My Love Is Just For You

My Love Is Just For You
Kepingan Kerinduan



"Aku dan kepingan kerinduan...


Setiap kali kumenengadah ke langit, begitu banyak rasa yang telah kusampaikan hingga membentuk gumpalan-gumpalan awan berwarna putih yang begitu cantik seolah tersenyum menyapa pada dunia


Tapi entahlah apakah sampai atau tidak...


Berharap tiupan angin lembut yang berhembus membantuku untuk menyampaikannya


Tak apa perlahan...


Tak apa terlambat...


Ucapku dalam hati hanya untuk membesarkan rasa yang tak kunjung pergi


Hei Langit...


Hei Awan...


Tak dapatkah kau sampaikan kepada Penciptamu bahwa diriku ini penuh kerinduan pada-Nya...


Penuh kerinduan pada salah satu ciptaan-Nya...


Hingga air mata yang terjatuh pun tak kunjung dapat tertampung dalam bejana..."


Hind terkejut hingga tersadar dari tidurnya seolah ada seseorang tak kasat mata yang membangunkan dirinya. Bulir-bulir keringat tampak didahinya padahal ruangan kamar yang ia tempati menggunakan AC. Jantungnya berdebar-debar. Ya Allah ada apa ini?


Ia segera mencari smartphone miliknya untuk melihat jam berapakah saat ini. Pukul setengah dua belas siang. Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena setelah sampai tadi ia langsung merebahkan diri di tempat tidur terlelap seolah sudah lama ia tak pernah tidur sepulas ini.


Tak lama bunyi adzan Dzuhur berkumandang. Lantunan merdu itu memanggilnya untuk segera bergegas menggelarkan sajadah dan memakai mukenanya setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian rumah yang bersih. Dengan khusyuk ia menjalankan ibadah sholatnya. Setiap ayat yang dibacanya tak pelak membuatnya meneteskan air mata. Ya, saat ini ada seorang hamba yang bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa sedang melakukan komunikasi dengan Tuhannya mencurahkan rasa yang semakin menyiksanya jika semakin lama ia tahan seorang diri.


Kelegaan mulai sedikit membuka rongga dadanya yang sempat sesak ketika Hind selesai menjalankan ritual wajibnya. Setelah berpuas diri dengan menangis, terdengar suara perutnya berbunyi meminta untuk diisi. Ia baru ingat sejak mendarat tadi belum mengisi perutnya. Ia pun melipat sajadah berikut mukena kemudian meletakkannya di nakas tempat biasa ia menyimpannya dan beranjak menuju dapur. Dicarinya dua bungkus mie instan goreng dan telur dari dalam kulkas kemudian meraciknya untuk dijadikan makan siangnya. Meskipun makanan instan, tapi setidaknya dapat mengganjal perutnya untuk sementara waktu hingga ia berbelanja untuk kebutuhan sehari-harinya setelah seminggu Hind sengaja tidak melakukan penyetokan demi liburan ke Dubai. Mengingat tempat itu jadi kembali membuatnya sedih...


Smartphone Hind berbunyi menandakan ada pesan masuk untuknya. Siapapun orang yang mengirimkan pesan itu, untuk saat ini jangan mengharapkan dirinya membalas dengan cepat. Ia bahkan sudah mengantisipasi orang tuanya untuk tidak menanyakan macam-macam dengan memberikan kabar terlebih dahulu bahwa ia telah sampai dengan selamat beberapa menit setelah ia mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ia hanya butuh waktunya sendiri saat ini. Tak perduli jika dirinya dikatakan keras kepala, yang ia tahu saat ini hatinya masih kecewa kepada seorang lelaki yang menggunakan alasan kesibukan pekerjaannya sehingga tidak memberikan kesempatan untuk mereka bertemu. sehingga lebih baik dirinya berdiam diri hingga logikanya dapat mengalahkan perasaannya.


***


"Ma, bolehkah aku tidur dipangkuanmu?" Tanya Mohammed merajuk pada Ayudisa yang sedang duduk di sofa panjang berwarna krem sambil menonton televisi seorang diri di ruang keluarga. Tanpa menunggu jawaban sang Ibu, Mohammed segera merebahkan kepalanya dipangkuannya.


"Tumben sekali kau merajuk," Ayudisa tersenyum kemudian mengusap-usap lembut rambut anak lelaki bungsunya itu. "Biasanya jika seperti ini pasti ada masalah yang kau bingung untuk memecahkannya. Ada apa Nak...?"


Jujur Ia rindu dengan senyuman Hind yang selalu membuat dirinya pun ikut tersenyum meskipun tekanan berat pekerjaan menggelayuti. Pesan-pesan yang berisi kebaikan-kebaikan yang tak pernah mengguruinya bahkan memberikan banyak inspirasi dihidupnya. Wajahnya yang cantik sehingga membuatnya tak dapat berpaling darinya. Semuanya...ia rindu semuanya tentang Hind...


"Tumben M bermanja-manja padamu Ma?" Tanya Kireina yang datang berkunjung dan ingin menginap karena suaminya sedang dinas ke luar negeri untuk urusan diplomatik. Ia datang sendiri karena anak-anaknya sedang sekolah dan akan menyusul setelah jam sekolah usai. "Enggak kasihan apa kalau Mama sudah tua, tidak sekuat dulu menahan badannya yang besar itu? Dasar bungsu!"


"Ssstt..., jangan diganggu dulu, dia akhir-akhir ini kurang tidur karena terlalu banyak yang diurusi," Ayudisa menjawab dengan tenang. Ia mengambil bantal sofa yang ada disebelahnya dan pelan-pelan mengganti pangkuannya dengan bantal tersebut agar tidak mengganggu tidur Mohammed.


"Memangnya hanya M saja yang ingin bermanja-manja dengan Mama? Aku kan juga mau...," Kireina mengerucutkan kemudian mendekat kepada Ayudisa untuk mengecup tangan dan kening sang Ibu.


"Anak ini, sudah jadi Ibu dua anak masih saja bersikap kekanak-kanakan tidak mau mengalah dengan adiknya," Ayudisa menarik kedua pipi anak perempuan satu-satunya itu karena gemas.


"Pepatah mengatakan, berapapun usia anak bahkan jika sang anak sudah menikah sekalipun, kami tetaplah anak kecil orang tuanya," Kireina tersenyum lebar menunjukan giginya yang dipasangi behel berkaret ungu.


"Pintar sekali kau berbicara Nak," Ayudisa berpura-pura takjub mendengarkan alasan konyol yang disampaikan Kireina kepadanya. "Menurun dari siapa?"


"Dari Baba dan Mama tentunya," Kireina merubah posisinya bersandar pada pundak sang Ibu dan memang benar, ia menemukan kedamaian disana.


Rashid dan Maktoum yang baru sampai dari pertemuan pagi di majelis yang disambut oleh Ayasya bint Zayed, istri dari Maktoum, ketika melihat Kireina dan Mohammed begitu manja kepada Ayudisa, merasa iri dengan kedekatan mereka bertiga.


"Baba, maafkan aku, karena Baba selalu memonopoli Mama, biarkan kali ini aku pun ikut memonopoli Mama seperti yang Kireina dan M lakukan," Maktoum segera bergabung memeluk Ayudisa dan belakang. Ia pun mendapatkan kecupan sang Ibu dipipinya.


"Dasar anak-anak tidak sopan," Rashid berpura-pura marah kepada anak-anaknya kemudian ia ikut bergabung. "Kalian yang harus mengerti Babanya, sudah berapa lama kalian sejak dilahirkan hingga beranjak dewasa mengganggu kemesraan Baba dan Mama kalian?"


Ayasya pun tak mau kalah. Memiliki Ibu mertua seperti Ayudisa merupakan keberuntungan tersendiri disaat teman-temannya yang sudah menikah tidak pernah cocok dengan Ibu mertuanya seolah berebut kasih sayang dengan sang suami. Berbeda dengan Ayudisa, Ibu mertuanya ini menganggapnya tidak sebagai menantu namun seorang putri baginya.


Kebisingan suara canda keluarga inti sang Emir tak membuat putra bungsunya terganggu dalam tidurnya yang begitu pulas hingga tanpa sadar mengucapkan sebuah nama yang belum berani ia utarakan kepada keluarganya selain kakak lelakinya.


"Hind..."


Sontak suara riuh canda keluarganya berubah menjadi diam dan penuh tanya serta menatap satu sama lain. Hind? Siapa Hind? Sudah jelas itu nama seorang perempuan tapi siapa?


"Hind...maafkan aku..."


Igauan Mohammed yang semakin nyata membuat seluruh pasang mata mengarah kepada Maktoum yang hampir setiap hari berhubungan pekerjaan dengan adiknya itu. Maktoum yang menyadari bahwa tatapan-tatapan keluarganya menyiratkan permintaan penjelasan hanya bisa menepuk dahinya bersiap-siap akan banyak pertanyaan yang harus terpaksa ia jawab tanpa seizin Mohammed yang memohon sejak awal bahwa jika dirinya sudah siap menceritakan tentang sosok Hind Karenina, kekasih hatinya itu, ia akan menceritakannya sendiri kepada seluruh anggota keluarganya tanpa mereka harus mendengarnya dari orang lain. Namun melihat kondisi adiknya saat ini yang sedang terpuruk karena tak dapat bertemu kekasihnya selama kunjungan gadis itu, ia rasa hubungan mereka sedang ada masalah. Ia menjadi tidak enak sendiri dan harus memutar otak menyiapkan jawaban jujur namun tidak terlalu frontal melanggar privasi sang adik yang menurutnya sudah dewasa dan berhak menentukan jalan percintaannya.


***