My Hottest Duda

My Hottest Duda
Bab 49 : End



Davin masuk ke dalam kamar mereka dan melihat Cecilia yang sedang menemani Devan yang tidur. Pria itu tersenyum bahagia melihat pemandangan yang ada didepannya. Tak terasa usia Devan sudah memasuki 4 bulan.


"Loh...mommy dimana princess.." ujar Davin melepaskan jas kantornya.


"Mommy mandi dad," jawab Cecilia memegang tangan kecil Devan. Davin naik ke atas ranjang bergabung dengan anak-anaknya.


"Sayang...kapan kamu sudah pulang," ucap Maura melihat Davin di atas ranjang.


"Baru saja," balas Davin.


"Kamu mau langsung mandi atau tidak. Aku akan siapkan baju mu," ujar Maura.


"Aku langsung mandi saja," ujar Davin turun dari ranjang.


"Tidak perlu menyiapkan pakaianku, biar aku saja," ucap Davin mengecup kepala Maura yang sedang mengeringkan rambutnya.


"Mom, kapan baby Evan bangun. Aku ingin mengajaknya bermain-main," ujar Cecil tampak bosan.


"Ya ampun sayang..adik mu baru saja tidur. Bukankah kalian sudah bermain-main sejak tadi. Biarkan adikmu tidur dulu. Kalau sudah bangun baru bisa kamu ajak untuk bermain," ucap Maura terkekeh melihat Cecilia. Setelah dimandikan Devan langsung tertidur.


"Sini..kamu sama mommy aja, kita menonton," ujar Maura duduk bersandar di kepala ranjang dan menghidupkan televisi. Cecil lalu duduk dipangkuan Maura. Seperti biasa saat menonton, Cecil akan banyak bertanya pada Maura dan Maura dengan senang hati dan tak pernah bosan untuk menanggapinya.


*****************


"Ceklek.." Davin membuka pintu dan bergabung dengan Maura diatas ranjang.


"Cecil sudah tidur?" tanya Maura.


"Sudah sayang.." ujar Davin naik ke ranjang melingkarkan tangannya dipinggang Maura dan menaruh kepalanya di ceruk leher Maura. Menghirup dalam dalam aroma tubuh istrinya.


"Sayang...Aku menginginkan mu," ujar Davin menatap Maura.


"Aku juga menginginkan mu. Tapi aku takut nanti putra kita terbangun seperti biasanya," balas Maura tersenyum mengusap wajah Davin.


"Kali ini Dia tidak akan mengganggu kita, percayalah..." ujar Davin mencium bibir Maura.


"Ssshhh...Dav...jangan buat tanda di leher..." ujar Maura menyugarkan rambut Davin kebelakang. Tangan Davin bergerak menurunkan tali gaun tidur Maura. Kini bibir Davin turun hingga ke dada Maura dan meraup puncak dada Maura.


"Dav...jangan mengh*sapnya terlalu kuat..." ujar Maura meringis.


"Aku tidak tahan melihatnya sayang...Aku cemburu saat Devan menguasai milik ku ini," ujar Davin. Sejak kelahiran Devan, Ia tidak bisa leluasa memainkan dua benda kenyal milik Maura yang menjadi kesukaannya. Kini keduanya sudah sama-sama dalam keadaan polos tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh mereka.


"Dav...ayo masukkan, Aku tidak tahan lagi.." pinta Maura mere*as rambut Davin yang betah bermain-main di dadanya.


"Sabar sayang..." ucap Davin menggesekkan miliknya di milik Maura lalu mendorongnya dengan perlahan hingga semua miliknya tertanam di dalam milik Maura.


"Kamu selalu saja sempit sayang.." ujar Davin mulai menggerakkan tubuhnya.


"Dav...lebih cepat lagi.." rancau Maura memeluk tubuh Davin.


"Dikabulkan sayang.." balas Davin mempercepat tempo gerakannya. Davin sangat suka menatap wajah Maura saat berada dibawahnya menikmati permainannya.


"Aku..Aku hampir sampai.." rancau Maura membuat Davin semakin mempercepat gerakannya hingga Maura mencapai puncaknya.


"Sekarang giliran ku," ujar Davin kembali menggoyangkan pinggulnya.


"Sayang....kenapa kamu begitu nikmat..." rancau Davin.


"Dav..Aku ingin keluar lagi.." rancau Maura.


"Bersama sayang..." ucap Davin yang juga mencapai puncaknya.


"Akh...." pekik Davin kala mencapai puncaknya. Ia menjatuhkan kepalanya di ceruk leher Maura.


"Terima kasih sayang.." gumam Davin dengan nafas yang belum teratur. Maura mengelus naik turun punggung Davin yang berkeringat karena permainan panas mereka.


"Dav...kamu..." ucap Maura saat merasakan milik Davin kembali membesar di dalam miliknya.


"Ronde ke dua sayang..." ucap Davin menggerakkan kembali tubuhnya. Keduanya melewati malam panas mereka hingga beberapa ronde.