
"Yang ini bagian ku sayang..." ucap Davin melepaskan tautan mereka. Satu tangannya kemudian melepaskan pengait bra milik Maura sembari melu*at bibir istrinya. Lum*atan keduanya kini semakin mendalam dan menuntut. Tak tinggal diam, tangan Davin bergerak memainkan puncak dada istrinya.
"Nghh... mhhhh..." lenguh Maura mengalungkan tangannya di leher Davin. Pria itu semakin bersemangat menggoda istrinya. Bibir pria itu kini menjelajahi leher jenjang istrinya, turun ke bawah. Membenamkan wajahnya di dada empuk Maura dan mengecupnya. Mulut Davin menjelajahi kedua bukit kembar Maura membuat gairah istrinya semakin meningkat. Maura mengikuti nalurinya bergerak di atas pangkuan Davin. Menggesek miliknya di atas milik suaminya yang kini sudah mengeras.
"Ouhhh..... nggghhh.." desah Maura kala Davin meraup salah satu puncak dadanya dan mengh*sapnya rakus seperti bayi kelaparan.
"Sayang.. pelan-pelannhh..." ucap Maura menyugarkan rambut Davin ke belakang.
"Akkhh... sayang... pelan-pelan. Tidak ada yang akan mengambilnya darimu. Itu milikmu.." kata Maura saat suaminya itu semakin ganas memainkan kedua gundukan besar miliknya.
"Ya... ini milik ku seorang.." ucap Davin meraup kembali puncak dada Maura.
"Sshhh... shhhh..." desis Maura merasakan kenikmatan saat suaminya menjamah tubuhnya.
"Kau menyukainya sayang?" tanya Davin di sela-sela kegiatannya.
"Te..tentuhh sajahh.. kamu selalu bisahhh membuatkuhh melayang," rancau Maura menutup matanya. Tanpa melepaskan mulutnya dari puncak dada Maura. Tangan kanannya bergerak mengelus lembut paha Megan, perlahan tangannya menyusup ke dalam CD Maura, mengusapnya pelan membuat Maura menggelinjang dan mengapit tangan Davin dengan kedua pahanya seolah menginginkan hal lebih.
"Davin... aku menginginkan mu.. aku tidak tahan lagi.." ucap Maura menatap Davin.
"Tentu saja sayang... mari kita buat adik untuk anak-anak kita," ucap Davin melepaskan semua pakaian mereka.
"Masukkan sayang..." ucap Davin menarik pelan tangan Maura. Wanita itu kembali duduk ala koala diatas pangkuan Davin. Maura sedikit mengangkat tubuhnya dan mengarahkan milik besar Davin ke dalam miliknya.
"Sayang.. lebih cepat..." ucap Davin tak tahan.
"Ini sudah cepat sayang.." ucap Maura menyeringai.
"ssssh... jangan menggoda ku sayang.. kau membuat kepalaku semakin sakit," desis Davin.
"Begini.." ucap Maura mempercepat gerakannya. Maura menarik kepala Davin membawanya ke bukit kembarnya. Ia ingin Davin memainkannya. Dengan senang hati Davin melakukannya. Mulut Maura tak henti-hentinya mengeluarkan suara-suara des*han.
"Tunggu sayang.. jangan di keluarkan dulu," ucap Davin saat tau Maura akan mencapai puncaknya.
Maura merasakan milik Davin membesar, tanda pria itu akan mencapai puncaknya.
"Ahhhhh...." des*ahan panjang terdengar mengisi ruangan saat pasangan suami istri itu mencapai puncak.
"Selalu saja nikmat sayang..." ucap Davin mengusap punggung Maura. Beberapa menit kemudian mereka melanjutkan ronde berikutnya. Karena Davin tidak akan puas jika hanya 1 ronde saja.
Malam harinya Davin dan keluarganya berkumpul di ruang keluarga bersama istri dan ketiga anaknya. Devan tampak sedang berlari mengejar kedua kakak perempuannya. Semetara Davin dan Maura saling berpelukan mengamati ketiga anak mereka yang sedang bermain-main.
"Rasanya kehidupan ku lengkap karena kehadiran kamu dan anak-anak kita," ucap Davin mengecup kepala Maura. Wanita itu mendongak, menatap wajah tampan suaminya lalu tersenyum.
END