
"Apakah kau sedang mempermainkanku? Apakah aku kau anggap bodoh sehingga kau bisa mempermainkan perasaanku seenaknya?"
Air mata Hind yang sejak tadi ia tahan untuk tidak keluar dihadapan Ermi dan Fauzan ketika mereka mengantarkan dirinya ke Bandara Internasional Dubai, tak henti-hentinya menetes selama di dalam pesawat yang membawanya saat ini kembali ke Jakarta. Ia bersyukur lampu remang yang menyala di kabin pesawat dapat menutupi isak tangis dalam diamnya dan lelehan air mata yang menghiasi pipinya. Meskipun dirinya sudah mengantisipasi hal-hal yang akan menorehkan sedikit luka dari pengharapannya untuk bertemu dengan M, namun rasanya sangat menyakitkan ketika selama seminggu berada di Dubai ia sama sekali tidak dapat bertemu dengan lelaki itu. Awal yang menyenangkan di Dubai seolah hanya angin lalu yang terhempas badai kekecewaan. Sisa dua hari yang ia isi dengan mendatangi objek wisata Dubai Frame yaitu berupa bangunan tinggi berbentuk pigura yang memiliki keterkaitan dengan masa lampau dan masa kini dan Dubai Safari Park yaitu sebuah kebun binatang dengan suasana padang pasir serta off road desert safari hanya bisa menampilkan ekspresi bahagia diwajahnya namun tidak dengan hatinya yang sudah terlanjur kecewa dan berhenti untuk menambang asa.
Apa yang salah dari rencananya yang sudah ia susun cukup matang ini? Sesibuk itukah lelaki itu hingga tak sempat sama sekali bertemu dengannya? Kekasihnya? Atau jangan-jangan benar persangkaan dirinya selama ini bahwa ia hanya dipermainkan saja oleh lelaki itu? Hind menertawakan dirinya yang sudah terlalu berharap pada M. Ya Allah, sungguh luar biasa bodoh dirinya. Hanya karena seorang lelaki ia bisa menjadi selemah ini!
Kumpulan pikiran negatif menyeruak kedalam sukma sehingga hanya rasa sakit yang didapat Hind dan ketidaktenangan dirinya selama berada diangkasa. Ia berharap pesawat yang ditumpanginya segera mendarat di Jakarta dan ia bisa lekas kembali ke apartemennya untuk memuaskan diri dengan menangis. Setidaknya tiada orang lain yang tahu bahwa ia menahan kesakitan yang berteriak kuat hendak keluar dari rongga dadanya. Ia sudah tidak perduli dengan apa yang diposting atau pesan yang dikirim M untuk nya. Yang ia butuhkan saat ini adalah sendiri.
***
Hind menarik koper bergambar bendera Inggris miliknya dan keluar menuju stasiun kereta yang akan mengantarnya ke apartemen miliknya. Matanya sembam namun tangisnya selama di pesawat tak juga melegakannya dan kepalanya pusing karena tidak dapat tidur selama 8,5 jam berada di udara. Setelah menaiki kereta bandara sesuai dengan nomor kursi yang didapatnya, sayup-sayup kantuknya mulai terasa meminta untuk menutup mata dan Hind pun tertidur.
Aku lelah...
Segala daya dan upaya sudah kulakukan semaksimal mungkin untuk bertemu denganmu
Dan kau hanya diam tak bergeming seolah apa yang aku lakukan kepadamu kau anggap angin lalu...
Apakah selama ini aku hanya bermimpi? Sehingga karena terlalu terlena dalam buaian hingga jatuh terlalu dalam
Sang Pemberi Mimpi pun murka dan segera menyadarkanku dari bunga indah dikala tidur itu...
Kereta Bandara memasuki pemberhentian terakhir di Stasiun BNI City. Hind bersiap-siap untuk turun dan menuju taksi online yang telah dipesannya sambil terus mensugesti dirinya untuk tidak kembali menangis. Sepanjang perjalanan dari stasiun kereta menuju apartemen, Hind terus menatap pemandangan pagi hari dari luar jendela kaca taksi. Tatapannya kosong sama seperti jalan tol yang dilewatinya saat ini. Berbanding terbalik dengan pikirannya yang sedang berkecamuk. Ia ingin berteriak sekencang-kencangnya namun lidahnya kelu tak dapat bersuara. Didalam hatinya hanya ucapan tak kasat telinga yang terputar berulang-ulang memohon ampunan dari Sang Kuasa agar memperingan sakit yang menusuk dadanya sehingga terasa semakin sesak dan membuatnya tidak nyaman.
"Mbak, sudah sampai di tujuan,” Ucapan pengemudi taksi online yang sejak tadi mengantarnya dari stasiun kereta bandara menuju apartemennya menyadarkan Hind dari lamunan rasa sakit tak bertepi.
"Eh, iya," Hind segera keluar dari taksi hendak mengambil kopernya yang berada di bagasi mobil taksi tersebut dengan buru-buru karena terkejut hingga tak menyadari kepalanya terantuk langit-langit mobil.
DUAK!
"Aduh...," Hind meringis menahan sakit dikepalanya namun cukup memperingan rasa sakit dihatinya.
"Hati-hati Mbak," Pengemudi taksi online tersebut terkejut mendengar suara benturan kepala Hind dan menoleh kearah gadis itu untuk memastikan bahwa penumpangnya itu baik-baik saja.
"Saya tidak apa-apa Pak," Hind mengibas-ngibaskan kelima jarinya untuk meyakinkan bahwa ia baik-baik saja meskipun tak ia pungkiri rasa berdenyut perih mulai dirasakannya.
Mendengar jawaban Hind, sang pengemudi menghela dada lega kemudian segera keluar dari mobil untuk mengangkat koper berukuran sedang milik Hind dari bagasi mobilnya.
Dengan gontai Hind berjalan memasuki lobi apartemen menuju lift yang akan membawanya ke lantai 12. Ayolah lift lekaslah sampai ke ruanganku! Teriak Hind dalam hati, ia ingin segera merebahkan tidak hanya hatinya namun tubuhnya yang remuk redam di kasur empuknya karena saat ini ia butuh penenangan dengan tidur yang lama tanpa gangguan orang lain.
***
Mohammed berjalan gontai di padang pasir tempat ia biasa melatih burung elangnya berburu burung kecil, sebuah tradisi yang dilakukan warga asli di Timur Tengah, salah satunya Dubai. Ia menengadah ke atas langit biru dan tak memperdulikan terik panas matahari di pagi itu membakar kulitnya hingga kecoklatan. Ia merasa frustasi karena gagal bertemu Hind dan mulai menyalahkan dirinya. Bukan ia tak berusaha untuk menemuinya, ia sudah berusaha ingin menemui kekasihnya itu dihari terakhir Hind akan meninggalkan Dubai untuk kembali ke Jakarta.
Setelah ia membuka pesan terakhir dari Hind bahwa gadis itu akan pulang, Mohammed yang baru menyelesaikan rapat pentingnya di pusat kota segera memerintahkan Saeed, salah satu pengawalnya yang biasa menjadi pengemudi mobil dinas miliknya untuk mengantarkan dirinya menuju Bandara Internasional Dubai. Ia tak perduli bagaimana caranya agar ia sampai sebelum pesawat yang Hind tumpangi pergi lepas landas meninggalkan bandara.
Namun apa daya..., ia terlambat beberapa menit setelah pintu pesawat ditutup. Ketika ia hendak meminta petugas pintu membukanya, banyak orang yang mengenalinya kemudian mengerubunginya untuk berfoto atau meminta tanda tangan layaknya selebriti. Para pengawalnya yang ia tinggal di belakang untuk berlari mengejar Hind segera menghampiri dan melindungi Mohammed untuk kemudian mengamankannya kembali ke dalam mobil agar tidak menimbulkan kehebohan yang bisa memancing media untuk meliputnya.
Dan disinilah ia kini. Ingin menangis rasanya sungguh merendahkan harga dirinya. Hatinya sesak bak ditimpa batu besar. Rasa penyesalannya semakin dalam ketika Salim menunjukkan video wajah Hind yang hendak menangis namun berusaha ditahannya selama menunggu di ruang tunggu keberangkatan pesawat. Tidak pernah sekalipun ia melihat Hind menunjukkan diri selemah itu. Tubuhnya bergetar dan kedua tangannya mengepal kuat. Ia mengumpulkan segenap tenaga dan berteriak sekencang-kencangnya untuk meluapkan segala perasaan perasaan yang menghimpitnya.
"AAARRGGHH!"
Tak ayal apa yang diperbuatnya membuat Juma dan para pengawalnya yang sibuk dengan elang-elang mereka terkejut dan menimbulkan kegusaran bagi hewan peliharaannya mereka.
Setelah puas berteriak, ia menjatuhkan tubuhnya menunduk dan berlutut menatap pasir halus kecoklatan muda dihadapannya kemudian terdiam. Juma yang khawatir akan kondisi keponakannya meminta Saeed memegangi elangnya sementara ia menghampiri Mohammed.
"M, apa yang kau lakukan?" Bisik Juma sambil memegangi kedua bahu Mohammed. "Kau jangan melakukan hal gila seperti tadi!"
"Paman...Paman..., aku harus bagaimana sekarang...," Wajah Mohammed tampak memelas tak berdaya dan kedua mata indah yang begitu penuh keteduhan yang menyimpan ketegasan didalamnya berubah menjadi berkaca-kaca memerah. "Mengapa semua ini terjadi padaku Paman? Mengapa?"
"M..."
"Aku merasa tak berdaya Paman,” Mohammed memeluk erat sahabat yang selalu menemani dan mendampinginya baik suka dan duka. "Aku hanya meminta waktu sebentar saja untuk bertemu kekasihku dari seminggu yang bisa ia sempatkan untukku tapi tak pernah bisa, bahkan dihari terakhir ia hendak meninggalkan Dubai pun aku tak sempat memenuhi permintaannya yang begitu sederhana namun begitu sulit kurealisasikan. Tak kusangka membuat seorang Hind Karenina menangis begitu menusuk hatiku karena merasa ingkar janji..."
Ia tak menyangka bahwa perasaan keponakannya itu begitu serius dan dalam. Padahal awalnya Mohammed bercerita ia hanya menyukai seorang gadis Indonesia, tidak mengatakan jatuh cinta hingga berhasil membuatnya terpuruk lemah seperti ini. Terakhir kali ia melihat ekspresi kesakitan seperti ini ketika Rashid dipaksa menikahi sepupu mereka, Maryam sehingga secara tidak langsung memutuskan hubungannya dengan Ayudisa.
"M, dengarkan aku," Juma mendorong tubuh Mohammed dan menangkup wajah lelaki itu. "Janganlah bersikap lemah seperti ini. Masih banyak cara untuk memperbaikinya."
"Kau tidak kenal Hind Paman, untuk membuka hatinya kepadaku saja aku sudah bersusah payah dan sekarang aku menyia-nyiakan semuanya..."
Juma menghela napas panjang. Sepertinya ia harus mendiamkan keponakannya ini hingga situasi emosinya kembali stabil. Baru ia akan perlahan memberikan masukan.
***