
Azka melirik jam tangannya sejenak dan melihat angka yang ditunjukkan jam tersebut. Sekarang sudah pukul 12:05, dan azka baru ingat jika dirinya hari ini akan mengadakan rapat bersama beberapa pengusaha.
"Aku pergi dulu, nanti kalo aku balik lagi kamu harus udah sadar, oky? Kamu janji ya sama aku" ucapnya seraya mengecup kening alya singkat
Kini azka sudah sampai di kantor. Jam sudah menunjukkan pukul 12:35 dan dirinya terlambat, sangat terlambat. Pintu ruangan rapat terbuka dan menampakkan sosok azka dengan wajah datarnya. Dirinya memasuki ruangannya dan berdiri di meja paling depan seraya memimpin rapat.
"Saya mohon maaf karena terlambat menghadiri rapat hari ini" ucapnya seraya menatap seluruh rekan bisnisnya
"Tidak apa apa tuan, kami memakluminya" ucap salah seorang rekan bisnis azka
Rapat pun di mulai. Membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk rapat hari ini katena lumayan banyak yang mereka bahas. Tanpa terasa rapat telah selesai. Setelah rapat berakhir azka keluar ruang rapat dengan hormat dan pergi ke ruangannya. Dirinya mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya. Azka masih fokus menatap laptop miliknya, tiba tiba handponenya berdering. Azka melirik sekilas nama orang yang menelfonnya setelah itu dirinya mengangkat telfonnya.
"Ada apa?"tanya azka pada orang yang ada di seberang sana
"......"
"Baiklah, aku akan kesana sekarang juga" ucapnya seraya mematikan telfon sepihak
Setelah mendapat telfon dari orang tersebut, azka beranjak pergi ke tempat tujuannya saat ini. Rumah sakit. Ya, azka tadi ditelfon oleh bodyguardnya karena alya sudah sadar dari tidurnya. Azka memang membuat penjagaan khusus untuk alya, bukan karena perasaannya telah berubah haluan melainkan karena dirinya takut jika alya melarikan diri dan dendamnya belum terbalaskan. Ingat, azka masih dendam terhadap alya dan dirinya akan membalaskan dendamnya kepada alya, secepatnya. Tak terasa azka sudah sampai di rumah sakit tempat alya dirawat. Azka berjalan dengan santai di rooftop rumah sakit. Setelah sampai di depan ruangan alya, dirinya berhenti sejenak sebelum masuk ke dalam. Dirinya menetralkan jantungnya yang sepertinya sedang tidak aman. Setelah selesai, azka membuka pintu ruangan alya dan menampakkan seorang wanita yang tengah dirindukannya selama ini- sedikit rindu maksudnya. Ingat hanya sedikit. Alya yang baru saja menyadari azka ada di sampingnya terkesiap dan menjadi gugup.
"T-tu-tuan sejak k-kapan tu-tuan a-ada di-disini?" Tanya alya terbata karena merasa takut terhadap azka
"Apa kau tidak ingat perintahku?" Tanya azka seraya memasang wajah datar miliknya. Alya semakin dibuat takut dan gemetar kala mendengar suara derap langkah kaki azka yang semakin mendekatinya. Azka mengangkat dagu alya hingga sang empu mendongakkan kepalanya dan manik mata mereka bertemu. Cukup lama mereka berpandangan hingga azka memutuskan kontak mata mereka.
"Ekhem..." azka mencoba untuk menetralkan detak jantungnya saat ini.
"Apa kau masih ingat? hmm?" Tanya azka sekali lagi
"T-tidak tuan" jawab alya pelan sangat pelan namun azka masih bisa mendengarnya
"tatap mataku ketika sedang berbicara padaku. Apa kau lupa?" tanyanya seraya menatap mata hitam legam milik alya
"I-iya tuan" ucapnya seraya menatap manik cokelat milik azka
Beberapa saat kemudian pintu ruangan alya terbuka dan menampakkan seorang dokter dan dua orang suster di belakang dokter tersebut.
"permisi tuan, saya ingin memeriksa keadaan pasien" ucap dokter tersebut kepada azka yang hanya diangguki oleh azka
"permisi nona, apakah anda bisa berbaring sejenak?" tanya dokter tersebut pada alya. Alya hanya mengangguki ucapan dokter tersebut dan berbaring di brankar. Dokter tersebut memakai stetoskop yang ada di kantung bajunya dan meletakkan bagian earpieces di telinganya dan metakkan bagian diapraghm di dada alya. Setelah selesai memeriksa keadaan alya, dokter tersebut tersenyum seraya menatap azka.
"keadaannya sudah semakin membaik" ucap sang dokter
"kapan dia bisa pulang?" tanya azka kepada dokter tersebut
"kemungkinan besok sudah bisa pulang" jawab sang dokter
"apakah ada yang ingin anda tanyakan lagi tuan?" tanya dokter itu
"tidak ada" jawab azka
"baiklah jika begitu, kami permisi" ucap dokter tersebut berpamitan dan lagi lagi hanya dibalas anggukan kecil oleh azka
Azka menatap alya sekilas dan mencengkram dagunya kuat hingga sang empu meringis kesakitan.
"s-sakit t-tuan" ucapnya seraya memegangi tangan azka dan berusaha melepaskan cengkraman tangan azka
"aku. tidak. ingin. melihatmu. sakit. lagi. karena. aku. ingin. membuatmu. merasakn. sakit. yang. selama. ini. aku. rasakan. APA KAU MENGERTI!!!!" bentak azka penuh penekanan
"a-aku mengerti" ucapnya terbata bata diiringi dengan air matanya yang mengalir semakin deras
Azka menghempaskan wajah alya kasar hingga alya tertoleh ke samping. Sementara itu, dari kejauhan ada sepasang mata yang tengah memperhatikan kegiatan mereka berdua. Orang itu tersenyum kala melihat perlakuan kasar azka terhadap alya. Saat orang itu melihat azka hendak keluar ruangan, orang itu buru buru pergi dari sana. lebih tepatnya tempat persembunyiannya.
"nikmatilah permainanku" ucapnya seraya tersenyum smirk dan berlalu pergi meninggalkan area rumah sakit
Azka kembali ke kantor karena merasa muak berada di dekat alya. aneh bukan? disaat alya tidak sadarkan diri, dirinya menginginkan alya untuk sadar, disaat alya sudah sadar dirinya malah membencinya. sebenarnya apa yang diinginkan azka? ah sudah lah. gausah difikirin ygy🤣. Saat ini azka sudah berada di kantornya bahkan dirinya sudah ada di ruangannya. Dirinya duduk di kursi kebesarannya dan kembali fokus dengan laptop miliknya.