
Esok harinya....
Tok.... Tok..... Tok.... (Suara ketukan pintu)
Jukyung yang tadinya masih terlelap dalam tidurnya terpaksa membuka matanya. Dengan berat hati Jukyung melangkahkan kakinya menuju pintu.
Kalian pasti bertanya-tanya dimana Bi Minah dan Kang Asep ART yang bekerja di rumah Jukyung?
Ya saat ini mereka sudah pulang ke Indonesia lebih dulu karena Jukyung yang memintanya. Jukyung tau mereka sudah sangat merindukan keluarga mereka jadi dia meminta mereka untuk pulang lebih dulu karena Jukyung masih ada urusan di Universitas nya, Jukyung masih sibuk mengurusi perpindahan kuliahnya. Awalnya mereka menolak namun setelah dibujuk mereka pun setuju untuk kembali ke Indonesia lebih dulu. Hingga pada akhirnya Jukyung sendirian dirumah yang terbilang sangat luas ini.
"Iya sebentar", teriak Jukyung sambil berlari menuruni anak tangga.
Setelah sampai didepan pintu Jukyung langsung membukanya dan berucap.
" Iya cari siapa? ", tanya Jukyung sambil menatap sepasang paruh baya didepannya yang terlihat seusia dengan orang tuanya.
Tiba-tiba mata Jukyung membulat melihat seseorang dibalik sepasang paruh baya tersebut.
" Su-Su-Suho... "Ucap Jukyung gagap.
Yang dipanggil pun hanya menyunggingkan senyumannya.
Tak lama kemudian Jukyung tersadar dari lamunannya.
" Ah... Maaf atas ketidaksopanan saya, silakan masuk", ucap Jukyung mempersilahkan tamunya masuk.
Setelah mempersilahkan tamunya untuk duduk Jukyung langsung beranjak kedapur menyiapkan suguhan untuk tamunya.
"Maaf ada perlu apa ya? ", tanya Jukyung sopan setelah kembali dari dapur.
" Ugh... Anak yang manis", ucap Ibu Suho sambil mencubit pipi Jukyung gemas.
"Ehem... Begini kami datang kesini atas permintaan Suho, bisa saya bertemu dengan orang tua mu nak?", timbal ayah Suho memulai pembicaraan.
" Maaf tapi ayah dan ibu saya sedang tidak ada disini, mereka sedang berada di Indonesia dan nanti siang saya akan pindah ke Indonesia", tutur Jukyung sopan.
"Ah... Begitu! ", ucap Ibu Suho sedikit kecewa.
" Memangnya ada perlu apa ya dengan orang tua saya? Nanti biar saya sampaikan kalo sudah sampai di Indonesia ", ujar Jukyung.
" Hm... Sebenarnya kami datang kesini hendak melamar nak Jukyung, atas permintaan Suho ", ucap Ibu Suho sambil mengelus rambut Jukyung.
Jukyung yang terkejut langsung tersedak air liurnya sendiri.
" Uhuk.... Uhuk.... Apah melamar? ", ucap Jukyung sambil mengalihkan pandangannya ke Suho.
" WTF.... ini orang udah gila apa ya, gue nggak nyangka ternyata dia beneran dateng buat lamar gue. Padahal kemarin gue kira dia cuma bercanda waktu dia bilang mau tanggungjawab. Lagian apa sih yang mau di tanggungjawab i? Gue kan nggak ngapa-ngapain sama dia... dasar kutu kupret, bikin ribet aja awas aja lu....", batin Jukyung sambil menatap Suho tajam.
Suho yang paham akan maksud tatapan Jukyung langsung angkat bicara.
" Maaf Jukyung aku lupa kalo kamu hari ini akan kembali ke Indonesia. Aku bermaksud melamar mu karena aku ingin bertanggungjawab atas apa yang telah aku lakukan padamu", ucap Suho yang dihadiahi pukulan dari eomma nya.
#hadeh woy Suho bisa nggak kalimat dikondisikan author kan jadi salah paham. Plak.
"Yak, apa yang telah kamu lakukan pada Jukyung hah?. Kalo begini caranya kalian harus segera menikah aku tidak mau kalo sampai menantuku ini malu karena hamil tanpa seorang suami", ujar ibu Suho sedikit syok.
Jukyung yang mendengar ucapan Suho hanya terkikik menahan tawa.
" Khikhikh... Maaf sepertinya anda telah salah paham ", ucap Jukyung sambil terkikik menahan tawa.
" Apa maksudmu nak kalian harus segera menikah sebelum perutmu semakin membesar setiap harinya", ucap ayah Suho sedikit khawatir.
"Maaf tapi saya tidak pernah melakukan 'itu' dengan Suho. Mungkin Suho hanya merasa bersalah karena kemarin tidak sengaja mencium saya waktu di bianglala. Padahal waktu itu aku sudah memaafkannya", jelas Jukyung meyakinkan orang tua Suho.
" Oh... Jadi seperti itu kejadiannya ", ucap Ibu Suho sambil menganggukkan kepalanya paham.
" Dasar pabo kamu meminta kami melamar Jukyung cuma gara-gara salah paham dasar Suho pabo. Aku jadi ragu apa benar kamu anak ku? ", ucap ayah Suho sambil memukul kepala Suho pelan. (bodoh)
"Yak jangan pukul anakku", bentak Ibu Suho membalas memukul kepala ayah Suho.
Jukyung yang melihatnya hanya bisa terkikik melihat aksi keluarga Suho tersebut.
Pukul 13.00 kst
Setelah kedua tamunya pamit pulang Jukyung langsung mengemasi barang-barangnya kedalam koper.
Kenapa author hanya bilang kedua tamu saja yang pamit pulang, itu karena Suho masih ada di rumah Jukyung.Ia berniat membantu Jukyung berkemas.
" Biar ku bantu", tawar Suho sambil berjalan mendekati Jukyung.
"Yak, yang benar saja bukannya membantu kau nanti malah mengacaukan nya! Lebih baik kau tunggu saja di sana! Lagi pula sebentar lagi aku juga selesai", seru Jukyung sambil menunjuk kasurnya.
Dengan terpaksa Suho hanya bisa menuruti ucapan Jukyung dan duduk di kasur Jukyung sampai Jukyung selesai berkemas.
Setelah Jukyung selesai berkemas Suho langsung membantu Jukyung membawa kopernya menuju mobil.
Sesampainya di mobil Suho langsung memasukkan koper Jukyung kedalam bagasi. Lalu ikut masuk kedalam mobil dan melajukan nya menuju Incheon airport. Perlu kalian tau saat itu Jukyung sudah masuk terlebih dahulu saat Suho sibuk memasukkan bawaannya kedalam bagasi.
45 menit telah berlalu, meraka pun telah tiba di bandara. Dengan sigap Suho mengeluarkan koper dari bagasi dan berjalan mengejar Jukyung yang sudah ada di depannya.
"Yak tunggu.... ", teriak Suho meminta Jukyung berhenti.
"Hei cepatlah dasar lambat ", sindir Jukyung.
Jukyung sebenarnya tidak bermaksud menyindir suho. Ia hanya merasa ingin mengerjai suho untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi, dan entah kapan akan kembali.
" Yak apa lo bilang", teriak Suho tidak terima.
Hingga pada akhirnya aksi kejar-kejaran pun sudah tidak bisa terhindar lagi. Mereka saling mengejar seperti yang terjadi dalam kartun Tom and Jerry.
"Hap... Tertangkap", ucap Suho sambil memeluk Jukyung dari belakang. Yang ditangkap pun hanya bisa terkikik.
"Hay apa kamu nggak lelah terus berlari hah? Aku rasa sebaiknya kita duduk di cafe itu dulu untuk istirahat! Lagian tadi kamu juga belum sarapan kan jadi sebaiknya kita makan dulu", lanjut Suho sambil melepaskan pelukannya.
Walaupun dalam hati Suho sangat tidak rela melepaskan pelukkan nya. Ia tidak rela bila Jukyung harus pergi meninggalkannya. Tapi ia tetap harus melakukan nya ia tidak mau kalo sampai nanti Jukyung menyadari perasaan yang selama ini selalu dipendam nya.
Suho terlalu takut kalo nanti Jukyung akan menghindarinya saat ia tau akan kebenaran perasaannya itu. Ia tidak mau kalo sampai nanti persahabatan nya akan runtuh hanya karena perasaan nya.
Baginya selama masih bisa berada di samping Jukyung itu sudah lebih dari cukup Meskipun hanya dengan hubungan persahabatan.
Saat ini mereka sedang duduk di sebuah cafe yang ada bandara sambil bercerita tentang kenangan yang telah mereka lalui di soul. Dan itu membuat mereka tertawa saat mengingat kenangan mereka di soul. Mereka tertawa sangat lepas, hingga saat Suho tiba-tiba teringat kenyataan bahwa Jukyung sebentar lagi akan meninggalkannya membuat tawanya memudar. meskipun begitu Suho tetap menguatkan dirinya untuk terus tersenyum, ia ingin melepaskan kepergian Jukyung dengan senyuman bukan tangisan. sambil terus berharap Jukyung akan kembali secepatnya.
"Yak, hahahaaha aku pasti akan merindukan saat-saat seperti ini, aku harap nanti saat kamu kembali kesini kamu masih mengingat ku", ucap Suho dengan nada yang sendu.
" Hm pasti, aku tidak akan pernah melupakan mu. Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Kamu selalu ada saat aku terpuruk, kamu selalu bisa membuatku tertawa dan melupakan semua keluh kesah ku. Terimakasih sudah ada untukku saat aku membutuhkan sandaran ", ujar Jukyung lembut hingga tanpa disadari kristal bening telah mengalir di pipinya.
"Maaf Jukyung aku tidak bisa hanya menganggap mu sebagai sahabat. Aku telah gagal menjaga hatiku hingga aku jatuh dalam pesona mu, sekali lagi maafkan aku Jukyung", batin Suho
"Hey... Kita kok jadi formal gini sih?, ayolah kita kan sahabat", ucap Suho sambil berdiri dihadapan Jukyung dan menghapus air mata Jukyung.
"Aku juga terimakasih karena kamu sudah membuat hidupku lebih berwarna", lanjut Suho.
Entah keberanian dari mana Jukyung langsung memeluk pinggang Suho dengan erat. Air matanya mengalir semakin deras. Sedangkan Suho tidak perlu ditanya lagi dia masih mematung sambil meralat apa yang baru saja terjadi. Hingga Jukyung melepaskan pelukannya.
" hei sepertinya aku akan segera berangkat? ", ucap Jukyung namun tidak kunjung ada jawaban.
" Yak... Suho ", bentak Jukyung karena Suho masih melamun dan tidak mendengar ucapannya.
" Ya... Ya... Ada apa? ", tanya Suho gelagapan setelah tersadar dari lamunannya.
" Aku bilang aku sebentar lagi berangkat aku harus segera menuju pesawat", cicit Jukyung sedikit mengerucutkan bibirnya kesal.
"Oh... Oh... Ya kalo gitu selamat jalan, jangan lupa kabari aku kalo sudah sampai Indonesia oke", ucap Suho lembut sambil mengacak rambut Jukyung.
" Siap bos", jawab Jukyung dengan penuh semangat dan kemudian berhambur memeluk Suho.
Suho yang dipeluk langsung membalas pelukan Jukyung. tidak mematung seperti yang dilakukan nya sebelumnya. Ia pun sesekali mencium pucuk kepala Jukyung. Pelukan itu terjadi cukup lama hingga suara Jukyung menghentikan aktivitas mereka.
"Yak sampai kapan lo mau peluk gue hah? Gue mesti berangkat nih", ucap Jukyung berusaha melepaskan pelukannya.
"Oh... Iya... Sorry gue kebablasan soalnya hehehehe", jawab suho sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hahaaha selamat tinggal Suho",ucap Jukyung sambil berlari meninggalkan Suho.
"tolong sampaikan salamku pada member lain", teriak Jukyung sambil melambaikan tangannya setelah berlari cukup jauh.
" Hmm pasti", jawab Suho
Setelah kepergian Jukyung, Suho langsung menghela nafasnya panjang.
"Hah.... Ternyata hidup nggak semanis gue. Sepertinya gue mesti belajar ngelupain dia, yah walaupun itu bakalan sulit buat gue. Gue harap Jukyung bisa selalu bahagia dimanapun dia berada. Saranghaeyo Jukyung", gumam Suho sambil menatap kepergian Jukyung.
Sebenarnya Suho menyesal, ia marah pada dirinya sendiri yang terlalu pengecut. Bahkan hingga saat kepergian Jukyung ia masih belum berani mengungkapkan perasaannya.
Dengan dalil takut pertemanan mereka akan rusak Suho selalu memendam perasaannya. Entah sampai kapan ia sanggup memendamnya hanya dirinya dan Tuhan lah yang tau.