
Baru saja raka memejamkan matanya dan masuk ke alam mimpinya,suara ketukan pintu membuat netranya kembali terbuka.
Dengan malas dan gontai,raka membuka pintu kamarnya itu dan seketika tubuh itu mematung.melihat orang paling berharga dihidupnya kini berdiri didepannya dengan wajah datarnya menatap raka dengan dingin.wanita yang mengandungnya selama sembilan bulan,wanita yang dulu selalu memberikan kehangatan dan kasih sayang yang berlimpah padanya,yang selalu menjaganya bagaikan gelas kaca yang jika jatuh maka langsung hancur lebur,wanita yang sangat di rindukan oleh raka untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun lamanya pertama menemui raka.sang bunda.
Dan ini bagaikan mimpi indah untuknya atau memang dia masih bermimpi?tidak mungkin bunda yang membencinya itu tiba tiba menemuinya 'kan?entah ini mimpi atau tidak,tapi raka sudah sangat bahagia.
"Bunda..."lirih raka menatap tepat di netra santika mencari kenyamanan disana berharap kasih sayang itu masih tersisa untuknya walau hanya secuil.
"Kamu tau apa kesalahan mu?"nada dingin itu langsung melunturkan harapan raka.
"Maksud bunda?"
"Bisakah kamu jangan terlalu merepotkan orang lain?hiduplah bagaikan bayang-bayang disini.bukankah itu yang saya katakan saat kamu menginjak rumah ini?tapi kenapa kamu selalu membuat ulah?terserah padamu mau jadi berandalan,gila,atau apapun di luar sana tapi jangan pernah kau libatkan riki"suara lembut itu begitu menancap dalam ke dada raka hingga bernafas pun terasa sangat sulit.
"Raka sudah melakukan apa yang bunda minta bahkan menjahui riki sudah raka lakukan.lalu apa lagi bunda?kenapa bunda selalu mengatakan kata-kata tajam untuk raka?"ucap raka dengan sorot sendu namun mata santika terlalu gelap hingga tidak melihat begitu terlukanya raka.
"Jangan buat riki memasuki kehidupanmu,hingga jika kau pergi dia tidak akan terluka"
"Apa maksud bunda?"
"Setelah lulus SMA,kami akan mengirimmu ke inggris.tinggal lah disana sesukamu.ini sudah kami putuskan maka tetaplah bertahan sebagai bayangan disini hingga saat itu tiba."sahut santika santai namun berhasil menghancurkan pemuda di depannya itu dan merobohkan pertahanannya.
Raka mengepalkan tanggannya erat menahan emosi dan juga sakit fisik dan batin yang datang bersamaan membuatnya ingin berteriak menyerah saat itu juga.
"Kalian tidak perlu repot repot menghabiskan uang untuk mengirimku kesana.toh sebelum itu tiba,saya akan segera pergi jauh.sangat jauh supaya kalian bahagia"ujar raka dengan datar namun matanya sudah memerah menahan bening air itu tidak keluar.dia tidak mau menangis didepan bundanya,dia tidak mau di nilai sebagai anak cengeng.
"Baguslah,lebih cepat lebih baik"kata santika pada akhirnya dan berlalu dari sana meninggalkan raka yang tidak berdaya itu.dengan cepat,raka menutup pintu kamar itu dan meluruhkan tubuhnya di balik pintu itu.
"Tetaplah menjadi bayang bayang"
"Lebih cepat,lebih baik"
Kata kata santika masih terngiang di telingannya membuat raka menutup kedua telinga itu berharap tidak ada lagi suara tajam bundanya dan menangis disana.
Ya,memang pada akhirnya dia tidak pernah di harapkan lagi.
"Tuhan,jika kepergianku memang membuat mereka bahagia,maka bawalah aku bersamamu sekarang juga.detik ini,aku mengakui jika aku sudah menyerah."
.
.
.
Riki menarik kasar tangan pemuda dengan bau yang tak sedap dari tubuh itu secara kasar.pemuda yang tak lain adik kembarnya itu memekik kesal atas tindakan riki.
"Lepas.gue bilang lepas bego!"teriak raka kesal.kini mereka berada di pinggir jalan yang gelap karna saat itu sudah pukul 19:36.
Riki menatap tajam raka yang seperti terlihat pusing karna riki tau adiknya itu baru saja meminum minuman berbau alkohol.dia marah,sangat marah dan kecewa saat melihat raka berjalan dengan sempoyongan.
Niatnya tadi keluar malam untuk mencari udara segar namun yang ada dadanya semakin sesak melihat tampilan raka yang sangat kacau dan tidak baik baik saja.
"Lo habis minum?"tanya riki dengan datar.
"Bukan urusan lo"sahut raka kemudian mencoba melepaskan cekalan riki namun sepertinya tenaga riki lebih kuat.
"Kenapa lo jadi kayak gini hah?gue kecewa sama lo raka!!"bentak riki membuat raka terkekeh.
"Emang lo siapa?ahhhh lo abang gue ya?tapi apa benar kita lahir dari rahim yang sama?kenapa gue ragu akan itu?hahahahaha"tawa sumbang raka mengisi jalanan sunyi itu membuat riki melepaskan cekalannya.
"Raka,gue tau ini sulit.tapi gue mohon untuk bersabar.gue yakin ayah dan bunda bakal sayang lagi sama lo.lo hanya perlu berjuang sebentar lagi"ujar riki dengan pelan dan wajahnya yang berubah sendu.
"Bersabar?apa selama ini gue nggak bersabar?tapi mana?kenapa mereka malah pengen gue pergi cepat?lo nggak usah ceramah gitu karna lo nggak tau beratnya di posisi gue"teriak raka tepat di wajah riki,sedangkan riki sudah mengeraskan rahangnya dan menatap raka dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Lo lupa kalo dulu lo itu kesayangan?lo lupa bagaimana ayah sama bunda memberikan seluruh kasih sayangnya hanya untuk lo?lo lupa kalo gue yang selalu mengalah?10 tahun raka,gue di abaikan.gue hidup bagaikan yatim piatu.gue diabaikan hanya karna lo."ucap riki dengan penekanan namun menyayat hati membuat raka tertegun.
"Apa gue pernah ngeluh karna itu?dan sekarang lo benci gue karna gue ngerasain kasih sayang orangtua yang sebenarnya?.apa gue nggak pantas bahagia?"kini riki menatap raka dengan menyendu dan sakit,dia masih ingat bagaimana dulunya dia selalu di abaikan.rasa sakit itu bahkan masih berbekas sampai sekarang.
"Setidaknya lo nggak ngerasain gimana dibenci oleh orangtuanya sendiri dan berharap menghilang segera dari pandangan mereka."ucap raka kemudian berlalu dari sana meninggalkan riki yang menatapnya dengan tatapan kosong.
Riki tetap menjatuhkan tatapannya pada raka,bagaimana pemuda itu berjalan dengan sempoyongan,pundak pria itu terlihat bungkuk mungkin karna tidak kuat untuk mengangkat semua beban itu lagi.
Riki masih setia menatap raka yang semakin menjauh itu hingga dia kembali tersadar jika dari arah belakang adiknya itu sebuah mobil tiba tiba menyala dan melajukan mobil itu sengaja tepat ke arah raka.
Riki membulatkan matanya dan segera berlari mendekati adiknya itu seraya memanggil namanya supaya menjauh dari sana.
Mobil itu semakin mendekati raka namun pemuda itu tidak sadar sama sekali hingga raka merasakan tarikan tangan yang sangat dikenalnya itu dan mendorongnya tepat diatas rerumputan di pinggir jalan itu.
Brakkkkk
Raka masih mendengar suara itu dengan jelas,tapi kerja jantungnya yang tiba tiba tidak stabil membuat raka tidak memiliki tenaga untuk menoleh ke arah suara itu.
Raka mencengkran dada kirinya dengan kuat beriringan dengan suara ringisan dari sana dan bersamaan itu,raka masih bisa mendengar suara deru mobil yang menjauh dari mereka.
Raka berusaha melihat sekeliling itu mencari tau apa yang terjadi namun semuanya terlihat buram,raka mengerjap dan semakin meringis kesakitan.hingga tatapannya menangkap seseorang yang tergletak tak berdaya di tengah jalan itu tiba tiba jantung itu seperti kehilangan detaknya.
Meski buram,raka masih bisa mengenali tubuh tak berdaya itu.riki,yang beberapa menit yang lalu temannya untuk berdebat.
"Ri..."lirih,suara raka bahkan hampir tidak terdengar.tempat itu seketika sunyi yang terdengar hanya suara berat dari raka,kelihataannya pria itu kesulitan untuk menghirup oksigen disana.
Dengan sekuat tenaga,raka merangkat mendekati riki yang sudah tak sadarkan diri dengan darah yang menguncur di kepalanya.raka dejavu,kejadian beberapa tahun yang lalu kembali membayanginya membuat nafas pria itu semakin memburu.
"Riki,bangun.ahkkkk lo nggak boleh gini ***!!!gue bilang bangun argggghhh"umpatan dan pekikan kesakitan raka tidak membuat riki membuka matanya membuat raka semakin ketakutan.
"Buka mata lo bodoh!!"
"Riki,,,please.lo harus bertahan.maaf.maaf"lirih raka mengguncang tubuh itu dengan pelan hingga sebuah taksi mendekat ke arah mereka dan si pengemudi keluar dan membulatkan matanya melihat kedua orang yang tergeletak itu.
"Nak,apa yang terjadi.dia sepertinya terluka parah.ayo kerumah sakit!"ucap pria itu langsung dan berusaha mengangkat tubuh riki memasuki mobil itu di kursi belakang.
Kemudian dia kembali mendekati raka yang masih terbaring disana dengan kesadaran yang semakin menipis.kembali dia memapah raka untuk memasuki mobil dan langsung melajukan mobilnya kerumah sakit sebelum terlambat.
Setengah jam kemudian,sopir taksi itu sudah tiba didepan gedung rumah sakit itu dan langsung terbirit birit memanggil dokter atau perawat dari sana.
"Dokter,tolong dokter.disana ada yang terluka parah.tolong selamatkan mereka"ucap pria berhati mulia itu dengan cemas.
Dokter yang kebetulan mendengarnya segera berlari kesana dan menyuruh beberapa perawat untuk membawa brankar kosong dan membawanya ketempat yang di tuju oleh supir itu.
"Lukanya cukup parah,kita harus segera melakukan operasi.suster,siapkan ruang operasi sekang."titah dokter itu kemudian mulai mengangkat tubuh dibantu beberapa orang disana ke atas brankar itu.
Tubuh lemah itu segera dilarikan ke ruang operasi namun sang dokter masih terdiam dengan tubuh menegang disana.
"Raka..."lirih dokter yang ternyata dr.farhan itu menatap pemuda yang masih bersandar di kursi penumpang tadi.
"Om...selamatkan riki,please.selamatkan dia"lirih raka dengan mata sayunya membuat dr.farhan sadar jika pemuda yang di larikan keruang operasi itu adalah riki.dia memang tidak mengenalinya karna wajah pemuda itu sudah berlumuran oleh darah.
"Perawat!!!bawa satu lagi brankar.cepat!!!"teriak dr.farhan kemudian mengeluarkan raka dari sana dan meletakkan nya ke atas brankar yang baru saja tiba.
"Om,riki...tolong riki om.raka mohon"raka masih berguman menatap om nya itu dengan memohon.
"Dia akan baik baik saja.jangan khawatir hm.bertahanlah"ujar dr.farhan itu seraya berlari mengikuti brankar membawa raka sudah tak sadarkan diri itu.
"Ya tuhan,cobaan apa lagi ini?"
#tbc