
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, namun azka masih sibuk dengan laptop yang ada di hadapannya. Baginya, pekerjaan lebih penting daripada apapun. Hingga suara ketukan pintu mengalihkan atensinya.
TOK... TOK... TOK...
"Masuk" ucapnya kepada orang yang ada di luar ruangan
Tak lama kemudian orang yang ada di luar ruangan tersebut masuk. Dave, orang itu adalah dave.
"Permisi tuan, ini berkas yang sudah saya kerjakan" ucapnya seraya menyerahkan beberapa berkas yang ada di tangannya
"Hmm" ucapnya tanpa melihat dave
"Saya permisi tuan?" Ucap dave pamit
"Apa kau sudah mengerjakan apa yang aku perintahkan tadi?" Tanya azka yang membuat dave berbalik menatapnya
Dave mengerutkan keningnya pertanda bingung. Hingga sepersekian detik kemudian, dave baru ingat apa yang telah diperintahkan tuannya.
"Sudah tuan, saya sudah mengerjakannya"Jawab dave
"Pastikan jika dia baik baik saja" ucapnya lagi
"Baik tuan" ucap dave patuh
"Saya permisi" ucapnya seraya menunduk patuh
"Hmm" ucap azka sedikit mengangguk
**************
Sementara di rumah sakit, alya terlihat tengah melamun menatap jendela dan memperhatikan suasana malam.
"Apa aku tidak diizinkan untuk bahagia?" Tanyanya lagi
"Apakah takdirku akan terus seperti ini?"
"Kau telah mengambil ibuku sebelum aku melihatnya dan merasakan kasih sayangnya" ucapnya seraya membendung air matanya
"Kau juga mengambil ayahku saat aku masih membutuhkan kasih sayangnya" ucapnya seraya menghapus air mata yang keluar dari pelupuk matanya
"Dan sekarang... kau menghadirkan seseorang yang aku kira akan membawa bahagia untukku, namun ternyata dia hanya bagian dari lukaku" ucapnya seraya tersenyum miris
Semua ucapan alya tak luput dari pendengaran sessorang yang kini tengah menguping ucapan alya. Orang itu berada tak jauh dari ruangan alya sehingga dirinya bisa mendengar suara alya walaupun samar samar. Orang itu memakai hoodie hitam dan masker hitam agar tidak ada orang yang bisa mengenalinya dan melihat wajahnya. Saat mendengar isi hati alya tadi, orang tersebut tersenyum smirk yang terhalang oleh masker. Setelah puas memandangi alya, dirinya pergi menjauh dari area rumah sakit dan pergi entah kemana. Saat alya tengah sibuk menatap kesunyian malam, tiba tiba pintu ruangannya terbuka dan ternyata yang membukanya adalah seorang suster.
"Permisi nona, saya ingin menutup tirai jendela" ucap suster tersebut
"Baiklah" ucap alya seraya tersenyum lembut, sangat lembut hingga membuat siapa saja yang melihatnya akan meleleh
Suster tersebut mendorong kursi roda yang ditumpangi alya menuju brankarnya. Memang tadi alya meminta untuk keluar sebentar karena dirinya merasa bosan terus menerus ada di dalam ruangan. Suster tersebut menuntun alya agar berbaring di brankar.
Alya menutup matanya perlahan dan dalam hitungan detik dirinya sudah terbang ke alam mimpi.
...****************...
Azka tengah mengendarai mobil sportnya menuju mansion miliknya. Tak butuh waktu lama, akhirnya dirinya telah sampai di mansion miliknya. Dirinya membuka pintu mansion tersebut dan langsung masuk ke dalam. Dirinya menatap sekeliling. Rasanya ada yang hilang saat dirinya menatap kedalam ruangan yang kosong. Bukankah biasanya sepi? Dan bukankah dirinya sudah terbiasa dengan kesepian? Ada apa dengan dirinya? Apakah dirinya tengah merindukan kehadiran seseorang? Ah, sepertinya begitu.
Dirinya berjalan menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya. Sebelum itu, dirinya sempat melirik ke arah dapur sekilas. Dirinya merasa rumah ini sepi tanpa adanya kehadiran alya. Tapi dengan cepat dirinya menepis semua perasaan itu. Azka kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Setelah sampai di kamar miliknya, azka langsung merebahkan tubuhnya di kasur king size miliknya. Dirinya mulai memejamkan mata, namun sialnya dirinya malah teringat bayang bayang alya.
"Arghhh!!!!!" Azka mengacak rambutnya frustasi, saat ini dirinya benar benar butuh ketenangan.
Dirinya berjalan gontai ke arah kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, azka duduk di balkon kamarnya dan memandangi langit malam yang begitu tenang. Dirinya menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya. Dirinya kembali teringat akan perbuatannya pada alya tempo lalu. Namun disaat dirinya mulai memiliki setitik rasa kasihan, entah mengapa egonya selalu menentangnya dan mengatakan untuk tidak mengasihani alya. Ah entahlah. Dirinya juga tengah bingung dengan isi hatinya saat ini. Padahal baru beberapa hari alya tidak berada di rumah dirinya sudah merasakan kesepian. Lalu bagaimana jika alya tidak ada di sisinya lagi? Mungkinkah dirinya akan merasakan hal yang sama? Ataukah dirinya akan mengalami frustasi?