
"Raka!!!lo dari mana hah?dari tadi gue nyariin lo nggak ada"ucap riko setelah kedatangan raka yang hampir oleng itu.
"Raka,lo nggak papa?muka lo makin pucat.lo ngapain sih?"lanjutnya lagi setelah menyadari jika wajah raka semakin memucat dari pada yang dilihatnya tadi.
Riko langsung memapah raka hendak duduk ke kursi yang mereka tempati tadi namun,raka segera menggeleng lemah.
"Bawa gue pergi dari sini!"lirih raka.
"Tapi lo belum cek.."
"Please...bawa gue dari sini.raka mau pulang"suara raka terdengar bergetar membuat riko khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
"Tapi lo makan dulu ya"riko masih berusaha membujuk tapi lagi-lagi raka menggeleng.
"Ra...lo kenapa hah?lo harus makan,entar lo makin drop"dan pada akhirnya raka mengangguk pasrah.
"Siap makan kita pergi"kata raka lagi,riko mendesah pelan kemudian berdehem menanggapi.
****
Sebuah taksi berhenti tepat didepan rumah mewah milik keluarga raka.didalam taksi,riko sudah bersiap-siap untuk keluar.
Dan pada akhirnya riko mengantar raka kerumahnya menggunakan taksi karna sangat berbahaya jika memakai motor melihat kondisi raka saat ini.
"Ra,lo naik ke punggung gue!"kata riko setelah berjongkok.
"Nggak usah.gue bisa jalan sendiri"sahut raka pelan kemudian mulai melangkah pelan dan pada akhirnya tubuh itu hampir mencium tanah jika tidak di bantu oleh riko.
"Kalo dibilangin jangan ngenyel.ayo naik!"titah riko lagi dan dengan pasrah raka menjatuhkan tubuhnya pada punggung kokoh riko.
"Raka?"
"Hmm"
"Lebih baik kita kerumah sakit deh.badan lo makin panas"ujar riko dengan khawatir.
"Nggak ah,nanggung.udah sampe dirumah masa balik lagi"sahut raka pelan kemudian memejamkan matanya dengan nyaman.
"Di rumah lo nggak ada siapa-siapa?kok sepi?"
"Tukang kebun ada di belakang,ART mungkin lagi masak.pak supir lagi antar bunda belanja"sahut raka tanpa membuka matanya,riko mendesah kesal.
"Gue tanya keluarga lo bukan pekerja rumah lo!"
"Pusing..."hanya itu yang digumankan oleh raka,karna dirinya juga tidak tau dimana mereka kenapa ditanyakan padanya?
"Kamar lo dimana?"tanya riko lagi namun tidak ada sahutan dari raka.
"Ra,gue tanya kamar lo dimana?"
"..."tiba-tiba riko khawatir karna tidak mendapat respon.
"Raka,lo nggak pingsan 'kan?"tanya riko lagi,kemudian mendesah kecil saat mendengar dengkuran kecil dari bibir raka.pemuda itu tersenyum tipis.
Hingga suara dibelakanggnya membuat riko berbalik dan mendapat seorang pemuda yang mirip dengan yang di gendongnya sekarang menatap dirinya dan raka secara bergantian.
"Lo?ngapain lo kesini?dia kenapa?"tanya pemuda itu,riki.
"Raka sakit,ya gue anterin dia.kamar raka mana?pegal banget tubuh gue"sahut riko.
"Di atas"sahut riki datar sambil menunjuk ke atas dengan dagunya.
"Lo nggak bantuin adek lo?"tanya riko menaikkan sebelah alisnya.
"Kalo sakit kenapa nggak bawa kerumah sakit aja?gue bukan dokternya"ketus riki kemudian berlalu dari sana bersamaan dengan terbukanya netra raka.
"Itukah keluarga yang lo tanya?"lirih raka,sedangkan riko hanya terdiam dengan wajah yang memerah padam dengan hasrat ingin membunuh keluarga yang menyakiti sahabatnya itu.
"Raka,kita ke atas ya"
Raka tidak menyahut,netra itu sudah kembali menutup dengan meluncurnya tetesan air bening itu tepat di baju riko.
Setelah membuka pintu kamar raka,riko segera membaringkan tubuh ringkih itu dengan pelan di atas kasur dan membenarkan baringan raka,menyelimutinya sebatas dada.
Raka?pria itu masih terpenjam dan riko tau jika sahabatnya itu masih terjaga.
Riko kembali turun kelantai bawah dan dengan mudahnya dia bisa menemukan dapur rumahnya itu,disana sudah ada art yang sedang memasak.
"Anda siapa?"tanya wanita itu kaget melihat kedatangan riko.
"Saya temannya raka bi.mmm boleh pinjam baskom sama handuk kecil?raka sedang demam bi"ujar riko dengan sopan.wanita itu mengangguk kemudian memberikan apa yang diminta oleh riko.
"Sama teh hangat ya bi"kata riko lagi yang di balas anggukan oleh wanita itu.
"Siapa kamu?"tanya wanita itu yang bisa ditebak jika dia bundanya raka.
"Mmm saya temannya raka tante."
Wanita itu terlihat menatap baskon berisi air yang ada di tangan riko kemudian mengangguk pelan.
"Dia sakit?"tanya santika.
"Iya tante."setelah itu tidak ada percakapan lagi,santika seolah tidak merasa cemas terhadap putranya itu segera berlalu menuju dapur.
Riko mendesah kesal kemudian menatap punggung wanita itu dengan rahang yang mengeras.
"Apa tante tidak berniat menjenguknya?atau sekedar menanyakan keadaannya?putra anda sekarat dan anda hanya menganggapnya sepele?dimana hati nurani anda sebagai seorang ibu?"kalimat itu meluncur bebas dari mulut riko,santika menghentikan langkahnya dan menatap riko tak kalah tajam.
"Tau apa kamu dengan keluarga saya hah?beraninya kamu menilai saya dengan sembarangan.apa mulutmu tidak pernah disekolahkan?kamu masih kecil sudah berani melawan orangtua?ahhh apa orangtuamu memang tidak mengajarkan bagaimana sopan santun?"mendengar perkataan santika,emosi riko semakin membesar,netra pria itu serasa sudah berapi-api sekarang.jika dia tidak sadar akan batasnya,dia sudah menyiram wajah wanita dengan teh hangat yang ada di tangannya itu.
"Saya tau tentang keluarga ini,saya tau bagaimana semua hanya memakai topeng palsu.pura-pura baik di hadapan orang lain dan pada kenyatannya kalian tak lebih dari monster yang tega melukai darah dagingnya sendiri hanya karna sebuah kecelakaan yang tidak sepenuhnya kesalahan dia."
"Lihat?bahkan tanpa anda tau siapa saya,anda sudah berani menilai kedua orangtua saya begitu saja?lihat diri anda dulu,apa sudah layak disebut sebagai orang yang berpendidikan?ckkk miris sekali hidup raka yang lahir dari rahim anda"kata riko dengan sengit kemudian segera meninggalkan tempat itu.
"KELUAR DARI RUMAH SAYA!!"teriakan itu tidak di gubris oleh riko,pria itu dengan tegas tetap melanjutkan langkahnya menuju kamar raka.
Dengan wajah kesalnya,dia membuka kembali pintu kamar itu sebelum membulatkan matanya melihat raka yang duduk di lantai dekat pintu itu.
"Raka?lo ngapain disini hah?ayok baring lagi di kasur"kata riko,meletakkan baskom berisi air dingin itu ke atas nakas dan mulai memapah raka yang menatapnya dengan tatapan kosong.
"Lo...lo nggak boleh ngomong kasar sama bunda.dia bunda gue satu-satunya,dia malaikat gue.jangan buat bunda marah lagi.bunda pasti terluka"racau raka membuat riko tertegun.disaat seperti ini,bocah tolol itu masih memikirkan bundanya yang mungkin tidak memikirkannya sama sekali.
"Dasar bodoh"umpat riko entah pada siapa dan segera memapah raka kembali kekasurnya.
Membaringkannya dengan pelan dan mengompresnya dengan telaten.mengamati wajah pucat yang sudah benar-benar tertidur itu.
"Lo terlalu baik tinggal di neraka ini,seandainya gue bisa,gue akan bawa lo ketempat jauh,dimana hanya kebahagiaan yang lo rasakan,tanpa rasa sakit.dan itu sangat mustahil,karna rasa sakit lo bukan hanya dari keluarga lo tapi setiap tarikan nafas lo juga sangat menyakitkan"batin riko menatap miris sahabatnya itu.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan 20:13 setelah raka membuka matanya dan netranya langsung menangkap riko yang tengah berbaring disampingnya.
Raka tersenyum tipis kemudian menatap langit-langit kamarnya itu dengan tatapan kosong sebelum dia merasakan pergerakan kecil dari pemuda disisinya itu.
"Hmmm lo udah bangun?"tanya riko dengan suara serak khas bangun.raka mengngguk pelan sebelum merasakan tangan dingin riko yang menyentuh keningnya.
"Demam lo udah turun.lo udah mendingan 'kan?"lagi-lagi raka hanya mengangguk kecil.
Riko menatap jam tangannya itu sebelum menatap raka kembali.
"Udah malam,gue pulang dulu ya."ujar riko,karna dia tau jika papanya pasti mengkhawatirkannya sekarang.meskipun dia kecewa kepada papanya,namun hatinya itu masih berkata lain,jika kehangatan yang diberikan papanya itu selama ini selalu mematahkan rasa kecewa itu.bahkan saat ini dia belum melaporkan papanya ke pihak berwajib atas percobaan pembunuhan untuk raka,karna sejujurnya dia tidak ingin kehilangan papanya itu.katakan dia egois,bahkan sampai sekarang riko belum mengatakan dalang kecelakaan itu kepada raka.
"Hmmmm lo naik apa?"tanya raka karna seingatnya,riko meninggalkan motornya di rumah sakit.
"Lo tenang aja,gue bisa naik taksi kerumah sakit ambil motor"sahut riko.
"Lo yakin udah baik-baik aja?atau gue nginap aja disini?"tanya riko lagi karna dia juga tidak tega meninggalkan raka yang masih lemas itu,karna dia tau,sebanyak apapun manusia dirumah mewah ini,tidak akan ada yang memasuki kamar raka untuk mengecek keadaannya.
"Gue nggak papa.lo hati-hati ya"
"Lo juga,jaga kesehatan.cek up lo di undur satu hari.kalo bisa besok lo kerumah sakit"nasehat riko,raka memanggut mengerti.
"Jangan buat keributan di bawah!"titah raka dengan wajah mengancam membuat riko terkekeh.
"Iya,iya.tapi soal tadi,gue nggak akan minta maaf ke nyokap lo.ngerti?"balas riko.
"Hhmmm sorry,gue nggak bisa antar sampe keluar"ujar raka.
"It's okey.gue pamit ya"sahut riko kemudian keluar dari kamar raka.
"Mas riko?"
"Apa?"tanya riko seraya berbalik menanggapi panggilan raka yang masih berbaring di ranjangnya.
"Makasih buat semuanya"ucap raka dengan tulus,riko tersenyum kemudian menggeleng.
"Tidak ada kata makasih dalam hubungan saudara"sahut riko,raka tertawa kecil kemudian mengangguk dan tubuh itu menghilang dari penglihatan raka.
#tbc