
"Bicara bahwa diri ini baik-baik saja mudah...
Bermain dengan jari untuk menyampaikan kata bahwa aku kuat dan berbahagia denganmu pun mudah...
Namun yang nyata terjadi adalah aku khawatir akan hubungan ini yang semakin lama semakin rapuh tanpa kepastian darimu
Sementara waktu seperti pemburu yang mengejarku dan tak membiarkan diri ini luput dari sasarannya..."
DOR!
DOR!
DOR!
Suara tembakan senjata laras pendek Glock Meyer yang mengenai kesepuluh balon berwarna-warni sebagai sasaran tembak begitu bergema di lapangan tembak yang berjarak 50 meter dari posisi sang penembak. Tak pelak kesuksesan itu mengundang decak kagum yang menontonnya. Mohammed mengangkat tangan kanannya yang memegang pistol tersebut keatas setelah ia berhasil menembak seluruh target yang diberikan seolah ia menunjukkan rasa kemenangan yang nyata atas apa yang telah dilakukannya.
Berkebalikan dengan Juma yang nampak tidak menyukai gaya yang ditunjukkan keponakannya itu yang terkesan jumawa. Ia sudah jengah dengan ueforia berlebihan yang dilakukan oleh Mohammed seolah lupa dengan tujuan akhir seperti apa yang ingin dicapainya bersama kekasihnya, Hind. Bagaimana tidak, waktu tak terasa sudah berjalan setahun lebih namun tak ada tanda-tanda dari Mohammed mengajukan lamaran resmi kepada Hind. Hubungan mereka tampak datar tidak ada kemajuan. Yang ada justru akibat ulah keponakannya yang terlalu sering bermain Hexagram disetiap harinya seolah tak memposting sesuatu diakunnya dalam satu hari membuatnya tak bernyawa, lelaki itu semakin dirundung banyak gosip-gosip miring mengenai dirinya dengan lawan jenis yang tak jelas juntrungannya. Ia berusaha mengingat-ingat sejak kapan kolom komentar di akun keponakan kesayangan sekaligus menyebalkan itu mulai dipenuhi ucapan-ucapan cinta nan memuja dari para wanita yang terbuai dengan halusinasi dunia maya? Bahkan merasa untuk merekalah semua postingan yang dilakukan Mohammed yang jelas-jelas apa yang dipostingnya hanya untuk Hind. Sepertinya sejak M melakukan live video di lokasi tempat Dancing Fountain ketika dirinya menyatakan perasaan sesungguhnya kepada Hind. Ia hanya khawatir kejadian renggangnya hubungan mereka terulang kembali dan kali ini tidak dapat diperbaiki lagi.
"Bagaimana Paman, aku hebatkan bisa menembak seluruh sasaran?" Mohammed menghampiri Juma yang sejak tadi duduk di sofa belakang dan duduk disebelah Pamannya itu. Ia sibuk mengedit video yang diminta olehnya diambil oleh salah satu pengawal ketika ia latihan tembak untuk dipostingnya pada akun Hexagram-nya. Juma hanya menghela napas berat sebagai jawaban dari pertanyaan Mohammed.
"M, kau kapan hendak meresmikan hubunganmu dengan Hind? Ini sudah lebih dari setahun lho, memangnya kau hanya ingin hubunganmu begini-begini saja?"
"Paman mengapa tiba-tiba menanyakan hal itu? Hubungan kami baik-baik saja kok," Jawab Mohammed santai. "Kami masih saling bertukar kabar berita setiap harinya."
"Mungkin kau baik-baik saja M, tapi bisa jadi kondisi gadismu berbanding terbalik denganmu sekarang. Dihadapanmu ia bisa tersenyum lebar seakan dirinya baik-baik saja namun siapa yang tahu didalam hatinya merana..."
Mohammed mengernyitkan dahinya menatap Juma dalam. Tak biasanya pamannya begitu cerewet mengomentari hubungannya dengan Hind. Ada rasa tidak setuju dan tidak suka dengan apa yang diutarakan Juma namun tak berusaha ia tunjukan dengan tetap bersikap biasa.
"Paman tak perlu khawatir, aku sudah berhasil menggenggam hatinya, jadi tak mungkin gadis itu bisa meninggalkanku." Nada bicara yang terucap dari Mohammed tanpa ia sadari terkesan sombong dan pongah. Ia lupa bahwa dirinya hanyalah manusia yang memiliki keterbatasan logika sedangkan urusan membolak-balikkan hati hanya Sang Maha-lah yang memiliki kuasanya.
"Dengar M, harga diri seorang lelaki dihadapan gadis yang dicintainya tidak sebatas pada kata-kata indah yang keluar dari ucapannya, tetapi terletak pada tanggung jawab perbuatannya," Juma melanjutkan ucapannya. "Jika kau tak bersungguh-sungguh berkorban untuk gadis yang kau cintai, maka relakanlah genggaman tanganmu kepada lelaki lain yang lebih mencintainya dalam wujud tindakan nyata."
"Paman ini kenapa sih? Tak ada angin dan tak ada hujan tiba-tiba menjadi pria separuh baya yang menasehatiku seolah-olah aku belum cukup dewasa untuk mengambil keputusan sendiri dalam hubunganku dengan Hind," Mohammed menghentikan ketikan jari jemarinya pada smartphone yang sejak tadi digenggamnya. Ia gusar tak terima kata-kata yang keluar dari Juma seakan menyindir dan menohok tepat ke jantungnya membuatnya terkejut dan sesak karena berusaha menahan amarahnya.
Mohammed terdiam seribu bahasa. Apa mungkin Hind akan melakukan hal itu padanya? Apa ia memang seegois itu jika ia mengatakan bahwa ia saat ini menikmati hubungannya dengan gadisnya yang seperti ini?
"Hah..., ternyata keponakanku ini masih belum dewasa rupanya," Juma bangkit dari duduknya setelah rasanya percuma berbicara dengan sosok lelaki yang ternyata masih memikirkan dirinya sendiri. Ia memilih pergi dari tempat itu sebelum dirinya benar-benar marah pada keponakannya itu.
"Aku ingin pergi sejenak menjauh darimu dari pada berdekatan denganmu saat ini hanya akan membuatku emosi dan ingin memukulmu dengan keras yang rasanya tidak etis kulakukan."
"Apa benar aku begitu egois dan tidak dewasa dalam hubungan kami?" Mohammed menatap kearah Juma penuh pengharapan.
"Kau...," Juma mengepalkan kedua tangannya untuk mengontrol amarah yang sudah hampir naik keubun-ubun kepalanya. "Kau pikirkanlah sendiri! Kalau sampai apa yang kusampaikan tadi benar-benar terjadi, saat itu sungguh aku tak bisa membantumu sama sekali!"
Mohammed hanya bisa menatap punggung Juma yang membelakanginya. Ia pun kemudian beralih pada foto Hind yang sedang tertawa bahagia sambil merenungi apa yang telah diucapkan oleh sang paman.
***
Hind meletakkan kunci mobilnya diatas meja ruang tamu apartemennya kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ada dihadapan meja tersebut. pikirannya gamang mendengar ucapan dari orang tuanya ketika seminggu ini ia memilih tinggal dirumah dari pada apartemennya untuk mendampingi sang Ibu yang baru saja keluar dari rumah sakit setelah dirawat selama beberapa hari karena penyakit jantungnya kembali kambuh. Ia tidak mempermasalahkan harus bolak-balik menempuh jarak berpuluh-puluh kilometer untuk mendampingi sang Ibu sebagai bentuk baktinya seorang anak kepada orangtuanya, namun semakin hari ia merasa hatinya hampa dan bingung akan kejelasan hubungannya dengan M. Bahkan disaat ia membutuhkan sandaran hati ketika Ibunya sakit, M sama sekali tidak memberikan jawaban yang memuaskan dirinya. Ia merasa ada atau tidak memiliki hubungan dengan M, dirinya hanya seorang diri melewati hari-harinya yang semakin lama semakin rapuh dan membutuhkan penopang kuat agar tidak benar-benar terjatuh. Ia masih kuat dengan segala rumor dan gosip yang berkaitan dengan M meskipun terkadang jika rasa sensitifnya muncul akan menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menenangkan emosinya. Namun jika sudah orang tuanya yang berbicara, seluruh hal yang ia pertahankan sekuat tenaga akan menjadi sia-sia belaka...
"Papa sebenarnya tidak mau berkomentar banyak mengenai hubunganmu dengan lelaki berkebangsaan Arab tersebut," Chandra menatap serius anak semata wayangnya. Saat ini ia, istrinya Kia dan Hind berada diruang keluarga dan dari raut wajah mereka tampak ketegangan tak kasat mata. "Tapi ini sudah setahun lebih Nak, apakah kau tak bisa meminta ketegasan dari lelaki tersebut? Kau adalah anak dan harapan kami satu-satunya. Rasanya hati Papa sakit kalau ternyata kau hanya dipermainkan oleh lelaki tersebut. Jangan karena dia adalah lelaki yang memiliki segalanya sehingga bisa mempermainkan anak Papa seenaknya!"
Hind hanya terdiam dan tertunduk mendengar ceramah dari sang Papa bak telah berbuat kesalahan besar sehingga membuat kecewa kedua orang tuanya yang telah mencurahkan segenap perasaannya untuk membesarkannya dengan baik. Rasanya Papanya tak pernah semarah ini jika hubungannya dengan lawan jenisnya kandas bahkan ketika hubungannya dengan Reza bubar pun beliau dengan tenangnya memberikan petuah-petuahnya agar Hind bisa bangkit dari keterpurukannya saat itu. Namun mengapa sekarang berbeda? Apakah kesalahannya sebesar itu?
"Papa mohon Hind, jangan kau biarkan dirimu buta akan perasaan cintamu pada lelaki tersebut...," Chandra menghampiri Hind dan berlutut menatap putri cantiknya itu. "Papa bukannya tidak menyetujui hubunganmu dengan lelaki yang ada dihatimu itu Hind, Papa hanya tidak ingin anak Papa digantung tidak diberikan kepastian sementara waktu dan usiamu terus bertambah..., Papa ini punya hutang kepada Yang Maha Kuasa untuk menikahkanmu kepada lelaki terbaik yang akan menjadi pendampingmu. Jika seperti ini nampaknya lelaki itu bukanlah yang terbaik untukmu Nak..."
"Maksud Papamu baik Nak...," Kia, sang Ibu ikut bergabung dengan sang Papa. "Tanyakanlah kembali untuk terakhir kalinya kepada M apakah ia serius denganmu atau tidak. Jika ia serius maka mintalah ia untuk menunjukkan keseriusannya itu dengan datang bersama keluarganya melamarmu. Jika ia tidak serius, Mama mohon dengan sangat, tinggalkanlah lelaki tersebut, mungkin awalnya terasa berat, namun kami yakin kau bisa melakukannya..."
Tanpa terasa airmata Hind jatuh setelah mendengar ucapan dari kedua orangtuanya. Ia hanya mengangguk pelan menjawab semua permintaan mereka. Bagaimanapun suara mereka adalah perwakilan Yang Maha Kuasa untuk dirinya yang terlalu terhanyut dalam cinta tanpa kepastian selama ini. Ini seperti sebuah peringatan keras dari Tuhannya yang menegurnya karena terlalu terlena berharap pada manusia dapat memenuhi janjinya.
Ting!
Terdengar bunyi pesan masuk ke dalam smartphone-nya. Hind segera mengambil smartphone tersebut dari dalam tasnya dan ketika ia melihat dari siapa pengirim pesan tersebut, ia segera menjauhkan benda miliknya itu dan beranjak dari sofa yang ia duduki. Saat ini ia sedang tidak bisa membaca pesan dari orang tersebut dan butuh merenungkan diri terhadap langkah yang harus ia lakukan untuk menyelesaikan perasaannya yang saat ini berkecambuk.
***