My Hottest Duda

My Hottest Duda
Bab 46 : Khawatir



Kini usia kandungan Maura sudah 8 bulan, Davin semakin protektif pada Istrinya itu. Bahkan saat tau istrinya pergi dari rumah tanpa mengabarinya, ia langsung pulang dari kantor. Untung saja tadi Ia menghubungi Maura namun tidak dijawab. Akhirnya Davin menghubungi pelayan dan mengatakan Maura sedang pergi.


"Sayang...kenapa kamu sudah pulang," ujar Maura yang melihat Davin duduk di sofa dengan melipat tangannya di dada. Maura baru saja kembali dari rumah lamanya dengan membawa beberapa macam bunga.


"Bik..tolong ganti bunga yang lama ya," ujar Maura memberikan bunga yang dibawanya pada pelayan.


"Kamu darimana saja hmm," ujar Davin mengajak Maura duduk disampingnya.


"Tadi aku ke toko bungaku, sekalian melihat Bella," ucap Maura menampilkan senyum manisnya. Setelah menikah dengan Davin. Maura menyerahkan urusan toko bunganya pada Bella. Ia hanya sesekali datang kesana untuk melihat keadaan tokonya.


"Kamu tau tidak...Aku khawatir sekali sayang. Kenapa tidak mengabari ku. Aku menghubungimu tapi kamu tidak mengangkatnya. Bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu," ucap Davin mengecup kepala Maura.


"Upss..Aku lupa membawa ponsel ku tadi," ucap Maura menutup mulutnya dengan tangannya. Davin yang gemas langsung mencubit kedua pipi Maura.


"Lain kali jangan lupa mengabari ku saat kamu ingin pergi kemana-mana," ucap Davin lembut pada Maura lalu memeluknya.


"Iya..maafkan Aku membuatmu khawatir. Lain kali Aku akan mengabari mu," ucap Maura membalas pelukan Davin.


"Putri kecil kita dimana?" tanya Davin saat menyadari Cecilia tidak ada dirumahnya. Biasanya anak itu selalu didekat Maura.


"Dia bersama Bella. Katanya Cecil ingin membantu Bella menjual bunga," ujar Maura terkekeh.


"Yang ada putri kita akan mengajak Bella bermain-main," ucap Davin tertawa. Biasanya kalau Cecil bertemu Bella, ia pasti akan mengajak Bella untuk menemaninya bermain.


"Apa kaki mu masih sakit?" tanya Davin melihat kaki Maura yang membengkak karena kehamilannya.


"Baiklah...biarkan aku memijatnya," tukas Davin mengangkat kedua kaki Maura ke atas pahanya.


"Eh..tidak perlu Dav.., kamu sebaiknya kembali ke kantor saja," ucap Maura menolak.


"Aku akan jarang ke kantor mulai hari ini, aku ingin menemanimu hingga lahiran nanti," ujar Davin.


"Tapi bagaimana dengan urusan kantor mu. Lagian disini ada pelayan yang menemaniku," ujar Maura.


"Kamu tidak perlu cemas, ada Alice yang menghandle urusan kantor," ucap Davin mulai memijat kaki Maura.


"Hmmm...baiklah kalau begitu," ucap Maura.


"Dav..aku pengen makan cake," pinta Maura.


"Iya sayang. Sebentar, aku akan mengambilnya dulu," ujar Davin menuju dapur. Sejak kehamilan Maura, Davin sengaja membuat stok makanan yang banyak untuk Maura.


"Ini cakenya.." ujar Davin memberikan cakenya pada Maura dan meletakkan air putih di atas meja. Davin kembali memijat kedua kaki Maura. Maura sangat beruntung mendapatkan laki-laki seperti Davin yang sangat perhatian padanya.


"Baru saja makan cake, sekarang sudah tidur. Dasar bumil," ucap Davin tersenyum saat menyadari Maura sudah tertidur di sofa. Davin kemudian menurunkan kaki Maura dengan pelan dan hati-hati dari atas pahanya. Ia lalu mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mereka.


Setelah membaringkan tubuh Maura di atas tempat tidur dan menyelimutinya, Davin mengambil laptopnya dan duduk disamping Maura yang sedang tidur. Ia ingin mengerjakan beberapa pekerjaan kantornya dari rumah.