
"Hari ini aku pergi ke Miracle Garden dengan sepupuku."
Mohammed tampak begitu gusar karena hingga waktu menjelang malam hanya pesan itu yang dikirimkan Hind olehnya sejak pagi tadi. Dan sampai dengan kini pun orang yang ditugaskannya untuk mengawasi Hind belum memberikan kabar apapun tentang gadis itu. Apa Salim kehilangan jejak Hind dan sepupunya? Atau jangan-jangan Hind merasa ada yang mengikutinya sehingga ia memilih menghindarinya? Semakin dirinya memikirkan berbagai kemungkinan, semakin ia tak menemukan jawaban dan hanya membuat pikirannya menjadi kusut dan smrawut. Ia sadar sepenuhnya hal ini salahnya karena belum punya waktu luang untuknya. Tapi tak bisakah Hind mengerti posisinya?
"Paman Juma, ulang tahunku besok bisakah aku punya waktu luang sendiri untuk menemui Hind?" Tanya Mohammed setelah seharian menghadiri acara Dubai Airshow, sebuah eksebisi berkaitan dunia penerbangan yang diadakan selama lima hari berturut-turut. "Ia sudah jauh-jauh datang dari Indonesia untuk menjadi kado ulang tahunku."
"Kau jangan gila M! Ulang tahunmu besok sudah diatur untuk dirayakan di Zabeel Palace bersama seluruh keluarga dan orang-orang penting di Dubai." Jawab Juma tegas. "Dan acara Airshow Dubai masih harus kau hadiri besok dan lusa. Belum lagi urusan acara puncak penutupan tantangan 30 menit berolahraga selama 30 hari berturut-turut yang harus kau lakukan sebagai perwakilan generasi muda untuk semakin mencintai olahraga. Selain itu..."
"Lantas aku bisa bertemu dengan kekasihku kapan Paman?!" Nada suara Mohammed sedikit meninggi dan ketika ia menyadarinya bahwa ia telah bersikap tidak sopan pada pamannya itu, ia segera berinisiatif untuk meminta maaf. "Maafkan aku Uncle Juma..., aku hanya merasa tak berdaya. Hind hanya punya waktu seminggu disini. Aku..., aku takut tak dapat bertemu dengan Hind karena kesibukanku. Betapa kecewanya gadisku jika itu terjadi..." Suara Mohammed terdengar lirih dan putus asa sambil menutup wajahnya dengan kesepuluh jari tangannya. "Tak adakah cara lain?"
"M, kau adalah putra dari Emir Dubai, tak sepantasnya kau bersikap kekanakan seperti ini. Jangan mempermalukan kedua orang tuamu yang telah membesarkanmu dengan penuh perjuangan dan pengorbanan." Juma berdiri dari duduknya. Ia tak terima jika karena keponakannya itu jatuh cinta menyebabkan dirinya lemah dan tidak fokus pada tanggung jawab yang telah diberikan oleh Ayahnya. "Dinginkan kepalamu dan jangan biarkan perasaan mempengaruhi otak cerdasmu itu!"
BLAM! Pintu ruang kerja Mohammed ditutup oleh Juma dengan sedikit menimbulkan suara keras.
TING! Terdengar bunyi Direct Message masuk dari Hind. Ia sengaja meminta pihak Hexagram untuk men-setting-nya khusus dapat mengetahui postingan atau pesan apapun yang dilakukan Hind, dirinya dapat mengetahui meskipun ia tidak men-follow balik akun Hind. Anggaplah dirinya stalker sejati. Namun bukan ia tak ingin melakukannya, ini demi keselamatan gadis itu karena banyak dari follower-nya yang terobsesi dengan dirinya. Ia khawatir para follower-nya akan membully dan menekan Hind serta menganggap bahwa gadis itu tak pantas untuknya sehingga menyebabkan hubungan mereka retak. Selain itu protokol dikeluarganya yang sangat ketat bahwa hanya orang-orang di ruang lingkup petinggi Dubai dan UEA serta publik figure-lah yang dapat dia ikuti pada akun Hexagramnya. Banyak orang memandang bahwa dirinya sempurna dan tidak kekurangan apapun karena seolah bebas menjelajahi isi dunia dan memiliki segalanya. Ia tak memungkiri hal itu. Namun mereka lupa bahwa ia juga manusia biasa yang memiliki keterbatasan kebebasan dan tak selamanya dapat tersenyum lepas dibalik perasaannya dimana hanya untuk bertemu muka dengan gadis yang dicintainya terasa sangatlah tidak mudah. Dan ujian itulah yang dialaminya saat ini.
"Dapatkah kita bertemu besok pada hari ulang tahunmu?"
Sebuah pesan dari Hind membuat Mohammed mengacak-acak rambut hitam pekatnya karena bingung tak tahu harus menjawab apa.
***
Hind berusaha mengalihkan perasaannya yang mulai sesak karena rindu akan sosok M hadir dihadapannya yang tak kunjung jua nyata terjelma dengan menyibukkan diri dan menyembunyikan ekspresi yang tergambar jelas dimatanya dengan kamera DLSR miliknya serta topi jerami lebar yang menutupi mahkota indahnya dari sinar terik matahari. Ada yang mengatakan bahwa menanggung rindu itu berat, dan kini Hind hal itulah yang dirasakannya.
"Hind, kita istirahat dulu ya disini, kakiku pegal...," Ermi duduk disebuah tempat duduk berbentuk ayunan yang disediakan disalah satu sudut taman. "Mengelilingi taman ini sungguh butuh energi ekstra."
"Baiklah...," Hind mengikuti saran dari Ermi. Ia menyandarkan punggungnya pada ayunan dan membiarkan gerakan berayun lamban menenangkan perasaannya yang terasa berat. Matanya perlahan terpejam seolah dirinya tak berada ditempat itu untuk menghilangkan letihnya yang perlahan terangkat dan mengembalikan energinya keposisi semula. Kau harus kuat Hind, ini masih hari kedua. Masih ada kesempatan besok di hari ulang tahun M untuk bisa bertemu dengannya. Setelah membulatkan tekad, ia segera membuka kedua mata dan melihat objek yang membuatnya ternganga tak percaya ketika dihadapkan langsung figur pesawat Emirates Airbus 380, salah satu armada pesawat terbesar di dunia. Pesawat itu hadir "terdampar" dengan ukuran sebenarnya dan berbalut bunga aneka warna ditengah-tengah taman. Akan sangat disayangkan jika perasaan sedihnya menggelayut manja dan membiarkan kesempatan untuk memperoleh bidikan sempurna objek indah dihadapannya melayang begitu saja.
CKLIK! CKLIK!
Hind begitu terlena dengan kamera miliknya yang begitu sibuk mengabadikan berbagai sudut pandang kerangka pesawat tersebut. Tanpa ia sadari Ermi tersenyum melihat Hind. Entah mengapa ia melihat perubahan yang cukup signifikan dari sepupunya itu. Sifatnya yang dingin dan antipati sejak putus dari Reza perlahan-lahan menghilang. Warna monochrome yang biasanya tampak dari auranya sedikit berubah dengan tambahan warna. Apakah mungkin sepupunya itu sedang jatuh cinta? Siapakah lelaki yang beruntung untuk mendapatkan cinta si gadis dingin nan acuh namun berhati emas bak malaikat tanpa sayap setelah lelaki bodoh bernama Reza melepaskan kesempatan baik itu? Ah, siapapun dia, semoga sepupunya yang sangat baik hati ini menemukan kebahagiaannya yang sempat tertunda. Ia ingin melihat senyum bahagia Hind tergores kembali dibibirnya.
"Aku lapar Hind, ayo kita cari makan malam...," Malam mulai menjelang, sudah waktunya Ermi dan Hind keluar dari Miracle garden setelah hampir seharian mereka menhabiskan waktu mengelilingi taman bunga yang luas itu. Ermi memeluk lengan kanan Hind erat. "Bagaimana kalau kita beli pizza rasa shawarma? Aku yakin kau pasti akan menyukainya!"
"Boleh, sepertinya aku harus mengisi perutku dengan karbo yang cukup banyak setelah kita menjelajah seluruh bagian taman bunga ini." Hind menanggapi Ermi dengan mengelus-elus perutnya yang mulai keroncongan.
Dari jarak lima meter, Salim terlihat kepayahan mengikuti gerak-gerik Hind dan Ermi. Yang ternyata diluar dugaan memilih berjalan kaki atau menaiki MRT serta transportasi umum diluar taksi untuk menjelajahi Dubai. Ia hampir saja kehilangan jejak mereka berdua ketika berada di Mall of The Emirates sebagai tempat transit menuju Miracle Garden akibat terlena dengan diskon sepatu yang sudah lama ia incar namun belum sempat membelinya karena harus mengawal tuan mudanya kemanapun dirinya pergi. Dan kali ini tugasnya cukup merepotkan, mengikuti seorang gadis bernama Hind yang tak diduga tidak memiliki hobi berbelanja seperti kebanyakan wisatawan yang datang ke Dubai dan hanya menikmati arsitektur bangunannya saja. Sebenarnya dalam hati ia bertanya-tanya siapakah gerangan gadis yang bernama Hind Karenina ini? Karena tak hanya dirinya yang ditugaskan untuk mengawasi gadis itu dari jauh namun juga Jafar dan Saeed yang harus repot-repot tinggal sementara di Jakarta, lagi-lagi dengan alasan yang sama seperti tugas yang diberikan kepadanya. Atau jangan-jangan gadis itu...
Belum sempat Salim menyimpulkan hipotesanya, panggilan telepon dari smartphone yang ia simpan di saku kanan celananya. Celaka! Rupanya Tuan Mudanya yang menelepon! Pasti karena dirinya lupa memberikan kabar tentang gadis itu! Ia menepuk dahinya menyadari kebodohan yang telah ia perbuat.
***