
Pagi ini, alya sudah terlihat cantik dengan balutan kebaya berwarna putih yang melekat di tubuhnya. Hari ini, adalah hari pernikahannya dengan azka. Air matanya tak henti hentinya turun. Sekarang alya berada di ruang rias bersama penata rias khusus yang di panggilkan oleh azka. Didalam ruangan tersebut hanya ada alya dan sang penata rias tersebut. Karena alya yang terus menangis dan menyebabkan make up nya luntur itu membuat sang penata rias sedikit kesulitan.
"Jangan nangis terus dong mbak, kan make up nya jadi luntur" ucap penata rias tersebut
Namun tidak ada jawaban dari alya. Air matanya masih terus mengalir bahkan semakin deras. Hingga suara knop pintu terdengar dan pintu terbuka menampilkan seorang pria yang sudah siap dengan setelan jasnya. Ya, dia adalah azka. Azka Anggara Pradipta Wijaya. Pewaris tunggal keluarga wijaya itu, kini sudah tampak sempurna dengan balutan jas berwarna biru donker yang sangat kontras dengan warna kulitnya.
"Apakah sudah selesai?" tanya azka pada penata rias tersebut
"Sebenarnya sudah selesai tuan, tapi..." ucapannya terjeda
"Tapi apa?" tanya azka
"Tapi, nona sejak tadi terus menangis dan membuat make up nya kembali luntur" ucapnya jujur
Azka hanya mengangguki ucapan penata rias tersebut, lalu salah satu tangannya terangkat menginstruksikan kepada penata rias tersebut untuk keluar.
"Permisi tuan" ucapnya dengan sopan
Setelah penata rias tersebut keluar, azka masuk ke dalam ruangan tersebut dan tak lupa untuk menutup pintu. Sstelah pintu tertutup rapat, azka mengapit dagu alya menggunakan tangannya hingga sang empu meringis kesakitan.
"Jangan tunjukkan kesedihanmu didepan umum, atau kau akan merasakan akibatnya" ucapnya dengan penuh penekanan di setiap kata katanya
"S- sakit" ucapnya meringis seraya memegangi tangan azka yang mengapit dagunya
"Setelah kita menikah kau akan merasakan sakit yang lebih dari ini" ucapnya lagi
Azka menghempaskan wajah alya dan meninggalkannya begitu saja. Alya menghapus air matanya dan mencoba untuk tersenyum. Tak lama kemudian, penata rias tersebut masuk dan mulai meris wajah alya lagi. Tak lama kemudian, alya turun dituntun oleh sang penata rias tersebut. Acara pernikahan mereka tidak ramai. Hanya dikunjungi oleh beberapa orang saja, itupun orang bayaran. Saat alya menuruni tangga, banyak pasang mata yang memandang kagum padanya. Setelah sampai di bawah, alya didudukkan di samping azka. Azka menjabat tangan penghulu dan acara ijab qobul akan segera di mulai.
"Saya nikahkan engkau, Azka Anggara Pradipta Wijaya bin Wiranto Wijaya dengan Alya Azzahra Kusuma binti Dewa Kusuma dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai" ucap penghulu tegas
Azka menarik nafas dalam sebelum mengucapkan ijab qobul dan...
"Saya terima nikah dan kawinnya Alya Azzahra Kusuma binti Dewa Kusuma dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai" ucap azka dengan satu tarikan nafas
"Bagaimana para saksi? sah?" tanya penghulu
"SAH!!!!" jawab para saksi serempak
"Alhamdulillah" ucap penghulu yang kemudian membacakan doa
"Bereskan ini semua. CEPAT!!!" ucap azka
"I- iya mas"jawab alya
Azka mengapit dagu alya dengan kuat hingga sang empu meringis kesakitan.
"Apa kau bilang?" tanya azka
"M-mas"jawabnya gugup
"Jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu lagi. Kau tak lebih dari seorang pelayan di rumah ini. APA KAU MENGERTI!!!!" bentak azka
"Me-mengerti tu-tuan" jawab alya
"Baguslah" ucapnya dengan senyum menyeringai
"CEPAT BERESKAN!!!" hardik azka
"B-baik tuan" ucap alya tertatih tatih
Alya mulai membereskan ruangan yang sedikit kotor itu. Tak butuh waktu lama, akhirnya pekerjaannya selesai. Alya memasuki kamar barunya. Ruangannya tidak begitu lebar namun cukup nyaman. Alya mulai membereskan barang barangnya. Setelah selesai, alya mengganti pakaiannya menjadi pakaian sehari hari. Setelah itu, alya merebahkan dirinya di kasur. Tak butuh waktu lama, alya sudah tenggelam dalam mimpi indahnya.
"ALYA!!!" suara bariton itu menggema memenuhi seluruh ruangan
Alya terkesiap di dalam kamarnya. Dirinya bergegas menemui azka yang sudah murka.
"I- iya tuan" jawabnya setelah menemui azka. Azka menjambak rambut alya dengan sangat kuat hingga membuat alya menangis.
"S-sakit tu-tuan" ucapnya lirih
"Dari mana aja kamu? Kenapa baru datang? Hmm?" ucapnya semakin menguatkan jambakannya
"M-maafkan aku t-tuan" ucapnya memelas
"Buatkan aku sarapan. CEPAT!!!"ucapnya seraya menghempaskan tubuh alya ke lantai
Alya segera bangkit dan berjalan ke arah dapur. Walaupun kepalanya masih terasa sakit dirinya berusaha untuk terlihat kuat. Alya mengambil sayur yang ada di dalam kulkas dan mulai berkutat dengan alat dapur