
Sinar matahari pagi menembus kaca jendela kamar azka. Seorang pria yang masih berada di bawah selimut mengeliat dan mulai membuka matanya perlahan. Azka mulai mengerjapkan matanya dan bergegas turun dari kasur king size miliknya. Azka menyibakkan horden kamarnya dan menikmati udara pagi. Baru beberapa saat dirinya menikmati udara pagi tiba tiba fikirannya tertuju pada alya. Apa wanita itu baik baik saja? Apa dia kedinginan? Apa dia sakit? Namun azka segera menepis semua fikiran itu. Dirinya tidak ingin terlihat peduli pada gadis itu. Karena gadis itu adalah penyebab kematian kedua orang tuanya yang berarti bahwa gadis itu adalah musuhnya, ingat musuhnya. Azka bergegas mandi dan setelah itu pergi ke gudang untuk menemui alya. Azka membuka pintu gudang dan terlihatlah seorang wanita yang tengah memakai dress berwarna cream tengah meringkuk di lantai. Sejujurnya hatinya iba melihat gadis itu dengan kondisinya yang seperti ini namun azka segera menepis semua fikiran itu.
"Bangun lah siapkan sarapan untukku" ucapnya dengan suara beratnya
"APA KAU TIDAK DENGAR APA YANG AKU KATAKAN? HAH?!!!" Bentaknya hingga memenuhi seluruh ruangan. Alya terperanjat dan langsung berdiri kala mendengar suara bentakan milik azka.
"B-baiklah t-tuan" ucapnya dengan suara yang sangat pelan dan gemetar
Alya berjalan ke arah dapur dengan langkah lemas. Jujur saja dirinya lapar bahkan sangat lapar karena sejak kemarin dirinya tidak makan sama sekali. Kepalanya terasa sangat berat dan pusing. Sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah dan bahkan darah itu sudah mengering.
"Kamu kuat alya kamu pasti bisa" ucapnya menyemangati dirinya sendiri
Azka mengambil beberapa sayur yang ada di kulkas dan mulai memasaknya seperti biasa. Tak butuh waktu lama, akhirnya alya selesai dengan acara masaknya. Hari ini alya masak udang cap cai spesial. Dirinya berdoa agar kali ini masakannya tidak salah lagi di lidah suaminya- ralat tuannya. Alya menghidangkan sayuran itu dihadapan azka dan mulai menyajikannya bersama nasi. Apya menyajikannya di hadapan azka. Azka mulai mencicipi masakan alya dengan menyendokkan satu suapan ke mulutnya. Tak dapat dipungkiri bahwa masakan alya sangat lezat, hanya saja azka tidak mau mengakuinya. Dirinya terlalu gengsi hanya sekedar untuk mengatakan bahwa masakannya enak.
"Ambilkan jas kerjaku dan juga pasangkan dasi ku" ucapnya sambil mengunyah makanan
"B-baiklah tuan" jawab alya
Alya mulai menaiki tangga untuk menuju kamar azka. Pangkah kakinya terasa sangat berat bahkan hanya untuk melangkahkan kaki saja dirinya tidak mampu, namun alya tetap mepangkahkan kakinya menuju kamar azka dan menyemangati dirinya.
Suara knop pintu terbuka dan menampakkan ruangan kamar yang sangat sangat luas. Nuansa kamar yang begitu indah ditambah lagi dengan tatanan benda benda disana yang terlihat begitu rapi dan tersusun. Alya mulai membuka lemari azka dan mencari jas kerja untuk azka dan tak lupa dasinya. Setelah selesai alya berniat untuk turun menemui azka namun kepalanya terasa sangat pusing dan pangkah kakinya semakin berat. Alya mencoba berdiri dengan berpegangan pada meja nakas. Namun sayangnya kakinya tidak bisa menopang tubuhnya dan...
BRUKKK!!
Alya terjatuh ke lantai dengan pelipis yang sedikit mengeluarkan darah akibat tergores sudut meja nakas. Sementara azka yang sudah menunggu alya sejak tadi mulai emosi karena alya tak kunjung datang.
"APA KAU TIDAK BISA CEPAT?!!!" Bentaknya dengan suara yang memenuhi seluruh ruangan
Azka semakin tersulut emosi kala tidak ada jawaban sama sekali. Azka menaiki tangga dengan amarah yang berapi api. Berani sekali alya membuatnya terlambat ke kantor.
BRAKKKK!!!!!!!
Azka menendang pintu kamarnya hingga menimbulkan suara yang nyaring. Matanya menyapu seluruh ruangan dan terjatuh pada lantai dekat nakas. Alya pingsan. Azka yang berniat marah marah mengurungkan niatnya dan mulai mendekati alya. Azka sedikit berjongkok dan menepuk pelan pipi alya.
"Alya, heyyy apa kau tidak mendengarku?" Tanyanya dengan nada yang pelan seraya menepuk pelan pipi mulus alya
Namun tetap tak ada jawaban. Azka merasakan panasnya pipi alya saat dirinya menyentuhnya tadi. Azka beralih menempelkan punggung tangannya pada kening alya. Dan benar saja ternyata alya demam. Azka membopong tubuh alya dan membawanya ke rumah sakit. Tak lama kemudian azka sudah sampai di rumah sakit dan dengan segera membawa alya ke dalam. Suster yang melihat hal itu pun langsung membawakan brankar pasien untuk azka. Azka dengan segera meletakkan alya ke atas brankar pasien dan mengikuti suster namun sayangnya dirinya tidak diperbolehkan masuk ke ruang ICU. Azka menunggu dokter memeriksa keadaan alya. Entah mengapa dirinya merasa sesak saat melihat alya sakit seperti tadi. Ada apa dengan perasaannya? Mengapa dirinya menjadi peduli ssperti ini? Apakah dirinya mulai mencintai alya? TIDAK sampai kapanpun sepertinya azka tidak akan pernah berubah. Mereka hanya sebatas musuh. Ingat hanya sebatas musuh tidak lebih!