My Love Is Just For You

My Love Is Just For You
Curiosity Killed The Cat



"Aku tak menyangka bahwa kau adalah seseorang yang tak pernah terbesitpun dalam benakku akan hadir memenuhi hari-hariku..."


Sejak mengenal Mohammed, dunia Hind yang biasanya monochrome perlahan berubah sedikit berwarna. Ia yang dulu seorang yang kudet atau kurang update tentang dunia kekinian akhirnya menjadi pribadi yang lebih terbuka. Tak segan-segan sesekali foto atau video dirinya diposting di media sosial miliknya.


Pepatah mengatakan, Curiosity killed the cat. Rupanya rasa penasaran Hind terhadap Kehidupan Mohammed membuatkannya diam-diam sering membuka kolom comment akun milik Mohammed. Ia sudah terbiasa membaca pujian dan rasa cinta yang disampaikan para followers M dan tidak mempermasalahkannya. Karena ia mengenal lelaki tersebut memang sudah terkenal meskipun sampai saat ini ia tidak mengetahui sebenarnya lelaki yang menempati relung hatinya ini seorang public figure yang bagaimana. Yang menggelitiknya adalah panggilan pangeran atau Sheikh yang terkadang muncul disana. Sebuah gelar bangsawan yang prestisius tentunya.


Rasa penasaran Hind membawanya ke mesin pencari data di internet dan betapa tertertegunnya Hind menatap halaman wikipedia yang dibacanya. Sosok yang selama ini mengisi hari-hari dan hatinya bukanlah orang biasa. Mohammed bin Rashid adalah putra ketiga sekaligus bungsu dari Rashid bin Hamdan, Perdana Menter UEA sekaligus penguasa Kota Dubai yang terkenal sebagai kota termodern di Timur Tengah. Ia merasa kecolongan, bagaimana ia tidak mengetahui hal sepenting ini? Apakah lelaki ini sedang bermain-main dengannya karena ia hanya rakyat biasa?! Pantas saja ada begitu banyak follower-nya yang tak segan-segan mengaku-aku sebagai kekasihnya dan ia nampak menikmati pujian-pujian setinggi langit itu dengan selalu memposting foto selfie-nya.


Ia segera mencari Nada untuk meminta klarifikasi mengenai hal tersebut. Ditariknya Nada yang baru keluar dari toilet menuju pojok ruangan dimana tidak banyak orang berlalu lalang.


"Aduh Mbak, jangan tarik-tarik lengan bajuku, nanti jadi melar sebelah...," Keluh Nada.


"Jawab aku Nada, siapa sebenarnya M itu?" Hind menatap serius kearah Nada. Kedua tangannya sedikit mencengkram pundak Nada.


"Public figure," Jawab Nada polos.


"Aku juga sudah tahu dia public figure, tapi public figure seperti apa Nada?" Tampak rasa khawatir dan cemas dibalik suara Hind.


"Dia adalah salah satu pangeran Dubai, tepatnya anak bungsu Emir Dubai, memangnya kenapa Mbak Hind mendadak ingin tahu tentang M? Kupikir Mbak Hind sudah tahu..."


"Ya Tuhan, jadi benar yang kubaca tadi...," Hind menunduk frustasi menutup wajahnya dengan kesepuluh jarinya. Bagaimana bisa ia luput dari hal ini? Apakah rasa pekanya sungguh berkurang selama ini?!


"Mengapa Mbak Hind sebegitunya sih Mbak? Kau tampak tidak tenang sama sekali?"


"Bagaimana aku bisa tenang jika orang yang sedang dekat denganku itu adalah lelaki tersebut?!" Hind segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Menyesali kebodohan yang baru saja ia buat.


"Benarkah? Benarkah itu Mbak Hind?" Sepasang mata Nada berbinar-binar, ia pun berganti memegang pundak Hind yang tak bisa berkata apa-apa karena masih merutuki kebodohannya. Dengan lincah Nada mengambil smartphone milik Hind yang selalu disimpannya disaku kiri jas dokter yang dikenakan Hind dan seenaknya membuka akun media sosial milik Hind untuk mengetahui komunikasi seperti apa yang terjalin antara Hind dan M. Sempat ia khawatir bahwa Hind akan menjadi korban scammer yang akhir-akhir ini merajalela berpura-pura menjadi M dengan memulai mengirimkan direct message kepada korbannya. Namun yang didapatinya hanya satu nama akun dan benar milik M. Ternyata doanya selama ini dikabulkan oleh Pemilik Semesta!


"Selamat ya Mbak Hind, kau telah menemukan belahan jiwamu!"


Ucapan dari Nada hanya membuat wajah Hind semakin kusut seperti benang yang tak terpintal sempurna karena ia bingung harus bagaimana bersikap menghadapi kenyataan yang begitu mengagetkannya. Ini diluar logika! Pantas saja ia hanya bisa berkomunikasi dengan dirinya melalui media private message di Hexagram? Ia baru mengetahui bahwa terdapat batasan-batasan dalam menggunakan media sosial di negara tempat Mohammed tinggal. Berbeda dengan negaranya yang cenderung bebas mengizinkan warganya dalam berinternet dan menggunakan media sosial.


***


Satu menit...


Lima menit...


Dua puluh menit...


Satu jam!


Tak ada balasan apapun dari pesan yang dikirimkannya meskipun sudah ada tanda bukti bahwa pesannya itu telah dibaca oleh Mohammed. Ia berusaha ber-positive thinking bahwa Mohammed sedang sibuk dengan urusannya sehingga belum sempat membacanya. Karena lelah menunggu jawaban dari lelaki tersebut hingga larut malam yang tak kunjung datang, akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan aktifitasnya bersama laptop dihadapannya. Hingga sebuah pesan masuk dari Mohammed menghentikan gerakannya.


Jika aku memang benar adalah Mohammed bin Rashid putra bungsu Emir Dubai, apa yang akan kau lakukan kekasihku sayang?


Apakah kau akan berubah terhadapku?


Apakah kau akan meninggalkanku?


Atau kau tetap seperti sekarang dan bersama denganku?


Tubuh Hind bergetar menahan tangis dan amarah. Ia menggigit ujung bibirnya hingga kelu tak dapat berucap apa-apa. Bagaimana mungkin ia bisa terlibat dengan lelaki yang jelas-jelas sangat jauh dari jangkauannya ini? Ia merasa tak sedetikpun meminta sosok lelaki seperti M hadir dalam hidupnya kepada Yang Maha Kuasa. Mengapa bisa? Dilihat dari sudut manapun hubungan ini menjadi terasa janggal olehnya.


Air matanya tak kuasa turun karena menahan kesal. Ia meletakkan ponselnya disebelah laptop miliknya. Kegiatan Updating data riwayat hidup dan pekerjaannya yang selalu ia perbaharui untuk arsipnya jika suatu saat nanti ingin melakukan pekerjaan relawan lagi seolah menjadi seonggok benda tak bernilai apa-apa.


Sementara Mohammed masih terus menatap layar smartphone-nya setelah menjawab pertanyaan dari Hind. Seharusnya ia sudah tidak kaget dengan pertanyaan yang akan muncul dari Hind. Bagaimana bisa ia menjadi susah menjelaskan segala sesuatunya tentang dirinya kepada Hind? Sehingga butuh larut malam untuk memberikan jawaban yang tepat dari pertanyaan Hind pagi tadi. Ia sampai harus menyibukkan dirinya dengan setumpuk dokumen dan agenda pertemuan yang notabennya dapat ia tunda pengerjaannya hingga minggu depan, namun karena pertanyaan dari Hind membuatnya kalut dan sedikit takut seolah jika Hind telah mengetahui siapa dirinya, karakter yang selama ini Hind tampakkan kepadanya hanyalah khayalan semata. Gadis itu akan menjelma sebagai pengejar harta dan kepopuleran seperti yang sudah-sudah. Tapi bukankah pamannya sudah mengingatkan dirinya bahwa ia harus siap apapun yang terjadi? Ya Tuhan..., mengapa semuanya mulai menjadi rumit saat ini? Keluhnya dalam hati.


***