My Love Is Just For You

My Love Is Just For You
Butuh Waktu Sendiri



Wahai pemilik tatapan mata dan senyum yang indah nan jarang dimiliki orang lain


Wahai sang jiwa penuh kebaikan dan ketulusan


Aku berharap kau membuka tirai yang menutupi dan mengabaikan pemilik hati ini


Hati yang tertakluk dengan suaramu yang begitu menembus kalbu membuat siapapun yang mendengarnya bak terhanyut dalam buaian


Kerinduan telah mengalirkan cintaku padamu hingga kedalam seluruh denyut nadiku


Membuat sesak dada ini ketika kau menutup pintu seolah tak perduli ada aku disini


Kau menutup pintu komunikasi denganku menganggap kehadiranku hanyalah angin lalu


Ya, Dirimu yang keras kepala itu!


Jika dengan cara itu membuat kerinduanku memudar dari rasa ini, kau salah! Dan aku pun salah telah membuatmu menahan rindu sendirian dalam air mata yang berbayang disudut keindahan tatapan


Kerinduan telah menarikku ketingkatan tertinggi akan rasa yang tak pernah kudapati untuk dimiliki sebelumnya dan menautkan nada kepada cinta yang ada padamu


Dari cintamu yang hebat, aku akan melakukan segala hal yang tidak mungkin...


Jika aku diminta untuk menantang hidupku demi dirimu, tidak apa-apa, aku akan melakukannya, karena akulah yang mengagumi dan mencintai kekasihnya dengan sempurna...


"Gyaaaa!" Nada berteriak histeris dan bangkit seketika dari duduknya setelah membuka video postingan di akun Hexagram berisi puisi yang dibacakan langsung oleh M. Lelaki itu duduk didepan perapian tradisional khas Timur Tengah dengan permadani-permadani yang ditata apik mengelilingi perapian sambil membelai lembut elang berwarna putih miliknya.


"Apa-apaan sih Da? Bikin kaget saja!" Protes Emi, Kepala Perawat di ruangan itu. "Ini sudah hampir jam sepuluh malam lho..."


"Maafkan saya Bu Kepala Perawat, saya mohon izin sebentar ketempat Dokter Hind," Nada yang tahu bahwa Hind memiliki jadwal praktek hingga malam pada hari ini segera melangkahkan kakinya menuju ruang praktek Hind. Ia begitu yakin bahwa gadis itu belum pulang mengingat pasien yang harus ditangani sangat banyak setelah masa cuti jalan-jalannya dari Dubai berakhir.


Sebagai salah satu follower M yang setia, Nada mengetahui bahwa ekspresi lelaki tersebut berubah menjadi sedih tak bernyawa tepat pada saat Hind kembali ke Indonesia. Bibir lelaki itu memang mengguratkan senyum dan masih melakukan hal-hal yang sering ia lakukan dalam postingan Hexastory miliknya namun tak menapik tatapan matanya tak bersinar seperti biasanya. Sementara Hind sendiri lebih memilih mengunci rapat cerita mengenai M dan apa yang terjadi selama sahabatnya itu berada di Dubai bersama sepupunya dan tetap tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. Ia pun tak mendapati tanda 'like' yang biasa dilakukan Hind pada setiap foto atau video yang diposting M. Terakhir kali ia dapati adalah ucapan ulang tahun kepada M yang muncul di kolom komentar akun M.


Hingga ia mendapati postingan video M berpuisi penuh dengan penghayatan dan pengharapan dengan mata berkaca-kaca bak memohon kekasihnya untuk tidak mendiamkan dirinya. Ia baru menyadari bahwa hubungan Hind dan M sedang mengalami masalah yang membuat Hind tak ingin mengungkitnya dihadapan siapapun dan membiarkannya tenggelam dalam hatinya berharap larut dan terlupakan olehnya.


BRAK!


"Mba Hind, Mbak Hind," Nada tanpa merasa bersalah masuk ke dalam ruangan Hind dan duduk dihadapannya.


"Ada apa lagi Nada?" Tanya Hind dengan nada sedikit sinis merasa terganggu oleh kehadiran Nada yang sedang tidak diinginkannya. Tubuhnya tampak kelelahan dan butuh istirahat sejenak sebelum ia pulang ke apartemennya. Tak ia sangka sekembalinya ia dari cuti, antrian pasien yang membuat janji untuk diperiksa olehnya begitu banyak. Bukankah mereka punya beberapa pilihan untuk dokter spesialis penyakit lainnya? Setiap kali ia bertanya selalu jawaban bahwa mereka lebih nyaman mendapatkan pelayanan pemeriksaan olehnya. Semoga mereka mau memaafkan dirinya yang saat ini sedang memanfaatkan secara tidak langsung atas apa yang dirasa tubuh mereka yang diutarakan kepadanya untuk mendapatkan bantuan medis olehnya dengan menjadi alat baginya mengalihkan perasaannya yang sedang kecewa...


"Mba Hind, kau masih mendengarkanku berbicara kan?" Rajuk Nada melihat Hind yang memejamkan matanya seakan tidak mengacuhkan dirinya. Ia tahu Hind lelah dengan pekerjaannya, tapi kali ini ia harus menyampaikan hal penting yang mungkin terlewat oleh Hind selama seminggu ini.


"Iya, aku masih mendengarkanmu Nada, kau ingin menyampaikan apa?" Bukan ia membenci Nada, namun ia sedang berusaha menghindarinya. Karena berurusan terlalu sering dengan Nada diluar hal yang berkaitan pekerjaan cukup menggerus hatinya setiap kali nama M disinggung. Padahal ia sudah berusaha semaksimal mungkin bersikap sewajarnya pada Nada.


"M mbak, M!" Tuh kan benar, baru saja Hind membatin. Pasti urusan lelaki itu sambil mengelus dadanya menyiapkan tanggapan untuk Nada.


"Iya, dia kenapa?"


"Kok Mbak Hind responnya seperti itu sih? Berarti benar ya dugaanku, pasti telah terjadi sesuatu yang tidak mengenakan antara dirimu dan M selama di Dubai," Kepolosan ucapan Nada bak anak panah yang ia lepaskan dari busur dan mengenai sasarannya dengan tepat di jantung Hind, membuatnya berdetak keras dan terdiam menahan lelehan yang mulai memenuhi pelupuk matanya setelah sekian hari dapat dilewatinya tanpa uraian air mata.


Ayolah airmataku, tak bisakah kalian berkompromi lebih lama lagi agar aku dapat menentukan waktu yang tepat mengeluarkannya? Kumohon kalian untuk tidak keluar dalam kondisi seperti saat ini..., aku akan terlihat lemah dan rapuh dihadapan Nada... Hind berusaha untuk melakukan negoisasi dengan dirinya dalam hati. Hal yang biasa ia lakukan jika ia sedang menghadapi situasi yang tidak mengenakkan yang terjadi dihidupnya.


"Mbak Hind lihat video yang baru saja diposting M di akun Hexagram-nya malam ini?"


"Aku sedang malas bermain media sosial dan memilih log out untuk sementara." Hind menekan pangkal hidungnya yang berdenyut tegang akibat berusaha menahan airmatanya keluar.


"Mbak, aku nggak tahu ada masalah apa antara dirimu dengan M," Nada berusaha membuat dirinya nyaman dalam situasi kurang mengenakkan dengan Hind saat ini. "Tapi kumohon untuk kali ini saja kau membuka akunmu dan melihat apa yang dipostingnya khusus untukmu."


Hind mengambil smartphone yang tergeletak disudut meja kerjanya. Ia nampak mengetikkan sesuatu pada keypad-nya untuk masuk ke akun Hexagram-nya sesuai permintaan Nada. Ia menyerah untuk berkeras hati dalam menghadapi Nada karena perempuan dihadapannya ini tidak akan menyerah jika tujuannya belum tercapai. Nada pun berusaha untuk melirik kearah smartphone milik Hind dan sesekali menoleh ekspresi apa yang diperlihatkan oleh dirinya yang tampak begitu serius menonton dan mendengarkan apa yang disampaikan M dalam video tersebut.


"Mengapa kau harus melakukan hal ini M...," Hind sudah tidak kuat menahan air matanya lagi ketika melihatan tatapan mata M seolah tatapan itu ditujukan untuknya. Pertahanan yang sudah susah payah ia bangun kini roboh kembali bagaikan bangunan tanah liat yang belum kering kemudian tersiram air.


"Mbak Hind...," Nada terkejut dengan Hind yang menangis terisak. Ia segera mengambilkan tisu wajah yang ada di atas meja kerja Hind dan menyerahkannya kepada sang sahabat. Kiranya sudah lama ia tak melihat pemandangan seperti ini. Mungkin sekitar lima tahun yang lalu...


"Maafkan aku Nada, untuk saat ini biarlah hanya aku yang tahu masalahku dengan M karena aku belum siap berbagi pada siapapun termasuk dirimu..."


***