My Idol Is My Boyfriend

My Idol Is My Boyfriend
Chapter 10




Sementara Taehyun sedang ditangani dokter, Jukyung berusaha menghubungi keluarga Taehyun dengan menggunakan telfon Taehyun yang ditemukan warga sekitar.


"annyeonghaseyo....", sapa Jukyung sopan. (hallo)


"Ini siapa ya kenapa telfon anak saya bisa ada di anda?", tanya kim Daehyun ayah Taehyun. 


"Nama saya Jukyung om saya teman Taehyun, saya ingin mengabarkan bahwa saat ini Taehyun sedang berada di Severance Hospital", ucap Jukyung menjelaskan.


" Apa.....", kaget ayah Taehyun.


Ibu Taehyun yang tidak sengaja mendengar Putranya di rumah sakit, seketika itu pula pingsan karena syok.


"Baiklah kami akan segera kesana", ucap ayah Taehyun langsung menutup telfon.


Setelah 45 menit berlalu ayah dan ibu Taehyun yang cemas akhirnya tiba di rumah sakit dan seketika itu pula.


Plak.... (Sebuah tamparan keras melayang ke pipi mulus Jukyung)


"Dasar J****g apa yang kamu lakukan pada anakku hah. Dia seperti ini pasti gara-gara kamu kan. Pergi kamu dari sini. Jangan pernah temui anakku lagi", bentak Bekhyun ibu Taehyun.


Jukyung yang masih bingung akan tamparan mendadak itu hanya bisa tertunduk diam mendengar cacian dari ibu Taehyun. Sedangkan Ayah Taehyun hanya bisa mencoba untuk menenangkan istrinya.


"Sudahlah sayang jangan menyalahkan nya ini semua adalah takdir! ", ucap ayah Taehyun menenangkan.


saat itu kebetulan dokter Ardy sedang lewat, melihat Jukyung dihina di depan publik dokter Ardy merasa kasian. dokter tampan itu langsung membawa pergi Jukyung dan mengantarkan nya pulang.


Diperjalanan menuju rumah Jukyung


"Apa kamu mengenal mereka?", tanya dokter Ardy memecahkan keheningan.


"Ya aku mengenalnya dok mereka adalah orang tua Taehyun", jawab Jukyung tanpa semangat.


"Bisakah kamu berhenti memanggilku dokter! ", pinta dokter Ardy. 


"Lalu, aku harus memanggilmu apa? ", tanya Jukyung. 


"Panggil saja namaku! lagi pula kita sepantaran bukan?", ucap dokter Ardy.


"Baiklah", ucap Jukyung menyetujuinya sedikit lesu.


"Maaf Taehyun hiks maaf tidak seharusnya aku menggantung perasaan. Hiks hiks kalau saja  aku dari awal jujur padamu tentang perasaan ku ini semua pasti tidak akan terjadi", ujar Jukyung menyesal.


ia menyesal karena tidak jujur pada perasaannya. andaikan saat itu ia mengatakan dengan lantang kalo dia mencintai Taehyun pasti semua ini tidak akan terjadi. namun sayangnya nasi sudah menjadi bubur, percuma menyesalinya itu tidak akan merubah apapun.



Waktu silih berganti, hingga pada esok harinya mata Jukyung tampak masih sembap.Namun walaupun begitu ia tetap merapikan dirinya karena hari ini dia akan pergi menjenguk Taehyun.


"Astaga kenapa mataku jadi sembab begini? Aku harus menutupinya, kalau tidak nanti Taehyun pasti akan marah kalo melihat keadaanku ini! ", ucap Jukyung sambil menatap pantulan dirinya di cermin.


ia menutupi mata sembabnya dengan make-up agar orang lain tidak mengetahui keadaan matanya yang sembab.


Setelah 45 menit diperjalanan, sampailah Jukyung di rumah sakit. Seusai memarkirkan mobilnya Jukyung langsung menuju kamar tempat Taehyun dirawat. Ketika Jukyung mengetuk pintu, ternyata yang membukakan pintu adalah ibu Taehyun.


" Buat apa kamu kemari lagi, apa belum cukup kamu membuat anakku terbaring di rumah sakit ", bentak ibu Taehyun sambil mendorong tubuh Jukyung menjauhi pintu.


" Maaf imo tapi saya mohon izinkan saya untuk bertemu Taehyun tante", ucap Jukyung memohon sambil memegang tangan Bekhyun. (bibi)


"Tidak bisa kamu tidak diterima disini pergi kamu atau saya panggilkan Security untuk mengusir mu pergi", ancam ibu Taehyun.


Brak.... (Suara pintu yang ditutup dengan sangat keras)


"Saya mohon tante izinkan saya bertemu dengan Taehyun. hiks sebentar saja, saya mohon tante. saya mohon ijinkan saya bertemu dengan nya hiks", mohon Jukyung sambil menangis dari balik pintu yang telah ditutup ibu Taehyun rapat-rapat.


Jukyung yang dilarang bertemu Taehyun hanya bisa menangis. Ia terus menangis sambil terduduk di lantai dekat pintu kamar Taehyun. Ia terus menangis sampai orang yang melihat nya akan merasa iba.


" Haist.... Kasihan sekali gadis itu".


"Iya meskipun gadis itu telah berbuat kesalahan yang besar, namun tidak seharusnya dia diperlakukan seperti itu bukan? ".


" Betul itu, aku juga merasa ibu itu terlalu kasar padanya".


"Untung saja ibu itu bukan ibu ku kalo memang benar dia ibuku aku pasti sudah pergi dari rumah".


" Iya aku juga nggak mau punya ibu yang seperti itu, huh".


Gosip demi gosip mulai terdengar di setiap sudut rumah sakit itu. Jukyung pun menjadi mendadak terkenal. Tidak ada satu orang pun di rumah sakit itu yang tidak mengenal Jukyung. Hal itu, terjadi karena kisah Jukyung yang membuat orang lain menjadi iba saat melihatnya setiap hari datang dan menangis sambil terduduk di depan pintu kamar pasien.