomi langsung menarik kerah baju raka dan memaksanya berdiri membuat wajah pucat raka semakin memucat karna merasakan oksigen disana semakin menipis.
"Rupanya kamu belum sadar posisimu ya.kamu ada disini karna permintaan putra saya,jika tidak maka saya tidak pernah sudi melihat wajah kamu.saya tegaskan sekali lagi,jika kamu buat ulah lagi maka saya tidak akan segan segan mengusirmu dari sini.kamu pantasnya jadi gelandangan"walau kesusahan bernafas,raka masih mendengar jelas ucapan ayahnya itu.sakit di sekujur tubuhnya tidak sebanding dengan sakit hatinya sekarang.
"Lep...asss ayah!!!!"lirih raka dan dengan sisa tenanganya,raka melepaskan cengraman tangan ayahnya itu dan dengan itu,tubuhnya langsung ambruk dengan nafas terengah engah.
"Cukup ayah,raka capek."seru raka berusaha meningkatkan volume suaranya meski sia sia,suara itu seperti hanya lirihan.
Tomi hanya menatapnya sinis,salah mengartikan ucapan raka.
"Tentu saja kamu capek,kamu selama ini hanya kelayapan dengan para berandal.aku yakin kamu sekarang sudah memakai narkoba.iya kan?"raka hanya memejamkan matanya itu dengan pasrah atas tuduhan tak jelas sang ayah.
Raka kemudian berdiri susah payah,kemudian menatap ayahnya itu dengan tajam.
"Iya,raka memang sudah memakai benda itu,lalu kenapa?anda mau melapor polisi?silahkan saja."tantang raka membuat tomi terkekeh remeh.
"Kamu pikir saya mau mempermalukan keluarga saya?dari pada polisi yang menghakimi,bukankah seorang ayah lebih pantas menghakimi anaknya sendiri?"ucap tomi kemudian tersenyum licik.
Raka mengerti akan tatapan dan senyuman itu,raka memang berani melawan setiap ucapan ayahnya itu tapi jika melawan setiap perlakuan ayahnya,maka itu pantangan besar untuknya.
Tomi menarik kasar tangan raka dan mendorong tubuh ringkih itu membuat raka tersungkur begitu saja.
Dan dengan emosi,dia menendang tubuh yang meringkuk kesakitan itu berkali kali tepat mengenai punggungnya.
Bugh
Bughh
Bugghhh
Bugghh
"Ssshhh..."
Sedangkan raka hanya menikmati rasa sakit itu,seolah sudah terbiasa.namun tangannya sedang sibuk mencekram dada kirinya itu dan mulutnya susah payah untuk tidak mengeluarkan suara rintihan.dia tidak mau pemuda di kamar sebelah itu jadi terbangun dan melihat keadaannya sekarang.
Setelah puas,tomi meninggalkan ruangan itu meninggalkan raka dengan rasa sakit batin dan fisiknya itu.
Dengan tenaganya,raka merogoh obat yang biasa diminumnya itu didalan sakunya.namun bukan untuk di minum,raka malah membuang obat itu hingga berserakan di bawah kasurnya itu.kemudian raka tersenyum miris dan semakin mencengkram dada kirinya itu.
Mencoba menikmati segala rasa sakit dipunggungnya,di dadanya dan yang lain.namun,yang paling dia rasakan sekarang adalah pada luka kasat mata di hatinya yang lebih sakit beribu kali dari sakit fisiknya.