
Setelah sekian lama menunggu, pintu ruangan itu akhirnya terbuka dan menampakkan dokter yang akan menjelaskan beberapa hal kepada azka. Belum sempat azka bertanya bagaimana keadaan alya dokter tersebut sudah lebih dulu mengajaknya ke ruangannya. Setelah sampai ke ruangannya dokter tersebut mempersilahkan azka untuk duduk.
"Silahkan duduk dulu tuan" ucapnya seraya mengulurkan tangannya mempersilahkan untuk duduk. Azka menurutinya
"Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya azka dengan raut wajah sedikit panik. Ingat hanya sedikit
"Ada beberapa hal yang ingi saya sampaikan kepada tuan mengenai pasien tetapi apakah saya boleh tau anda siapanya gadis itu?" Tanya sang dokter
"Sa-saya saya temannya dokter" ucapnya bohong
"Baiklah sepertinya teman anda mengalami depresi dan trauma yang cukup berat. Saya harap agar jangan terlalu kasar saat berbicara dengannya. Dan juga jangan terlalu kasar dalam perbuatan karena itu akan membuatnya semakin tertekan. Dan satu hal lagi sepertinya teman anda sangat kelelahan. Teman anda butuh istirahat yang cukup. Jangan biarkan dirinya bekerja terlalu keras dan jangan lupa untuk membeli vitamin untuknya. Saya sudah menuliskan vitamin dan obat yang perlu dibeli dan anda dapat menebusnya di apotek" ucapnya panjang lebar
"Baiklah dokter " ucapnya seraya mengambil kertas yang diberikan oleh dokter tadi "apakah saya bisa menemuinya?" Sambungnya
"Bisa tuan, tapi saya harap agar anda tidak menimbulkan suara yang dapat mengganggu ketenangannya" ucap dokter tersebut
"Saya permisi" ucap azka seraya beranjak berdiri dari duduknya.
"Silahkan tuan" ucap dokter tersebut
Azka menelfon seseorang dan tak lama kemudian orang itu muncul dihadapannya. Yang ditelfon bukan hantu loh ya yang tiba tiba bisa muncul.
"Tebus obat ini di apotek" ucapnya kepada orang tersebut
"Baik tuan" ucapnya seraya menerima kertas yang diberikan oleh azka
Setelah orang itu pergi, azka melangkahkan kakinya menuju ruangan alya. Terlihat seorang gadis yang tengah tertidur lelap dengan wajah damainya. Azka mendekat dan duduk di kursi sebelah brankar. Azka menatap wajah alya lekat lekat. Wajah alya mengingatkannya akan ibunya. Wanita yang sangat dirindukannya. Wajah yang putih bersih tanpa jerawat, hidung mancung, bibir mungil, dan alis yang sedikit tebal membuatnya terlihat sempurna bak dewi yunani. Namun satu hal yang sangat disayangkan adalah, alya adalah musuh berat azka. Tangan azka tergerak untuk menyentuh tangan halus nan lembut milik alya. Ada desiran halus saat tangannya bersentuhan dengan tangan alya. Baru saja dirinya hanyut dengan fikirannya yang mulai terisi oleh alya, bayang bayang buruk melintas fikirannya. Dimana saat orangtuanya meregang nyawa saat dirinya masih balita. Mata yang memancarkan keteduhan itu kini berubah menjadi mata yang memancarkan kemarahan. Azka melepaskan genggamannya dari tangan alya dan mulai beranjak dari duduknya. Saat azka membuka pintu ruangan alya, orang suruhannya sudah berada di depan pintu.
"Permisi tuan, ini obat dan vitamin yang sudah saya tebus di apotek" ucapnya seraya menyerahkan beberapa obat dan vitamin kepada azka
"Letakkan di atas meja" ucapnya dingin
Azka berjalan menuju parkir untuk mengambil mobilnya dan setelah itu dirinya mengendarai mobilnya dan melesat pergi ke kantor. Sesampainya dikantor dirinya mendapat sambutan dari para karyawannya.
"Selamat pagi pak" ucap salah satu karyawan wanita
"Hmm" jawab azka dengan memasang wajah datarnya
"Apa kau kemarin menghabisi nyawa seseorang?" Tanya azka to the point
"Hampir tuan" ucapnya santai
"Siapa orang itu?" Tanya azka semakin penasaran karena jarang jarang seorang dave mau berkelahi
"Preman jalanan tuan" jawabnya jujur
"Jika kau inhin berkelahi setidaknya carilah lawan yang sepadan denganmu" ucap azka menasehati
"Mereka yang lebih dulu mencari masalah" jawabnya lagi
"Apa mereka merampokmu?" Tanya azka lagi
"Tidak tuan" jawabnya lagi
"Lalu?" Tanya azka
"Aku menyelamatkan seorang wanita yang hampir saja mereka perk*s*" jawabnya dengan sangat jujur
"Seorang wanita? Jarang jarang seorang dave peduli kepada seorang wanita" ucapnya yang secara tak langsung menyindir dirinya sendiri
"Dan apakah wanita itu yang mengobati lukamu?" Tanya azka
"Benar tuan" jawabnya lagi seraya mangut mangut
"Apa saja jadwalku hari ini?" Tanya azka
"Hari ini anda akan ada pertemuan dengan tuan Burhan Atmaja di salah satu restoran yang berada tidak jauh dari kantor pukul 9 pagi dan setelah itu akan ada rapat dengan beberapa pengusaha pukul 12 siang. Itu adalah jadwal hari ini tuan" ucapnya dengan jelas
"Baiklah" ucapnya seraya kembali memfokuskan pandangannya ke arah laptop
"Saya permisi tuan" ucap dave mengundurkan diri
"Hmm" jawab azka