
Pukul sebelas malam Cheryl baru sampai di mansionnya , melihat mobil selain miliknya yang terparkir di garasi membuat dirinya melangkah dengan malas untuk masuk ke dalam mansion.
Cheryl terus berjalan memasuki mansion hingga saat akan menaiki anak tangga suara seseorang menghentikan langkahnya.
'' Dari mana kamu,,?! ''
Cheryl membalikkan badannya dengan malas , lalu menatap pria paruh baya yang berdiri tak jauh darinya yang tak lain adalah Papa Hendri Ayah Cheryl.
'' Rumah temen '' jawab Cheryl sekenanya.
'' Kamu itu perempuan Cheryl , tidak pantas pulang larut malam begini '' tukas Papa Hendri tajam.
'' Apa perduli Papa , terserah Cheryl mau pulang kapan saja itu urusan Cheryl '' timpal Cheryl ketus.
Plakkkkk
Cheryl terkejut mendapat tamparan dari Papanya , karna seumur hidupnya baru kali ini Papanya menampar dirinya.
'' Kenapa Papa menampar Cheryl ?'' tanya Cheryl yang berusaha tak menangis sembari memegang pipinya yang terasa kebas.
'' Kamu memang pantas mendapatkannya '' jawab Papa Hendri lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Cheryl yang masih setia berdiri di tempatnya , tapi tiba tiba Papa Hendri berhenti dan mengucapkan kata kata yang mana membuat Cheryl terluka.
'' Apa kamu mau menjadi gadis liar di luar sana yang selalu pulang larut malam ''
Jlebbb
Cheryl merasakan seperti ribuan anak panah menancap ke ulu hatinya , mendengar perkataan Papanya yang sungguh tak pernah Cheryl kira , Papanya sendiri mengatakan putrinya sendiri gadis liar.
Cheryl langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya , bahkan Cheryl tak menoleh lagi ke arah Papanya . begitu juga Papa Hendri yang langsung masuk ke dalam kamarnya bahkan tak perduli jika perkataannya sudah melukai perasaan putrinya.
Brakkkk
Cheryl menutup pintu dengan keras , tubuh Cheryl langsung merosot kelantai , Cheryl menutup mulutnya berusaha agar tak menangis tapi tidak bisa air mata Cheryl terjun dengan derasnya membasahi pipi mulusnya.
'' Hiks,,, Hiks,,, Hiks,,,, '' Cheryl terus menangis tersedu sedu , dirinya benar benar sudah tidak bisa berkata kata lagi , tamparan di pipinya memang sakit tapi tak sesakit perkataan Papanya , kini Cheryl benar benar membenci kedua orang tuanya , apa lagi laki laki yang selalu ia panggil Papa dengan teganya menyebut dirinya sebagai gadis liar.
Cheryl terus menangis hingga dirinya tertidur dengan posisi masih meringkuk di atas lantai di depan pintu kamaranya.Cheryl juga tidak memperdulikan ponselnya yang terus berdering karna seseorang yang terus menghubunginya.
Jam enam pagi Cheryl mengerjabkan kedua matanya karna mendengar suara pintu kamarnya yang di ketuk dari luar.
Tokk
Tokkk
Tokk
'' Nona , apa Nona sudah bangun '' suara Bik Asih dari luar kamar membuat Cheryl segera bangun.
'' Non '' panggil Bik Asih lagi.
'' Iya Bi , Cheryl udah bangun '' jawab Cheryl lemah , lalu Cheryl langsung bangun dan membuka pintu kamarnya yang mana membuat Bik Asih langaung terkejut melihat keadaan Cheryl.
'' Ya Tuhan ,,,,!! Nona '' pekik Bik Asih , Bik Asih memang tidak tahu dengan kejadian semalam dimana Cheryl dan Papanya bertengkar karna Bik Asih sudah tertidur.
'' Nona kenapa dengan wajahnya ?'' tanya Bik Asih hawatir karna melihat pipi kiri Cheryl sedikit kemerahan dan juga kedua mata Cheryl yang membengkak mungkin karna menangis semalam.
'' Cheryl ga apa apa Bik '' jawab Cheryl lalu melangkah menuju kamar mandi.
'' Nona bertengakr dengan Tuan ?'' tanya Bik Asih yang seketika menghentikan langkah Cheryl.
'' Cehryl tidak ingin membahasnya Bik '' ujar Cheryl lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Bik Asih melihat dengan sendu tubuh mungil Cheryl yang sudah hilang masuk ke dalam kamar mandi.
'' Nona , Bibik akan selalu berdoa untuk kebahagiaan Nona '' ujar Bik Asih yang tak terasa kedua matanya sudah mengembun.
Mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi Bik Asih segera keluar dari dalam kamar Cheryl.
Tak butuh waktu lama kini Cheryl sudah keluar dari dalam kamar mandi , Cheryl segera memakai seragam sekolahnya dan setelah itu Cheryl sedikit memberi riasan natural untuk menutupi pipinya yang memar dan kedua matanya yang bengkak tapi masih kentara , dan Cheryl sudah tak perduli lagi dirinya benar benar ingin segera berangkat ke sekolah agar bisa melupakan kejadian yang menimpanya semalam.
Cheryl tiba di SMA NS tepat saat gerbang akan di tutup , Cheryl segera membunyikan klakson mobilnya yang mana membuat Pak Dudung terkejut.
Tin
Tin
'' Astaga Nona Cheryl ngagetin aja '' tukas Pak Dudung mengelus dadanya.
Cheryl yang moodnya sedang buruk tak memperdulikan perkataan Pak Dudung , dan membawa mobilnya masuk begitu saja ke dalam parkiran NS , setelah memakirkan mobilnya Cheryl segera keluar dan tak lupa mengambil tas punggungnya yang berada di samping jok kemudi.
Sedangkan Kenzo dan Alan yang melihat Cheryl keluar dari dalam mobilnya keduanya segera berjalan menghampiri Cheryl.Terlebih Kenzo yang ingin menanyakan kenapa Cheryl tak mengangkat telfonnya semalam.
'' Cher '' panggil seseorang bukan Kenzo melainkan Alan.
Cheryl yang baru menutup mobilnya segera membalikkan tubuhnya dan melihat Kenzo dan Alan yang berdiri di depannya.
Kenzo dan Alan langsung terkejut melihat wajah Cheryl dengan kedua mata yang sedikit bengkak juga pipi kirinya yang memar.
'' Lo kenapa ?'' tanya Kenzo hawatir bahkan nadanya tak seketus saat ketika dirinya datang terlambat.
'' gak papa '' jawab Cheryl.
'' Aku akan menjalankan hukumannya '' ucap Cheryl bahkan kedua matanya menatap kosong.
Kenzo menggelengkan kepalanya tak ingin memberi Cheryl hukuman. '' Lo masuk aja ke kelas , untuk saat ini gue maklumi '' tukas Kenzo pelan Cheryl menganggukkan kepalanya.
'' Terima kasih '' ucap Cheryl lalu pergi meninggalkan kedua cowok yang terus menatapnya.
'' Lo menghawatirkannya '' ucap Alan tiba tiba.Kenzo hanya diam dengan kedua matanya terus menatap Cheryl dengan perasaan hawatir , hingga Cheryl hilang dari pandangannya.
'' Ayo ke kelas '' ajak Kenzo melangkah pergi dan Alan mengikutinya.
Sedangkan di dalam kelas 11A Cheryl menceritakan masalahnya tadi malam pada Vita dan Maya , yang mana membuat Vita dan Maya memeluk erat Cheryl.
'' Gue nyesel gak nganterin lo sampai masuk ke dalam rumah lo '' ucap Vita yang mana membuat Cheryl mengrinyit heran.
'' Maksud lo ?'' tanya Cheryl.
'' Sebenernya tadi malam sepulang dari mansion Kak Kenzo kita ngikutin elo sampai di depan gerbang mansion lo '' jawab Vita yang di angguki oleh Maya .Dan jawab Vita membuat Cheryl terkejut.
'' Kalian berdua ngikutin gue ? '' tanya Cheryl lagi Vita dan Maya mengangguk.
'' Jadi kalian juga ngikutin gue keliling kota ?'' tanya Cheryl lagi , dan lagi lagi Vita dan Maya mengangguk.
'' kenapa kalian ngikutin gue ?'' tanya Cheryl yang tak habis pikir dengan kedua sahabatnya ini.
'' Kita berdua hawatir sama elo , kita berdua tahu apa yang terjadi dengan elo tadi malam saat di mansion Kak Kenzo , kita takut lo kenapa napa jadi kita mutusin ngikutin elo '' jawaban Vita membuat Cheryl terharu bahkan sampai meneteskan air matanya , dirinya tak menyangka jika kedua sahabatnya sangat perduli padanya.
'' Terima kasih '' ucap Cheryl tergugu sembari memeluk kedua sahabatnya.
'' Dan ternyata bukan hanya kita berdua aja yang ngikutin elo '' ucap Maya.yang seketika Cheryl melepaskan pelukannya.
'' Siapa lagi ?'' tanya Cheryl.
'' Kak Alan sama Kak Rio mereka juga ngikutin elo , bahkan kita baru menyadari keberadaan mereka saat kita akan meninggalkan mansion lo '' jawab Maya.
'' Kalian cerita masalah gue ke mereka '' tuduh Cheryl.
'' Tidak Cher , mereka ngikutin elo karna Kak Kenzo yang nyuruh '' ucap Vita.
'' Masak sih ?'' tanya Cheryl wajahnya seketika berbinar.
'' Ck.. kalo gak percaya tanya aja sama mereka berdua '' ketus Vita yang melihat wajah genit Cheryl muncul kembali , tapi Vita senang karna Cheryl sudah tak sedih lagi.
'' Ya elah Neng Vita jangan ngegas gitu ah , Cheryl kan jadi takut '' goda Cheryl yang langasung mendapat geplakan di bahunya dari Vita ketiganya pun sama sama tertawa.