My Love Is Just For You

My Love Is Just For You
Epilog



"Lembayung senja tergerus rasa


Hingga sadar logika manusia ada batasnya


Menyerahkan diri dan hati ini kepada Sang Pencipta


Memutuskan segalanya dengan matematika-Nya yang tak terhingga


Hingga perlahan membalut luka dan menyembuhkannya


Serta merubahnya jadi bahagia


Mempertemukan diri ini dengan datangnya sang belahan jiwa


Yang lama telah dinanti


Untuk merengguk ikatan abadi..."


Hind duduk disebuah sofa berwarna hitam kontras dengan gaun putih panjang yang tampak anggun dan elegan dikenakannya saat ini. Nampak dua wanita paruh baya yang mendampinginya sambil menggenggam erat kedua tangannya. Terdengar suara yang cukup ramai diluar ruangan tempat Hind berada saat ini.


"Bisa kita mulai acaranya?"


Suara seorang pria sontak membuat suasana berubah menjadi hening dan perasaan Hind semakin tak menentu.


"Tenang saja Hind, semua akan baik-baik saja,”Salah satu wanita paruh baya yang tak terlihat dari fisiknya berusaha menenangkan dirinya. "Aku percaya anak lelakiku mampu melewatinya.”


"Iya...," Hind menarik napas dalam berusaha menenangkan dirinya meskipun hal itu sama sekali tak berpengaruh dalam menghadapi situasi yang begitu emosional saat ini. Bagaimanapun untuk pertama kalinya Hind dihadapkan dengan kondisi seperti ini.


"...saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Hind Karenina binti Chandra Eka dengan mas kawinnya berupa seperangkat alat sholat dan perhiasan senilai dua kilogram dibayar tunai." Chandra selaku ayah dari Hind berkata lantang sambil bersalaman mantap dengan lelaki yang ia setujui untuk menikahi putri semata wayangnya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Hind Karenina binti Chandra Eka dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Lelaki mempelai pria yang berhadapan dengan Chandra saat ini tak kalah lantang dan lancar menjawab.


"Bagaimana para saksi?" Tanya penghulu. "Sah?"


"SAH!" Teriak lantang dari para tamu yang berada diruangan ballroom sebuah gedung yang telah dihiasi pernak-pernik bunga berwarna putih, biru dan pink.


"Alhamdulillah..."


Ketegangan yang sejak tadi Hind rasakan menguap begitu setelah acara Ijab Kabul berjalan lancar. Ia tak bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Bahagia dan haru bercampur menjadi satu.


"Pengantin wanita dipersilahkan untuk keluar menemui pengantin pria."


"Ayo Nak, kita keluar menemui suamimu," Kia sang Ibu menepuk punggung Hind lembut memberi tanda Hind untuk berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan khusus tersebut menuju pengantin prianya.


Pintu ruangan terbuka dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama Hind menjalani tradisi pingitan, ia berhadapan dengan lelaki yang menjadi suaminya mulai hari ini. Ia tak berhenti tersenyum ketika ia berjalan menuju lelaki berpakaian kandura putih lengkap dengan ghutrah yang senada dengan kanduranya berhias Agal hitam dan Bisht yaitu jubah berwarna hitam dengan pinggiran pita emas melapisi kanduranya. Lelakinya begitu tampan hari ini.


Setiap langkah Hind yang semakin mendekat kearah lelaki tersebut. Ia memutar memorinya kebelakang. Mengingat kejadian masa lalu yang membuatnya dapat berdiri saat ini.


"Apakah kau yakin akan melepas lelaki itu Hind?" Tanya Tonya yang menyaksikan Hind dilamar oleh Sheikh Mohammed, putra bungsu Raja Dubai tersebut. "Dia melamarmu Hind! Lelaki yang diimpikan seluruh dunia untuk menjadi pendampingnya melamarmu! Apakah kau akan menolaknya begitu saja?"


"Aku tak tahu apa yang terjadi dengan hubungan kalian, tapi asal kau tahu Hind, seorang lelaki itu butuh energi dan keberanian yang besar untuk melamar gadis yang dicintainya!"


"Aku...," Belum selesai Hind melanjutkan ucapannya Tonya segera menarik tangan kanan Hind menuju mobil miliknya dan mengajaknya pergi ke bandara tempat landasan pesawat yang dinaiki Mohammed berada saat ini.


Ketika mereka sampai di bandara, suara deru mesin pesawat bergaung keras. Hind yang sepanjang perjalanan hanya bisa menatap kosong sontak tersadar dan segera turun dari mobil kemudian berlari menuju arah pesawat sambil meneriakkan nama Mohammed. Ia sadar bahwa meskipun Mohammed telah membuatnya kecewa, namun rasa cintanya tak juga hilang. Menyadari hal itu, ia ingin memperbaiki semuanya. Jika memang hal tersebut dikatakan bahwa tanda lelaki itu adalah jodohnya, ia akan menerima tidak hanya kelebihan akan tetapi juga kekurangannya.


"M!"


"M! Aku menerima lamaranmu M!"


"Mohammed bin Rashid, aku menerima lamaranmu bodoh! Apakah kau tak mendengar suaraku!" Hind menangis sesungukan ketika tak ada jawaban dari M yang hendak masuk ke dalam pesawat. "Aku menerimamu M, jangan pergi meninggalkanku...,” Lanjutnya lemah.


Suasana hening tercipta diantara mereka berdua. Mohammed sempat tak percaya akan pendengarannya. Benarkah? Benarkah apa yang ia dengar tadi? Hind menerima lamarannya? Hind bersedia menjadi istrinya?


"Tunggu apa lagi M?" Dorongan pelan dari Maktoum menyadarkan keterpanaan Mohammed terhadap Hind yang berdiri sambil menangis dihadapannya.


Dengan segera ia turun dari pesawat dan menghampiri Hind. Ingin rasanya ia memeluk erat-erat tubuh sang gadis untuk meluapkan rasa, namun ia sadar bahwa ia harus menikahinya terlebih dahulu.


Dan saat ini Mohammed dapat melakukannya. Dipandanginya Hind yang begitu cantik dengan gaun putih panjangnya perlahan-lahan menghampiri dirinya. Senyum gadis yang telah sah menjadi istrinya itu tak pernah lepas dari bibirnya. Mata indahnya tampak berkaca-kaca memandangi Mohammed. Begitu juga sebaliknya.


Ketika jarak Mohammed dan Hind telah dekat, tak lepas mereka saling memandang seolah mata mereka berisyarat kata. Ada banyak cinta dan kerinduan didalamnya.


"Ehem," Dehaman Kireina, kakak perempuan satu-satunya Mohammed menyadarkan dunia mereka sendiri. "Para mempelai dipersilahkan saling bertukar cincin."


Mohammed dan Hind pun tersipu malu sambil melakukan pertukaran cincin. Kali ini seluruh rasa yang dimiliki dapat mereka luapkan secara sah. Mohammed menyentuh dagu Hind dan mencium kening Hind dengan penuh perasaan dan dalam. Kemudian berbisik ke telinga Hind.


"My life is just for you..."


"My life is just for you too…,” Balas Hind dengan senyuman penuh cinta kepada Mohammed.


Akhirnya penantian mereka untuk bersatu dalam ikatan suci-Nya telah berakhir. Yang ada hanya luapan cinta yang tidak perlu mereka tahan atau disembunyikan. Kedua tangan mereka saling bertautan dan tak ingin terlepas lagi sambil berdoa bersama, semoga kebahagiaan ini dapat abadi tak hanya di dunia namun di akhirat juga...


"Merasakan genggaman tanganmu, kutemukan ketenangan


Menikmati kecupanmu dikeningku, kurasakan rasa sayang


Berada dipelukanmu, kunikmati perlindungan


Bersamamu, kudapati kesempurnaan yang pernah hilang


Terikat benang merah denganmu adalah kebahagiaan yang kupikir semula cuma angan dalam peraduan...


Berbagi takdir denganmu adalah bagian dari sujud syukur tak terhinggaku pada-Nya yang tak dapat terucap dengan lisan..."


THE END