My Love Is Just For You

My Love Is Just For You
Pertemuan Tak Terduga



Sejauh apapun kau pergi dan berusaha lari dariku, jika berjodoh kita pasti akan dipertemukan kembali. Dan aku bersyukur akan hal tersebut serta tak akan pernah membiarkanmu pergi lagi dari hadapanku...


Hind masih tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Sosok yang selama ini ia harapkan bertemu langsung namun tak kunjung jua bertemu dengan berbagai halangan dan rintangan tiba-tiba muncul dihadapannya. Justru ketika ia tidak mengharapkannya, lelaki itu malah muncul dihadapannya secara nyata. Ia yang masih shock mendadak panik dan mulai membereskan barang-barangnya kemudian bergegas pergi dari tempat itu.


"Kau mau kemana?" Tanya Mohammed setengah berteriak mengejar Hind yang rupanya memiliki pola berjalan kaki dengan cepat.


"Kenapa kau bisa ada disini?!" Hind tampak mulai kembali frustasi. Hari-harinya yang sudah mulai tenang tiba-tiba mendadak terserang badai yang bernama M. "Aku sudah jauh-jauh datang kesini untuk melupakanmu yang telah memberikan jawaban yang sangat melukai hatiku karena meminta ketegasanku terhadap hubungan kita yang sudah lebih dari setahun dan memulai hidupku yang baru kenapa malah bertemu denganmu disini?! Ya Allah, dari sekian tempat dimuka bumi ini mengapa bisa bertemu denganmu sih?!"


"Jangan!" Teriak Mohammed menghentikan langkah Hind dengan memegang pergelangan tangan Hind. Begitu tersadar ia segera melepaskannya karena mereka bukan muhrim. "Maafkan aku telah menyentuhmu,” Ucap lelaki itu lirih. "Dan maafkan kata-kata terakhirku yang sangat menyakitmu, kumohon jangan katakan kau ingin meninggalkanku lagi.”


Langkah Hind terhenti namun tubuhnya masih membelakangi Mohammed. Ia tak sanggup membalikkan tubuhnya karena khawatir hatinya akan goyah dan akhirnya memberi jalan Mohammed untuk menggantungnya seperti dulu. Rasanya sungguh menyiksa dan membuatnya frustasi! Solusi terbaik saat ini adalah ia lebih baik sendiri seperti dulu dan larut dalam dunianya yang hanya ada putih, hitam dan abu-abu!


"Sepertinya kita harus pergi dari sini sekarang, aku bawa mobil kesini. Pembicaraan kita akan dilanjutkan nanti setelah sampai di camp."


Mohammed yang merasa kondisi di sekeliling mereka mulai tidak aman karena teriakannya tadi mengajak Hind pergi dari tempat itu. Ia khawatir binatang-binatang buas mulai mengendus keberadaan mereka. Hind yang juga merasakan hal yang sama akhirnya menuruti permintaan Mohammed. Mereka mengendap-endap menuju mobil, ketika telah yakin aman, mereka segera menaiki mobil dan berlalu meninggalkan tempat itu. Tak lama auman singa terdengar nyaring membuat mereka sontak terkejut dan saling bertatapan kemudian mereka tertawa bersama seolah tak ada masalah diantara mereka sebelumnya.


"Yah, lukisanku rusak,” Hind memanyunkan bibirnya sambil memperhatikan beberapa bagian lukisannya yang catnya sedikit berantakan di kanvas.


"Tak perlu khawatir, kau pasti bisa memperbaikinya," Mohammed tersenyum kearah Hind sambil terus menyetir. Senyuman yang membuat sang gadis gugup tersipu. Ia pun memutuskan untuk menoleh kearah jendela dan membiarkan hembusan ac mobil mengibaskan rambutnya. Jika diingat-ingat, ini pertemuan pertama mereka setelah hampir dua tahun hanya bisa berkomunikasi melalui dunia maya.


***


Mobil yang dikendarai Mohammed berhasil diparkir sempurna dekat camp baru yang telah selesai didirikan. Bentuknya berupa tenda-tenda besar mengelilingi yang terdiri dari berbagai perlengkapan seolah seisi rumah dipindahkan ke tenda. Ditengah-tengah tenda yang terpasang, tergelar perapian dan karpet khas Arab untuk duduk-duduk santai. Seorang lelaki khas Arab yang tampak lebih tua dari Mohammed menghampiri dirinya dan Mohammed.


"Mohammed!" Teriak Juma sambil menghampiri Mohammed dan Hind. Jika nama lengkapnya yang dipanggil oleh Juma terdengar ditelinga Mohammed, itu tandanya pria tersebut sudah kesal setengah mati. "Kau dari mana saja? Melarikan diri disaat kami semua sibuk dengan para sukarelawan, ditambah kau bawa perempuan lagi. Kau mau cari masalah dengan nama baikmu?!"


Mohammed hanya merespon kepanikan Juma dengan memutar bola matanya malas. Ayolah Paman, tidak perlu berlebihan seperti itu! Keluhnya dalam hati.


"Permisi, saya izin ke camp saya," Hind memilih untuk menghindari pembicaraan lanjutan antara Mohammed dan Juma. Ia pun disambut oleh Tonya.


"Kau tak apa-apa Hind?" Tanya Tonya khawatir. "Bagaimana kau bisa bersama putra bungsu Sheikh Rashid?"


"Aku tak apa-apa Tonya," Hind tersenyum meyakinkan. "Nanti aku ceritakan, aku ingin bersih-bersih dulu."


"Baiklah, setelah itu kau ikut bergabung ya dengan kami dan tim Sheikh Rashid, aku ingin mengenalkanmu kepada beliau."


"Baiklah," Hind masuk ke dalam camp miliknya. Tubuhnya mendadak lemas dan terjatuh kebawah. Tatapannya mendadak kosong. Bagaimana ini? Bagaimana bisa ia bekerja di bawah keluarga M? Padahal ia mendaftar melalui jalur Unicef. Padahal menjadi dokter relawan adalah satu-satunya cara untuk menghindari M. Mengapa ia justru dipertemukan dengan orangtuanya M? Ayahnya lagi, sang Raja Dubai. Mimpi saja rasanya ia tak berani.


"Ya Allah, apa sebenarnya rencana-Mu padaku?" Hind menelengkup kepalanya diantara kedua kakinya yang dipeluknya. Ia menangis dalam diam tak tahu harus berbuat apa. Ia sungguh lelah menangis, namun air matanya seolah enggan berkompromi karena terikat kuat oleh rasa.


***


"Itukah gadis yang selama ini membuat mood-mu bak roller coaster adikku?" Maktoum merangkul pundak adiknya membuat Mohammed sedikit terkejut. "Rupanya aslinya jauh lebih cantik dari foto dan video yang dia kirimkan lewat media sosial miliknya. Pantas saja adik bungsuku ini jatuh cinta setengah mati padanya."


"Kak...," Mohammed mendengus sedih karena sebentar lagi Hind akan menghadapi sidang dari ayahnya setelah sebelumnya ia diberondong berbagai pertanyaan dari Sang Ayah mengenai gadis pujaannya itu.


"Hei M, kadang aku berpikir, betapa beruntungnya Ayah dan Ibu dalam hidupnya, selain memiliki anak-anak seperti kita, beliau berdua memiliki menantu dan calon menantu yang baik. Aku jadi merenung, apa yang telah beliau berdua perbuat dimasa lalu hingga mendapatkan anugerah sebesar ini."


"Jangan membuatku semakin tegang kak, kau kan tahu Ayah itu walaupun terkesan santai, beliau itu orang yang sangat tegas jika menyangkut keluarga dan rakyatnya. Aku khawatir Hind akan..."


"M, kau sadar kan ada darah negara gadis itu mengalir juga pada kita? Kurasa Ayah hanya ingin mengetesnya apakah ia cocok menjadi pendampingmu atau tidak sehingga membuat dirimu nyaris putus asa dan nyaris ditinggalkan oleh gadis pujaanmu itu. Tapi kau kan tahu kita punya Yang Maha Kuasa yang mengatur takdir kita." Maktoum berusaha membesarkan hati adiknya. "Kau tahu juga kan kisah cinta kedua orang tua kita itu adalah kisah cinta yang paling menggemparkan seluruh dunia, Ibu kita yang begitu sederhana dan dari kalangan biasa bisa membuat ayah kita yang seorang putra mahkota Dubai dengan title single nomor satu di dunia yang diincar untuk menjadi suami jatuh cinta begitu dramatisnya dengan Ibu kita hingga akhirnya mereka menikah dan sampai dengan sekarang masih penuh cinta. Bahkan ketika kau membatalkan pertunanganmu dengan Latifa pun beliau berdua tidak memarahimu. Karena beliau berdua ingin yang terbaik untuk anak-anaknya termasuk memilih pasangan terbaik mereka melalui cinta. Aku dan Kireina bersyukur tidak terlalu memusingkan pasangan karena kami menikah dengan sesama Emirati sedangkan kau memiliki pilihan yang berbeda seperti Ayah..."


***


Hind menghela napas panjang setelah keluar dari camp milik Sheikh Rashid. Ia memilih menenangkan diri ditempat biasanya hingga tidak sadar melewati Mohammed yang hendak menyapanya dan menanyakan kondisinya setelah dua jam dirinya merasakan ketegangan seolah sedang menghadapi sidang thesis. Dipandanginya langit malam itu, sejenak ia menutup mata dan memutar memori pembicaraannya dengan Ayah M.


"Saya tak menyangka bahwa dokter relawan yang bekerja menggantikan dokter sebelumnya adalah kekasih anak bungsu saya sendiri yang mati-matian disembunyikannya karena takut menjadi bahan bully-an para followers-nya yang terkena militan itu," Rashid tersenyum melihat ekpresi Hind yang tegang dan kaku tertunduk duduk berhadap-hadapan dengan dirinya dan hanya terpisah oleh meja kayu dihadapannya. "Apa kabarmu Nak setelah hampir sebulan tidak ada berita?"


Pertanyaan Rashid dengan nada lembut membuat Hind yang semula tertunduk kembali mengangkatkan kepalanya. Ia tak menyangka bahwa pria paruh baya dengan aura yang kuat sebagai seorang pemimpin mengetahui hubungan percintaannya dengan M. Ia berpikir bahwa selama ini M menyembunyikan dirinya dari keluarganya terutama orang tuanya karena dirinya bukanlah gadis emirati yang menurut komentar-komentar dari para follower M bahwa yang bisa menikah dengan M adalah harus seorang gadis emirati dan masih dalam lingkungan nama keluarga yang sama. Hal yang berusaha ia tepiskan namun tak juga mereda.


"Kabar saya baik Sheikh...," Ujar Hind malu-malu.


"Nampaknya aku harus minta maaf kepadamu karena telah memberikan ujian yang cukup berat untuk hubungan kalian berdua sehingga membuat M terpaksa mengeluarkan kata-kata yang menohok kepadamu dan membuatmu memutuskan untuk benar-benar pergi meninggalkannya," Rashid menatap Hind pekat dengan senyum tetap terukir dibibirnya. "Apakah kau tahu Nak mengapa saya memberikan ujian seperti itu kepada kalian berdua?"


Hind hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Karena saya ingin kalian kuat menghadapi dunia yang tidak akan mungkin semua orang akan suka pada hubungan kalian. Seperti saya dan istri saya yang berkebangsaan sama denganmu, kami pun mengalami hal yang hampir sama dengan kau dan M bahkan mungkin lebih berat karena istri saya adalah wanita pertama diluar emirati yang menjadi ratu Dubai."


Hind terkejut. Ternyata benar rumor yang mengatakan bahwa istri dari Raja Dubai sekarang adalah orang Indonesia sepertinya. Pantas saja nama anak perempuan mereka terdengar familiar...


"Saya dan istri saya sepakat untuk mendidik anak-anak kami untuk bisa kuat dalam menghadapi dunia yang kejam ini sekalipun M adalah putra bungsu kami, bukan berarti kami membuatnya manja dan tidak dapat berdiri dikakinya sendiri salah satunya," Rashid melanjutkan ucapannya. "Ketika saya mendengar bahwa kau meninggalkan M, batin saya berkata, jika memang kau adalah jodoh M, kalian pasti akan bertemu lagi dan tak kusangka bahwa kalian benar-benar dipertemukan di Tanzania ini. Padahal Maktoum hanya memberikan saya ide untuk pergi kesini. Pantas saja anak pertamaku itu bersikeras meminta saya kemari dan mengajak M. Rupanya begitu,” Rashid tertawa geli sambil memegang jenggotnya yang sedikit memutih. "Saya merestuimu Nak, sekarang saya serahkan semuanya kepadamu dan M bagaimana keputusan finalnya.”


Hind mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir tak mau berhenti karena bingung harus bagaimana. Disisi lain orang tua dari lelaki yang dicintainya memberi restu, disisi lain ia masih merasa kecewa dengan jawaban terakhir Mohammed pada saat ia meminta kepastian. Ia merasa tidak salah meminta hal tersebut pada Mohammed karena hubungan mereka sudah berjalan dua tahun. Ia masih punya harga diri untuk tidak mau dipermainkan tanpa kejelasan. Tak menyangka jawaban kekasihnya itu membuatnya diam seribu bahasa dan mengambil pilihan untuk pergi. Mohammed yang menyadari bahwa dilema yang saat ini dihadapi sang gadis membuka suaranya.


"Aku harus bagaimana untuk mendapatkan maaf darimu?" Tanya Mohammed dengan nada lirih dan hanya dijawab gelengan kepala Hind. "Aku tahu selama ini egois memintamu untuk mengerti aku tapi kumohon jangan tinggalkan aku karena aku membutuhkanmu Hind.”


Tangis Hind semakin pecah. Ia tak dapat menjawab pertanyaan dari Mohammed dan hanya gelengan kepala yang dapat tersampaikan olehnya.


***