My Life As New Person

My Life As New Person
bab 7, kekalahan



Asap yang mengerumuni monster itu menghilang secara perlahan dan wujud mengerikan dari monster itu terlihat.


Aku dan Frisca yang melihatnya menjadi pucat, tubuh kami dialiri oleh keringat dingin dengan sangat deras.


Kakiku menjadi gemetar tak terkendali.


nampak Monster itu mengeluarkan air liur yang sangat banyak dari mulutnya dan tempat yang terkena air liurnya sudah seperti lautan liur.


Monster itu menarik nafas sedalam dalamnya hingga pohon disekitar ikut tertarik akibat tarikan nafasnya.


Setelah cukup lama menarik nafas ia pun menghembuskannya diiringi oleh suara teriakan yang sangat keras.


GRAAAAAAARRRR.


Suaranya sangat keras hingga bisa terdengar ke pelosok dari hutan ini.


Pohon pohon menjadi rusak akibat hembusan nafasnya, daun daun rontok dari pohon dan buahnya jatuh ketanah secara serentak.


Aku dan Frisca menutup telinga kami akibat suaranya yang sangat keras.


Setelah hilang suara teriakannya, monster itu pun mulai melangkahkan kakinya dan menuju ke arahku dan Frisca.


Satu langkahnya membuat jejak yang sangat besar dan dalam ke atas tanah.


Kami pun mulai berlari dalam keadaan sangat ketakutan, kini lawan kami bukanlah seorang manusia yang memiliki nurani melainkan seekor monster mengerikan yang tak pandang bulu dalam membunuh.


Kami berlari dengan sekuat tenaga, untungnya, untuk melangkahkan kakinya ia membutuhkan waktu.


karena hal itu Kami jadi memiliki waktu untuk kabur karena keuntungan tersebut.


Terjadilah aksi kejar-kejaran, walaupun kami berhasil kabur darinya ia langsung dapat melangkahkan kakinya tepat disamping kami.


Aku dan Frisca berlari cukup lama, entah mengapa hutan yang terlihat kecil ini menjadi sangat besar ketika monster ini datang.


Apakah ini sebuah ilusi? Atau cuma perasaan?.


Kita berlari hingga akhirnya Frisca terjatuh akibat akar pohon yang timbul dari tanah.


Bruuk.


Aku menghentikan langkahku untuk membantu Frisca berdiri namun ketika aku ingin membantunya kaki dari monster itu sudah ada persis dibelakang kami.


Frisca menyuruh ku untuk meninggalkannya dan segera mencari bantuan tetapi aku tak langsung melakukannya.


Kepalaku kini dipenuhi oleh kebingungan yang melanda.


Apa yang harus kulakukan? Apakah kutinggalkan Frisca atau ku tolong dia?"


Aku pun memutuskan untuk membantu Frisca walaupun harus mempertaruhkan nyawa.


Aku segera menolongnya dan ketika aku sudah berhasil menolongnya, kaki dari monster itu sudah tepat berada di atas kepalaku.


Aku pun mendorong Frisca supaya dia tak terkena kaki dari monster itu dan setelah ku dorong dia aku sempat ingin menghindar namun tak sempat.


Kaki monster itu berhasil mengenai diriku.


Buaah


Kaki monster itu menginjak tubuhku dengan keras.


Mulutku mengeluarkan banyak sekali darah dan kini bukan lagi tangan kiriku yang terluka namun semua tulangku patah semua akibat injakan monster itu.


Setelah berhasil mengenai tubuhku, monster itu mengangkat kakinya dariku.


Frisca yang melihatku dalam keadaan kritis menghampiri ku dengan segera.


Ia menghampiriku dan terlihat wajahnya sudah dipenuhi air mata.


Beruntungnya, aku masih bisa melindungi bagian yang sangat vital yakni kepala dan jantungku.


Frisca dengan segera mengambil botol yang dipenuhi obat dari air murni kemarin.


Ia lantas menuangkannya ke tubuhku dalam keadaan menangis.


Ia terus menuangkannya hingga sudah tak tersisa lagi botol airnya lagi.


Ia memukul ku dengan pelan dan berkata


"Dasar bodoh!, Kenapa kau menolong ku sedangkan kau tau kau akan begini akhirnya?"


Ia memukul ku dan menangis dengan cukup keras.


Walaupun diriku sudah dituangkan air murni tersebut, hal itu tak kunjung membuatku cepat sembuh, mungkin karena lukaku yang sudah sangat parah.


Tulang di seluruh tubuhku sudah patah bahkan untuk melirik saja aku tak bisa.


Aku berfikir bahwa ini adalah akhirnya dan disaat sebelum ku menutup mataku aku mengucapkan sepatah kata kepada Frisca


Jangan menangis Frisca, tenang saja aku pasti akan selamat dan kembali dalam keadaan baik baik saja" ucapku dengan sedikit tersenyum.


"Apanya yang akan kembali dalam keadaan baik baik saja dasar bodoh!"


Frisca semakin menangis dengan kencang namun kita ia menghentikan pukulannya dan mulai menabrakkan kepalanya ke arahku.


"Sialan!, Kenapa aku begitu lemah sehingga selalu ditolong olehmu selalu?"


"Seharusnya bukan kau yang mati!"


Ia terus menabrakkan kepalanya ke arahku disertai air mata yang terus mengucur keluar.


Monster itu pun mengangkat kembali kakinya untuk menginjak Frisca dan ketika sudah sedekat sejengkal dari kepala Frisca tiba tiba muncul seorang wanita dengan senjatanya dan ia mengacungkan senjatanya kearah kaki monster itu dan berkata


"Jangan kau sentuh dia dasar monster tak berakal!"


Hera muncul dengan gagahnya tepat dibelakang Frisca.


Dengan serangan dari Hera membuat monster itu sedikit terpental kebelakang dan hampir kehilangan keseimbangannya.


Namun dengan sigap Monster itu kembali berdiri tegak dan kini monster itu menjadi marah akibat serangan dari Hera.


Monster itu kembali mengangkat kakinya dan kini ia ingin menyerang Hera.


Hera pun dengan mudah menghindari serangan monster itu.


Hera melihat monster itu dengan geram dan berkata


"Huh monster tak berakal seperti kau mana bisa melukai ku!"


Hera pun kembali melancarkan serangan dan serangannya berhasil mengenai area vital dari monster itu.


Tubuh monster itu kini dipenuhi oleh luka.


Dari keluar dari tubuh monster itu layaknya seperti air terjun yang deras.


Tak berhenti sampai disitu, Hera kembali melancarkan serangannya kepada monster itu.


Ia menyerang dengan bertubi-tubi kearah monster itu, dikarenakan monster itu memiliki gerakan yang lambat, ia pun tak bisa menghindari satupun serangan dari Hera.


Dan tubuhnya pun berhasil mengenai serangan Hera.


Kaki monster itu pun putus dari tempat asalnya.


Darah semakin banyak yang keluar dari tubuh monster itu, kini setelah mendapat luka yang sangat parah membuat monster itu takut dan ia berencana untuk kabur namun


"Huh mencoba melarikan diri?, Jangan pikir kau bisa melakukannya!"


Hera dengan sigap memotong kepala monster itu layaknya memotong kertas.


Jbuuurr


Suara darah yang dikeluarkan sangatlah keras, kini tempat yang awalnya indah menjadi mengerikan dan dipenuhi oleh darah,


Tempat ini sudah menjadi lautan darah dan setelah berhasil membunuh monster itu Hera membawa Frisca dan aku menjauh dari tempat itu.


Hera yang melihat diriku yang sudah kritis dengan segera mengeluarkan sebotol obat dan menuangkannya kearah diriku.


Dibandingkan dengan air murni yang ku punya, obat yang digunakan Hera jauh berbeda, dengan cepat lukaku sembuh bagai mimpi.


Tulang yang patah langsung sembuh dalam seketika.


Setelah lukaku menghilang semua aku dan Frisca ingin dibawa oleh Hera kembali ke suatu tempat namun Frisca menghalanginya.


"Apa yang ingin kau lakukan dengannya!, Ini karena kau yang menyarankan kita untuk mengambil quest itu menjadi seperti ini!"


Frisca menghalangi Hera dan ia berdiri tepat di hadapan ku.


Setelah mendengar itu Hera dengan cepat menundukkan kepalanya dan meminta maaf kepada Frisca.


"Maafkan aku, aku tak berfikir bahwa monster itu akan muncul di quest rank G"


Hera meminta maaf dengan tulus kepada Frisca namun permohonan maafnya tak dibalas dengan baik.


Frisca pun menghina dan memukuli Hera dengan keras.


Tubuh Hera yang dipukuli menjadi memar akibat pukulan Frisca namun Hera tak membalas dan masih dalam posisi awal dan terus menerima pukulan dari Frisca hingga ia puas.


Setelah lama memukuli Hera akhirnya Frisca berhenti dan ia jatuh tersungkur ketanah dan pingsan akibat terlalu lelah.


Hera pun mengangkat kembali kepalanya yang sudah dipenuhi luka lembam.


Ia melihat kearah Frisca dan aku dengan wajah bersalah.


"Maafkan aku, seharusnya aku mencari taunya terlebih dahulu sebelum memberikannya kepada kalian, ini adalah kelalaian ku sebagai seorang petualang"


Ia pun mengangkat aku dan Frisca lalu membawa kita pergi kearah kota.