My Life As New Person

My Life As New Person
bab 9, Senjata



Keesokan harinya aku Frisca dan Hera pergi menuju serikat petualang.


Di perjalanan menuju serikat kami sempat berbincang bincang hingga akhirnya rasa penasaran yang tak dapat dibendung oleh Hera tak dapat tertahan lagi hingga akhirnya ia pun mengutarakannya


"Oh iya sepertinya aku belum pernah bertanya namamu?" Ucap Hera


Frisca juga sependapat dengan Hera, walaupun Frisca sudah lama bersamaku tapi ia sama sekali belum mengetahui namaku


Mereka berjalan cepat didepan ku dan berhenti, lalu mereka membalikkan badannya dan menatap padaku dengan tajam


Aku melihat mereka berdua yang sangat penasaran membuat ku tak bisa menolaknya aku pun menjawab rasa penasaran mereka.


"Baiklah aku akan menjawabnya, tetapi berhentilah menatapku seperti itu, itu membuat ku tidak nyaman"


Mereka pun mengangguk menandakan mengerti, aku pun menghela nafas dan mulai menjawab pertanyaan mereka


"huuuuh, perkenalkan Namaku Valdois"


Setelah aku mengucapkan namaku situasi di sekitar menjadi hening, di sela keheningan aku bisa mendengar suara angin yang cukup keras dari arah sekitar.


setelah ku jawab pertanyaan Hera Aku pun melanjutkan perjalananku menuju serikat petualang sendirian meninggalkan Hera dan Frisca.


Mereka masih terdiam setelah mendengar namaku entah apa yang mereka pikirkan tapi aku tak ingin mengetahui hal tersebut.


Sesampainya di serikat petualang aku pergi ke Mading quest dan kini aku lebih berhati-hati untuk memilih quest yang aku kerjakan Karena aku tak ingin kejadian kemarin terulang kembali.


Aku mencari dan menemukan ada satu quest yang cukup menjanjikan dan tak terlalu berbahaya yaitu mengumpulkan tanaman obat.


"Kupikir tak akan ada yang aneh dengan quest ini"


Aku mencabut kertas yang berisi tentang quest itu dari Mading dan pergi menghampiri petugas resepsionisnya.


Aku menyerahkan selembaran kertas itu kepada petugas resepsionis yang ada disana, setelah ku serahkan petugas resepsionis tersebut mengambil dan melihat kertas itu sejenak dan lantas menyetujuinya.


Setelah diberi persetujuan aku pergi menuju hutan yang dimaksud dalam kertas tersebut dan pergilah aku mendatangi hutan tersebut.


Diperjalanan menuju hutan aku teringat bahwa aku tak memiliki sebuah senjata.


"Ah iya aku kan tak memiliki sebuah senjata satupun!" Ucap ku dengan memukul pelan kepalaku.


Aku berencana pergi ke pandai besi namun aku teringat tak memiliki uang, hadiah hasil penyelidikan ku mencari anak hilang dibatalkan karena tak memenuhi persyaratan dan serikat meminta maaf kepada aku dan Frisca.


Serikat memberikan imbalan atas kesalahannya namun walaupun aku diberi uang tersebut tak membuatku senang lantas aku berdiskusi sejenak dengan Frisca mengenai uang ini.


Dalam diskusi, kami membahas mengenai apa yang harus kita lakukan dengan uang tersebut dan akhirnya kami memutuskan untuk memberikannya kepada Hera karena ialah yang mengalahkan monster tersebut.


Hera sempat menolak namun entah bagaimana caranya Frisca berhasil membujuk Hera.


Dan alhasil aku tak memegang sepeser uang.


Namun dalam kebimbanganku Hera dan Frisca datang menghampiriku dengan cara menepuk pundak belakang ku dengan pelan.


"Apa yang sedang kau lakukan disini Valdois?, Apa kau berencana pergi ke hutan untuk menyelesaikan quest?" Ucap Hera dengan menepuk pundak ku pelan.


Aku membalikkan badanku dan terlihat senyum tulus dari wajah Hera dan Frisca.


"Jahat kau meninggalkanku Valdois!"


Ucap Frisca.


Aku tak membalas perkataan Frisca dan disaat aku ingin berbicara Hera sudah berhasil menebak apa yang ingin aku bicarakan.


"Kau tak memiliki senjata dan berfikiran untuk membeli satu untukmu dan Frisca bukan?"


"Walaupun kau ingin membelinya namun kau tak memiliki uang?"


Ia berhasil menebak secara penuh apa yang ingin ku sampaikan.


Aku pun bertanya kenapa ia bisa menebak apa yang ingin kukatakan namun ia tak menjawab dan menyuruh aku dan Frisca untuk mengikutinya.


Aku tak sempat bertanya dan dengan wajah penasaran aku dan Frisca mengikutinya dari arah belakangnya.


Kami berjalan dan berhenti tepat didepan sebuah toko.


Toko tersebut memiliki sebuah pajangan palu yang sangat besar.


Aku dan Frisca sudah bisa menebak tempat apa ini.


Hera mengajak aku dan Frisca untuk memasuki tempat itu.


Masuklah kami ke toko yang di dalam terdapat banyak sekali senjata senjata yang belum pernah kulihat sebelumnya.


Hera menyuruh ku untuk berkeliling mencari senjata yang ku inginkan, aku ingin menolaknya tetapi melihat wajah Hera aku pun mengurungkan niatku.


Aku berkeliling dengan Frisca untuk mencari senjata yang bagus dan mudah untuk kita gunakan.


Aku melihat satu persatu senjata itu dengan seksama namun di setiap kali kulihat senjata yang terpampang aku merasakan sesuatu yang janggal.


Aku pun mendekati Hera dan bertanya siapa pemilik toko ini.


Sebelum pertanyaan ku dijawab pemilik toko itu muncul dari kegelapan dibalik tirai.


Pemilik toko itu berbicara dengan nada tegas.


Aku pun menjawab perkataan nya dengan nada yang sama.


"Kau pemilik toko ini?"


"Ya itu benar"


Suasana menjadi hening seketika.


Aku menarik nafas sejenak dan kemudian aku mulai melanjutkan perkataanku.


"Aku merasa ada aneh dengan senjata senjata yang ada disini"


"Apa maksudmu?"


Aku menerangkan semua rasa tidak enak dalam hatiku.


Pemilik toko yang menjual senjata disana menjadi diam seketika setelah mendengar ucapan ku.


Suasana hening kembali tercipta dan setelah beberapa saat pemilik toko itu tertawa dan berkata


"Hahaha kau benar! Bagaimana kau bisa mengetahui hal tersebut?"


Aku menjelaskan padanya bahwa di setiap senjata walau terlihat bagus diluar tetapi jika dilihat secara keseluruhan terdapat kerusakan pada senjata.


Kerusakan yang dimaksud adalah ketidaksempurnaan dalam pembuatannya contohnya pedang.


Pedang disana memiliki sarung yang sangat bagus tetapi terlihat di gagangnya sangat rapuh.


Sekali serangan telak dari monster bisa menghancurkan pedang tersebut.


Pemilik toko itu terkejut dengan ketelitian ku dan mulai menanyakan siapa namaku.


"Kau anak yang menarik!, Kita belum berkenalan bukan?, Bisa beritahu namamu anak muda?"


"Namaku Valdois"


"Valdois?, Nama yang cukup langka, darimana asalmu?"


Ia menanyakan sesuatu yang sangat mudah namun sulit, bagaimana cara ku jelaskan padanya? Aku bukanlah berasal dari dunia ini, dikarenakan hal itu aku sedikit bingung ingin menjawab apa.


Namun Frisca seketika mendekat dan berkata bahwa aku tinggal ditempat yang sangat jauh dari sini.


Frisca menatap pemilik toko dengan tajam.


Dengan tatapan tajam dari Frisca membuat nya tak ingin bertanya lagi.


"Oh iya pemilik toko boleh ku tau namamu?"


"O..oh baiklah, namaku drawft dari ras dwarf"


Nama yang cukup unik bagiku, drawft dari ras dwarf?.


Aku tak ingin bertanya lebih jauh atau mungkin aku bisa menyinggungnya.


"Oh iya aku hampir lupa"


"Anak muda kau ingin mencari senjata seperti apa?, Tak mungkin kau datang untuk melihat lihat saja bukan?"


Aku menjelaskan padanya senjata seperti apa yang kuinginkan dan drawft pun mengangguk mengerti permintaan ku.


Setelah ku selesai menjelaskan senjata yang kuinginkan drawft pergi kebelakang dimana tempat senjata dibuat.


Aku dan yang lain diajak masuk oleh drawft dan kami mengikutinya dari belakang.


Drawft mulai mengerjakan pembuatan senjatanya dengan teliti, entah mengapa ia ingin membuat senjataku sebagus mungkin.


Dan disaat drawft membuat senjata ia menjelaskan padaku bahwa tak semua orang sepertiku.


Ia mengatakan bahwa setiap orang yang datang ke tempatnya hanya sekedar membeli namun tak bisa merawatnya.


Pada saat itu drawft membuat senjatanya dengan sepenuh hati dan ia bangga dengan karya yang dibuatnya namun setiap orang yang datang tak memandang tinggi senjata yang dibuat drawft.


Mereka hanya menginginkan senjata yang bisa digunakan untuk membunuh monster dan setelah itu membuangnya.


Karena hal itulah membuat drawft marah dan berjanji tak akan membuat senjata sepenuh hati sebelum menemukan orang yang tepat untuk menggunakan senjata yang dibuatnya.


Ia terus menguji setiap orang yang datang namun usahanya gagal hingga akhirnya ia menjadi tak ingin membuat senjata lagi.


Bagi dirinya kehormatannya ialah di senjata yang ditempanya.


Disela pembicaraannya akhirnya drawft selesai membuat senjata yang sangat menakjubkan, dibandingkan dengan senjata sebelumnya aku sangat yakin bahwa inilah yang terbaik.


Drawft mengatakan bahwa inilah pertama kalinya ia menempa senjata sebagus ini.


Dengan bahan dasar yang tak ku ketahui aku menanyakan berapa harga dari senjata tersebut namun drawft mengatakan bahwa aku boleh mengambilnya secara gratis.


Aku menerimanya dengan senang hati, setelah melihat tekadnya yang besar membuatku merasa tak enak hati jika menolaknya.