My Idol Is My Boyfriend

My Idol Is My Boyfriend
Chapter 6




Rumah sakit


Sesampainya di rumah sakit Jukyung langsung dibawa ke UGD. Keluarga Jukyung hanya bisa berdoa untuk keselamatan Jukyung dari balik pintu.


30 menit berlalu, dokter ardy keluar dari UGD. Orang tua Jukyung yang khawatir akan keadaan Jukyung langsung menghampiri dokter Ardy dan bertanya bagaimana keadaan Jukyung.


"Gimana dok, bagaimana keadaan putri saya", tanya ibu Jukyung dengan cemas.


"Pasien kini sudah melewati masa kritis nya. Untungnya pihak keluarga cepat membawanya kemari, karena kalau terlambat sebentar saja mungkin nyawa pasien sudah tidak tertolong lagi", ucap dokter Ardy menjelaskan keadaan Jukyung.


" Syukurlah kalo begitu", ucap Ibu Jukyung merasa sedikit tenang.


Setelah mendengar perkataan dokter orang tua Jukyung pun mulai tenang.


Dua hari telah berlalu Jukyung pun telah dipindahkan ke ruang rawat inap dan saat ini Jukyung tengah diperiksa oleh dokter Ardy. Karena sudah 2 hari Jukyung belum sadar ibu Jukyung menjadi khawatir. Ia pun bertanya kepada dokter Ardy.


" Dok bagaimana keadaan anak saya dok? ", tanya ibu Jukyung dengan gelisah.


"Keadaan Anak ibu sudah semakin baik", ucap dokter Ardy sambil menenangkan ibu Jukyung.


" Apakah benar dok sudah semakin baik?, kok sudah 2 hari berlalu kakak saya masih belum sadar juga? ", tanya Boris (adik Jukyung).


" Tidak perlu cemas, pasien baru saja melewati masa kritisnya jadi wajar kalo dia belum juga sadar. Mungkin nanti sore pasien akan sadar", ucap dokter Ardy menjawab pertanyaan Boris.


"Oh... Makasih dok", jawab Boris.


Rumah sakit saat sore hari


Benar yang dikatakan dokter Ardy, sore harinya Jukyung tersadar.


"Ugh... Aku dimana kenapa kepalaku rasanya sakit sekali", batin Jukyung sambil perlahan membuka matanya.


" Astaga sayang! Akhirnya kamu sadar juga, kami cemas banget tau nggak lihat kamu dari kemarin nggak sadar-sadar", ucap Ibu Jukyung sambil mengelus-elus rambut panjang Jukyung.


" Ah..... Mama, kok mama bisa ada di sini bukannya mama lagi ada kerjaan di Indonesia ya? ", tanya Jukyung.


" Astaga sayang kamu gimana sih, ya nggak mungkinlah anak mama lagi sakit begini mama malah sibuk sama pekerjaan mama", ujar Ibu Jukyung.


" Ow gitu ya mah", ucap Jukyung


Melihat Jukyung yang telah tersadar para keluarga Jukyung pun menjadi tenang.



"Wah mbak Jukyung sekarang keadaannya sudah semakin pulih nih ya, kalo gini terus mbak Jukyung besok udah bisa pulang nih", ucap dokter Ardy.


" Apa bener dok besok saya sudah bisa pulang ke rumah?", tanya Jukyung untuk meyakinkan dirinya.


"Iya.... Tapi nanti kalo mbak Jukyung pulang saya jadi kesepian dong", canda dokter Ardy.


" Hais.... Dokter bisa aja. Oiya dok jangan panggil saya mbak dong kan kesannya saya jadi keliatan tua banget", pinta Jukyung.


"Lah terus saya harus panggil siapa dong? ", tanya dokter Ardy.


" Hmm panggil langsung namaku saja gimana?, lagipula sepertinya kita sepantaran", tanya Jukyung.


"Ok lah terserah kamu aja", jawab dokter Ardy.


Waktu terus berlalu Setelah mendengar bahwa Jukyung sudah diizinkan pulang. orang tua Jukyung langsung membereskan perlengkapan Jukyung selama dirumah sakit dan hendak membawa Jukyung pulang.


" Sayang akhirnya kamu besok sudah bisa keluar dari rumah sakit, kamu pasti sudah kangen banget ya sama rumah? ", tanya ibu Jukyung.


" Iya nih mah, aku sudah kangen banget sama rumah, apalagi sama masakannya BI Minah. Masakan di rumah sakit rasanya nggak enak, hambar", ucap Jukyung.


"Oh ya kalo gitu nanti kalo pulang mama bakal masakin makanan kesukaan kamu okey", ucap Ibu Jukyung.


" Okey.... Beneran ya mah", jawab Jukyung.


Pada awalnya orang tua Jukyung ingin membawa Jukyung kembali ke Indonesia karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh ayah Jukyung.


"Jukyung nanti kamu pulang ke Indonesia bareng papa sama mama ya, soalnya papa masih ada kerjaan di Jakarta!", pinta ayah Jukyung.


Namun Jukyung menolak permintaan ayahnya, ia ingin menetap di Korea.


" Nggak mau pah, Jukyung mau tetep di Korea aja", tolak Jukyung.


"Tapi nak kalo kamu di Korea nanti kamu nggak ada yang ngerawat. Mending pulang aja ya sama papa , mama, dan Boris", bujuk ayah Jukyung.


" Nggak mau pah ... Kalo papa sama mama mau pulang, pulang aja sendiri Jukyung mau tetap disini. Lagian disini Jukyung masih ada Bi Minah dan Kang Asep", ujar Jukyung.


Mendengar penolakan putrinya yang keras kepala, orang tua Jukyung akhirnya memutuskan untuk menetap di Korea hingga keadaan Jukyung kembali seperti semula.