My Love Is Just For You

My Love Is Just For You
Kebulatan Tekad



Mohammed termenung di dalam mobilnya sambil menatap hamparan padang rumput hijau kecoklatan yang begitu luas di Uzbekistan. Saat ini ia menemani Baba dan kakak lelakinya untuk melakukan kegiatan falconry mengingat sudah waktunya musim berburu dimulai. Ditangan kirinya sudah ada elang berbulu putih miliknya. Ia mengingat kembali ketika dirinya bangun dari tidur siang dipangkuan sang Ibu, kedua orang tuanya memanggilnya ke ruang kerja yang ada di rumahnya. Maktoum dan Kireina pun telah ada duduk di sofa panjang yang sama yang ada didalam ruangan tersebut seolah ia akan disidang karena telah berbuat kesalahan fatal. Ada apa gerangan? Suasana diruangan tersebut terasa serius dan tegang membuatnya sedikit tidak nyaman.


"Sini Nak, duduk di sebelah Mama," Ujar Ayudisa memberikan kode dengan tepukan tangan kanannya di sofa panjang yang ia duduki sendiri sementara Rashid, sang Baba duduk diantara dua sofa panjang yang membentuk huruf 'U'.


"M, Baba dan Mama tak pernah mengajari anak-anaknya untuk menyembunyikan sesuatu masalah yang terkait dengan keluarga kita," Rashid membuka awal pembicaraan membuat suasana sedikit mancair meskipun tetap saja rasa tegang itu ada. "Jadi, siapa itu Hind?"


Mohammed terkejut dalam diam namun matanyanya yang begitu ekspresif dapat menggambarkan semuanya. Bagaimana seluruh keluarganya bisa tahu tentang Hind? Siapa yang memberitahukan mengenai Hind? Sementara seluruh orang yang bekerja dengannya sudah ia wanti-wanti untuk tidak menceritakan perihal gadis itu kepada keluarganya, terutama kedua orang tuanya jika mereka masih mau bekerja dibawah naungannya. Seingat dirinya hanya kakaknya, Maktoum dan pamannya, Juma. Seolah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, Mohammed menatap lurus kearah Maktoum dan membuat kakak lelakinya itu sedikit salah tingkah.


"Kau mengingaukan nama Hind sewaktu tidur membuat Baba, Mama, Kireina, dan Ayasya yang saat itu berada didekatmu terkejut dan bingung kemudian menanyakannya kepadaku," Mendapat tatapan meminta jawaban dari Mohammed mau tidak mau Maktoum harus menjelaskan latar belakang Babanya menanyakan sosok Hind pada Mohammed. "Karena beliau tahu aku paling sering berurusan denganmu sehingga berasumsi bahwa aku tahu tentang gadismu itu. Kau tahu kan, aku tak bisa berpura-pura seolah tidak tahu atau melakukan kebohongan jika berhadapan dengan kedua orang tua kita. Tapi kau tak perlu khawatir, bagaimanapun aku tetap menghargai privasimu dengan hanya menceritakan garis besarnya saja tentang Hind."


Mohammed yang mendengar jawaban dari Maktoum hanya bisa menyenderkan punggungnya ke punggung sofa antara lega dan sedikit kecewa. Akhirnya ketahuan juga...batinnya. Padahal ia sudah mengingatkan kakaknya itu bahwa dirinyalah yang akan menyampaikan tentang Hind jika dirinya sudah siap.


"Jadi, siapakah Hind? Atau tepatnya Hind Karenina?" Rashid melanjutkan pertanyaannya.


"Dia...," Sudah terlanjur ketahuan, lebih baik jika disampaikan sedetail-detailnya. Ia semakin sedih, mengapa dirinya harus menceritakan tentang keberadaan Hind kepada orang tuanya sementara hubungan mereka saja berada dititik renggang tak berujung tepi. Gadis itu diam tak menyapa seperti biasanya. Ia tahu kekasihnya itu sangat kecewa, akan tetapi ia telah berusaha untuk menemuinya hingga hari terakhirnya di Dubai. Ia telah berusaha mengejarnya dan hasilnya dirinya tetap tak dapat menggapai dan menemui cintanya. Seolah kini ia tersadar ada hal diluar kuasanya, ya, ketika Yang Maha Kuasa memiliki kehendak yang berbeda untuk menguji keteguhan hamba-Nya.


"M, kau baik-baik saja kan Nak?" Ayudisa mengusap lembut pundak kiri anak bungsunya itu. Setelah menceritakan semuanya mengenai Hind, ia melihat mata Mohammed berkaca-kaca tak sanggup melanjutkan ceritanya lagi. Raut wajah Rashid tak terbaca olehnya. Sejujurnya dalam hatinya ia tak menyangka anak bungsunya dapat mengalami hal yang sama dengan yang dialami dirinya dan Rashid. Kisah cinta yang begitu indah namun penuh drama dan perjuangan serta pengorbanan. Ia bisa berada diposisi saat ini pun bukan karena dirinya yang meminta, namun takdirlah yang membawanya hingga bisa dipersatukan dengan lelaki yang pada akhirnya menjadi Ayah dari ketiga anaknya. Ia dulu pun sudah hampir menyerah dan pasrah akan cintanya kepada Rashid ketika suaminya itu tiba-tiba menikah dengan sepupunya tanpa mengatakan apa-apa dan dirinya hanya tahu dari media. Sebuah tamparan hebat tak kasat mata membuatnya shock dan tak berdaya. Ia merasa dikhianati dan dipermainkan sejadi-jadinya, Saat itu, daripada ia merusak rumah tangga orang yang dicintainya meskipun pernikahan tersebut terjadi karena perjodohan dan tradisi, ia lebih baik mundur dan mengorbankan cintanya karena selain mencintainya, ia menghormati dan menghargai Rashid yang begitu mencintai dan menghormati kedua orang tuanya sama sepertinya. Baginya sosok orangtua tetaplah tidak dapat digantikan oleh apapun dan permintaan mereka bak perintah yang tak mungkin ia bantah mengingat surganya ada pada mereka dan menjadi anak berbakti adalah bukti pengabdian tak terbantahkan oleh apapun walaupun pahit dirasa. Menangis dalam diam adalah makanan sehari-harinya. Menghindar dan menyibukkan diri untuk melupakan cintanya kepada lelaki tersebut berusaha setengah mati ia lakukan agar ia tak semakin terluka, tak jua melunturkan perasaannya pada lelaki tersebut. Daripada memaksa, lebih baik ia memfokuskan pada hal-hal positif lainnya berharap perlahan waktu akan menghapus segalanya. Hingga tak ia sangka, Rashid datang ke rumah orang tuanya bersama orang tuanya untuk meminang dirinya menjadi istrinya setelah menyatakan ia telah menceraikan istri pertamanya karena tersiksa akan cinta dan kerinduan yang dimiliki untuk dirinya tak juga hilang atau memudar sehingga membuatnya tak bahagia dengan pernikahannya. Ia pun sampai mengikhlaskan untuk melepas gelar putra mahkota Dubai yang selama ini ia banggakan dan berniat menyerahkan kembali kepada Ayahnya untuk diberikan kepada adiknya yang pantas ketika menyampaikan kepada orang tuanya jika itu menjadi persyaratan utama dirinya dapat bercerai dari sepupunya.


"Dengan kondisimu saat ini apakah kau yakin untuk mempertahankan gadis itu?" Nada suara Rashid begitu tenang namun dalam.


"Maksud Baba?"


Mohammed menjawab dengan anggukan kepala.


"Berhubungan dengan sesama emirati saja belum tentu dapat cocok satu sama lain apalagi kau saat ini berhubungan dengan gadis dari negara yang sama dengan Mamamu, berbeda budaya dan latar belakang keluarga. Kau sudah berkali-kali kami ceritakan kisah perjuangan cinta kami untuk dapat bersatu dan itu tidaklah mudah. Banyak airmata dan rasa sakit serta pengorbanan yang kami hadapi dulu. Melihatmu hanya tidak dapat bertemu dengan gadis itu selama ia berkunjung di Dubai saja sudah membuatmu rapuh seperti ini, bagaimana untuk kedepannya?"


Mohammed masih terus menunduk tak berani menatap wajah Babanya. Namun ketika mengingat wajah Hind yang berusaha menahan tangis membuat dirinya tetap bertekad ingin memperjuangkan gadis itu. Tak banyak orang yang bisa setulus itu menyampaikan perasaannya. Apakah ia rela kehilangannya? Tidak, ia tak rela! Jawabnya kepada diri sendiri. Anggaplah ia sedang belajar untuk menyeimbangkan seluruh aspek kehidupannya dan menemui sedikit kegagalan. Namun ia bisa bangkit lagi. Jika Babanya saja bisa, mengapa dirinya tidak. Ya, ia akan berjuang untuk Hind Karenina agar gadis itu tetap disisinya!


Mohammed menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan kemudian menatap kearah Babanya penuh keyakinan. "Aku akan berjuang Baba! Karena aku tahu tak mudah menemukan gadis yang baik dan tulus seperti Baba menemukan Mama!"


Dan disinilah ia sekarang. Ia mengelus-elus burung elang putih kesayangannya dan mencium kepala burung tersebut. Tatapan matanya begitu nyalang dan fokus.


"M, kau sudah siap?" Tanya Juma yang sedang bersiap-siap melepaskan burung berukuran kecil yang biasa menjadi mangsa para burung elang.


"Aku siap Paman!" Teriak Mohammed.


Ketika Juma melepaskan sang mangsa, dengan sigap Mohammed ikut melepaskan elangnya agar dapat memburu mangsanya itu. Tak butuh waktu lama, burung elang miliknya berhasil menangkap burung berukuran kecil tersebut. Ya, ia ibarat burung elang dan Hind adalah mangsanya. Ia tak akan melepaskan gadis itu hingga dirinya mendapatkannya.


***