My Love Is Just For You

My Love Is Just For You
Menghibur Diri Sendiri



Sudah hampir sebulan sejak Hind menjalankan tugasnya sebagai dokter medis di salah satu wilayah Tanzania. Seperti yang telah dikatakan Tonya sebelumnya, ia ternyata mulai betah tinggal disini. Penduduk yang ramah dan menyenangkan, pemandangan padang rumput yang terhampar luas membentang dan suasana kekeluargaan yang tercipta sedikit bisa membantu Hind melupakan sejenak tentang M. Walaupun ketika malam tiba dan kesunyian menyapanya, tak pelak air matanya jatuh menetes dipipi kemerahan alaminya. Lantunan permohonan ampunan kepada Yang Maha Kuasa tak henti-hentinya terucap dari bibirnya. Kira-kira ia butuh berapa lama untuk bisa melupakan M? Pertanyaan itu yang terus menggema dipikirannya. Dulu, dalam waktu seminggu ia dapat langsung melupakan perasaannya pada Reza, ia berharap hal yang sama juga dapat ia lakukan dengan perasaannya pada M. Namun mengapa sampai dengan detik ini ia masih belum dapat melupakannya? Apakah perasaannya terhadap M sudah terlalu dalam? Ia tertawa miris. Bagaimana bisa ia memiliki perasaan cinta pada orang yang sampai detik ini tidak dapat ia temui langsung wujudnya selain melalui media sosial? Bahkan ketika ia mengambil inisiatif berkunjung ke Dubai untuk memberinya kejutan pada saat ulang tahun M yang ke-33 yang ia dapat malah air mata kekecewaan karena tak juga dapat bertemu dengan lelaki itu. Mengapa bisa seperti ini?


Ya Allah, mohon mudahkanlah aku untuk menjalankan takdir yang telah Engkau tentukan untukku dalam hal apapun... rapal Hind berkali-kali dalam hati sambil terisak.


"Hind," Panggilan Tonya menyadarkan dirinya dari lamunan menatap langit malam nan cerah yang penuh dengan bintang. Salah satu hal yang ia suka disini, langit malamnya sangat luas dan indah! Berbeda dengan suasana di Jakarta yang sangat sulit melihat malam penuh bintang karena terlalu banyak bangunan tinggi yang menutupinya. Jika ditempat tinggal orang tuanya di Bogor, ia harus menjelajah ke puncak bukit yang agak jauh dari rumahnya untuk bisa mengabadikan langit indah seperti saat ini.


"Ya Tonya, ada apa?" Hind segera mengusap airmatanya dan menghampiri Tonya dengan memasang senyuman seolah-olah baik-baik saja.


"Nenek Adeola ingin bertemu denganmu." Nenek Adeola? Hind agak berpikir keras untuk mengingat nenek tersebut karena terlalu banyak pasien yang datang padanya untuk mendapatkan pemeriksaan setiap harinya. Kata Tonya, ini adalah rekor tertinggi karena penduduk asli disini mau berbondong-bondong ke camp pemeriksaan untuk memeriksakan kesehatan mereka. Dengan dokter sebelumnya hanya sedikit yang mau datang. Tonya berterima kasih atas kehadiran Hind disini. Hind pun hanya bisa mengucapkan kembali kasih karena telah diterima baik disini meskipun setiap kali ia melakukan pemeriksaan kesehatan pada penduduk lokal harus mengandalkan Tonya sebagai translator.


"Katanya ia ingin memberikan sesuatu kepadamu sebagai ucapan terima kasih," Ujar Tonya.


"Baiklah, aku kesana," Hind bangkit dari duduknya disebuah batang kayu yang besar dan berjalan menuju camp. Ia ingat, pada saat memeriksa kesehatan sang nenek, nenek itu berkata bahwa dirinya dinaungi keberuntungan dalam hidupnya. Apa yang menjadi harapan dan doa-doanya selama ini akan dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa bahkan melebihi ekspektasinya. Termasuk urusan jodohnya. Hind yang mendengarnya hanya memberikan senyuman dan ucapan terima kasih. Dalam kondisinya yang semrawut dan menderita kekecewaan teramat dalam saat ini rasa-rasanya ucapan nenek tersebut hanya untuk menghiburnya.


Tak lama kemudian ia menghampiri seorang nenek yang hendak berdiri dari duduknya namun segera ditahan Hind.


"Nenek duduk saja," Hind duduk berjongkok di hadapan nenek tua tersebut. "Ada apakah gerangan nenek kemari? Ini sudah malam, kan nenek bisa kesini besok pagi..."


"Aku tadi mendapatkan penerawangan bahwa kau akan bertemu dengan jodohmu besok, aku yakin itu." Ucap Nenek Adeola mantap.


"Nek...," Sepasang mata Hind berkaca-kaca. Ia bingung harus berkata apa. Jika ia mengatakan hal tersebut adalah tidak mungkin karena hatinya yang masih remuk redam saat ini, maka akan menyakiti hati orang tua yang ada dihadapannya. Sebuah tindakan yang tak berani ia lakukan mengingat orang tuanya telah mendidiknya untuk selalu hormat dan menghargai orang yang lebih tua darinya. Terlebih lagi nenek ini mungkin seusia kakek dan neneknya jika mereka masih hidup.


"Terima kasih...atas doanya Nek...," Hind hanya bisa memeluk nenek untuk meyakinkan bahwa ia meng-aamiin-i ucapan sang nenek.


***


"Ini teh panas untukmu," Tonya menyerahkan secangkir teh panas kepada Hind. Saat ini mereka berada diluar camp ditempat Hind melamun sebelumnya sambil menikmati malam.


"Terima kasih," Hind membalasnya dengan senyum. Ia pun mengamati kepulan uap yang keluar dari cangkir.


"Kau jangan terlalu memikirkan perkataan Nenek Adeola," Tonya yang menangkap kegelisahan yang nampak dimata Hind akhirnya buka suara. "Walaupun tidak pernah dipungkiri apa yang diucapkan Nenek Adeola selalu benar. Dulu Nenek juga pernah memberikan hasil penerawangannya kepadaku bahwa suatu ketika Tanzania ini akan menjadi taman padang rumput yang indah dan banyak dikunjungi orang-orang dan menjadi tempat wisata safari yang terkenal karena akan ada sebuah keluarga kaya raya yang membantu kami untuk memfasilitasi semuanya. Awalnya aku pesimis mengingat bantuan dari Unicef tak mencukupi, namun sekarang aku percaya karena faktanya keluarga kaya itu memang ada dan membantu kami disini."


"Begitukah?" Respon pendek Hind. Pikirannya cukup kalut hari ini sehingga hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.


"Oh iya, ngomong-ngomong soal keluarga tersebut, aku baru dapat kabar bahwa mereka akan melakukan kunjungan kesini besok. Siapa tahu memang benar kata Nenek Adeola, salah satu dari anggota keluarga itu adalah jodohmu," Lanjut Tonya menyemangati. "Seingatku anggota keluarga mereka memang terkenal tampan dan cantik tidak hanya fisik namun hatinya."


"Hahahaha," Hind memaksakan tawanya. "Tonya, aku memang punya impian dan cita-cita, tapi aku bukan penganut Cinderella Syndrome yang mengharapkan hal konyol seperti itu."


"Ya, siapa tahu kan, kalau tidak salah anak bungsu beliau masih single sepertimu," Lanjut Tonya meyakinkan Hind membuatnya nyaris tersedak oleh minuman yang diminumnya.


"Kenapa kau tak mau ikut?"


"Aku ingin menyalurkan hobiku yang telah lama tak kulakukan yaitu melukis dan nampaknya objek yang hendak kulukis cukup jauh dari camp Tonya."


"Tapi dipastikan aman dari hewan buas kan?" Tonya tampak khawatir dengan ide sedikit gila Hind. Ini Afrika! Dimana hewan buas masih banyak berkeliaran bebas di alam liar.


"Aman kok, aku sudah beberapa kali mengunjungi tempat itu tanpa sepengetahuanmu." Hind berjalan meninggalkan Tonya. "Karena sudah malam, aku istirahat duluan ya Tonya, selamat malam..."


"Semoga mimpi indah!" Teriak Tonya sambil melambaikan tangannya.


"Kau juga!" Balas Hind dengan senyuman.


***


Keesokan paginya, dengan menenteng kanvas ukuran sedang dan tas punggung biru berisi perlengkapan lukis lainnya, Hind memantapkan diri berjalan menuju tempat ia akan melukis objek yang dia inginkan. Disetiap kaki melangkah tak lupa ia bersyukur atas karunia yang diberikan oleh-Nya. Betapa indahnya suasana pagi di Tanzania saat ini. Setelah ia menemukan tempat yang pas, ia duduk dan mulai mengeluarkan peralatan lukisnya, cat, kuat dan palet. Tangan kanannya mulai memainkan kuas dan menggoreskan warna-warna pada kanvas putih dihadapannya. Bak penari yang dengan luwesnya menggerakkan tangannya, lukisan tersebut mulai terlihat jelas bentuknya. Langit biru yang cerah, kepulan awan putih, padang ilalang hijau kecoklatan seperti lahan gandum, pepohonan tinggi menjulang dan sekawan zebra mulai menghiasi kanvas polosnya tadi. Perlahan senyuman terukir dibibir Hind, rasanya begitu menyenangkan dan menenangkan..., ada kedamaian yang selama ini hilang. Waktunya sendiri...


Sementara itu, terdengar suara deru mesin pesawat yang beberapa menit yang lalu baru saja mendarat disebuah landasan terbang. Tonya, Kepala Suku Adebowale yang merupakan suami Tonya, dan kru nya segera menghampiri orang-orang yang baru saja turun dari pesawat. Beberapa unit mobil SUV telah menanti untuk digunakan menjelajahi indahnya Taman safari di Tanzania.


"Selamat datang Sheikh Rashid, selamat datang Sheikh Maktoum, selamat datang Sheikh Mohammed dan rombongan, selamat datang di Tanzania!" Sambut Kepala Suku Adebowale dan Tonya.


"Terima kasih atas sambutannya Pak Kepala Suku, Tonya," Rashid dan yang lainnya menaiki mobil yang telah disediakan dan rombongan itu pun mulai bergerak meninggalkan landasan pesawat. "Sudah cukup lama saya tak berkunjung kemari..."


Sepanjang perjalanan, entah mengapa Mohammed merasakan sebuah perasaan yang membuat dirinya tidak tenang seolah ia akan mendapatkan suatu jawaban dari kebingungannya saat ini setelah Hind hilang bak ditelan bumi dan itu menjadi ujian berat untuknya. Meskipun hatinya remuk redam, tapi ajaran sang Ayah untuk tetap tegar membuatnya bisa berdiri sampai saat ini.


Mohammed menarik napas dalam-dalam dan dihembuskannya perlahan. Suasana alam begitu sangat menyenangkan untuk menenangkan pikirannya yang kusut akhir-akhir ini. Ia rindu bekerja sambil liburan seperti ini dan bisa menyalurkan hobi photography-nya yang sempat tak ia urus karena mengedepankan urusan otak kirinya dan mengorbankan rasa yang dimilikinya.


Sesampainya di area camp ia melihat para pekerja yang sibuk membangun camp khusus untuk dirinya dan keluarganya. Bahkan para koki yang sengaja dibawa dari Dubai pun sudah mulai bersiap-siap untuk memasak. Sementara Ayah dan Kakaknya sibuk dengan istri pemimpin camp yang bernama Tonya, ia akhirnya memutuskan untuk menjelajah padang rumput dengan kamera DSLR miliknya. Sesekali melarikan diri sendiri jauh dari tim tidak apa-apakan, toh ia adalah lelaki dewasa yang butuh waktu menyendiri juga. Membayangkan Juma yang akan marah-marah padanya biarlah menjadi urusannya nanti. Saat ini menjadi sedikit egois tidak apa-apa kan?


Mohammed mulai menjelajah padang rumput dengan mengendarai mobil jeep berwarna hitam seorang diri sambil sesekali mengabadikan beberapa binatang buas dengan bidikan kameranya. Salah satunya sepasang singa jantan dan singa betina yang sedang memadu kasih dipadang rumput. Ia tertawa miris ketika sadar bahwa ia iri dengan pasangan hewan itu, sementara kekasihnya tak tahu dimana saat ini. Dengan pakaian kemeja hitam yang dipadukan dengan celana cargo panjang warna hijau army  dan sepatu khas lapangan serta topi model fedora seperti Indiana Jones, ia tak tampak seperti pangeran dari Arab melainkan seorang penjelajah atau Adventurer.


Pandangan lensanya kemudian tertuju kepada sebuah objek bergerak dibawah pohon rindang. Difokuskannya kembali lensa kameranya untuk memperjelas objek tersebut. Seorang perempuan yang tangannya penuh cat dan kanvas dihadapannya. Ya Allah..., mimpikah ini? Mohammed mengusap-usap matanya untuk memastikan bahwa apa yang ia lihat sungguh nyata. Setelah ia yakin bahwa ia mengenal objek tersebut, ia kemudian memarkir mobilnya dan bergegas turun kemudian berlari menghampiri gadis itu.


"Hind!" Dengan napas yang terengah-engah karena berlari tadi, ia memanggil nama Hind yang masih sibuk dengan lukisannya. Tak pelak pemilik nama itu menoleh kearah suara yang memanggilnya. Matanya membesar ketika ia melihat sosok lelaki yang sangat ia kenal baik di media sosial yang sudah cukup lama ia abaikan.


"M?!"


***