
Hmmm nak riko,om keluar dulu ya.om ada urusan sebentar"ujar tomi setelah beberapa menit hanya duduk terdiam di ruang rawat putranya itu yang bahkan tidak ada niat untuk menanyakan keadaan raka.
"Tapi om masih baru datang"sahut riko,kemudian melirik raka yang dari tadi hanya menatap ayahnya dengan binar kebahagiaan di sana.
"Kebetulan ada pekerjaan kantor yang mendadak.nggak papa 'kan.om duluan.kalo mau pulang,hati hati di jalan,jangan ngebut.kamu sudah makan?"mendengar pertanyaan tomi,riko hanya mengangguk kikuk merasa tidak nyaman dengan sifat ayah sahabatnya itu.
"Yasudah,om pamit ya"ucap tomi pada akhirnya,berlalu dari ruangan itu mengabaikan raka yang memanggilnya dengan suara lirih.
Binar di wajah raka seketika redup di gantikan dengan senyum kecut dan wajah di tekuk kemudian menatap riko dengan sinis.
"Hebat banget lo.udah bisa dapetin hati bokap.gue aja belum"sindir raka pura-pura kesal kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain membuat riko terkekeh.tapi riko tau jika sekarang pemuda itu tidak baik baik saja melihat sifat ayahnya itu.
"Habis kena pelet mungkin"canda riko membuat raka mendengus.
"Dari mana lo?katanya mau jenguk,tapi baru sekarang datangnya?"
"Mmmm itu..gue.mm"
"Kenapa?lo habis curi telur ayam jantan ya?"
Plakk
Riko memukul kepala raka dengan pelan kemudian mendengus kesal.
"Telur ayam jantan pala lo"
"Ya sorry,sorry,gitu aja udah marah.ingat,disini gue yang marah."kata raka sambil mengelus kepalanya yang korban kekesalan riko.
"Gimana keadaan lo?"tanya riko pada akhirnya membuat raka memutar matanya malas.
"Sekarat"sahut raka apa adanya.
"Gue tanya serius raka"
"Gue jawab serius riko"riko mendesah,bertengkar dengan raka memang tidak ada faedahnya.
"Riki gimana?"raka terdiam sejenak kemudian memainkan selang infus miliknya itu dengan asal.
"Dia udah baikan,bentar lagi udah bisa pulang"sahut raka tersenyum miris.
"Lo kapan keluar?betah banget disini"
Raka mendesah,kemudian menerawang kedepan.
"Om farhan marah lagi"adu raka membuat riko menyeritkan alisnya bingung.
"Om farhan perpanjangin kontrak gue nginap disini saat tau kalo gue selama ini merokok dan minum alkohol.padahal gue udah janji nggak bakal ngelakuin itu lagi."ucap raka dengan lesu.
Masih teringat jelas saat dua hari yang lalu om nya itu masuk keruangannya dengan wajah menahan amarahnya itu,berusaha tidak membentak raka.
Saat itu dr.farhan sangat kecewa,selama ini dia selalu mempertahankan raka,ternyata raka juga yang ikut memperburuk keadaannya sendiri.
Larangan yang dia katakan untuk raka ternyata hanya angin lalu,anak itu malah candu terhadap larangan yang dia buat supaya tidak merokok dan meminum hal yang berbau alkohol.
Yang paling membuat dr.farhan kecewa saat mendengar jawaban raka,jika pemuda itu hanya membuat pelarian dari sakit hatinya dengan merokok dan minum alkohol.
Lagi lagi farhan mengumpat kedua orangtua raka yang ikut andil dalam rasa sakit yang mereka goreskan untuk raka.
Dari mana om nya itu tau kebiasaan buruknya?,saat itu terjawab pula pertanyaan raka membuat pemuda itu tersenyum penuh arti.
Ya dalang kebocoran yang selama ini dia tutupin dari farhan ternyata rio,sahabat yang sudah dia kecewakan.
Ternyata selekas keluar dari ruangan raka,rio langsung menemui dr.farhan dan mengatakan kebiasaan buruk raka yang akan membuat keadaan raka nantinya semakin memburuk.
Dan raka tau jika rio masih mengkhawatirkannya,raka mengerti kenapa rio mengatakannya kepada om nya itu karna dia tidak mau dirinya semakin drop.
Raka tidak marah,dia senang setidaknya sahabatnya itu tidak meninggalkan dirinya.
"Jadi selama ini lo ngerokok?minum alkohol!?"lamunan raka terbuyar saat suara disampingnya yang terdengar marah itu menggema disana.
"Mmmm itu..."
"Lo kenapa sih raka?lo mau nyerah gitu aja?gue kecewa banget ama lo"
Raka menatap riko dengan sendu kemudian menunduk sebelum mendesah berat.
Hanya dalam tiga hari,dirinya sudah beberapa kali minta maaf kepada orang sekitarnya.riki,devan,rio,om farhan kini riko kembali membuat raka merasa bersalah.
"Maaf"cicit raka dengan wajah memelasnya.
"Sekali lagi lo ulangi,gue orang pertama yang bakal nonjok lo"ancam riko kemudian membetulkan letak infus raka yang di main-mainkan anak itu tadi hingga agak berantakan.
"Tangannya tolong di jaga"gerutu riko membuat raka terkekeh.
"Iye,iye.lo udah kayak gadis pms aja"kata raka.
"Lo udah makan?"
"Belum hehehehe habisnya makanan disini pada nggak enak.hambar melulu.bosan gue"sahut raka membuat riko menatapnya dengan tajam.
"Makan atau gue aduin sama om farhan biar lo makin lama di kurung disini!"
"Ihhhhh mas riko kapan hidup tanpa mengancam hah?"
.
.
.
Setelah seminggu lebih terkurung di tempat terkutuk menurut raka itu,kini pemuda itu menghembuskan nafasnya lega setelah benar-benar keluar dari sana.
Senyum raka semakin lebar saat mobil yang dia naiki sampai di depan rumah mewah milik keluarganya itu.raka segera membuka pintu mobil itu dengan semangat sebelum suara yang di sampingnya itu menghentikan langkahnya.
"Kamu masih ingat yang tadi saya katakan?"kata om farhan yang mengantar raka untuk pulang.
"Iya om,udah lebih seribu kali om ngelempar kata yang sama.jangan begini,jangan begitu,harus ini,harus itu,ingat ini,ingat itu"gerutu raka kesal membuat farhan terkekeh pelan melihat wajah lucu keponakannya saat kesal.
"Yaudah,kamu langsung istirahat ya"pesan farhan sebelum berlalu dari sana.sedangkan raka hanya tersenyum tipis menatap kepergian omnya itu kemudian melangkah dengan semangat kerumah itu.
Riki sudah pulang dari rumah sakit sejak empat hari yang lalu,dia yakin sekarang saudaranya itu sedang istirahat di kamarnya yang mungkin di temani oleh sang bunda.
"Ayah,bunda,raka pulang!!!"teriak raka dengan semangat meski dia tau tidak akan ada yang menyahut panggilannya.
Raka mendengus,kemudian berjalan ke arah meja makan untuk mengambil segelas air yang sudah tersedia disana.
Merogoh tabung obat yang ada disakunya dan meminum beberapa pil obat itu sesuai perintah om nya itu.
Setelah selesai menelan pil-pil pahit itu,raka berjalan ke arah belakang rumah itu saat samar-samar dia mendengar suara gaduh di sana.raka semakin mendekati tempat itu hingga dia terdiam di tempat saat netranya menangkap beberapa orang yang sedang tertawa bahagia sambil makan di meja yang sudah tersedia beberapa ragam makanan disana.
Kini bukan hanya riki dan orangtuanya berkumpul disana tapi oma dan opanya juga melengkapi kebahagiaan itu.orangtua dari sang ayah.
Raka tersenyum miris sebelum memberanikan diri untuk mendekati tempat itu dengan senyum hangatnya.
"Oma sama opa kapan datang?"tanya raka setelah semua mata tertuju untuknya.tidak ada jawaban sama sekali hingga suara riki menyahut pertanyaan raka.
"Oma sama opa baru datang semalam.jadi sekarang kita lagi bikin pesta kedatangan oma sama opa.adek udah sembuh?kenapa tidak menghubungi abang sih?ahhh iya,adek duduk disini"ujar riki kemudian menunjuk sebuah kursi kosong yang ada disampingnya itu.
"Tidak ada kursi untuk kamu disini.pergi!"jegah sang oma dingin sebelum raka mendekati tempat itu.
"Oma..."
"Saya bilang pergi!kamu tuli?tomi,bukankah sudah saya bilang untuk tidak menunjukkam wajah anak ini di hadapan saya lagi?"kesal oma menatap tomi,putranya itu dengan marah.sedangkan tomi hanya mendesah kesal kemudian menatap tajam raka.
"Siapa suruh kamu datang kesini?kamu tidak daharapkan disini.kamu tidak sadar?"gertak tomi menatap tajam raka yang hanya menundukkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya itu dengan kuat.
"Tapi yah..."
"Kamu selalu merusak suasana saja.bodoh,entah kesalahan apa yang kami perbuat hingga kamu lahir di dunia ini.kamu..."
"CUKUP!!!!kalian kenapa sih?belum puas nyakitin adek aku?ayah sama bunda juga,raka itu darah daging kalian.kenapa kalian terus nyiksa adek?jika saja kalian nyakitin raka lagi,maka riki bakal bawa raka menjauh dari kalian."gertak riki kemudian berdiri dengan kesal dan kecewa sebelum menyeret tangan raka menjauh dari sana.
"Riki!!!berhenti!"bentak opanya membuat langkah keduanya terhenti.tapi mereka sama sekali tidak menoleh kebelakang.
"Sejak kapan kamu berani sama yang lebih tua hah?lihat?ini akibatnya berteman dengan anak itu hingga kamu sudah melawan orangtua.opa kecewa sama kamu."ucap ridwan,opanya itu.
"Riki lebih kecewa sama kalian"sahut riki kemudian berlalu dari sana.
"Lihat?ini akibatnya kalian membawa anak itu kembali.sekarang cucu kesayangan saya sudah ikut berontak.ini sebabnya saya malas datang ke sini.kamu belum ada niat mengusirnya dari sini?"kata lisa,sang ibu kepada tomi dengan kesal.
Sedangkan tomi mengeratkan kepalan tangannya menatap tajam ke arah putra-putranya yang semakin menjauh itu.dan santika yang terdiam dengan tatapan kosongnya disana.entah kenapa kali ini hati kecilnya menolak semua kata-kata yang keluar dari mertuanya itu tapi bibirnya seolah kelu,tidak bisa melemparkan sepatah kata pun.
******
"Abang terbaik!!!"pekik raka girang sambil mengancungkan dua jari jempolnya ke atas dengan semangat,sedangkan riki yang melihatnya hanya mendengus kesal.
"Kenapa lo nggak ngelawan hah?biasanya lo itu selalu jawab kata kata mereka.lo kok jadi tolol sih"gerutu riki menatap adiknya itu dengan kesal sedangkan raka hanya menyengir dengan memamerkan deretan barisan giginya itu.
"Raka itu anak baik,nggak pernah lawan orangtua.emang lo?"sahut raka kemudian membuat riki semakin kesal di buatnya.memang dia akui,jika raka yang dulu memang sangat baik,terlalu baik hingga semua orang menyayanginya tapi tidak harus seperti ini 'kan?
Seharusnya dia membela diri jika disakiti bukan hanya diam menerima rasa sakit itu dengan terlihat tegar jika pada nyatanya pasti hati rapuh itu sudah meleleh dan hancur.
Tiba-tiba dia menyesal meminta raka menjadi dirinya yang dulu lagi.
"Sekali lagi jika mereka mereka nyakitin lo lagi,lo harus ngelawan.atau kasih tau sama gue.ok?"raka hanya mengangguk malas kemudian duduk di ranjang kamarnya itu.ya,sekarang mereka sudah berada di kamar raka yang diseret oleh riki kesana.
"Adek?kenapa?"tanya riki khawatir saat mendengar suara ringisan tertahan dari raka yang menunduk itu.
"Enngak kok,raka mau istirahat dulu.abang keluar gih"ucap raka setelah menormalkan raut wajahnya kembali.
"Yakin?keknya adek kesakitan deh?yang mana sakit hm?"tanya riki.
"Nggak ada.abang keluar atau raka tendang"ancam raka,sedangkan riki mendengus kesal kemudian dengan pasrah dia keluar dari sana.
"Kalo ada apa-apa.kasih tau abang.gue siap sedia 24 jam"kata riki sebelum meninggalkan raka sendirian disana.
Raka terkekeh pelan kemudian meringis kembali seraya mengurut dada kirinya itu dengan pelan dan membaringkan tubuh ringkih itu diatas kasur empuk itu.
Raka tersenyum,menatap langit langit kamarnya dengan sendu kemudian memejamkan matanya mengingat ingat dengan jelas kejadian yang beberapa menit lalu terjadi.
Saat semua sorot mata yang sebelumnya terlihat hangat itu berubah menjadi tajam dan dinginΒ kearahnya dan raka mengerti jika tatapan itu memang sudah sepantasnya terlempar untuknya.
Dimana pun dirinya pasti tidak di harapkan lagi,karna dirinya itu tak sekedar dari pembawa masalah.dia tau kesalahannya sendiri.
Dia telah merenggut putri kesayangan oma dan opanya,merebut adik ayahnya dan istri tercinta sang om.tanpa sadar,dia memang sudah melukai orang-orang sekitarnya itu.lalu apa dia masih berani melawan setiap ucapan mereka?tidak,karna itulah yang pantas dia dapatkan.
"Ya,kamu hanya perlu menerima hukumanmu sebelum benar-benar menghilang"batin raka pada dirinya sendiri kemudian memejamkan mata itu bersamaan dengan terbukanya pintu kamar itu dengan kasar membuat raka terkejut,lagi lagi jantung itu berdetak tidak normal seiring dengan rasa sakit yang semakin bertambah.
Raka meringis kemudian membuka netranya untuk menatap orang yang mengejutkan dirinya membuat sakit itu semakin terasa,dan sialnya lagi matanya memburam hingga dia tidak jelas melihat siapa yang sudah berdiri di dekatnya itu.
Hingga tangan besar itu menarik dengan kasar tanggannya untuk berdiri membuat raka tersadar jika yang di depannya itu sekarang adalah ayahnya.
"Ayah?"lirih raka mengerjapkan matanya beberapa kali berharap bisa normal kembali.dan...
PLAKKKKKK
lagi,sentuhan tiba-tiba tepat pada pipinya itu membuat raka hampir terjungkal kebelakang tapi dia langsung mempertahankan dirinya untuk berdiri dengan normal dan kembali menatap ayahnya itu dengan sayu.ya,tomi memberikam cetakan warna kemerahan pada pipinya yang menyisakan panas dan perih di pipi tirus itu.
"PUAS KAMU?lihat...setelah kedatangan kamu kesini,ayah sama ibu saya tidak pernah datang kesini lagi dan untuk pertama kalinya mereka datang,kamu malah menghancurkan semuanya?apa hidupmu memang tidak ada gunanya sama sekali?kenapa kamu datang lagi hah?kenapa tidak mati saja kamu disana?"bentak tomi yang lagi lagi menghancurkan hati rapuh itu.raka tersenyum,jika biasanya dia akan melawan setiap ucapan sang ayah dengan tajam,kali ini dia hanya tersenyum di atas dukanya sendiri membuat tomi semakin murka.
"Jika saja ayah dan ibu saya pergi lagi,maka saya akan mengusirmu dari sini dam membuatmu menderita"
"Ayah tenang aja,raka bakal pastiin oma sama opa tidak akan pergi lagi.ayah nggak boleh usir raka gitu aja.tugas raka belum siap lho yah,raka cuma pengen buat keluarga kita kayak dulu lagi setelah itu raka bakal pergi.kasih raka waktu sedikit lagi ya yah,raka janji nggak bakal buat masalah lagi.raka nggak akan nakal lagi,raka akan turutin semua kemauan ayah sama bunda,tapi jangan buat raka menjauh secepat ini.raka belum siap."kata raka dengan senyum tulusnya yang sempat membuat tomi sempat tertegun sebentar kemudian menggeleng,dia tidak boleh terenyah dengan buyalan anak didepannya itu.
"Awas aja jika kamu membuat onar lagi.saya tidak akan memberi kamu kesempatan lagi"kata tomi kemudian berlalu dari sana.
"Makasih yah,raka bakal menggunakan waktu ini dengan baik"seru raka dengan semangat hingga setelah hilangnya tomi dari penglihataannya,raka mengunci pintu itu dengan sekuat tenaga dan meringkuk kesakitan disana.
Mulut pemuda terbuka berusaha mencari pasokan oksigen untuknya seraya memukul-mukul dada itu membuat rasa sakit itu semakik kentara.
Cairan bening sudah meluncur dari kedua netra itu karna sudah tidak tahan menahan rasa sakit itu,tapi hatinya selalu berteriak jika dia tidak boleh menyerah sekarang.
Dengan tangan yang gemetar,raka membuka asal botol obat yang selalu tersedia di sakunya itu dan memakannya dengan asal tidak peduli jika dia sudah terlalu berlebihan mengkomsumsi obat itu,dia hanya ingin istirahat sejenak,tanpa rasa sakit.
Dan ya benar saja,netra itu langsung terpejam nyaman tanpa terusik kembali.untuk sementara,rasa sakit itu menghilang dan mungkin akan semakin sakit besoknya.
Raka tertidur? di lantai dingin itu,mungkin tidak ada tenaga lagi untuk menaiki kasur miliknya itu.
#TBC
Don't forget votment dan follow my acunπ πππ
Thank you dan see you next timeπππ
Maybe long a time π°π