
"Setiap kali diri yang hina dan penuh dosa ini mempunyai keinginan, ia selalu menengadahkan kedua tangannya dan tak henti-hentinya memohon kepada Sang Maha Pengabul Doa
Namun diri ini lupa...
Bahwa keinginannya bisa jadi hanya yang terbaik disisinya, bukan disisi-Nya
Sehingga terselip rasa sakit tak terkira dan langkah penuh luka dan air mata ketika asa itu tak juga dikabulkan oleh-Nya karena lupa bahwa ada kontrak tak kasat mata yang telah tertuang di Kitab Lauhul Mahfuz dan ditandatanganinya dengan Tuhannya
Akan tetapi diri ini tak pernah berputus asa dalam doanya dan hanya membuat Sang Maha Kuasa tertawa karena cintanya kepada diri yang selalu mendzolimi dan tetap gigih meminta
Hingga suatu titik diri ini tersadar ada yang kurang tepat dari pengajuan doa tersebut
Ya, Sang Pemilik segalanya ingin diri ini merubah cara meminta keinginannya dengan berserah diri...
"Ya Robb, mohon perbaiki dan mudahkanlah hamba-Mu ini menjalankan takdir yang telah Engkau tentukan di Kitab Lauhul Mahfuz-Mu baik dalam urusan Dunia dan Akhiratku..."
Dan seketika Yang Maha Kuasa memberikan segalanya melebihi dari apa yang diinginkannya dan di luar logika manusia"
Mohammed memandang Hind yang sibuk dengan aktifitasnya sebagai dokter relawan. Betapa gadis itu memiliki hati yang baik dan tulus tanpa mengeluh dengan banyaknya antrian penduduk lokal yang ingin berobat kepadanya. Keterbatasan bahasa yang dimiliki Hind tak membuatnya patah semangat. Ia merutuk dalam hati, mengapa ia dulu sangat emosional sehingga mengeluarkan kata-kata yang menyakitinya? Menyesalpun tak ada gunanya. Sampai detik ini Hind tak memberikan jawaban.
"Hind, apakah kau tidak memperhatikan bahwa putra bungsu Sheikh Rashid sejak dua hari yang lalu terus memperhatikanmu dari kejauhan?" Tanya Tonya disela-sela Hind memeriksa penduduk setempat. "Apakah kau mengenal beliau sebelumnya?"
Hind hanya menjawab dengan senyuman yang sedikit dipaksakan sambil melanjutkan pekerjaan. Mungkin ini bentuk pelariannya dari M. Ia berpura-pura seolah-olah mengabaikan M. Padahal dalam hatinya sangat sakit dan merana. Mengapa cinta sebegitu rumitnya? Apakah dulu dengan Reza ia mengalami dramatisasi seperti ini? Sepertinya tidak. Mengapa saat ini ia merasa terlalu berlebihan mencintai seseorang sehingga merasakan sesakit ini? Bukan permintaan untuk tidak meninggalkan M yang ia minta. Ia ingin kejelasan status apakah M akan menikahinya atau tidak mengingat usia mereka yang sudah matang untuk berumah tangga dan dirinya bukanlah seseorang yang suka bermain-main jika berhubungan dengan lawan jenis.
"Kau masih belum bisa meyakinkan gadis itu M?" Pertanyaan Maktoum menyadarkan Mohammed dari keterpakuannya terhadap sosok Hind. Ia hanya menjawab dengan anggukan lemah.
"Kurasa ada yang salah dari ucapanmu untuk merebut hatinya kembali," Lanjut Maktoum menghela napas panjang.
"Maksudnya?" Mohammed tampak bingung dengan ucapan kakak lelakinya itu.
"Aku sudah mengutarakan niatku Kak," Jawab Mohammed. "Tapi ia tetap tidak memberikan jawaban seolah-olah menolakku.”
"Coba aku ingin dengar bagaimana caramu untuk melamarnya?"
Mohammed pun menjelaskan kata demi kata kepada Maktoum dan respon yang diberikan kakak lelakinya itu hanyalah berupa helaan napas panjang.
"Aku kalau jadi Hind sudah pasti akan menolakmu M," Maktoum tersenyum sedih dan prihatin. "Itu bukan bentuk ungkapan lamaran. Kau seharusnya langsung to the point bilang kepadanya bahwa kau ingin menikahinya dan menjadikan dirinya menjadi istri dan Ibu bagi anak-anakmu kelak M. Itu gentleman sejati! Bukan menggunakan kata-kata puitis yang susah dicerna orang awam sepertinya.”
Mohammed sontak tersadar akan kesalahannya. Jadi diamnya Hind bukan karena menolaknya melainkan gadis itu tidak paham akan niatnya untuk menjadikannya belahan jiwanya selamanya?! Dirinya merutuki kebodohan tak terkira yang telah dilakukannya. Bagaimana bisa ia melakukan kesalahan fatal seperti itu?!
"Utarakan niatmu segera M, sebelum semuanya terlambat,” Maktoum menepuk-nepuk bahu bidang Mohammed. "Besok hari terakhir kita disini. Jangan sampai kau sia-siakan kesempatan yang sudah susah payah kuberikan padamu."
Mohammed segera menangkap maksud dibalik ucapan Maktoum. Sebenarnya sejak awal kakaknya itu sudah mengetahui bahwa dokter relawan yang akan bekerja dibawah badan amal keluarganya itu adalah Hind. Pantas saja ia begitu getol untuk meyakinkan dirinya ikut pergi menemani Ayah dan sang kakak ke Tanzania. Padahal biasanya hanya mereka berdua yang pergi. Tanpa berpikir panjang Mohammed segera berlari meninggalkan Maktoum untuk menghampiri Hind. Dengan tekad yang bulat ia memantapkan diri untuk melamar gadis pujaannya itu dengan harapan bahwa itu adalah satu-satunya cara agar dirinya dimaafkan dan diberi kesempatan satu kali lagi.
***
NGIIINGGGGG...
Suara mesin pesawat Airbus terdengar nyaring. Mohammed memandang jauh kearah camp. Hari ini ia akan meninggalkan Tanzania untuk bertolak kembali ke Dubai. Pikirannya bercampur aduk tak menentu memikirkan Hind. Semalam ia mengutarakan kembali niatnya untuk melamar gadis itu dan kali ini dengan cara yang benar dan lugas. Bahkan ia memberikan gelang tali kesayangannya yang selalu ia kenakan dipergelangan tangan kirinya sebagai pengganti cincin yang belum ia persiapkan. Ia mengatakan jika Hind menerima lamarannya maka gadis itu harus datang kebandara ini untuk mengembalikan gelang tali tersebut. Namun jika Hind menolaknya, maka gadis itu tidak perlu datang dan membuang gelang tali itu. Dan nampaknya jawabannya sudah ada.
"Sudahlah,” Maktoum lagi-lagi menyemangati. "Yang penting kau sudah berusaha yang terbaik..., anggap saja ini teguran Yang Maha Kuasa agar kau tidak melepaskan kesempatan baik yang ada.”
"Aku mengerti Kak...," Mohammed berusaha lapang dada walaupun pahit dirasa. Tak ia sangka percintaannya berakhir tidak dengan bahagia. Mungkin ini bentuk karma yang harus ia terima akibat keegoisan yang selama ini ia lakukan. Ia memutuskan masuk ke dalam pesawat dan duduk ditempat yang biasa ia tempati di dalam pesawat. Tak lama pintu pesawat ditutup untuk kemudian lepas landas pergi meninggalkan Tanzania.
***