My Life As New Person

My Life As New Person
Bab 6, Pekerjaan pertama yang membawa petaka



Setelah aku dan Frisca mendaftar menjadi petualang kita pun berjalan ke papan buletin yang memaparkan informasi mengenai quest yang harus dilakukan.


Didalam quest dijelaskan mengenai informasi yang didalam dan untuk mengambil sebuah quest harus mencapai rank tertentu untuk bisa mengambil quest yang lebih sulit.


Dikarenakan aku dan Frisca yang baru mendaftar sebagai petualang baru kami hanya bisa mengambil quest rank G yang mayoritas pendapatannya sangatlah kecil.


Dimulai dari satu koin tembaga hingga 5 koin tembaga setiap satu quest.


Frisca sempat mengajariku tentang mata uang ketika diperjalanan menuju ke kota ini.


Ia mengajariku bahwa sepuluh tembaga setara dengan satu koin silver dan seratus koin silver sama dengan satu koin emas.


Frisca juga menjelaskan bahwa ada mata uang yang hanya beberapa orang memilikinya dan harga untuk mata uang itu sangatlah mahal yakni koin diamond yang setara dengan satu juta koin emas.


Mata uang yang digunakan semua negara sama jadi tidak perlu susah payah untuk menukar mata uang.


Awalnya aku bingung kenapa mata uang di setiap negara sama dan akhirnya Frisca menjelaskan kepadaku bahwa alasan mata uang di setiap negara sama karena pernah terjadinya kemerosotan ekonomi yang sangat tinggi ketika kedatangan monster pertama kali yakni sepuluh ribu tahun yang lalu.


Pada masa itu semua raja mengumpulkan pasukan untuk mengurangi dampak penyerangan dari para monster.


Hingga akhirnya monster berhasil diatasi namun masalah lain muncul yakni pangan, semua pangan pada masa itu hancur akibat kedatangan monster dan muncullah krisis pangan hingga membuat setiap negara merasa sulit.


Dikarenakan pada masa itu mata uang masih berbeda yang membuat membeli barang di negara lain sulit akibat membutuhkan waktu yang lama untuk menukar mata uangnya membuat banyak orang mati kelaparan.


Untuk menghindari hal itu setiap negara setuju untuk menggunakan mata uang yang sama.


Memang pada saat itu terjadi sedikit kesulitan tapi tahun berganti tahun masalah pangan dan ekonomi bisa teratasi.


Kembali ke masa kini


Aku dan Frisca mulai mencari quest yang sesuai untuk kita supaya bisa tetap bertahan hidup.


Prioritas kita pertama adalah mengumpulkan uang supaya kita tak melarat di sisa hidup kita.


Di dalam papan hanya ada quest tingkat tinggi dan sangat sedikit untuk quest rank G.


Kami kesulitan mencari quest yang sesuai hingga akhirnya Hera datang dan mencabut quest dari Mading dan mengatakan bahwa aku dan Frisca bisa untuk mengambil quest tersebut.


"Bagaimana dengan ini?, Lihatlah quest ini tak terlalu sulit dan juga bayarnya cukup tinggi"


Hera menunjukkan quest yang sedang ia pegang ke arah kita berdua.


Dan dengan saksama aku dan Frisca membaca quest yang diberikan kepada Hera untuk kita.


"Tugas mencari anak yang hilang di hutan Bahmon, dan bayarannya…. Satu koin emas?"


Aku dan Frisca terkejut membaca quest yang ditujukan oleh Hera.


"Satu koin emas hanya untuk mencari anak yang hilang?, Bukankah itu terlalu besar untuk ukuran quest rank G?"


Aku melontarkan sebuah pertanyaan kepada Hera dengan nada yang sangat penasaran.


Hera pun menjawab bahwa quest itu sudah ada sejak 2 bulan lalu dan awal sebelum menjadi satu koin emas adalah tiga koin tembaga.


Anak itu menghilang di hutan Bahmon yang tidak berbahaya sama sekali namun sudah banyak petualang rank G yang tak kunjung berhasil menemukan anak tersebut.


Orang tua yang mencari anak itu semakin khawatir dan ingin serikat segera menemukan anaknya yang hilang.


Lalu ia menambahkan hadiahnya setiap saat hingga akhirnya menjadi satu koin emas.


Setelah selesai berbicara Frisca pun membalas ucapan Hera.


"Jikalau tak berhasil ditemukan dalam dua bulan lalu apakah anak itu masih hidup?, Bukankah orang tuanya menginginkan anaknya kembali hidup hidup?"


Hera pun menjelaskan rasa penasaran Frisca dengan santai.


"Tenang saja, walaupun anak itu ditemukan dalam keadaan tak bernyawa kau masih bisa mendapatkan hadiahnya"


Frisca mengangguk mengerti mendengar ucapan dari Hera.


Aku dengan Frisca berdiskusi sejenak hingga akhirnya kami menyetujuinya.


Kami pun pergi ke meja resepsionis dan mengajukan permintaan pengambilan quest.


Ketika aku menyerahkan selembar kertas quest itu, perilaku dari resepsionisnya kini berbeda jauh ketika saat pertama kali aku bertemu.


Ia menjadi lebih baik dan menjaga tutur katanya menjadi lebih sopan.


Aku menghiraukannya dan langsung memberikan selembar kertasnya.


Aku dan Frisca pergi dari serikat petualang untuk menjalankan quest kami dengan diiringi oleh rasa penasaran yang menyelimuti kepalaku.


Kami pergi ke hutan Bahmon dengan arahan dari Hera sesaat sebelum kita berangkat.


Hera mengatakan bahwa hutan Bahmon berada di tenggara dari kota ini.


Ia mengatakan bahwa monster di hutan Bahmon tidaklah kuat tetapi walaupun begitu ia menyuruh kami untuk berhati hati.


Aku mendengar ucapannya dan kini aku dan Frisca berjalan menuju hutan Bahmon dengan sangat hati hati.


Kami berjalan cukup jauh ke tenggara hingga akhirnya kami berhasil bertemu dengan hutan yang bernama Bahmon ini.


Hutannya terlihat besar walaupun tak sebesar hutan tempatku tinggal dahulu.


Ketika aku berada di hutan tempatku tinggal dahulu aku membutuhkan banyak waktu untuk keluar darinya berbeda dengan hutan Bahmon yang hanya membutuhkan hitungan jam saja.


Aku dan Frisca pun memasuki hutan Bahmon dengan perlahan dan berhati-hati.


Setelah didalam kami berkeliling didalam untuk mencari petunjuk mengenai anak yang hilang.


Didalam informasi dalam quest anak yang dicari adalah anak yang berumur 12 tahun, tingginya rata rata, seorang wanita dan rambutnya panjang bewarna kuning keemasan, pakaian terakhir sebelum menghilang adalah pakaian yang terbuat dari kain bewarna pink kemerahan dengan renda.


Kami mencari didalam dengan jangka waktu yang sangat panjang, walaupun sudah diberi keterangan kami masih kebingungan untuk mencarinya.


Setelah lama mencari kita memutuskan untuk beristirahat sejenak.


Kami memakan bekal kita dan beristirahat disertai dengan obrolan.


"Apakah kau pikir quest ini begitu janggal?"


"Janggal kenapa?" Ucapku heran.


"Tentu saja janggal karena quest ini sudah berjalan selama dua bulan dan yang harus dilakukan adalah mencari anak yang hilang"


"Kenapa orang tuanya bersikeras mencari anaknya yang sudah hilang selama dua bulan dan menginginkan anaknya kembali dalam keadaan hidup? Bukankah seorang anak kecil tak akan bisa bertahan hidup di dalam hutan seorang diri?"


Di Pikir pikir ucapan dari Frisca ada benarnya, mengapa orang tuanya begitu ingin mencari anaknya yang sudah hilang selama dua bulan?, Jika dipikir baik baik seharusnya seorang anak kecil akan mati di dalam hutan yang dipenuhi monster.


Disela ku berfikir dan kita terus melanjutkan obrolan kita dengan rasa penasaran dan curiga yang sangat tinggi.


Semakin lama kita berbincang tentang quest yang kita dijalani, kami menjadi tak bisa mendengar suara binatang lagi disekitar kita.


Ketika kami memasuki hutan, suara binatang memenuhi hutan ini namun ketika kami sudah cukup lama berbincang tiba tiba suara binatang menghilang seperti tak pernah ada binatang satupun didalam.


Aku dan Frisca mulai curiga dengan quest yang sedang kita kerjakan.


Dan ternyata benar dugaan kita.


Tiba tiba terdengar suara yang sangat keras tak jauh dari tempat kita berasal.


Ketika kami ingin pergi menghampiri arah suara itu berasal, muncul sebuah monster besar muncul dari langit.


duaar


Tanah yang diinjak oleh monster itu terbelah dan hancur akibat lompatannya.


Suara yang disebabkan monster itu terdengar hingga sangat jauh.


Asap mengepul di sekeliling monster itu hingga akhirnya asap itu menghilang dan nampak monster itu memiliki gigi taring yang sangat besar, ukuran tubuhnya yang sangat besar bahkan ukuran Bedris yang terlihat besar di hadapan ku tak ada apa apanya dengan ukuran monster itu.


Ia memegang senjata yang terlihat sangat tajam.


Air liur mengalir deras dari mulut monster itu.


Monster itu memiliki bulu yang menutupi kepala hingga kakinya.


Kami yang melihat monster itu lantas mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak, dalam beberapa detik tubuh kami sudah dipenuhi keringat dingin karena takut dengan monster itu.


Kita mundur beberapa langkah kebelakang dan apa yang kita lakukan disadari oleh monster itu.


Monster itu membalikan badannya dan melihat kearah kami yang sedang ketakutan.


Kena….kenapa kita harus bertemu monster yang sangat mengerikan? Aku saat ini tak memegang senjata selain pisau yang ku punya ketika mengalahkan Berdis.


Dalam sekejap harapan kita untuk mendapatkan uang hancur dengan cepat, bukannya mendapatkan uang ketika menjalankan quest, kita malah mendapatkan musuh yang mengancam hidupku.


Dan kini kemungkinan aku dan Frisca untuk hidup lebih kecil ketika aku melawan Bedris.