My Love Is Just For You

My Love Is Just For You
Keputusan Bulat Untuk Meninggalkan



"Ketika hati ini dikecewakan, janganlah bermuram durja


Ketika hati ini dipermainkan, janganlah mendendam dan mendoakan keburukan padanya


Ketika hati ini dikhianati, janganlah balas menyakiti apalagi membenci


Sehingga Tak perlu ada drama


Tetaplah melangkah dan menatap ke depan


serta hapuslah air matamu


Tetesan itu terlalu berharga untuknya yang tak pantas menerima cinta dan ketulusan darimu


Tetaplah tersenyum dan berdiri tegak


Berjalanlah lurus menatap masa depanmu yang dijamin indah oleh-Nya


Dan tak usah menengok kebelakang serta yang dulu biarlah berlalu


Dengan satu syarat, dirimu berbahagia...


Pertanyaannya adalah, apakah kau siap untuk itu?"


Hind menginjakkan kakinya untuk pertama kalinya setelah pesawat khusus bantuan untuk daerah Tanzania dari Unicef berhasil mendarat mulus di jalur bandara untuk pengiriman bantuan. Awalnya ia ragu menerima tawaran dari Unicef untuk menjadi dokter sukarelawan di benua Afrika, sebuah benua yang jika memiliki orang tua seperti dirinya akan langsung mem-blacklist tempat tersebut mengingat ia adalah seorang perempuan dan anak tunggal yang akan dihadapkan dengan suku-suku pedalaman antah-berantah yang kekurangan tenaga medis. Namun bukan itu alasan mengapa dirinya akhirnya mengambil keputusan ini. Mohammed bin Rashid, lelaki itulah yang membuatnya mengambil tindakan nekad ini.


Ia pikir pekerjaan ini tidak akan pernah dilakukannya sejak ia menjadi sukarelawan di daerah konflik pelosok perantara Bangladesh dan Myanmar, camp tempat suku Rohingya tinggal. Dan itu ia lakukan demi menghilangkan rasa patah hatinya pada Reza. Saat itu Ibunya menangis sejadi-jadinya berusaha menahan dirinya untuk tidak mengambil bagian dari relawan didaerah konflik tersebut. Tak kalah sedihnya, Hind pun memohon hingga bersujud dikedua kaki Ayah dan Ibunya agar ia diizinkan menjadi dokter relawan disana karena hanya dengan cara itulah ia bisa melupakan kesedihannya tidak jadi menikah dan tentu saja menyembuhkan patah hatinya.


Dan saat ini ia melakukannya lagi demi untuk menghilangkan rasa kecewa dan patah hatinya untuk kedua kalinya dengan orang yang berbeda. Namun kali ini kedua orang tuanya seolah memahami gejolak dihatinya sehingga memberikan restunya tanpa berkata apa-apa. Yang terkena dampak lebih hebat adalah Nada, sahabatnya. Ia yang merasa sangat bersalah kepada Hind karena ialah pencetus ide gila Hind untuk jatuh cinta pada M tak henti-hentinya menangis dan meminta maaf kepada Hind. Ia tak menyangka bahwa M yang selama ini terkenal sebagai public figure berkepribadian sangat sederhana dan bersahaja ternyata menyimpan keegoisan terhadap hubungannya dengan Hind, sahabat yang sangat disayanginya. Bahkan hingga detik keberangkatan Hind ke Tanzania, Nada tak juga berhenti menangis karena masih dirundung rasa bersalah sehingga harus ditenangkan oleh Hind yang mengatakan padanya untuk mendoakan kebaikan dirinya selama berada di Tanzania dalam menjalankan tugas sebagai dokter relawan disana.


Satu tahun lebih..., sebuah hubungan yang baginya terlalu panjang dan sangat menyiksa. Seumur hidupnya, ia tak pernah menjalani hubungan dengan lawan jenis selama ini. biasanya dalam kurun waktu tiga bulan ia akan mendapatkan keputusan apakah hubungan tersebut dapat berlanjut atau tidak. Dan pada akhirnya hubungan hitungan tahun yang ia jalani kandas juga. Ia termenung dan bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia memang ditakdirkan untuk selalu dikecewakan lelaki yang dicintainya? Apakah ia memang tidak ada harganya dimata mereka? Apakah ia tidak pantas dicintai dan diperjuangkan? Apakah ia tidak pantas bahagia sehingga harus dipatahkan untuk kedua kalinya? Mungkinkah karena dosa-dosanya begitu banyak sehingga Yang Maha Kuasa menegurnya seperti ini? Sepasang mata cantik milik Hind mulai tergenang airmata seakan ingin melepaskan diri namun berusaha sekuat tenaga ia tahan untuk tidak jatuh. Cukuplah ia yang menangis dalam diam sambil bersujud diatas sajadah memohon ampunan dari Pemilik Alam Semesta beserta isinya.


"Miss Hind, are you okay?" Tepukan tangan Tonya dipundak Hind menyadarkan dari dunianya.


"Yeah, I'm okay," Hind sekuat tenaga mengembangkan senyumnya kearah Tonya. Wanita berusia kepala empat itu adalah istri dari kepala suku dan penduduk asli sekaligus penanggung jawab dari program Unicef yang ada di Tanzania. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu sehingga memilih Tanzania. Padahal ada daerah lain yang lebih dekat dari tempat tinggalnya dan cukup aman. Mungkin ia butuh pergi ketempat yang jauh dari pandangan semua orang terutama dari lelaki itu. Jangan dipikir ia tak tahu ada orang-orang yang diutus M untuk mengawasi setiap gerak-geriknya. Ia menyadari itu sejak dirinya liburan ke Dubai. Oleh sebab itulah dirinya diam-diam mengikuti program dari Unicef ke Tanzania agar M tidak mengetahui jejaknya. Toh hubungan mereka dia sendiri yang mengakhiri, untuk apa lagi mereka harus tahu seluruh aktifitasnya.


"O iya, sebenarnya di Tanzania ini organisasi Unicef bekerja sama dengan salah satu badan amal milik satu keluarga berada namun tak ingin disebutkan namanya untuk mengelola tempat ini. Dalam waktu-waktu tertentu mereka berkunjung kemari. Berkat mereka kami disini tidak mengalami kekurangan apapun. Hanya kekurangan tenaga relawan dokter medis yang mau bekerja disini. Kau tahulah, ini Afrika, benua yang jika kau orang dari luar akan berpikir seribu kali untuk berkunjung kemari. Kudengar kau hobi melukis dan Photography tentang alam, jadi aku yakin kau pasti akan betah tinggal disini karena tempatnya sangat indah dengan hamparan lukisan alam padang rumput dan binatang liar. Ngomong-ngomong aku senang ada dokter yang jauh-jauh dari Indonesia mau menjadi relawan disini. Apakah keluargamu tidak khawatir?"


"Tidak," Hind menggeleng lemah namun tetap berusaha tersenyum dan berjalan sejajar dengan Tonya. "Aku malah senang melakukan hal-hal yang bisa membuatku dan ilmuku berguna untuk orang banyak. Seperti yang kau katakan tadi, semoga aku bisa betah tinggal disini..."


***


"Maafkan saya Sheikh, saya sudah berusaha mencari tahu melalui sahabat Nona Hind yang perawat itu, jawabannya hanya mengatakan Nona Hind sedang mengambil cuti panjang. Saya cek ke rumah orang tuanya di Bogor pun tidak ada tanda-tanda keberadaan Nona Hind. Saya berjanji untuk mempertanggungjawabkan kesalahan fatal ini." Ujar agen rahasia tersebut.


"Kutunggu kabar baiknya darimu!" Mohammed menghempaskan kepala dan punggungnya ke punggung kursi kebesarannya. Ia menyisir rambut hitam kecoklatannya kebelakang dengan kelima jari tangannya tanda frustrasi.


Hind..., apa kau sengaja menyiksaku saat ini?! Keluh Mohammed. Tak bisakah kau bersabar sebentar lagi hingga aku siap dengan semuanya? Mengapa kau sekarang semakin mempersulitnya?


Sementara itu, Juma yang sudah tidak tahan melihat Mohammed sampai tidak dapat mengendalikan emosinya akhirnya memutuskan untuk turun tangan membantu menyelesaikan masalah keponakannya itu. Meskipun ia mengatakan bahwa ia tak ingin membantunya sama sekali sebelumnya, namun sahabat mana yang tega membiarkan sahabatnya terpuruk dalam lubang nestapa? Ia pun tanpa pikir panjang bergegas menemui Rashid, kakaknya di Zabeel Palace.


***


Rashid dan Ayudisa saling berpandangan ketika mereka mendengarkan apa yang diutarakan Juma.


"Berarti dia belum siap berumah tangga jika masih belum bisa mengandalikan emosinya," Jawab Rashid ringan.


"Kak...," Juma lemas mendengar respon kakaknya itu. "Kak Rashid kan sudah tahu mengenai gadis yang dicintai oleh M dan latar belakangnya cukup bagus dan cukup pantas disandingkan dengan M." Ia tak menyangka respon dari kakaknya akan seperti itu. Ia pikir Rashid akan membantunya mencarikan solusi dari anak bungsunya tersebut namun ternyata tidak.


"Kau tahu sendiri kan bagaimana aku dan Ayudisa dulu berjuang mendapat restu seluruh wilayah UEA? Bagaimana Ashiya merasakan tekanan yang begitu luar biasa sebagai istri putra mahkota Dubai yang notabennya bukan seorang Emirati?" Rashid melipat kedua tangannya. "Dan kurasa posisi M tidak separah diriku dulu. Harusnya dia bisa tenang dan berpikir jernih untuk menghadapi tugas dan syarat yang kuberikan. Bagaimana ia bisa menjadi seorang pemimpin jika dalam urusan ini ia tak bisa tenang dan mengambil keputusan."


"Tapi kau jangan lupa sayangku, jika tidak karena Yang Maha Kuasa menghendaki kita berjodoh, kita tidak mungkin bersama sampai dengan detik ini dan memiliki tiga anak yang hebat-hebat seperti Maktoum, Kireina, dan M." Ayudisa tersenyum lembut memandang suaminya.


"Aku tahu itu sayang,” Rashid pun tak kalah untuk memandang Ayudisai penuh cinta dan membuat Juma sedikit risih.


"Oh ayolah, jangan pertontonkan adegan mesra kalian didepanku seolah mengalihkan pembicaraan," Ia pun memutar kedua bola matanya kesal. Sungguh mengherankan bahwa kedua orang didepannya  yang sangat ia hormati ini masih memancarkan cinta mereka seolah usia hanyalah hitungan angka.


"Mungkin ada baiknya M kita ajak jalan-jalan ketempat dimana ia melepas embel-embel bebannya itu," Tiba-tiba Maktoum muncul untuk ikut bergabung dalam pembicaraan. Meskipun diluar tampak mereka adalah keluarga yang sangat menjunjung tinggi adat-istiadat untuk menjadi contoh teladan bagi rakyat UEA pada umumnya dan rakyat Dubai pada khususnya, namun ada kalanya disaat hanya keluarga inti saja yang berkumpul, mereka tampak seperti keluarga biasa lainnya, santai, penuh kekonyolan dan kekeluargaan.


"Maksudmu?" Rashid mengernyitkan dahinya pertanda bingung.


Maktoum pun membisikan sesuatu ketelinga kiri Ayahnya. Dan mereka pun yang seolah saling mengerti tiba-tiba menampakkan senyum absurd seolah merencanakan sesuatu yang mungkin akan membantu menyelesaikan permasalahan anggota keluarga kesayangan mereka, M.


"Juma, aku minta tolong untuk menyampaikan kepada M untuk bersiap-siap," Perintah Rashid.


"Memangnya kita mau kemana?" Tanya Juma bingung.


"Kita akan Hunting Trip ke Afrika!"


"Apa?!"


***