
"Apakah kau percaya telepati? Bagaimana bisa kau tahu apa isi perasaanku sementara aku tak pernah menyampaikan apapun kepadamu?"
"Kau ingin apa untuk hadiah ulang tahunmu yang ke-33 M? Tiga hari lagi lho...," Tanya Juma disela-sela kesibukan Mohammed yang harus menghadiri beberapa acara penting hari ini untuk menggantikan kakak lelakinya yang menemani sang Ayah untuk mengikuti perlombaan kuda kelas Endurance di Perancis. Bertolak belakang dengan Maktoum yang benar-benar mencintai kuda, Mohammed kurang begitu menggemarinya. Bukan ia tidak bisa menunggang kuda, namun ia lebih memilih hobi tak kalah ekstrem yaitu diving dan hiking untuk dapat mengabadikan pemandangan indah ciptaan Yang Maha Kuasa dibalik lensa kameranya.
"Entahlah Paman," Mohammed mengangkat bahunya cuek. "Berharap kekasihku memberikan surprise datang ke Dubai mungkin sebagai kado ulang tahunku."
"Kau gila!" Juma memukul bahu kokoh Mohammed. "Mana ada ceritanya hal seperti itu! Yang seharusnya adalah jika kau serius dengan kekasihmu itu, kau datangi rumah orangtuanya!"
Mohammed tertawa lepas. Ucapan bercandanya tadi dianggap serius oleh Juma. Saat ini ia belum terpikirkan untuk menghampiri Hind, usia hubungan mereka masih hijau, belum genap setahun. Ia ingin lebih mengetahui seberapa dalam ikatan hubungan yang dimiliki olehnya dan memastikan bahwa hatinya hanya untuk gadis itu. Walaupun ia tidak menolak juga jika Hind memberikan kejutan yang menyenangkan itu. Sepertinya pikirannya sudah mulai ngawur karena ia belum sempat berkomunikasi dengan gadisnya itu hari ini akibat kesibukannya yang sangat menggila hari ini.
Ia dan Juma beserta para pengawalnya memasuki sebuah cafe kopi yang ada di Dubai Mall. Setelah hampir seharian ia menghadiri acara, ia membutuhkan asupan kafein dan manisnya roti serta cake untuk tetap membuatnya sadar akan logikanya.
Musim panas yang terik di Dubai sehingga membuat keluarganya mengungsi sementara ke London guna menghindari sinar panas sang surya telah berakhir, dan berganti menjadi musim dingin. Itu berarti ada kemungkinan besar awan putih tebal akan turun menghampiri gedung-gedung pencakar langit disana. Mohammed pun mempunyai ide untuk mengabadikannya dalam bentuk video dan mempostingnya di akun Hexagram-nya untuk ditunjukkan kepada Hind yaitu pemandangan negeri diatas langit yang menjadi salah satu icon kota Dubai. Ia pernah mengabadikan foto dirinya disana setahun yang lalu sebelum bertemu dengan Hind. Namun karena saat ini Hind telah masuk ke dalam relung hatinya, tak ada salahnya jika ia pun memberikan hadiah spesial untuk gadis pujaannya tersebut yang sangat mencintai alam. Bagaimana ia bisa tahu? Hal itu didapat dari foto-foto hasil jepretan kamera Hind yang diposting di akun pribadinya khusus klub photography yang diikuti oleh gadis itu. Rupanya cukup banyak hasil jepretannya yang laku terjual. Jiwa stalker nya sungguh mulai menjangkiti dirinya seolah virus yang menemukan induk semang untuk berkembang biak. Sungguh mengerikan! Namun ia tak dapat menghentikannya karena itu adalah candu menyenangkan baginya. Beruntungnya tindakannya itu sampai dengan saat ini tidak disadari oleh Hind. Ada gunanya juga memiliki kekasih yang kurang sedikit peka.
Setelah menerima kopi pesanannya yang telah selesai diracik oleh barista, ia berjalan menuju pojok ruangan dan duduk disana untuk menikmati cairan pekat melewati kerongkongannya.
TING!
Sebuah pesan masuk kedalam Direct Message akun Hexagram-nya yang membuat bibir Mohammed tersenyum lebar seperti kurva parabola dan segera membukanya. Siapa lagi yang bisa membuat bibirnya tersenyum lebar jika bukan kekasih hatinya.
BRUSSHHHH!
Cairan kopi yang diminum Mohammed tersembur keluar dari mulutnya ketika membaca pesan dari Hind.
"Hei, apa yang kau lakukan M?!" Teriak Juma berdiri dan membersihkan kanduranya yang kotor terkena noda kopi akibat ulah Mohammed. "Kau ingin menjadi keponakan durhaka dengan menyemburkan kopimu kepada pamanmu ini?!"
"Aku minta maaf Uncle Juma," Mohammed pun berdiri dari duduknya panik, merasa bersalah atas tindakan kurang sopannya itu dan memanggil salah satu pengawalnya. "Saeed, aku minta tolong untuk membantu Paman Juma mengganti kanduranya! Ada hal yang harus segera aku lakukan!" Mohammed segera berlari keluar cafe dan mulai menekan dial nomor telepon yang harus segera ia hubungi.
***
"Mbak Hind ada rencana apa untuk ulang tahun M?" Tanya Nada. Ia meletakkan secangkir teh panas dengan irisan lemon diatasnya kehadapan Hind. Malam ini dirinya menginap di apartemen sahabatnya itu karena suami dan anaknya sedang berada ditempat mertuanya sementara ia mendapat tugas jaga shift malam.
"Terima kasih," Hind mengernyitkan dahinya. "Ulang tahun M? Memang kapan?"
Nada hanya bisa menepuk dahinya tanda frustasi. Ini beneran sahabat yang dikenalnya bukan sih?! Mengapa gadis di hadapannya ini seolah seperti pemula dalam berpacaran dengan seorang lelaki?! Apakah traumanya terlalu berat sehingga untuk ukuran remeh seperti itu Hind menjadi tidak sensitif?
"Tanggal 10 November, sebulan lagi, jangan bilang Mbak Hind tidak tahu umurnya lagi?"
"Tahun ini ia berumur 33 tahun lho, sebagai kekasihnya apakah kau tidak ingin memberikan surprise sesuatu begitu untuknya?"
"Ummm...," Hind terdiam sejenak sambil menyesap teh lemon panas buatan Nada. "Entahlah, tidak punya ide sama sekali..."
"Ya Allah...," Lagi-lagi Nada hanya menepuk dahinya melihat respon Hind.
Terdengar bunyi ringtone telepon masuk dari smartphone milik Hind. Gadis itupun menatap nama yang tertera dilayar smartphone nya itu. Ermi, sepupunya yang sudah dua tahun tinggal di Bombay, India karena menikahi salah satu warga negara tersebut. Ada apakah gerangan ia menelepon? Tumben sekali? Sepupunya itu tidak akan sampai meneleponnya jika tidak ada hal yang penting untuk dibahas.
"Sebentar ya Da, sepupuku menelepon," Hind beranjak dari duduknya dan berjalan menuju balkon. "Halo Ermi..."
"Halo Hind sepupuku yang paling cantik sendiri...," Jawab Ermi dari sambungan jauh dan hanya ditanggapi dengan Hind memutar kedua bola matanya malas jika sepupunya telah menekan tombol panas yang selama ini Hind hindari yaitu menyebut dirinya cantik. Bukan ia tidak mensyukuri anugerah itu namun justru ia merasa khawatir semakin kata tersebut muncul, semakin rasa sombong menghinggapinya sementara dirinya selalu dididik kedua orang tuanya yang memiliki darah Jawa untuk lembah manah atau rendah hati.
"Tumben menelepon? Apakah ada sesuatu yang penting?"
"Iya, begini Hind..."
Nada memperhatikan gerak-gerik Hind yang tampak sibuk mondar-mandir ke kamar dan ke ruang tamu tempat ia berada sekarang. Gadis itu membawa passport dan kartu kreditnya. Kemudian kembali sibuk membuka website sebuah Maskapai penerbangan milik sebuah negara asing. Ia pun masih sibuk dengan pembicaraan via smartphone dengan sepupunya sambil memasukkan data-data yang perlu diisi para kolom yang disediakan oleh Maskapai tersebut.
Nada pun tahu, Hind selalu menyempatkan dirinya setahun sekali untuk berpergian ke luar negeri hanya untuk menghilangkan penat rutinitas hidupnya sebagai dokter, single, dan anak tunggal pula. Seperti penghiburan diri dengan membuka wawasan yang lebih luar diluar sana. Bahkan pernah beberapa kali sahabatnya itu menjadi dokter relawan di beberapa daerah konflik sekitar Benua Asia termasuk daerah-daerah terpencil di Indonesia. Dan ia akui jiwa kemanusiaan Hind patut diacungi jempol. Mungkin karena ia ingin bisa bersama dan berbagi dengan banyak orang serta menutupi kesepiannya. Entahlah..., Namun kali ini nampaknya rencana yang disusun sungguh diluar logika.
"Okay, semuanya sudah selesai dan tinggal menunggu jawaban visaku, semoga tidak ada penolakan," Lanjut Hind sebelum kemudian mematikan komunikasinya dengan Ermi, sepupu dari pihak Mamanya. "Sip, aku akan mengabarimu jika visanya sudah keluar dan pas mau berangkat kesana."
"Kulihat dari tadi kau nampak sibuk Mbak, sampai bawa-bawa passport. Apakah kau hendak mengambil cuti dan berpergian ke luar negeri seperti biasanya?"
"Iya," Hind mengangguk sambil tersenyum dan membisikan sesuatu ketelinga Nada.
"Hahahaha," Nada tertawa garing mendengar ide yang barusan diutarakan Hind. "Kau benar-benar tidak terduga Mbak, selalu gerak cepat!" Dan memberikan applause kepada rencana Hind yang tak terduga.
"Hehehehe,semoga rencanaku ini diberikan kemudahan dan kelancaran,”
"Aamiin,aku turut mendoakan..."
***