My little angel

My little angel
17. PERTEMUAN



Azka melirik jam rolex yang bertengger manis dipergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 08:45 yang artinya sebentar lagi dirinya akan ada pertemuan dengan salah satu rekan bisnisnya. Azka beranjak dari duduknya dan memakai jasnya kembali. Dirinya keluar ruangan dan pergi menuju restoran yang dimaksud oleh dave tadi. Setelah sampai disana, dirinya disambut oleh salah satu pelayan dan diantarkan menuju mejanya.


"Mari ikut saya tuan" ucapnya seraya menunjukkan jalan kepada azka


Setah sampai di mejanya dirinya sedikit bingung karena rekan kerjanya tengah bersama seorang wanita. Dirinya duduk dengan santai di kursi yang telah ditujukan pelayan tadi


"Anda tidak pernah terlambat tuan" ucapnya seraya menjabat tangan azka


"Anda juga begitu" ucapnya seraya menerima uluran tangan burhan


"Apa yang ingin anda sampaikan tuan?" Tanya azka to the point


"Sebelumnya perkenalkan, dia adalah putriku" ucapnya seraya tersenyum manis kepada putrinya dan membelai lambut putrinya dengan sayang.


"Carissa" ucapnya seraya mengulurkan tangannya seraya tersenyum genit


"Azka" ucapnya seraya menerima uluran tangan carissa


"Aku ingin bertanya satu hal pada anda. Apakah anda sudah menikah?" Tanya burhan hati hati karena dia tahu bahwa lawan bicaranya saat ini adalah orang yang sangat sulit bila disinggung hal hal pribadi ssperti ini.


"Mengapa anda bertanya seperti itu?" Tanya azka seraya mengerutkan keningnya bingung


"Jika anda belum menikah saya berniat menawarkan putri semata wayang saya" ucapnya seraya menatap putrinya sekilas


"Menawarkan?" Tanyanya dengan alis sedikit ditekuk


"Ya, maksudku begini, anda memang belum berniat menikah saat ini, tetapi suatu saat nanti pasti anda akan menikah juga. Jadi sebelum anda mengenal wanita lain saya berniat untuk mendekatkan anda dengan putri saya" ucapnya kepada azka


"Anda berniat menjodohkan kami?" Tanyanya dengan nada mengintimidasi


"Y-ya... kurang lebih begitu" jawabnya kikuk


"Ya... maksudku begitu" ucapnya membenarkan ucapan putrinya


Azka sudah mulai jengah dengan topik pembicaraan mereka. Ia kira awalnya hanya akan membahas masalah tentang kantor tapi ternyata tentang hal ini.


"Apakah ada hal lain yang ingin anda bicarakan? Jika tidak ada maka aku permisi, ada hal lain yang harus aku kerjakan" ucapnya seraya melirik jam tangannya


"T-tapi tuan kita belum selesai membicarakan hal ini" ucapnya seraya mulai beranjak dari duduknya kala melihat azka yang meninggalkannya begitu saja. Azka seakan menulikan pendengarannya dan tetap berjalan tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.


Azka berniat pergi ke rumah sakit untuk menemui alya. Entah mengapa fikirannya saat ini tertuju pada alya. Hanya alya. Azka semakin mempercepat langkahnya menuju parkiran dan melesat pergi ke rumah sakit secepatnya. Setelah menempuh waktu yang cukup lama akhirnya azka sampai di rumah sakit. Azka bergegas pergi menuju ruang inap alya. Azka membuka pintu itu perlahan dan menampakkan seorang gadis yang tengah tertidur lelap. Jujur saja, azka merindukannya. Merindukan senyuman manisnya dan merindukan masakannya. Sebenarnya masakan alya lezat bahkan sangat lezat tetapi azka selalu menepis itu ssmua dan mengatakan bahwa masakannya tidak enak dan satu hal lagi dirinya ingin membalaskan dendamnya bukan untuk mengasihaninya jadi, sampai kapanpun kebencian akan selalu ada dalam dirinya saat melihat alya. Azka duduk di kursi samping brankar alya. Azka mengambil tangan alya perlahan dan mengecupnya singkat.


"Kapan kamu bangun? Hmm?" Tanyanya pada alya walaupun dirinya tau bahwa alya tidak akan menjawabnya


CEKLEK


Suara pintu ruangan terbuka dan menampakkan seorang dokter yang diikuti oleh dua orang suster di belakangnya. Dokter itu mendekat ke arah azka dan alya.


"Permisi tuan, kami akan memeriksa keadaannya" ucap dokter tersebut seraya memakai stetoskop tersebut ke telinganya dan mengarahkan stetoskop tersebut ke dada alya. Dokter tersebut tersenyum lalu melepaskan stetoskopnya dan menyimpannya di saku bajunya


"Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya azka penasaran


"Keadaannya semakin membaik, detak jantungnya juga sudah normal. Hanya menunggu pasien siuman saja" jawab sang dokter dengan jelas


"Kapan dia akan siuman dokter?" Tanya azka lagi


"Kemungkinan besok tuan tapi kami tidak tahu pasti" jawab dokter itu lagi


"Kami permisi tuan" ucap dokter tersebut seraya sedikit membungkukkan badan


"Baiklah" jawab azka seraya mengangguk singkat