
"Aku selalu hidup dengan logika, oleh sebab itu teman-temanku menjulukiku wanita dingin. Tapi entah mengapa setiap kali bersamamu, perasaanku perlahan mulai mengambil peran logikaku. Aku berubah!"
Hind menatap cermin besar dihadapannya. Dengan kaos hoody warna hijau army dan dipadukan dengan jeans panjang biru langit ia sudah siap untuk berangkat ke rumah orang tuanya di Bogor. Ia segera mengambil kunci mobil dan berjalan menuju basement tempat mobil miliknya terparkir.
Setelah ia memasuki mobil SUV merahnya, ia segera menekan tombol start engine dan memasukan persneling otomatis kemudian menekan pedal gas serta memutar stir-nya untuk keluar dari basement menuju jalan raya. Tampak suasana pagi akhir pekan saat ini masih lengang kendaraan. Yang ada hanya bangunan-bangunan bertingkat dan hijaunya pepohonan serta udara sejuk sebelum terik sang matahari menjelang untuk menyapanya dan para penghuni bumi lainnya.
Hari ini Hind berniat mengunjungi kedua orangtuanya di Bogor. Selain temu kangen, ia membutuhkan wejangan dan saran dari mereka mengenai hubungan dirinya dengan Mohammed. Jawaban menggantung dari Mohammed membuat pikiran dan hatinya ruwet seperti benang kusut sehingga bingung langkah apa yang harus ia lakukan selanjutnya seolah logikanya tidak dapat jalan sama sekali. Kapan terakhir ia mengalami hal gundah gulana seperti ini? Rasanya hubungan terakhirnya dengan Reza tidak seperti ini. Walaupun hubungan terdahulunya juga menimbulkan luka, namun pikirannya masih jernih menggunakan logika.
Hind menekan pedal gas sedalam-dalamnya ketika mobilnya telah memasuki jalan tol Jagorawi. Dengan kondisi lengang saat ini, rugi rasanya bila ia tidak mengebutkan mobilnya. Rasanya ada kepuasan tersendiri setelah hampir setiap harinya berkutat antara apartemen, rumah sakit dan Mall. Sesekali ia menoleh kearah kiri dan kaca spion untuk memastikan bahwa posisinya kosong guna mengambil ancang-ancang menyalip mobil didepannya. Tapi apa hanya perasaannya saja ya? Mobil jeep hitam dibelakangnya seperti mengikuti kemana mobil yang ia kendarai bergerak. Sudahlah, daripada ia berpikir yang tidak-tidak dan membuatnya merasa tidak aman dan nyaman, lebih baik ia tidak menghiraukannya. Memangnya dirinya siapa sehingga merasa menjadi penting diikuti oleh orang?
Hingga satu setengah jam berlalu, sampailah dirinya ke rumah orang tuanya yang cukup sederhana namun asri dengan taman penuh bunga-bunga yang tertata rapi. Setelah memarkirkan mobilnya, ia turun dari mobil dan menghambur untuk mencium tangan kanan kedua orangtuanya dan memeluk mereka. Kapan lagi ia bisa melakukan hal tersebut mengingat mereka bertiga adalah orang yang cukup sibuk dengan pekerjaannya.
"Bagaimana kabarmu Nak?" Tanya Chandra, Papa dari Hind.
"Alhamdulillah baik Pa, Papa dan Mama bagaimana kabarnya?" Hind merangkul kedua orang tuanya dan masuk ke dalam rumah untuk meneruskan obrolan mereka.
"Alhamdulillah kami juga baik Nak, rasanya sudah lama kita tidak berkumpul bersama seperti ini." Kia, Mama dari Hind mengusap-usap punggung anaknya dengan lembut. "Mama sudah menyiapkan makanan kesukaanmu."
"Makasih Ma..."
***
"Ekspresi wajahmu benar-benar jelek M," Kireina, kakak perempuan Mohammed menarik kedua pipinya dari belakang.
"Aduh Kak, sakit...," Keluh Mohammed sambil mengusap pipinya yang memerah. Bagaimana tidak jelek jika lagi-lagi ia didiamkan oleh kekasih hatinya. Beginikah rasanya menjalin hubungan Long Distance Relationship? Beda negara dan dalam komunikasi yang terbatas pula! Nasib menjadi anggota keluarga Emir Dubai membuatnya harus mematuhi protokol yang ditetapakan oleh Ayah dan tetuanya. Untung saja masih bisa ber-direct message mesra dengan Hind di Hexagram. Entah apa jadinya jika dilarang..., lagi-lagi ia menghela napas berat. Mengapa harus terjadi padanya? Apakah stok perempuan Emirati tidak ada yang bisa menarik perhatiannya?
"Anak-anak, ayo beri salam kepada paman kalian," Kireina menyodorkan dua anak lelaki dan satu anak perempuannya. Mereka adalah Hamdan, Saeed dan Sheikha.
"Uncle M!" Teriak mereka bertiga menyerbu kearah Mohammed berebut pelukan darinya.
"Halo keponakan-keponakanku tersayang," Mohammed mencium pipi ketiga keponakannya. Maklum saja, mereka tinggal di Abu Dhabi dan kakak perempuannya itu sangat mementingkan pendidikan untuk mereka bertiga sehingga walaupun Mohammed memiliki kesempatan berkunjung ke Abu Dhabi belum tentu bertemu mereka. "Kak Kireina tumben mendadak datang kemari tanpa memberi kabar sebelumnya..."
"Siapa bilang aku tak memberi kabar?" Kireina berkacak pinggang seolah memprotes. "Kau terlalu sibuk dengan media sosialmu itu sampai melupakan group keluarga kita. Ditambah lagi foto dan video selfie-mu itu lho, semakin banyak seperti memberi pesan dan kabar kepada seseorang saja. Aku melihat kolom comment-mu semakin lama semakin membludak tak karuan isinya. Apa kau tidak risih? Aku mengerti posisimu sebagai single membuat mereka tergila-gila padamu. Tapi kan..."
"Ya sudahlah, aku kesini juga tidak ingin berdebat melainkan mengantarkan anak-anak yang kangen pada Kakek, Nenek dan Paman-pamannya." Kireina menghela napas dan berjalan menghampiri Ayah dan Ibunya yang sedang berjalan kearahnya.
"Kak Maktoum, bagaimana kau bisa tahu aku sedang dekat dengan seseorang?" Bisiknya kepada sang kakak.
"Kau mau tahu atau mau tahu?" Goda Maktoum. Kapan lagi ia bisa menjahili adik bungsunya itu mengingat Mohammed selalu tampil sempurna seolah tiada cela.
"Aku serius kak...," Ucapnya lirih.
"Karena aku juga laki-laki M," Maktoum tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Mohammed untuk memberikan semangat. "Yang pasti dimantapkan dulu hatinya, baru kau beranikan diri mengenalkannya kepada orang tua kita."
"Iya, aku tahu itu..."
***
"Begitulah ceritanya Pa, Ma...," Akhirnya Hind menceritakan hubungan yang sedang dijalaninya dengan Mohammed kepada orang tuanya. Bagaimanapun mereka berhak tahu karena ia sudah menjalani hubungan tersebut selama tiga bulan ini. "Menurut Papa dan Mama bagaimana?"
Chandra dan Kia saling bertatapan seolah suara hati mereka bertautan tanpa nada. Ada kekhawatiran tersendiri mengingat anaknya pernah gagal menikah dan patah hati. Selama lima tahun kesendiriannya baru kali ini anaknya kembali membuka hati terlebih lagi dengan orang asing yang notabennya adalah public figure yang berbeda negara dan budaya. Namun melarangnya mungkin akan menyakiti hati anak semata wayangnya.
"Mungkin terkesan konyol dan tak masuk logika. Aku pun merasakannya..." Hind sudah pasrah jika kedua orang tuanya tidak setuju. Bagaimanapun restu mereka diatas segalanya. "Kupikir ini hanya perbuatan penipu yang berlalu-lalang dijagat maya, tapi dia nyata bahkan Nada sudah membuktikannya."
"Jalani saja dulu hubunganmu dengan lelaki tersebut Nak," Ujar Chandra berusaha membuat anak semata wayangnya tenang. "Namun kau tahu bahwa mengingat usiamu, Papa dan Mama meminta bahwa hubungan ini haruslah serius. Papa hanya memberimu waktu satu tahun paling lama. Jika setelah jangka waktu setahun tidak ada keseriusan darinya maka tinggalkan dia."
"Aku mengerti Pa..., Ma...,” Ada rasa lega sekaligus kekhawatiran yang melanda karena lampu yang diberikan bukanlah lampu hijau melainkan kuning yang berarti ia tetap harus berhati-hati membuka hatinya kepada Mohammed agak ia tak terluka lagi seperti dulu. Namun setidaknya ia bisa menjawab pesan terakhir dari M.
Aku tidak pernah memandangmu sekalipun karena sisi sempurnamu tak pula menghinakan kelemahanmu
Karena aku hanya jatuh cinta pada hatimu yang berusaha menautkannya kepada hatiku...
***