My Pain

My Pain
30



Seorang pria mendongak menatap langit yang tampak memdung itu dengan sendu sebelum mengulas senyum tipisnya.


Kepalanya kembali menunduk,menatap selembar foto wanita yang dia ambil dari sakunya.


"Maaf sayang,aku tidak bisa menjaga putra kita dengan baik.maafkan aku yang menyerah secepat ini,aku sungguh tidak bisa melihat keadaannya seperti itu"lirihnya dengan sendu kemudian memasukkan foto itu kembali kedalam sakunya.


Kaki jenjangnya mulai melangkah,memasuki bangunan yang berbau obat-obatan itu.kaki itu terus melangkah hingga tiba di depan ruangan dokter bedah.


Dibukanya perlahan pintu itu setelah mengucapkan salam,hingga netranya menangkap seorang pria berjas putih seumurannya yang menatapnya dengan ramah.


"Dokter alex,bisa bicara sebentar?"


.


.


.


"Papa?"panggil riko saat mendengar pintu ruang rawatnya terbuka.


"Hmm,ini papa"sahut roby,mendekati putranya yang sedang baringan itu.mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang putranya sebelum menepuk kaki riko dengan pelan.


"Gimana keadaanmu?udah mendingan?"tanya roby yang di balas riko dengan anggukan.roby tersenyum,mengamati wajah putra yang amat disayanginya dengan sendu.


"Ndra,papa menyayangimu"lirih roby tiba-tiba membuat riko menyerit heran.


"Kenapa papa tiba-tiba mengatakan itu?aku tau papa menyayangiku."sahut riko kemudian tersenyum.


"Maafkan papa,nak"lagi lagi roby melirih membuat riko semakin bingung.


"Papa kenapa?"


"Tidak,hanya saja papa tiba-tiba merindukan mama mu"ujar roby.


"Ndra,papa mau mengatakan sesuatu"lanjutnya lagi.


"Apa itu?"


"Papa...papa akan menyerahkan diri kepada polisi"kalimat yang dilontarkan roby membuat riko seketika menegang.


"Maksud papa?"


"Tentang kesalahan papa sama nak raka,papa harus mendapatkan hukuman nak.maafkan papa,ndra"


"Nggak pa,papa nggak boleh ninggalin candra."tolak riko dengan nada gemetar.


"Tapi ndra..."


"Aku nggak bisa hidup tanpa papa.please,aku nggak punya siapa-siapa lagi.jangan tinggalin riko pa"bahu riko bergetar dengan kepala menunduk,roby menatapnya dengan perasaan hancur dan sesak.


"Kamu pasti bisa,candra putra papa yang terhebat.janji sama papa kalo kamu harus baik-baik saja,hm?"riko menggeleng dengan suara isakan yang terdengar dari bibirnya.netra kosong itu sudah berair.


"Jangan pergi pa"


"Papa harus pergi dan papa yakin kamu pasti tidak akan kesepian lagi.dengar nak,apapun yang terjadi,kamu harus ikhlas menerimanya.jangan putus asa,hm?papa menyayangimu,ndra"ujarnya kemudian memeluk putranya dengan sayang.


"Pa..."


"Hmm?"


"Janji ya,papa harus kembali!"roby yang mendengar permintaan anaknya itu tidak bisa menahan lelehan air mata yang dari tadi ditahannya itu.


Roby menangis dalam diam,semakin mengeratkan pelukan terakhirnya untuk riko.


"Iya nak"sahutnya dengan nada bergetar.


Roby melepaskan pelukan itu dengan senyum sendunya.


"Papa pergi ya?"kata terakhir yang riko dengar dari bibir roby,sebelum terjadi perpisahan diantara mereka.


Riko hanya terdiam,membiarkan ayahnya menjauh hingga ruangan itu kembali senyap.


Tangannya dengan perlahan menyentuh dadanya yang berdetak tidak seperti biasanya,ada rasa sesak disana.kehampaan,rasa kehilangan yang sangat berharga untuknya.


Riko menggeleng,mencengkram baju pasien itu dengan kuat.


Seharusnya dia tidak membiarkan papanya pergi,seharusnya dia harus tetap mencegah kepergian papanya itu.dan kini,dia merasa dia telah kehilangan sosok kuat yang selalu menemaninya selama hidupnya ini.


.


.


.


"Bunda..."lirih raka.


"Iya sayang?adek butuh sesuatu?"raka menggeleng.


"Raka kenapa?"tanya raka bingung,karna terakhir yang dia ingat hanya obrolan kecil yang menyayat hati bersama ayahnya itu lalu dia kembali keruangannya sendiri.tapi kenapa nassal canual kembali bertengger di hidungnya?


"Semalam adek pingsan di depan pintu ruang rawat kamu.maafin bunda yang lalai jagain adek.gara-gara bunda,adek kembali drop"lirih santika merasa bersalah.


"Nggak bun,raka cuma kecapean aja"ujar raka kemudian menoleh kesamping,baru sadar jika bukan hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu.


Disana sudah berkumpul beberapa orang yang sangat di kenalnya dengan seluruh mata yang menuju padanya membuat dirinya tidak nyaman di buatnya.


"Ngapain natap gue kek gitu?"kesal raka membuat yang menatap mengulas senyumnya.riki,rio,devan,cindy,lisa dan ridwan terkekeh melihat wajah kesal pemuda yang tengah terbaring itu.


"Lo sih,hobi banget tidur.kebo banget lagi"kekeh riki,sedangkan raka memutar matanya malas.


"Udah baikan?"tanya devan,yang di balas senyuman tipis oleh raka.


"Udah,besok udah bisa pulang"ucap raka.


"Pulang?lo baru sadar dek.lo itu masih butuh perawatan."tolak riki dengan cepat membuat raka mendengus kemudian menatap bundanya dengan wajah memelas.


"Bu..."


"Dengerin abangnya dek,kamu masih harus di rawat disini.kondisimu belum pulih total."potong santika,raka mendesah kemudian tersenyum menyeringai.


"Siapa yang bisa larang gue?gue pastiin besok gue harus pulang"batinnya dengan pasti.


"Cepet sembuh ra,bentar lagi ujian.lo mau sekelas sama adek kelas?"ujar rio menatap sahabatnya itu.


"Hmmm"guman raka sebelum netranya bertubrukan dengan manik indah cindy,namun gadis itu langsung mengalihkan tatapannya.


"Adek nggak usah mikirin ujian dulu.entar makin sakit.dokter bilang adek itu banyak pikiran makanya jadi drop.adek mikirin apa ha?"tanya ridwan,raka menggeleng kemudian tersenyum canggung.


"Nggak kok opa,fitnah tuh dokternya"sahut raka.


"Fitnah pala lo.lo pikir..."


"Udah udah,adeknya jangan di buat banyak bicara dulu.raka istirahat ya?'potong santika menghentikan ceramah dari riki.


"Denger tuh bang"kata raka seraya menjulurkan lidahnya,sedangkan riki sudah menahan diri untuk mengeplak kepala adiknya itu.


"Kalian tidak pulang?"tanya raka pada devan dan rio dengan wajah seperti mengusir.


"Nggak,kita mau nginap disini aja."sahut rio.


"Lo pikir ini hotel?"


"Di suruh istirahat ya istirahat!"raka melirik malas riki kemudian mendengus kesal.


"Iya iya..."


.


.


.


"Lo bener udah baikan?"tanya cindy seraya mengupas buah untuk raka.sedangkan yang di tanya hanya mengangguk kecil.


Kini yang tersisa dari ruangan itu hanyalah raka dan cindy,sedangkan yang lain pergi entah kemana.


"Cin.."


"Hmm?"


"Kalo di ingat-ingat,dulu lo itu manis ya"ucap raka tiba-tiba membuat cindy hampir tersedak air liurnya sendiri.


"Maksud lo?"


"Nggak ada"sahut raka dengan cepat kemudian terkekeh.


"Cin.."


"Apa?"


"Jika saja...jika saja gue suka sama lo,lo seneng nggak?"lagi lagi ucapan raka berhasil membuat gadis itu kehilangan fokusnya.


"Maksud lo apaan?"


"Mmm sebenarnya gue suka sama lo"cindy terdiam,menatap manik raka mencari kebohongan disana namun