My little angel

My little angel
13. MALAM YANG MENCEKAM



"Apa yang gue omongin coba ulangin" ucapnya seraya menaik turunkan alisnya dan bersedekap dada


"Alya udah nikah kan?" Jawabnya entah itu pertanyaan atau jawaban


"Terus?" Tanya nina lagi


"Terus apaan?" Tanya dion seraya menekukkan alisnya sedikit


"Makannya kalo orang ngomong itu didengerin" ucap dina menimpali


"Sorry... terus gimana kelanjutannya?" Tanya dion penasaran


"Nah kan minta penjelasan juga ujung ujungnya, makannya dengerin kalo gue lagi ngomong bambang" ucap nina emosi "lo aja deh yang jelasin din" ucap nina kesal


"Yaudah, jadi tadi kan kita ketemu sama alya terus dia bilang kalo dia udah nikah dan ternyata semua atas dasar perjodohan almarhum dan almarhumah ortunya, alya nggak mungkin nolak karena itu permintaan orang tuanya untuk yang terakhir kalinya. Dan kalo gue liat alya bahagia sih sama suaminya soalnya suaminya orang baik baik. Dan sebelum pulang alya bilang kalo di bakalan dibawa pergi ke luar negri sama suaminya jadi jangan cariin dia lagi karena dia udah bahagia sama suaminya" ucap dina menjelaskan


"Perjodohan? Orang tuanya?" Tanya dion bingung


"Iya" jawab dina singkat


"Mana suaminya tajir lagi jadi pengen nikah deh gue" sambung nina seraya tersenyum


"Nikah mulu perasaan kagak ada yang laen apa difikiran lo?" Tanya dina kesal


"Udah malem ga baik lo pada kalo pulang kemaleman, lagian kan kalian cewek takutnya ada bahaya di jalan" ucap dion seraya bangkit dari duduknya


"Yaudah pulang yuk" ajak nina pada dina


"Ayok" ucap dina seraya memakai tas selempangnya


"Eh... btw lo pulang sama siapa?" Tanya dina pada dion


"Sendiri" jawabnya singkat


"Gue nebeng ya" ucap dina lagi seraya mengerjap ngerjapkan matanya


"Yaudah ayok, kalo lo sama gue nina sama siapa?" Tanya dion


"Gue sama kang ojek aja gapapa lo pulang aja berdua entar lagi ojek gue dateng kok" jawab nina


"Iya, hati hati lo jangan ngebut" ucap nina seraya melambaikan tangannya pada dina dan dion


Mobil yang ditumpangi dina dan dion sudah tidak terlihat lagi. Kini menyisakan nina yang tengah memesan taxi namun sayangnya handpone lowbat. Dirinya berdecak kesal karena disaat genting ssperti ini handponenya malah tidak berfungsi. Memang jarak antara cafe dan rumahnya tidak terlalu jauh tapi mengingat ini tengah malam ditambah lagi dirinya seorang wanita membuat fikirannya dipenuhi hal hal negatif.


"Huh... positif thinking aja nina nggak boleh negatifan nggak ada apa apa dijalan lo bakal selamat sampe rumah" ucapnya menyemangati dirinya sendiri. Nina berjalan dengan gugip karena dirinya merasa diikuti. Namun saat melihat kebelakang tidak ada siapa siapa. Nina semakin mempercepat langkahnya namun sayangnya langkahnya terhenti karena dihadang oleh seorang preman bertubuh besar.


"Mau kemena neng geulis? Udah malem kok masi berkeliaran sih?" Tanyanya seraya tersenyum mesum


"G-gue mau pulang mi-minggir" jawabnya dengan takut takut


"Santai aja kali neng" ucap salah seorang preman dari arah belakang seraya membelai rambut nina yang tergerai, namun nina dengan segera menepis tangan preman tersebut


"Apaan sih lo? Jangan macem macem lo ya atau-" ucapannya terjeda kala salah seorang preman datang dari arah samping dan memegang bahunya


"Atau apa neng?" tanya preman tersebut


"LEPASIN!!!" Ucapnya kala salah seorang preman mencengkram tangannya kuat


"Kayanya kita dapet barang bagus nih bos sabi kali" ucap preman tersebut


"LEPASIN!!! GUE BILANG LEPAS YA LEPAS!!! LO BUDEG!!!" teriaknya pada preman tersebut


PLAK!!!


satu tamparan mendarat mulus ke pipinya. Wajahnya tertoleh ke samping diiringi airmatanya yang lolos begitu saja.


"Lepasin... hiks..." ucapnya lemah


BUGH!!! BUGH!!! BUGH!!!


Ketiga preman tersebut tersungkur ke tanah karena tak siap menerima hantaman dari pria tersebut. Pria itu menatap nina sekilas kemudian menariknya masuk ke dalam mobil. Namun baru beberapa langkah, preman tersebut kembali menghantam pria tersebut dari belakang. Pria itu adalah Dave sekretaris sekaligus tangan kanan azka di kantor maupun segala hal. Dave membalikkan tubuhnya dan menahan tangan salah seorang preman yang akan menghajarnya. Dave menendang area terlarang preman tersebut hingga membuatnya kembali jatuh tersungkur. Dave mendekati preman itu kemudian menghajarnya habis habisan namun sayangnya dirinya melupakan nina yang tengah ditahan oleh dua orang preman lainnya.


"BERHENTI ATAU WANITA INI AKAN MATI!!!" gertaknya pada dave


Dave berbalik dan menemukan nina sudah ditahan oleh dua orang preman tersebut menggunakan tangan kanannya sementara tangan kirinya memegang pisau yang didekatkan ke leher nina. Air mata nina sudah tidak dapat terbendung lagi. Air matanya semakin mengucur deras. Dirinya merapalkan doa berkali kali dalam hatinya semoga saja dirinya tidak mati sia sia. Dave menggeram marah, dirinya mengepalkan kedua tangannya hingga buku buku jarinya terlihat. Salah seorang preman membantu temannya yang tersungkur agar berdiri kembali dan


HAP