
Alya meringis menahan sakit di dagunya yang rasanya ingin patah akibat cengkraman azka yang begitu kuat
"Kau seharusnya tau apa yang boleh dan tidak boleh aku makan!!!" Bentaknya tepat di hadapan alya. Azka menyeret alya tanpa memperdulikan tangisan dan ucapan mohon dari alya. Seakan dibutakan oleh amarah azka menyeretnya tanpa ampun. Sementara alya masih tetap menangis dan memohon kepada azka agar dilepaskan, namun sayangnya itu semua hanya dianggap angin lalu oleh azka. Azka menyeret alya hingga masuk ke dalam gudang dan menghempaskan tubuhnya ke lantai.
" kau tidak akan pernah bahagia bersamaku. Aku akan membuatmu berada di neraka. Karena apa? Karena kau adalah seorang pembunuh. KAU SEORANG PEMBUNUH!!! KAU ******!!! DASAR WANITA MURAHAN!!!" ucapnya seraya menjambak rambut alya kuat
"A-aku bukan pembunuh... hiks... m-maafkan aku... aku mohon" ucapnya seraya mengatupkan kedua telapak tangannya
PLAKKK
satu tamparan mendarat di pipi mulus milik alya. Sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah.Azka menghempaskan tubuh alya kelantai dan menutup pintu cukup kuat lalu tak lupa untuk menguncinya dari luar. Alya mencoba membuka pintu tersebut dengan menarik knop pintu itu namun sayangnya pintu itu telah terkunci. Alya menggedor pintu tersebut namun hasilnya nihil. Azka tidak akan pernah membuka pintu tersebut sebelum hatinya kembali membaik. Alya kembali menangis merasakan sakit disekujur tubuhnya.
"Hiks... alya kangen mama... hiks... alya juga hiks... kangen papa... alya mau hiks... ikut kalian hiks... alya ngga mau hiks... disini... tuhan cabut nyawa alya hiks... sekarang hiks..." alya meringkuk kedinginan di lantai, dirinya mulai memejamkan matanya seiring dengan tubuhnya yang mulai ambruk ke lantai
Azka kini berada di sebuah ruangan yang penuh dengan foto orang yang sangat dirindukannya selama bertahun tahun. Dirinya tengah fokus menatap satu foto seorang wanita muda yang tengah mengenakan dress putih selutut dengan rambut yang dibiarkan terurai begitu saja. Tak dapat dipungkiri bahwa kecantikannya bak dewi yunani. Manik mata hitam legam yang meneduhkan itu membuat siapa saja yang memandang akan terbuai dengan tatapannya. Wanita itu terlihat bahagia di foto itu. Wanita itu adalah Dania, ibu kandung azka. Wanita yang sangat sangat dirindukannya selama bertahun tahun. Tanpa disadari, air matanya mulai menetes saat menatap foto almarhumah ibunda tercintanya.
BRUK!!!!! PRANG!!!!!!!
Azka menghancurkan semua benda yang ada di hadapannya dengan membabi buta. Dirinya menonjok dinding dengan membabi buta hingga darah segar mengucur deras dari tangannya. Begitu juga dengan tembok dan lantai yang terkena tetesan darah azka.
"Bunda sama ayah tenang aja, azka akan balaskan dendam kalian" ucapnya diselingi senyuman smirk mengerikan
Dari kejauhan terlihat seorang pria paruh baya yang tengah mengamati kegiatannya. Pria itu tersenyum puas kala melihat azka yang frustasi dengan menghancurkan semua barang yang ada disana dengan membabi buta.
"Kau akan merasakan apa yang aku rasakan" ucapnya seraya menyesap rokok yang berada di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Setelah itu pria paruh baya itu pergi meninggalkan tempat persembunyiannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 22:30 yang berarti cafe star sudah tutup. Para pegawai cafe sudah kembali ke rumah masing masing, kecuali tiga manusia yang masih setia berada disana. Siapa lagi jika bukan Doni, Dina dan Nina. Mereka baru saja selesai membersihkan cafe dan disinilah mereka sekarang, duduk bertiga di salah satu kursi pelanggan.
"Apa yang mau kalian omongin?" Tanya Dion membuka suara
"Tadi kita ketemu sama alya di taman kota" jawab Nina seraya menatap Dion lekat
"SERIUS!!!!" jawab nina dan dina kompak
"Santai... santai..." ucapnya seraya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah tanda damai "terus gimana keadaan alya sekarang? Dia baik baik aja kan?" Sambungnya lagi
"I-iya sih dia baik baik aja tapi..." ucapan dina terjeda
"Tapi?" tanya dion meminta penjelasan
"Lo jangan kaget ya plis jangan kaget" ucap nina seraya menatapnya mewanti wanti
"Iya apaan? kenapa emangnya?" tanya dion lagi
"Alya udah nikah" ucap alya dengan lancar
DEG!!!
Tiga kata itu lolos begitu saja dari mulut nina dan membuat hati dion hancur berkeping keping. Bagaimana tidak sudah bertahun tahun dirinya menyimpan rasa untuk alya namun ternyata kenyataan pahit menghantamnya. Bukannya mendapat balasan atas perasaannya dirinya malah mendapatkan kenyataan pahit. Kobaran api kemarahan terpancar jelas dari matanya. Dirinya yang menunggu dan mendekatinya selama ini namun orang lain yang mendapatkannya.
"Dion... dion... woyy" ucap dina seraya melambai lambaikan tangannya di depan wajah dion
"I-iya" ucapnya terkesiap
"Lo denger gak sih apa yang kita omongin? orang dari tadi udah capek cerita eh lo malah bengong gak jelas. Lo denger gak?!!!" tanya nina galak
"I-iya gue denger" jawab dion
"Apa yang gue omongin coba ulangin"