
Tubuh dave ditahan oleh dua orang preman, salah seorang menahannya kemudian salah seorang lagi menghajarnya habis habisan. Darah segar mengucur deras dari hidungnya wajahnya sudah babak belur. Namun diam bukan berarti kalah. Dengan sekali sentakan dave terlepas dari tahanan salah seorang preman tersebut. Dirinya dengan cepat menghajar mereka satu persatu termasuk seorang preman yang menahan nina tadi. Dirinya tidak berhenti menendang dan menghajar mereka hingga suara sessorang menghentikannya.
"Stop... aku takut hiks..." ucapnya lirih seraya memegang lengan dave
Dave berhenti nelakukan aksinya dan menatap wanita yang ditolongnya ini, nina. Dave menatapnya lekat dan terlihat tatapan takut dari mata indah wanita tersebut. Tak butuh waktu lama dave memeluk nina dengan erat seakan takut kehilangan. Dave mengusap pucuk kepala nina dengan sayang. Kemudian menuntunnya masuk ke dalam mobilnya.
"Dimana rumahmu?" Tanyanya dengan wajah datarnya
"Di gang melati" jawab nina
Dave melajukan mobilnya menuju tempat yang dikatakan oleh nina tadi. Tidak ada percakapan selama di dalam mobil, mereka tengah bergelut dengan fikiran mereka masing masing. Tak lama kemudian, mereka telah sampai di depan rumah nina. Rumah sederhana namun indah dipandang. Pekarangan yang tidak terlalu luas namun dipenuhi oleh berbagai jenis bunga membuat indah dipandang mata.
"Lo luka luka, gue obatin ya" ucap nina menawarkan diri
"Gue bisa obatin sendiri" ucap dave dingin
"Lo kan udah nolongin gue sebagai ucapan terimakasih gue mau obatin lo. Mau ya biar gue gak merasa bersalah" ucapnya seraya memegang pergelangan tangan dave
Dave melirik sekilas tangan nina yang menyentuh tangannya. Baru kali ini ada wanita yang berani menyentuhnya selain ibunya.
"Baiklah" ucapnya masih dengan wajah datarnya
"Yaudah ayo masuk" ucapnya seraya membuka pintu mobil
Nina membuka pintu rumah dan memasukinya. Nina mencari kotak P3K di dalam kamar dan membawanya ke teras. Nina membuka kotak P3K tersebut menuangkan cairan betadine ke kapas. Nina mengoleskan kapas tersebut ke tangan dave yang terluka. Tak lupa dirinya memberikan plaster ke tangan dave. Sentuhan lembut yang diberikan nina membuat dave teringat akan seseorang. Ibunya, sentuhan lembut ini sama seperti sentuhan ibunya. Mata dave tak berkedip saat memandang wajah nina. Cantik, satu kata itu dapat menggambarkan arti tatapan dave kepada nina saat ini. Kulit putih bersih dengan rambut berwarna kecoklatan sebahu yang dibiarkan terurai semakin membuatnya terlihat cantik. Tak terasa nina sudah selesai mengobati luka dave. Pandangan mereka bertemu sesaat, ingat hanya sesaat kemudian nina memutuskan pandangannya diikuti oleh dave yang terkesiap karena mendapat tatapan itu dari nina.
"Makasih ya udah nolongin gue" ucapnya tulus
"Hmm" jawabnya datar
"Kenalin, gue nina" ucapnya seraya mengulurkan tangannya dan tersenyum manis menatap dave
"Dave" jawabnya singkat tanpa membalas uluran tangan nina
"Bilang apa barusan?" Tanyanya dengan tatapan mengintimidasi
"Eng-engga ada aku ga ngomong apa apa kok" jawabnya mengelak
"Gue pulang dulu, hati hati di rumah. Lo sendirian?" Tanya dave
"I-iya" jawabnya
"Jangan lupa ngunci pintu kalo mau tidur. Jangan pernah buka pintu kalo ada yang ngetuk pintu tengah malem. Kalo pulang malam jangan sendirian" ucapnya seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Iya iya" ucap nina
"Jangan lupa" peringatnya lagi
"Iya iya ribet amat kayak paksu aja deh" ucapnya tanpa menghiraukan tatapan dave
"Yaudah buruan pulang" ucap nina
"Ngusir?" Tanyanya dengan nada dingin
"Eng-engga gitu maksudnya gue takut kalo warga sekitar sini salah faham. Gue kan tinggal sendiri mana lo cowok lagi kalo orang sini ngeliat kita berduaan entar takutnya jadi salah faham lagi" jawabnya takut takut
"Hmm" jawabnya seraya berbalik meninggalkan nina dan pergi menuju mobil. Dave tersenyum kala mendengar jawaban nina. Ternyata masih ada wanita yang benar benar menjaga kehormatannya di zaman sekarang. Dave melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah nina. Nina mengambil kotak P3K yang berada di atas meja dan membawanya masuk. Setelah itu dirinya mengunci pintu dan jendela seperti yang dikatakan oleh dave tadi. Nina merebahkan tubuhnya di kasur. Nina tersenyum kala mengingat dave yang menyelamatkannya dari hadangan para preman tadi.
"Astagfirullah nggak boleh nggak boleh nggak boleh baper pokoknya nggak boleh" ucapnya seraya menggelengkan kepalanya kuat
"Huh... andai aja ada alya pasti gue udah bahagia banget, bisa curhat, tidur bareng, ngedrakor bareng, jadi kangen al..." ucapnya lirih
Nina mengambil bingkai kecil di dalam lemari. Dirinya melihat fotonya dan foto alya, disana mereka terlihat bahagia. Nina memeluk foto tersebut.