My Love Is Just For You

My Love Is Just For You
Dubai



Dubai...


Sebuah kota yang tak pernah sedikitpun terbesit dalam pikiran Hind menjadi destinasi wisata untuk dikunjungi olehnya. Meskipun ia menyukai berpergian ke luar negeri dan maskapai penerbangan yang selalu ia gunakan transit di kota tersebut, tak ada satupun alasan kuat dirinya untuk menjelajah kota yang menurut banyak pelancong merupakan tempat yang penuh keajaiban dan warna didalamnya dibalik hitam putih pakaian kebanggaan mereka. Jika Yang Maha Kuasa tidak mempertemukannya dengan M, mungkin seumur hidupnya hanya menjadikan kota ini sebagai persinggahan sementara menuju belahan dunia negara-negara eropa yang elok bak lukisan yang tergurat nyata hasil ciptaan indah-Nya.


Angin musim dingin berhembus kencang membelai rambut hitam tebal sepunggung Hind yang dicepol rapi ke atas. Ia memejamkan kedua mata indahnya. Dihirupnya udara segar siang itu dan dihembuskannya perlahan seolah menikmati tanpa suara. Ia menatap ke atas langit biru yang begitu bersih dan cerah bagaikan cakrawala tanpa batas. Bibirnya membentuk senyuman lebar nan manis setelah melihat Hexa Story yang diposting M mengucapkan selamat siang untuknya. Oh ayolah Hind, kau tidak boleh memungkiri bahwa kekasihmu itu sangat tampan jika tersenyum tulus dengan tatapan penuh cinta seperti itu...


Rasa kecewanya sedikit terobati. Setidaknya M sadar dan tahu bahwa ia saat ini berada ditempat dan frekuensi yang sama dengannya. Meskipun belum dapat bertatap muka secara nyata mengingat dari postingan lelaki tersebut saat ini ia berada di Abu Dhabi menghadiri acara penting di sana.


"Bengong saja!" Sebuah ketukan pelan dikepala Hind membuatnya tersadar dari dunianya. "Kesambet lelaki Dubai baru tahu rasa!"


"Aduh, sakit Ermi...," Keluh Hind mengusap-usap kepalanya. Apa hubungannya lagi melamun dengan kesambet lelaki Dubai? Tanpa melamunpun hatinya sudah tertawan oleh seorang lelaki Dubai. Namun saat ini biarlah menjadi rahasianya, orangtuanya, dan sahabatnya. Bukan ia tak ingin berbagi kisah dengan sepupu kesayangannya ini, hanya saja posisi dirinya yang rasanya tidak berhak untuk mengutarakannya karena ia adalah seorang perempuan Jawa yang mengerti tata krama bahwa lelakinyalah yang harus menyampaikannya pada dunia bahwa dirinya adalah cintanya.


"Sorry ya lama nunggu tadi, karena keasyikan berbagi cerita denganmu sampai lupa membawa barang pesanan kakak iparku," Ermi menunjukkan kantong kertas kehadapan Hind.


"Tidak apa-apa, toh aku juga berterima kasih kau mengajakku datang kemari," Hind memberikan cengiran yang menunjukkan gigi putih nan rapi miliknya kearah Ermi. "Setidaknya kau membantuku melarikan diri dari Kepala bagian internis di rumah sakit!"


"Aku yakinkan kau tidak akan menyesal datang kemari! Aku sudah menyiapkan berbagai destinasi yang bisa kau kunjungi selama seminggu di sini." Ermi merangkul lengan kanan Hind dan mereka berjalan menuju Mall Burjuman, titik tempat pertemuan dengan Fauzan, kakak iparnya. "Ayo kita pergi!"


"Semoga...," Hind menjawab lemah sambil mengangkat kedua bahunya dan berjalan beriringan menuju tempat yang disebutkan Ermi sebelumnya.


***


"Iya, aku minta kau mengawasinya dan sepupunya dari radius yang tak terdeteksi olehnya dan laporkan setiap harinya. Pastikan kau tak kehilangan jejaknya, mengerti?"


"Baik Sheikh," Jawab Salim, pengawal yang diutusnya sejak kemarin untuk mengawasi Hind.


Hubungan telepon terputus, Mohammed memijat pertengahan alisnya yang berkedut tegang karena kurang tidur memikirkan ucapan kakak lelakinya semalam. Sementara tanggung jawabnya sebagai Deputy Ruler tak mengizinkannya untuk menghirup kebebasan sebagaimana layaknya orang biasa. Dan disinilah ia sekarang, terkungkung menemani sang Baba bertemu dengan presiden Korea Selatan menggantikan Maktoum yang mendapatkan amanah mengurus bisnis keluarganya di London, Inggris. Ia sudah terbiasa sibuk, namun kali ini dirinya merasa sedikit tersiksa dengan tanggung jawabnya sementara pujaan hatinya begitu dekat dengannya namun belum dapat dijangkau langsung olehnya.


"Bagaimana gadis itu? Apakah ia jadi datang?" Bisik Juma penasaran disela-sela pertemuan.


"Kita bahas nanti setelah acara ini selesai," Jawab Mohammed pendek dan sedikit bernada ketus.


Ada apa kali ini dengan keponakannya itu? Kemarin ia tak henti-hentinya tersenyum dan cemas menunggu kabar dari kekasih hatinya yang katanya akan datang berkunjung kemari. Sekarang tiba-tiba berubah menjadi sedikit mendung dan tidak banyak bicara. Ah, mengapa ia jadi ikut-ikutan terbawa suasana hati lelaki tersebut? Seolah tidak ada hal lain yang dipikirkannya saja..., aura lelaki di hadapannya ini begitu menyedot perhatian sekelilingnya sehingga apapun perubahan mood yang dialaminya memberikan dampak sesuai suasana hatinya. Ayolah M, jangan biarkan pikiranmu menguasai rasamu didalam hati, ingat posisimu sekarang!


"Ukkhhh...," Mohammed mengaitkan kesepuluh jarinya dan mengangkatnya tinggi-tinggi guna peregangan menghilangkan perasaan sedikit tertekannya setelah menemani Babanya hingga menjelang sore hari.


"Sudah lebih tenang suasana hatinya?" Juma bertanya kembali setelah helikopter yang membawa mereka mendarat tepat di lapangan khusus pendaratan di kantor Mohammed.


"Hei, tunggu aku M!" Teriak Juma menyusul Mohammed dari belakang disertai beberapa pengawal setianya.


***


"Kau yakin kita akan menunggu kakak iparmu disini?" Hind tak percaya bahwa ia dan Ermi akan menunggu kakak ipar Ermi dipinggir jalan depan Mall Burjuman. Apa hal tersebut tidak masuk dalam kriteria pelanggaran lalu lintas karena berhenti sembarangan? Ia sempat membaca berita yang menjelaskan bahwa Dubai adalah kota tertib lalu lintas yang akan memberikan hukuman bagi siapapun yang melanggarnya.


"Iya, mobil Fauzan sedang dalam perjalanan kesini dan kau pasti akan jatuh cinta dengan anak perempuannya yang bernama Syifa."


TIIN! TIIIN!


Sebuah mobil sedan berwarna silver berhenti didepan Hind dan Ermi. Ermi yang mengetahui bahwa itu mobil kakak iparnya segera menarik Hind masuk ke dalam mobil dan kemudian kembali melesat menuju jalan raya.


"Kenalkan, ini Fauzan kakak iparku," Ermi memperkenalkan Hind kepada Fauzan dan sebaliknya. "Fauzan, ini sepupuku yang pernah kuceritakan dulu."


"Fauzan."


"Hind Karenina, panggil saja Hind." Hind tersenyum mengarah pada kaca tengah yang dapat memantulkan bayangan senyumnya sebagai tanda ia menerima baik perkenalan ini.


"Dan balita lucu nan menggemaskan disebelahmu itu Syifa, anaknya Fauzan serta Ibu tua yang sedang menyuapi Syifa adalah pengasuhnya."


"Halo Bu, halo malaikat kecil..., salam kenal dari aunty Hind...," Hind menyapa wanita putih berusia paruh baya dan menyentuh tangan Syifa yang disambut dengan genggaman erat dan gelak tawa Syifa seolah mengatakan kepadanya bahwa balita tersebut suka padanya. Betapa beruntungnya Fauzan yang sudah bertemu dengan jodohnya dan memiliki seorang anak diusia yang sama dengan dirinya. Seandainya lima tahun yang lalu Reza tidak memutuskan pertunangan, mungkin saat ini ia sudah memiliki seorang anak seumur Syifa. Mengingat kembali kemasa itu entah mengapa ada cubitan kecil tak kasat mata didalam relung hatinya. Tidak! Tidak! Semua sudah menjadi masa lalu dan tak perlu diingat, jika dirinya masih mengingat kejadian lima tahun yang lalu sama saja dengan ia tak menerima takdir yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Ia harus berfokus kepada takdirnya saat ini, berbagi rasa cinta dengan M, sang putra bungsu Emir Dubai.


"Kita sudah sampai di Kite Beach!" Ujar Ermi penuh semangat menunjukkan hamparan pasir putih nan bersih yang bercumbu mesra dengan deburan ombak yang begitu tenang.


Hind turun dari mobil yang membawanya menuju pantai yang sering ditunjukkan M melalui video yang dibagikannya di Hexagram ketika melakukan olahraga pagi pada saat weekend. Kakinya melangkah perlahan, entah mengapa ia ingin melepaskan alas kakinya dan membiarkan butiran pasir menyapa kulitnya. Sejauh memandang suasana menenangkan begitu tercipta di san, terlebih lagi matahari yang begitu bulat dan besar menyapa dengan warna jingganya yang hangat.


"Aku dan Bu Zenda akan menemani Syifa berenang di pantai, kalian bisa berjalan-jalan dan mengambil foto dekat Hotel Burj al Arab yang terkenal itu," Ujar Fauzan.


"Baiklah, ayo Hind," Ajak Ermi.


Mereka berdua berjalan perlahan menuju arah Burj al Arab, sebuah hotel mewah bintang tujuh yang berarti Menara Arab dan didesain oleh Tom Wright dengan ketinggian mencapai 321 meter serta berdiri di sebuah pulau buatan yang berada 280 meter persegi di lepas pantai di Teluk Persia. Seperti yang Ermi katakan sebelumnya, Hind merasakan kedamaian disana. Pikirannya yang sempat bercabang entah menghilang kemana. Yang tak ia sangka adalah ia bisa jatuh cinta dengan kota padang pasir nan modern ini dalam sekejap di hari pertamanya berada disana. Pantas saja M begitu bangga akan kota kelahiran dan tempat ia tinggal. Ia yang orang baru saja bisa jatuh cinta dengan mudahnya. Mengingat M ia jadi ingin memberikan foto yang indah dengan latar belakang hotel dengan arsitektur unik tersebut padanya.


Ketika Hind sedang berjalan entah mengapa ia merasakan firasat ada yang sedang mengikutinya seperti ketika ia pergi berkunjung ke rumah orang tuanya di Bogor. Ah, mungkin hanya perasaannya saja, ia tak perlu terlalu percaya diri bahwa M akan mengutus orang-orangnya untuk mengawasinya sebagai penebus rasa bersalahnya karena belum punya waktu untuk bertemu dengannya. Ia masih punya waktu dua hari sebelum hari ulang tahun lelaki tersebut. Semoga saja ia bisa bertemu muka dengan kekasihnya itu pada ulang tahunnya. Ia tak perlu makan malam mewah atau apapun, bertemu langsung dengan pujaan hatinya itu saja sudah cukup melegakan hatinya.


***