My Love Is Just For You

My Love Is Just For You
Rasa Kecewa Karena Terlalu Berekspektasi Tinggi



Malam semakin larut, paviliun-paviliun yang ada disekeliling Hind dan Ermi mulai menyalakan lampu-lampu bermandikan cahaya membuatnya semakin cantik tak kalah ketika senja menyapa. Orang-orang yang datangpun semakin banyak membuat mereka sedikit kesusahan berjalan. Membayangkan tempat seluas ini diisi oleh ribuan atau bahkan puluhan ribu orang tak pernah terpikir olehnya.


Sambil terus berjalan menikmati suasana malam, langkah Hind terhenti ketika melihat sepasang suami istri dengan dua anak lelaki mereka menaiki sebuah perahu. Ia terpaku dan membayangkan betapa menyenangkannya bisa bersama suami dan anak-anaknya kelak menaiki perahu itu. Mengingat hal itu hanya akan menambah rasa irinya saja. Ia pun segera menghapus pikiran yang akan membuat dirinya kembali sedih.


"Kau ingin mencoba menaiki perahu itu?" Pertanyaan Ermi menyadarkan Hind dari dunianya sendiri. "Perahu itu akan membuatmu dapat memutari dan melihat keseluruhan paviliun yang ada di Global Village ini tanpa berjalan kaki."


"Kau mau? Berapa harga untuk naik perahu itu?" Lanjut Hind dengan segurat senyuman.


"Lima puluh dirham," Ermi mengangkat kelima jari tangan kanannya dihadapan Hind.


"Ok, ayo kita naik, hitung-hitung memberikan dispensasi sedikit untuk kaki kita yang kurasa sudah mulai protes karena dipaksakan untuk melangkah lebih dari 10.000 langkah sehari." Hind merogoh tasnya dan mengambil dompetnya untuk mengeluarkan uang pecahan lima puluh dirham kemudian menyerahkannya kepada Ermi untuk membayar sewa perahu.


"Mentang-mentang dokter, kampanye banget sih! Padahal kemarin mengeluh badannya sakit semua," Ermi mengetuk kepala Hind pelan setelah membayar kepada seorang emirati lelaki yang ditugaskan menjaga layanan perahu disana. "Kata orang itu giliran kita setelah perahu berikutnya datang."


"Baiklah...," Hind berdiri termangu menunggu perahu yang disewanya datang. Hawa kesepian kembali menyeruak di dadanya. Jangan...jangan merasa lemah begini Hind. Kau cukup fokus menikmati perjalananmu yang jauh ini dan membuat dirimu bahagia sendiri. Ia berusaha kembali mensugesti dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja.


"Ayo Hind, giliran kita naik perahu," Ermi menarik lengan kiri Hind membuatnya sedikit terhuyung, untung saja ia bisa kembali berjalan normal. Jika di buku novel atau di komik yang dibacanya, kondisi seperti tadi pemeran tokoh utama lelakinya akan dengan sigap memeluk pinggangnya agar tak terjatuh. Heh, tokoh utama lelaki yang mana yang kau maksud Hind? M? Apakah benar dia tokoh utama di dalam hidupmu? Apakah benar? Bahkan sejauh ini ia tak pernah bisa membuktikan bahwa dirinya jelas nyata di hadapanmu? Apakah kau tak lihat di sekelilingmu yang begitu luas ini? Ini hanya sepersekian kecil dari Dubai! Dan lelaki bernama Mohammed bin Rashid itu adalah anak dari pemilik kota ini! Kau siapa berani-beraninya berpikir bahwa kau istimewa dimata lelaki itu? Pernahkah kau berpikir bahwa lelaki itu hanya penasaran kepadamu? Selama ini ia bisa mendapatkan apa yang ia mau hingga suatu ketika bertemu dengan dirimu yang berbeda dari yang lainnya sehingga untuk meningkatkan harga dirinya ia membuat drama bagaimanapun caranya berusaha menjebak dirimu jatuh kedalam lautan cintanya!


Oh tidak, ia harus menghentikan kegilaan tak berujung ini hanya karena rasa kecewa yang belum siap ia hadapi.


"Hind, kenapa kau diam saja disitu?" Ermi mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan diri Hind. Apa mungkin ia yang terlalu bersemangat mengajak sepupunya itu jalan-jalan disini tanpa mengindahkan kondisi tubuhnya yang mungkin saja kaget dengan suasana padang pasir? "Bapak tukang perahunya sudah menunggu kita dari tadi."


"Eh, oh, iya," Hind yang merasa tidak enak beberapa orang disana memandang bingung kearahnya segera berjalan menaiki perahu tersebut dengan hati-hati. Setelah ia meyakinkan diri telah duduk ditempat duduk berbahan kayu di perahu tersebut, perlahan moda transportasi air itu bergerak mulai mengelilingi paviliun penuh kerlap-kerlip lampun. Sekejap suasana hatinya berubah, ia segera mengambil smartphone miliknya dan mengabadikan sekelilingnya dalam format video. Tak lupa ia mengambil foto berdua dengan Ermi. Sesekali mereka berbincang-bincang dengan sang nahkoda perahu. Angin yang berhembus lembut dimalam hari karena pergerakan perahu membelai pipi kemerahan Hind. Ia memejamkan matanya dan menopang wajahnya dengan tangan kanannya yang bertumpu pada pahanya. Hah..., sungguh perasaan yang damai..., padahal sebelumnya hati dan pikirannya menderu seolah menyakiti diri.


"Kita sudah sampai," Ujar sang Nahkoda yang telah meminggirkan perahunya ke dermaga.


"Terima kasih Pak atas tumpangannya," Hind dan Ermi berkata serempak kemudian naik ke dermaga dan kembali berjalan.


"Hind, aku sudah lelah, kita pulang saja ya," Ermi menoleh kearah Hind yang memang tampak kelelahan.


"Iya, kita pulang saja...," Hind menjawab dengan senyuman atas permintaan Hind. Merekapun keluar dari gerbang yang sama ketika mereka masuk tadi.


***


Mohammed mengernyitkan dahi mendapat laporan dari Salim hari ini. Kejadiannya hampir sama dengan ketika Hind dan sepupunya pergi ke Miracle Garden. Bedanya gadis itu sama sekali tidak memperdulikan apapun yang diposting olehnya hari ini di Hexagram dan tidak memposting apapun di akun miliknya. Yang anehnya lagi, gadis ini banyak sekali tertawa hari ini.


"Salim,"


"Ya Sheikh,"


"Apakah kau menangkap sesuatu yang berbeda dari gadisku hari ini?" Tanya Mohammed sambil mengetuk-ngetuk kelima jari tangan kanannya sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menopang dagunya.


"Tidak ada Sheikh, selain setiap kali Nona Hind melangkah, pandangan lelaki yang biasanya menunduk tak tahan untuk melihat kecantikan alaminya. Bahkan tadi ketika Nona Hind pergi ke Global Village, ada seorang pedagang lelaki yang mengganggunya hingga saya turun tangan mengancamnya untuk tidak mengganggunya lagi."


Ketukan jarinya terhenti. Ia menatap tak percaya akan ucapan pengawalnya.


"Kau bilang apa?!"


"Begitulah adanya Sheikh,"


"Baiklah, kau boleh pergi sekarang,"


Setelah sosok Salim pergi, Mohammed menghempaskan tubuhnya di punggung kursi kerjanya. Ya, ia sama sekali belum kembali ke rumah karena harus memastikan acara puncak penutupan kegiatan olahraga selama 30 hari besok telah dipersiapkan secara matang di Kite Beach. Sebuah pantai yang Hind datangi pertama kalinya dan mengatakan padanya bahwa ia jatuh hati pada tempat itu.


Ia mengusap rambut semi ikal hitamnya ke belakang. Merenungi ucapan sang paman yang telah pulang terlebih dahulu. Ia pernah membaca bahwa seseorang yang terlalu banyak tertawa adalah orang yang sebenarnya paling sedih. “Apakah benar kau sedang sedih Hind? Apakah kau tahu aku juga sama sedihnya dengan dirimu? Jika aku orang biasa, aku dengan senang hati menjemputmu di bandara, mengantarkanmu kemanapun engkau mau. Jika aku orang biasa...”


“Namun ternyata aku dilahirkan dari orang tua yang mengemban sebuah daerah otonomi dengan sejarahnya yang panjang dan penuh peraturan serta menjunjung harga diri bangsanya.”


“Kuharap apa yang kusampaikan dari hatiku ini dapat tertaut rasa dengan hatimu. Semoga kau mau mengerti...”


***