
"Katakan!!lo dari mana?jangan diem aja raka!!"tanya cindy dengan datar kepada pria didepannya itu yang tak lain raka.sekarang mereka berdua sudah berdiri di rooftop sekolah dan lagi lagi raka yang di temani beberapa batang rokok yang biasa dia pakai jika sudah berada disana.
Kini cindy meminta penjelasan dari raka yang beberapa hari ini menghilang dan membuatnya dilanda khawatir.dan sudah sepuluh menit yang lalu mereka berdiri disana namun raka tidak mengatakan apa apa membuat cindy semakin kesal.tidak tahukah raka jika cindy hampir mati karna mencemaskannya?
"Liburan"sahut raka tanpa menatap cindy dan fokus pada rokoknya yang tinggal sedikit lagi.
Dakkkk
Cindy memukul tangan raka, alhasil rokok itu langsung terjatuh karna raka memang tidak siap saat itu.niat cindy memang supaya raka tidak merokok lagi namun karna dia memukulnya secara tiba tiba membuat raka terkejut dan jantungnya langsung berdetak dengan cepat yang membuat rasa sakit seperti biasanya itu mencul kembali.
Namun raka tidak mau membuat cindy khawatir dan merasa bersalah hingga dia mencoba menahannya mati matian dengan memasang wajah datarnya untuk menutupi rasa sakitnya itu.
"Stop buat ngerusak tubuh lo ra.lo nggak kasian apa sama tubuh lo.seharusnya lo bersyukur tuhan kasih sama lo tubuh yang sehat.di luar sana banyak orang yang pengen sembuh,lo malah mau minta sakit"oceh cindy namun malah membuat raka semakin kesal.
"Pergi"ucap raka dengan tajam dan datar membuat cindy terkesiap.raka kembali menatapnya dengan sorot dingin berbeda saat pertemuan terakhir mereka.saat netra raka mengeluarkan air bening itu dan memintanya untuk datang ketempat ini.
"Rak..."
"GUE BILANG PERGI!LO..AHKKKK"ringis raka pada akhirnya karna sudah tidak tahan menahan rasa sakit itu.raka mencengkram dadanya dan menunduk dengan tangan kirinya bertumpu pada lututnya.
Cindy yang melihat raka kesakitan dan wajahnya makin memucat langsung menghampiri cowok itu dengan wajah khawatirnya.
"Raka?lo kenapa?hiksss mana yang sakit?hiksss maafin gue ra"isak cindy pada akhirnya.raka masih sadar jika cindy menangis namun dia tidak punya tenaga lagi untuk menghapus air mata itu dan mengatakan jika semua baik baik saja.
Tubuh raka semakin merunduk kebawah seiring dengan suara ringisan raka yang semakin mengeras.
"O..bat please ahkkkk ada di tas argggghhhhh hhhh"ucap raka dengan tenaganya yang melemah.cindy sedikit bingung namun dia langsung berlari meninggalkan raka yang meringkuk kesakitan disana dan wajahnya yang semakin memucat.dengan sekuat tenaga,cindy berlari ke kelas mereka dan mengambil tas raka mengabaikan tatapan orang lain yang menatapnya bingung dan heran.
Cindy kembali membawa tas raka ke rooftop meski nafasnya sudah memburu dan keringat yang menguncur dari pelipisnya.
Cindy sempat terjatuh namun dia langsung berdiri mengabaikan lututnya yang sedikit perih karna sedikit terluka.
Setelah sampai,dia langsung berjongkok dekat raka.
"Raka!!!lo masih sadar 'kan?"tanya cindy takut melihat raka yang menutup matanya.
"Obat..."lirih raka lagi dengan nafas yang tercekak,cindy langsung merogoh tas raka dan mememukan tabung yang berisi obat obatan yang cindy tidak mengerti.
Tanpa bertanya,cindy langsung memberikan obat itu pada raka dan langsung di telan oleh raka beberapa obat itu tanpa bantun air.
Dengan tangan bergetar,cindy mengelus dada raka dengan pelan,melihat raka yang mencengkram daerah itu membuat cindy berpikir jika rasa sakit itu berasal dari sana.pikiran cindy langsung berpikir yang tidak tidak membuat gadis itu semakin ketakutan.
Raka yang mulai tenang itu kembali untuk duduk dan di bantu oleh cindy dengan hati hati.
"Ra,kita kerumah sakit ya"bujuk cindy karna wajah raka masih terlihat sangat pucat bahkan deru nafas pria itu masih belum normal.
Raka menyenderkan tubuhnya di dinding kemudian memejamkan matanya kembali untuk mengatur nafasnya.
"I am fine,thank you"lirih raka setelah merasa tenang.
"Kalo nggak kita ke uks ya.lo butuh istirahat"
"Lo balik ke kelas gih.lo mau di hukum gara gara bolos?"sahut raka mengalihkan pembahasan.
"Raka...''
"Gue baik baik aja cindy,nggak usah paksa gue.lo pergi aja.dan satu lagi,jangan bilang sama siapa siapa soal kejadian barusan terutama sama riki"potong raka cepat seakan mengerti apa yang akan di ucapkan oleh cindy.
"Gue butuh penjelasan dari lo.ini obat apa?lo sakit apa?jawab gue dengan jujur"cindy belum menyerah untuk meminta penjelasan dari raka.
"Lo bilang akan mengatakan semuanya.tapi mana?"lanjutnya lagi.
"Ok,gue bakal kasih tau.tapi setelah itu lo harus ngejauh dari gue."
"Tapi rak..."
"Gue penyebab tante anissa meninggal,gara gara gue juga riki koma selama dua bulan.ayah dan bunda sekarang sangat benci gue.gue pembawa sial,lo ngerti 'kan?sekarang pergi!"ucap raka dengan dingin dan wajah memerahnya sedangkan cindy sudah mematung mendengar penjelasan raka.
Cindy dapat melihat ada kekosongan dan kesakitan di netra kebiruan raka.cindy tau,meski mulut raka memintanya pergi,namun di hati pria itu sekarang menjerit jika dia kesepian dan butuh seseorang.itu lah yang cindy baca dari raka.
"Nggak,nggak mungkin raka.gue yakin lo nggak bakal ngelakuin itu.gue percaya ama lo dan gue nggak akan menjauh dari lo"ujar cindy dengan pasti.
"Gue nggak butuh lo"tajam,raka dengan langkah gontainya meninggalkan cindy dengan derai air matanya disana.
"Tapi gue butuh lo ra,dan gue yakin lo juga butuh gue.gue cinta sama lo raka"lirih cindy namun membuat langkah raka terhenti.raka masih bisa mendengar lirihan gadis itu,tiba tiba wajah raka berubah jadi sendu.
Tanpa disadari cindy,sebelum benar benar melangkah menjauh,setetes air bening meluncur dari netra sayu raka.
"Jangan cin,lo nggak boleh memiliki perasaan itu.gue juga cinta sama lo tapi gue nggak mau lo terluka jika suatu saat gue ninggalin lo"batin raka dengan dada sesak
.
.
.
Cindy melangkah dengan tak bertenaga dan kepala yang menunduk ke arah kantin.pada akhirnya guru yang mengajar saat itu menghukum cindy tidak di perbolehkan untuk mengikuti pembelajaran itu karna sudah lebih dari satu jam cindy bolos.
Dan akhirnya disinilah cindy berada,di kantin yang sepi itu.setelah memesan minuman dingin,cindy kembali duduk dan menyenderkan kepalanya di atas meja itu dengan tatapan kosongnya dan wajah sembabnya.dia kemudian tersenyum miris dan remeh.
"Bodoh,lo bodoh cindy.gara gara perasaan sebelah tangan lo,lo harus kayak gini?"guman cindy pada dirinya sendiri.
"Emang dia siapa?berani beraninya dia menghancurkan hati gue.kalo nggak suka,nggak gini juga caranya hiksss"isak cindy kembali.
"Cindy!!!"mendengar seseorang memanggilnya,cindy segera menghapus air matanya dengan cepat dan mengulas senyum paksaan.
"Riki,lo ngapain disini?"tanya cindy dengan serak membuat pemuda yang didepannya itu mendesah berat lalu duduk disamping gadis itu.
"Lo kenapa?"
"Gue kenapa?gue biasa aja"sahut cindy tanpa menatap riki.
"Lo pikir bisa bodohin gue?jelas jelas wajah sembab lo menandakan lo baru nangis.iya kan?"
"Hmmm"
"Siapa yang buat lo nangis?"
"Tadi cindy jatuh"bohong cindy dan menunjuk lututnya yang sedikit berdarah itu.
"Ini sangat sakit hiksss sakit riki hiksss kenapa harus sesakit ini huaaaaa"lagi lagi tangis cindy pecah,bukan karna sakit di lututnya itu namun sakit di hatinya yang sudah hancur lebur itu.
Riki memeluk cindy seraya mengelus rambut gadis itu untuk menenangkan,membiarkan wanita yang dicintainya itu menangis didalam pelukannya.riki yakin cindy menangis bukan karna jatuh tapi ada hal lain.dan riki bersumpah,jika saja dia tau siapa yang melukai cindy,maka dia sendiri yang akan menghancurkan wajah orang itu.
"Kita obatin luka nya ya!"ujar riki setelah cindy tenang.
Gadis itu mengangguk pelan,kemudian berjalan beriringan dengan riki menuju uks.
"Gendong!"ucap cindy dengan manja membuat riki memutar matanya malas kemudian terkekeh.
"Nggak malu apa diliatin orang?"
"Biarin,suka suka gue"sahut cindy dengan senyum simpulnya.
"Hufffttt iya iya.ayo naik"ucap riki pada akhirnya dan berjongkok didepan cindy membuat gadis itu memekik senang.cindy segera menaiki punggung kokoh itu dan mengalunkan tangannya di leher riki,sedangkan pria itu tersenyum lebar melihat tingkah cindy.
"Ki,btw kenapa lo tiba tiba di kantin?bukannya sekarang masih belum jam istirahat,ya?"tanya cindy mengisi di lorong sepi itu.
"Gue sih niatnya mau beli aqua aja,eh malah ketemu cewek cengeng"sahut riki yang mendapat cubitan pada bahunya.
"Aw aww sakit cin.."
"Rasain..."
"Gue jatuhin biar tau rasa lo"ancam riki membuat cindy semakin mengeratkan alunan tangannya pada leher riki.
"Gue nggak bisa nafas bego!"
"Hehehehehe entar kukasih nafas buatan"
"Dasar cewek aneh"
"Tapi ngangenin 'kan?"
"Semerdeka lo aje"
"Hahahahaha"