My little angel

My little angel
6. PENYELIDIKAN



Sinar matahari pagi menembus kaca jendela dan membuat wanita yang ada di dalam sana mengerjapkan matanya secara perlahan. Alya mulai membuka matanya. Air mata kembali mengalir deras saat menyadari bajwa dirinya masih berada di tempat yang sama. Dirinya masih berharap bahwa ini semua hanya mimpi, namun sayangnya ini semua nyata. Alya menatap muak ke arah makanan dan minuman yang ada di hadapannya. Dirinya tidak berniat untuk makan, bahkan untuk menyentuhnya. Seluruh tubuhnya terasa sakit, kepalanya pusing, rambut yang acak acakan dan sudut bibir yang sedikit robek. Kini, sudah tidak ada lagi aura ceria yang terpancar di wajahnya. Suara derapan langkah kaki itu membuat alya semakin ketakutan. Hingga suara pintu terbuka dan menampakkan seorang pria yang sudah siap untuk menyakitinya. Pria itu adalah azka. Dirinya melihat makanan yang disediakan tidak tersentuh sedikitpun dan membuat amarahnya kembali. Dirinya berjongkok di hadapan alya dan menjambaknya hingga kepala alya mendongak menatapnya.


"Kenapa kau tidak memakan makanan yang sudah aku sediakan?" tanya azka. Bukannya menjawab alya malah tetap diam bahkan enggan untuk menjawab


"Apa kau bisu?" tanya azka yang nadanya mulai naik satu oktaf


"JAWAB AKU!!!!" bentaknya seraya menjambak rambut alya


"S- sakit" ucapnya parau


"Makan makanan yang sudah aku sediakan, karena aku tidak mau kau mati kelaparan dan usahaku selama ini sia sia" ucapnya dengan penuh penekanan


"B- baiklah"jawab alya


Azka melepaskan jambakannya dan mulai berdiri. Lalu dirinya melenggang pergi begitu saja tanpa menghiraukan alya yang tengah menangis.


"Hiks... hiks... apa salahku? Mama sama papa gak mungkin ngelakuin hal sejahat itu... hiks... mama sama papa orang baik... hiks..." ucapnya sambil menangis


🥀sementara di cafe🥀


Nina, Dion, dan Dina tampak lesu karena alya menghilang kemarin. Mereka berusaha untuk mencarinya namun tidak menemukan bukti apapun. Usaha mereka sia sia karena selama pencarian mereka tidak menemukan bukti apapun. Kini, mereka bertiga tengah duduk bersama di kursi dapur. Tidak ada yang membuka suara. Mereka bertengkar dengan fikiran mereka masing masing. Hingga nina mulai membuka suara dan memwcah keheningan.


"Terus sekarang gimana?" tanya nina


"Aku gak tau nin. Aku nyesel ga bisa ngejaga alya. Aku nyesel banget"jawabnya lesu


Nina beralih menatap Dina dan berharap akan ada jalan keluar dari pemikiran Dina.


"Aku juga gak tau nin" jawabnya lesu


"Kita juga udah berusaha semampu kita, tapi tetep gaada hasilnya" ucap Dion


Suasana kembali hening. Mereka bertiga kembali bergelut dengan fikiran mereka masing masing.


*************


Di kantor Wijaya Group azka tengah sibuk mengotak atik laptopnya. Dirinya tampak sangat sibuk. Banyak berkas berkas menumpuk di meja kerjanya. Namun dirinya tidak sendiri, ada Dave asistennya yang juga ikut membantunya. Dave adalah aisten pribadi azka sekaligus tangan kanan azka dalam segala hal. Baik itu urusan kantor maupunpribadi. Sikap mereka juga tidak jauh berbeda, alias sebelas dua belas. Tapi disini azka angka dua belasnya sedangkan dave angka sebelasnya. Hanya beda tipis. Sangat tipis. Suasana di dalam ruangan itu sangat hening. Tidak ada yang membuka suara satu sama lain. Mereka tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing. Hingga suara bariton milik azka memecah keheningan tersebut.


"Apa kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya azka tanpa mengalihkan pandangannya


"Baguslah, jangan sampai kekurangan apapun" ucap azka lagi


"Baik tuan" jawab dave


"Jangan sampai ada yang curiga atas hilangnya wanita itu" ucap azka


"Baik tuan, aku akan mengirimkan surat untuk temannya agar mereka tidak lagi mencarinya" ucap dave


"Baguslah, lakukan yang menurutmu benar" ucap azka


"Tapi tuan..." ucapannya terjeda sesaat


"Ada apa?" tanya azka yang mulai menghentikan kegiatannya


"Tidak, tidak jadi"jawab dave yang mengurungkan niatnya untuk mengutarakan kejanggalan hatinya


Azka mengerutkan keningnya. Tidak biasanya dave bertingkah seperti ini.


"Ada apa?" tanya azka sekali lagi


"Mohon maaf untuk sebelumnya" ucap dave


"Untuk?" tanya azka lagi, dirinya semakin dibuat bingung oleh sikap dave


"Aku rasa ada yang janggal dengan rekaman cctv itu" ucap dave jujur


"Janggal?" tanya azka


"Iya tuan, ada beberapa kejanggalan dalam rekaman itu" ucapnya


"Apa maksudmu? Tidak mungkin orang orangku salah. Apa kau meragukan mereka?" tanya azka


"Bukan begitu tuan" jawab dave


"Sudahlah, jangan berfikiran macam macam. Lakukan saja perintahku" ucapnya tegas


"Baik tuan" ucap dave