My Love Is Just For You

My Love Is Just For You
Nasehat Orangtua Pada Anaknya



"Perasaan rindu ini sungguh tak bertepi


Tapi diri menyadari tak pantas menyampaikan rasa


Luka ini masih ternganga


Entah apa yang dapat menyembuhkannya


Ini bukan tentang keegoisan dan harga diri semata


Tapi bentuk nyata air mata yang lelah menyapa


Hingga lupa apa itu cinta..."


"Papa dan Mama kemana Bu Eni?" Tanya Hind yang baru turun dari mobilnya dan menghampiri asisten rumah tangga yang telah mengabdi bersama suaminya yang menjadi supir sejak sebelum Hind dilahirkan. Karena pengabdiannya itu, sepasang suami istri tersebut dibuatkan rumah sendiri disebelah rumah utama agar tidak terlalu sunyi dan sepi mengingat kedua orang tuanya hanya memiliki dirinya sebagai keturunan. Dulu ia berpikir, tak ada salahnya jika ia menikah nanti, ia dan suaminya akan memiliki tiga, empat atau lima anak agar rumah tidak terasa sepi seperti dirinya yang tumbuh mandiri dan sedikit kesepian. Hal yang menjadi sedikit perdebatan dengan Reza, mantan tunangannya yang ingin memiliki anak maksimal dua saja. Aneh, mengenang nama lelaki itu sekarang tak berpengaruh apa-apa bagi dirinya. Seolah ia tak pernah mampir dan menjadi sejarah dalam hidupnya. Ia pun tak ada niat ingin mengetahui apa yang lelaki itu lakukan sekarang. Sudahlah, lebih baik ia fokus pada kehidupannya sekarang dan tak menoleh kembali kebelakang, sugestinya dalam hati.


Hind yang sebenarnya merasa bersalah karena belum memberanikan diri ke rumah orang tuanya dengan alasan masih takut untuk menjelaskan apa yang terjadi dalam perjalanannya selama di Dubai, akhirnya memutuskan untuk berkunjung. Postingan video dari M memperkuat niatnya untuk itu. Ia butuh saran dan petuah dari orang tuanya yang sudah terlebih dahulu merasakan asam garam kehidupan dibandingkan dirinya yang masih hijau ini.


"Bapak dan Ibu sedang ada urusan sebentar di Rumah Sakit, beliau bilang sebelum jam makan siang sudah kembali karena Non Hind mau pulang kemari," Jawab Eni.


"Oh iya Bu, ini ada sedikit oleh-oleh perjalananku dari Dubai," Hind menyerahkan salah satu dari dua kantong kertas ukuran sedang yang dibawanya. "Mohon maaf jika baru sempat memberikannya sekarang."


"Aduh Non, tidak usah repot-repot." Eni menerimanya sambil malu-malu. Anak majikannya ini selalu memberikan oleh-olah yang sama untuknya dan majikannya setiap kali selesai berpergian kemanapun. Didikan orang tuanya kepada Hind untuk tidak pernah membeda-bedakan status atau strata orang sungguh sangat dipegang teguh oleh nona mudanya ini. "Terima kasih..."


"Tidak apa-apa Bu, bagiku Bu Eni dan Pak Agus sudah saya anggap keluarga saya sendiri,"  Hind membalas pelukan dari asisten rumah tangga orang tuanya itu.


"Oh iya Non, Non tidak sarapan dulu? Sudah Bu Eni siapkan makanan kesukaan Non lho, roti panggang dan selai coklat serta keju sebagai pendamping minuman favorit Non Hind, Cappucino panas."


"Disimpan saja Bu untuk snack sore hari, aku masih mau menikmati suasana dirumah ini," Hind tersenyum setelah melihat jam tangan hitam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul setengah sebelas pagi dan sudah mendekati waktu makan siang. "Aku mau jalan-jalan sebentar. Rasanya sudah lama aku tidak kesini..."


Hind mulai berjalan menyeberang dari rumah utama menuju sebuah ruangan yang sudah cukup lama tidak ia sentuh. Ruangan yang dibuat terpisah dan berdiri sendiri tepat berhadapan dengan taman memiliki bentuk pendopo serta khusus dibuat oleh kedua orang tuanya untuk dirinya menyampaikan ungkapan rasa dengan lukisan atau hasil bidikan kamera.


Satu per satu ia sentuh hasil lukisan dan potret yang pernah dibuatnya dan terpajang apik dengan bingkai kayu berplitur coklat muda serta memenuhi hampir seluruh tembok yang ada. Ia memejamkan matanya dan mulai meresapi sejarah setiap hasil karyanya hingga merasuk keseluruh sukma. Tiba-tiba bayangan wajah M dengan ekspresi yang sama di video terakhir pada akun Hexagram-nya sekelebat muncul menggugah ingatan dan mengembalikan kesadarannya dari dunia relung kalbu hitam putihnya yang terpercik warna-warni cat lukisnya. Ia menyentuh dadanya yang merasakan sedikit sesak.


"Sudah puas menjelajahi ruangan yang biasa kamu gunakan untuk mengekspresikan dirimu jika punya masalah tapi sulit untuk menyatakannya dalam bahasa?" Tanya Kia yang sejak tadi mengamati anak tunggalnya nampak begitu meresapi setiap guratan hasil lukisan dan potret yang ada.


"Mama?" Sontak Hind menoleh dan menghampiri Kia dengan mencium telapak tangan kanannya dilanjutkan mencium kening Kia sebagai bentuk sayang dan penghormatan. "Sejak kapan ada disini?"


"Fisiknya alhamdulillah sehat Ma, hatinya yang kurang sehat," Hind tersenyum lebar menampakkan ketegaran namun menyisipkan kesedihan dari gambaran matanya berkaca-kaca seakan ingin menangis.


"Ceritanya nanti saja," Kia yang menyadarinya berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Ia menggandeng lengan kiri Hind dan mengajaknya keluar menuju ruang makan. "Kita makan siang dulu, Papa sudah menunggu kita di ruang makan untuk makan bersama."


"Iya, aku juga membawakan oleh-oleh pesanan Papa dan Mama dari sana."


***


"Begitulah ceritanya, menurut Papa dan Mama bagaimana?" Tanya Hind penuh harap sambil memeluk bantal sofa diruangan keluarga setelah ia memberanikan diri bercerita. Menceritakan seluruh kejadian yang terjadi selama di Dubai sungguhlah menguras tenaga dan hatinya. Hal ini seolah membuka luka yang belum sempat mengering kembali ternganga. Namun apapun itu, orang tuanyalah yang paling pantas untuk diberitahu terlebih dahulu karena merekalah yang melahirkan dirinya dan paling mengerti siapa dirinya. Ia sudah siap menerima ceramah apapun dari orang tuanya karena dirinya tahu tidak mungkin orang tua akan menjerumuskan anaknya kepada hal-hal yang tidak baik. Bahkan jika hal itu merupakan masukan yang menyakitkan sekalipun, walaupun pahit dirasa, ini semua demi kebaikannya.


"Berarti perasaan Mama benar tentang mimpi waktu itu," Lanjut Kia yang duduk disebelah Hind.


"Mimpi?" Hind mengernyitkan dahinya karena bingung. "Mimpi yang mana?"


"Itu lho Nak, pas kamu di Dubai, Mamamu sempat bermimpi kemudian esoknya segera meneleponmu untuk menanyakan kabar apakah kamu baik-baik saja dan sudah bertemu dengan siapa namanya? Mohammed atau M itu." Chandra menjelaskan maksud ucapan Kia.


"Oh iya, itu, perasaanku mengatakan hal yang tidak mengenakan seperti aku tidak dapat bertemu dengan M." Suasana hangat dan nyaman yang sempat tercipta berubah menjadi sendu. Setiap kali mengingat pengharapan yang terlalu tinggi untuk bertemu dengan M, semakin ia terjatuh dalam lubang kekecewaan yang lebih dalam. Matanya kembali berkaca-kaca namun sebisa mungkin tak ada tetesan air mata yang jatuh.


"Mungkin kamu akan merasa tidak nyaman, tapi Mama harus menceritakannya," Kia menjelaskan. "Mimpi Mama, kamu dan Mohammed tidak bertemu seolah berselisih jalan..."


Mendengar ucapan sang Mama, membuat Hind terdiam namun ia tidak menangis karena sudah menduga akan hal itu meskipun tetap ada cubitan kecil yang menyakiti relung hatinya. Sejak dulu sang Ibu memiliki kelebihan yang jarang dimiliki orang lain. Apa yang dimimpikan Kia selalu menjadi kenyataan, dan terbukti benar adanya.


"Tapi Mama juga bermimpi untuk kedua kalinya pas dihari kamu pulang bahwa pemuda itu mengejarmu ke Bandara ketika kamu hendak pulang kesini namun kamu sama sekali tidak menoleh kearahnya..."


Kali ini air matanya tak dapat ditahannya lagi dan meluncur mulus dipipinya. Berarti M tidak mengingkari janjinya bahwa ia telah berusaha untuk menemuinya. Mungkinkah itu? Selama ini ia tak berani membuka semua direct message yang dikirimkan M untuknya karena ia tak mau membaca alasan-alasan klise yang akan menggoyahkan hatinya. Bagi orang yang pernah dikecewakan dalam hubungan dengan seorang lelaki, wajar membuat Hind menjadi lebih takut dan khawatir serta tidak terlalu berharap banyak pada hubungannya dengan M. Namun entah mengapa dengan M ia merasakan kenyamanan yang tak pernah ditemui pada hubungan sebelumnya. Ia merasa tetap menjadi dirinya sendiri dan tidak harus menjadi orang lain. Ia merasa...


"Coba diingat-ingat Nak, apakah kepergianmu ke Dubai mendadak, sementara pemuda itu yang notabennya salah satu orang penting dan sibuk disana telah punya jadwal yang padat sehingga bagaimanapun ia berusaha mencuri waktu untuk bertemu seolah tak ada celah untuk dapat disusupi sehingga membuatnya menjadi sulit mencocokan waktunya denganmu. Kamu yang lebih mengerti bagaimana kalian selama ini berkomunikasi. Lagi pula masih jauh dari deadline yang Papa dan Mama minta kan?"


Hind mengangguk sambil sesekali mengusap air matanya yang mengalir dengan kertas tisu yang diberikan oleh Kia. Ia tersadar telah sedikit egois tidak memberikan kesempatan M menjelaskan.


"Kalau memang masih cinta, perbaikilah hubungan kalian, bicarakanlah dari hati ke hati, anggap saja ujian ini adalah batu kerikil kecil yang harus dihadapi oleh kalian berdua agar hubungan yang kalian miliki semakin kuat dan kokoh kedepannya, karena kita tidak tahu apa lagi yang akan terjadi kedepannya. Jika sudah tidak cinta, sampaikan juga padanya untuk mengakhirinya secara terbuka, jangan seperti Reza yang menghilang tanpa jejak. Tunjukkan bahwa kau orang yang berani menerima kenyataan," Kia mengusap rambut Hind lembut dan memeluk anaknya itu. Ia berusaha menenangkan anaknya yang sebenarnya hanya takut terluka kembali. "Tugasmu hanya berusaha dan berdoa Nak, masalah hasilnya diserahkan kepada Yang Maha Kuasa. Jangan bersedih lagi, karena kalau kamu sedih, Papa dan Mama juga ikut sedih..."


"Iya Ma..., iya..., aku akan berbicara dengan M..." Masih dengan tangisnya yang terus menerus keluar, Hind mengangguk dan merasa tercerahkan. "Dan menyelesaikan masalah kami..."


***