
"Badanku sakit semua...," Keluh Hind sambil berbaring ditempat tidurnya.
"Dasar payah, baru juga diajak jalan-jalan selama dua hari disini sudah pegal-pegal," Ermi mendengus sarkastik dan berkacak pinggang memprotes keluhan Hind yang menurutnya terlalu berlebihan itu. Padahal jalan kaki adalah hal yang biasa di Dubai mengingat fasilitas pejalan kaki yang diberikan pemerintah setempat sangat mendukung. "Jangan-jangan kau dokter gadungan ya, hingga tidak bisa menjaga diri sendiri dengan berolahraga secara teratur?"
"Sembarangan!" Jawab Hind berusaha untuk bangun namun masih cukup kesulitan karena bagian kakinya mengalami kram namun ditahannya dalam diam. "Dokter juga manusia tahu, bayangkan sendiri saja setelah sampai di Dubai tengah malam, besok paginya sudah kau culik untuk jalan-jalan sampai tengah malam dilanjutkan semalam juga sampai tengah malam. Hari ini off dulu ya dari penjelajahan kita, aku mau minum obat pereda nyeri dan beristirahat..."
"Ya sudahlah, kalau begitu aku hari ini saja ke Fujairahnya."
"Dalam rangka apa?"
"Ada dokumen-dokumenku dan Aamir yang harus diurus di sana," Ermi berjalan menuju dapur meninggalkan Hind yang masih berbaring ditempat tidur. Ia membuka kulkas dan mengambil pizza yang tidak habis mereka makan semalam dan memanaskannya kedalam oven untuk sarapan. Tak lupa dua buah cangkir berisi cappucino panas dibawanya ke ruang makan.
Sepeninggal Ermi, Hind berubah menjadi pendiam dan terus menatap layar smartphonenya nanar. Pertanyaan semalam yang ia butuhkan dari M tak kunjung mendapatkan kabar berbuah jawaban. Ia hanya butuh kata 'ya' dan 'tidak'. Apakah sesulit itu memberikan jawaban dari permintaannya kepada lelaki tersebut untuk bertemu pada saat hari ulang tahun lelaki tersebut? Bisakah? Ia tak butuh berjam-jam, ia hanya ingin melihat sosoknya secara nyata. Ingin menyentuhnya dan merasakan bahwa lelaki itu bukan maya semata. Lantas bagaimana dengan hari ini? Hari ini adalah hari ulang tahunnya? Bagaimana ia akan melewatinya? Apakah ia tetap mengucapkan selamat ulang tahun dan mendoakan seluruh kebaikan kepada lelaki itu atau tetap mendiamkannya? Pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba muncul dipikirannya semakin menambah beban yang menghimpit di dada semakin membuatnya sesak. Ia pun menjauhkan smartphonenya kemudian menarik bedcover menutupi seluruh tubuhnya. Lebih baik ia menenangkan dirinya dulu dengan kembali tidur sehingga ketika ia bangun kembali nanti pikirannya sudah lebih tenang dan tahu apa yang akan ia perbuat.
"Hind, ayo sarapan dulu! Baru lanjut tidur lagi," Ermi kembali menghampiri Hind untuk mengajaknya sarapan. "Nanti pizzanya keburu dingin."
"Kau dulu saja Ermi, nanti saja kalau badanku sudah enakan...," Suara Hind sedikit terdengar parau namun luput dari Ermi yang saat ini sedang menikmati sarapannya sambil menonton televisi. "Nanti sarapannya kupanasin lagi."
"Ya sudahlah," Lanjut Ermi yang begitu menikmati makan paginya.
***
"M, Baba memintamu khusus hari ini untuk menonaktifkan akun Hexagram-mu hingga hari ini berakhir," Rashid tiba-tiba memberikan instruksi langsung kearah Mohammed yang membuatnya sontak menjatuhkan cangkir mug yang berisi kopi favoritnya. "Dan biarkan tim mu yang memposting seluruh kegiatanmu kemudian diposting dalam akun khusus untuk fans keluarga kita. Baba tidak ingin euforia dari mereka yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu membuatmu menjadi tidak konsentrasi akan pekerjaanmu."
PRANG!
Terdengar bunyi suara pecahan kaca yang berhamburan di lantai marmer berwarna putih di ruang keluarga. Segera pelayan yang ada didekatnya membersihkan pecahan kaca tersebut.
"A...apa maksud Baba?" Suara Mohammed bergetar tak percaya pada ucapan pertama yang didapatnya dari Ayahnya itu. Bukannya ucapan selamat ulang tahun yang ia dapat, justru sebuah instruksi berkaitan pekerjaan yang harus dipatuhinya.
Maktoum yang duduk di sebelah Mohammed hanya bisa memandang prihatin akan kondisi adiknya itu sambil memakan sarapannya. Ia bertanya-tanya dalam hatinya, apakah adik bungsunya itu pernah berbuat sesuatu yang menyakiti perasaan orang lain sehingga hanya ingin bertemu kekasihnya saja yang sudah jauh-jauh datang dari negaranya begitu sulit. Ia sudah berkali-kali memastikan apakah gadis bernama Hind Karenina itu adalah gadis baik-baik dan dari keluarga baik-baik? Dan berkali-kali jawabannya bahwa gadis itu benar adanya merupakan gadis baik-baik yang datang dari keluarga baik-baik pula. Akan sangat menyedihkan jika adiknya yang tidak mudah jatuh cinta dan sekalinya jatuh cinta akhirnya tidak sesuai dengan rencananya. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan kejadian dulu dengan anak perempuan paman dari pihak neneknya? Masa iya?
"Apakah kau pikir Baba tidak memperhatikan gerak-gerikmu akhir-akhir ini?" Rashid menatap serius kearah Mohammed yang masih shock dengan ucapan Babanya. "Intensitas penggunaan media sosialmu terutama Hexagram diatas abnormal. Baba khawatir kau menjadi kecanduan dan mengganggu aktifitas sehari-harimu."
"..." Mohammed sejenak terdiam. Ia mengepalkan kedua tangannya untuk mengumpulkan segenap tenaganya agar mampu menjawab permintaan ayah yang sangat dihormati dan dicintainya itu. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak berlebihan menggunakan media sosial. Ia intens menggunakan media sosial hanya untuk dapat berkomunikasi dengan Hind, kekasihnya. Hanya itu... "Baiklah Baba..." Akhirnya kata-kata itu yang keluar dari Mohammed. Jika ia mengungkapkan isi hatinya sekarang, ia khawatir Babanya terkejut dan justru melarang hubungannya dengan Hind jika beliau tahu melalu media sosial lah mereka bertemu. Ia membutuhkan waktu yang tepat untuk menyampaikannya kepada orang tuanya, terutama Babanya yang tegas dan tidak mengenal kompromi apapun. Permasalahannya waktu yang tepat itu kapan? Dengan kondisinya saat ini ia tak yakin bahwa itu terjadi dalam waktu dekat.
"Dan untuk Maktoum, kau ikut denganku untuk menemaniku ke Abu Dhabi menjamu tamu penting dari India."
"Siap Baba," Jawab Maktoum tegas.
"Baiklah, selamat bertugas anak-anakku," Rashid bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tengah dimana kedua anaknya duduk sejajar. Ia menepuk bagian pundak kedua anaknya dan berbisik kepada keduanya, "Jangan kecewakan Baba.”
Pria separuh baya itu berjalan meninggalkan Maktoum dan Mohammed menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Sudah pasti ia ingin mendapatkan perlakuan manja dari sang istri yang selalu siap sedia menyiapkan kebutuhannya setiap hari.
"Tenangkan dirimu M," Maktoum yang mengerti posisi adiknya yang bimbang berusaha menenangkannya.
"Apakah aku tak boleh memiliki waktu pribadiku sendiri Kak Maktoum?" Mohammed menatap lemah kearah kakak lelakinya.
"M..."
"Mengapa rasanya aku hidup tidak untuk diriku sendiri tapi untuk orang lain Kak? Apakah kau pernah merasakan posisiku seperti saat ini?"
Maktoum menarik napas dalam-dalam dan menghelanya panjang untuk dapat menjawab pertanyaan Mohammed.
"M, selama ini aku tidak pernah melihatmu mengeluh dengan tugasmu sebagai Deputy Ruler disini. Jika hanya karena kau jatuh cinta sehingga membuatmu menjadi tidak ikhlas dan sering mengeluh tentang tanggung jawabmu, lebih baik kau tidak jatuh cinta."
Kata-kata yang diucapkan Maktoum cukup menohok hati Mohammed sehingga membuatnya kembali terdiam.
"Namun karena kau sudah jatuh cinta, kau harus bisa mengimbangi dalam menjalankan keduanya," Maktoum tersenyum untuk membesarkan hati adiknya. "Aku yakin kau bisa menjalani keduanya dengan baik. Jadi bersemangatlah!"
"Kak Maktoum, kau memang kakak lelakiku yang terbaik!" Mohammed memeluk Maktoum erat. Ia dapat merasakan energi positif yang disalurkan oleh sang kakak agar ia bisa melewati hari ini dengan baik.
***
Bunyi ringtone yang menggema di dekat telinga Hind tak ayal membuatnya yang masih terselimuti bedcover terbangun dan meraba-raba smartphone miliknya yang diletakkan dimeja lampu tidur sebelah kirinya. Ketika ia menatap layar smartphone-nya tertera nama Ibunya, membuatnya segera bangun dari tidurnya dan mengindahkan rasa nyeri ditubuhnya akibat kelelahan.
"Halo Ma, Assalamu'alaikum..." Ujarnya memulai pembicaraan.
"Wa'alaikumsalam..., akhirnya kamu mengangkat telepon setelah berkali-kali Mama telepon," Terdengar suara Kia, sang Ibu yang begitu lega. "Piye kabare Nduk? Sehat tho? Soalnya terakhir kamu mengabari Papa dan Mama pada saat sudah sampai disana."
"Alhamdulillah sehat Ma," Mau tak mau Hind bangkit dari berbaringnya ditempat tidur dan berjalan menuju ruang keluarga kemudian duduk disalah satu sofa. "Ada apa Ma, kok sepertinya ada yang mengganjal dihati Mama?"
"Semalam Mama mimpi kurang mengenakan Nduk, makanya Mama segera menghubungimu untuk menanyakan kabarmu Nduk, syukurlah jika kau baik-baik saja...," Ketika sang Ibu menjelaskan alasannya tiba-tiba jantung Hind berdetak keras sekali. Perasaan tidak enak menggerayanginya. Ia pun segera menepuk-nepuk bagian jantungnya untuk meredakan rasa sakit yang dirasakannya.
"Ma..., Mama mimpi apa semalam?" Bibir Hind bergetar ketika menanyakannya. Sakit yang dirasa didadanya tak kunjung mereda. Matanya memanas dan berkaca-kaca hendak mengeluarkan airmata namun berusaha ditahannya.
"Nanti saja ceritanya jika kamu sudah kembali dari Dubai," Lanjut Kia. "Ngomong-ngomong, bagaimana? Apakah kamu sudah bertemu M?" Satu pertanyaan dari Kia membobol pertahanan matanya. Tak ayal airmatanya mengalir dipipinya. Mengingat lelaki itu membuat emosinya melemah. Lelaki itu telah berhasil membuat dirinya membuka hatinya terlalu lebar sehingga membuatnya jadi seperti sekarang ini. Tak berdaya dan hanya bisa menangis untuk mengungkapkan perasaan rindunya.
"Dia...," Hind menelan air liurnya untuk menahan agar ia tak tersedak dan menimbulkan suara yang bisa didengar oleh Ibunya bahwa ia sedang menangis. "Dia masih sibuk Ma, sehingga kami masih belum dapat bertemu..."
"Oh, begitu..."
"Ma, sudah dulu ya teleponnya, aku mau sarapan yang sudah kesiangan dan lanjut untuk mandi, nanti kutelepon lagi, Assalamu'alaikum," Hind lekas mematikan teleponnya. Tangis yang berusaha ia tahan dalam diam sejak tadi meledak. Ia menangis sejadi-jadinya. Mengapa dihari penting M ia masih saja tidak dapat bertemu dengannya?!
***