
Alya terkejut saat mengetahui bahwa dirinya sedang berada di suatu ruangan yang sangat gelap dan berdebu. Tangan dan kakinya diikat. Serta banyak luka lecet di bagian kaki dan tangannya. Ia menangis dan memohon minta dilepaskan namun sayangnya tidak ada yang mau melepaskannya. Tak lama kemudian suara derap langkah kaki terdengar dari luar ruangan. Pintu pun terbuka dan menampakkan seseorang yang tidak asing bagi alya. Karena baru kemarin dirinya bertemu dengan orang itu.
"Tuan... aku mohon... lepaskan aku..." ucapnya memelas
"Melepaskanmu?" tanyanya
"Iya tuan... aku mohon... lepaskan aku..." ucapnya lagi
"TIDAK AKAN!!!" Ucap orang tersebut dengan lantang sehingga membuat alya terkejut
"Aku akan mengganti jasmu yang kotor, aku janji. Tapi aku mohon lepaskan aku" ucapnya memohon
"Mengganti jasku yang kotor?" tanyanya dengan wajah menyeringai
"I- iya tuan, aku berjanji akan mengganti jasmu yang kotor" jawabnya dengan wajah yang memelas
"Tapi sayangnya bukan jasku masalahnya" ucapnya dengan senyum devilnya
"Aku mohon... lepaskan aku... hiks... aku takut..." ucapannya semakin melemah
"Aku rasa kau harus tau apa penyebab aku membawamu kemari" ucapnya seraya menarik dagu alya agar dapat melihat wajahnya
"Penyebabnya dalah orangtuamu" ucapnya lagi dengan penuh penekanan
"O- orang tuaku?" tanyanya heran
"Ya, orangtuamu. Katena orang tuamu, aku harus menjadi anak yatim piatu disaat usiaku masi balita" ucapnya lagi
"M- maksudmu?" tanyanya yang masih tidak mengerti
"ORANGTUAMU TELAH MEMBUNUH KEDUA ORANGTUAKU!!!!" Bentaknya pada alya
"Ti- tidak... orangtuaku tidak mungkin melakukan hal itu... hiks... tidak mungkin.... hiks.... kau berbohong..." ucapnya
"Apa katamu? Aku berbohong?" Ucapnya seraya mencengkram dagu alya kuat "semua bukti telah tertuju pada orangtuamu dan kau bilang aku berbohong? Heh... kau akan merasakan apa yang aku rasakan selama ini" ucapnya seraya menghempaskan wajah alya
"Dua hari lagi aku akan menikahimu" ucapnya setelah berdiri
"Tidak... aku tidak mau... lepaskan aku... hiks... lepaskan aku... aku mohon..."
PLAK!!!!
Suara tamparan itu memenuhi seluruh ruangan. Para penjaga yang ada diluar ruangan tersebut hanya bisa menringis ngilu saat mendengarnya. Tuannya itu benar benar tidak pernah bermain main dengan ucapannya itu. Azka menghampiri alya dan menjambaknya dengan sangat kuat sehingga membuat sang empunya meringis kesakitan.
"L- lepaskan... s- sakit..." ucapnya lagi
"Kau akan merasakan sakit yang lebih dari ini" ucapnya dengan penuh penekanan
🥀\*\*\*\*\*\*\*\*\*🥀
Sementara di cafe, nina tampak melamun. Matanya yang sembab karena semalaman menangis membuat wajahnya yang awalnya ceria kini berubah menjadi lesu. Suara dina membuat nina terkejut dan membuyarkan lamunannya.
"Nina..." panggil dina seraya memegang bahu nina pelan
"Kok lo sedih gini? Alya mana? Biasanya kan kalian perginya bareng, kok lo sendirian? Lo lagi berantem sama alya? Kalian berantem lagi?" tanya dina penuh selidik
"Alya hilang... hiks...." seketika tangis nina pecah di pelukan dina
"YA AMPUN!!! Lo gak lagi becanda kan? Kok bisa sih?" tanya dina
"Kemarin waktu kita lagi jalan pulang, tiba tiba nina keinget sama handpone nina yang ketinggalan disini. Terus nina ambil hp nina dan ninggalin alya sendirian di tengah jalan. Terus waktu nina balik lagi alyanya udah gaada, hiks..." ucapnya panjang lebar
"Kamu gak nyoba buat nelfon alya?" tanya dina lagi
"Nina udah coba buat nelfon alya, tapi nomornya udah gak aktif mbak" ucap nina lagi
"Kita harus lapor ke polisi" ucap dina
"Lo yakin?" tanya nina seraya sesenggukan
"Yakin dong. Kita kan sahabatnya alya kita harus bantu alya" ucap dina
"Tapi... lo inget gak sih kejadian kemarin yang alya gak sengaja numpahin jus ke jasnya salah satu pelanggan yang ada di ruangan VIP?" tanyanya pada dina
"Iya inget, masih inget banget malah" ucap dina
"Apa jangan jangan..." ucapannya tergantung dan dirinya refleks melihat ke arah dina dan yang ditatap pun ikut menatapnya balik. Dina meminta penjelasan dari nina melalui sorot matanya
"Apa jangan jangan alya diculik sama orang suruhannya tuan azka" terkanya
"Kalo berurusan sama dia susah sih" ucap dina
"Terus kita harus gimana?" tanya nina
"Kita serahin ke dion aja deh, siapa tau urusannya bisa cepat selesai" jawab dina
"Dionnya mana?" tanya nina
"Dion lagi ada urusan sama temennya, nanti gue sampein sama dion. Semoga aja dia tau" ucap dina
"Makasih ya " ucap nina tulus. Dina hanya tersenyum menanggapi